Pembalasan Asena

Pembalasan Asena
Jangan Berani Memikirkan Lelaki Lain


__ADS_3

1 bulan kemudian


Kondisi Asena saat ini sudah jauh lebih baik dari sebelumnya bahkan perempuan itu juga sudah nampak ceria seperti sedia kalah. Tuan Altair terus saja berusaha untuk membahagiakan Asena sehingga perlahan tapi pasti istrinya itu mulai melupakan apa yang terjadi di masa lalu.


"Sayang bolehkah aku minta suatu hal?" tanya Asena sembari menaruh kepalanya di dada bidang Tuan Altair yang sekarang sedang sibuk bermain ponsel.


Tuan Altair segera menaruh ponselnya di atas meja kemudian mendekap tubuh Asena. "Katakan saja kau inginkan apa? Maka akan aku tepati selagi kau tidak meminta untuk jauh dariku," kata Tuan Altair kepada Asena.


"Cari tahu bagaimana kondisi Zevana sekarang," pinta Asena sembari mendongakkan kepalanya melihat ke arah Tuan Altair.


"Tanpa kau minta sekalipun aku juga sudah menyuruh orang untuk memata-matainya selama ini," balas Tuan Altair. Jika melihat betapa kejamnya sikap Tuan Altair pada orang lain maka, lelaki itu tak akan pernah melepaskan orang yang sudah membuat istrinya menangis hingga tak sadarkan diri.


Di tempat lain.


Saat ini seorang perempuan sedang duduk di tepi jalan dengan wajah yang terlihat berantakan sekali. Terlihat ada seseorang yang melemparkan bungkusan roti dihadapan perempuan itu dan dia langsung mengambilnya begitu saja tanpa peduli jika itu adalah roti bekas oleh orang asing tersebut. Perempuan itu adalah Zevana.


Ketika diusir keluar dari kediamannya satu bulan yang lalu. Zevana mendatangi satu persatu teman-temannya yang sudah ia anggap mirip seperti saudara. Zevana hendak meminta bantuan kepadanya, tetapi satupun dari mereka tak ada yang mau membantu Zevana karena ternyata Tuan Altair telah mengancam mereka semua. Zevana sampai mencoba untuk bekerja di klub malam hanya untuk menyambung hidupnya dan terus merencanakan balas dendam, tetapi tak ada satupun tempat hiburan yang mau menerimanya bekerja seakan pintu rezeki untuknya telah tertutup hingga Zevana tak bisa melakukan banyak hal kecuali meminta-minta di pinggir jalan.


Zevana yang mulai merasa kelaparan pun akhirnya mengambil sisa makanan dari tong sampah dan juga jalanan, awalnya tentulah Zevana merasa jijik hingga sampai muntah, tetapi karena rasa lapar yang tidak bisa perempuan itu bendung lagi akhirnya Zevana pun terbiasa melahap makanan sisa. Lambat-laun akhirnya Zevana yang tidak kuat menahan beban kehidupannya pun mulai depresi dan tidak bisa membedakan mana makanan yang basi dan juga makanan yang masih baru karena mental perempuan itu telah terganggu mirip seperti apa yang Yessi alami.


Kediaman Tuan Altair.


"Sayang, satukan dia bersama dengan Yessi dan biarkan dia menikmati sisa hidupnya di dalam ruangan rumah sakit jiwa itu, ini adalah hukuman dariku, tetapi aku tak bisa membiarkannya mengais makanan-makanan sisa dari pinggir jalan karena walaupun seperti itu kami tetap saudara," kata Asena yang masih memiliki hati nurani.

__ADS_1


"Aku akan melakukan sesuai apa yang kamu inginkan," Tuan Altair santai sembari menyisir rambut istrinya menggunakan jemari tangan. "Apakah kau tak ingin mengunjungi lelaki sialan itu? Sudah waktunya dia mendapatkan hukuman darimu," kata Tuan Altair.


Selama satu bulan ini Tuan Altair memerintahkan Asisten Lan untuk mengobati luka-luka di tubuh Cem agar ketika istrinya tercinta memberikan hukuman kepada lelaki itu, tawanannya tersebut terlihat begitu segar dan juga bugar hingga istrinya tak akan ragu-ragu ketika memberikan hukuman.


Tuan Altair tahu sekarang Asena berubah menjadi tegas dan juga kejam tetapi di dalam hati perempuan itu masihlah tersimpan kebaikan dan juga rasa tak tega kepada orang lain.


"Kalau begitu aku akan ganti baju dan kita akan menemuinya sekarang," jawab Asena. Darah Asena seakan mendidih dari balik kulitnya ketika mengingat apa saja yang selama ini Cem lakukan kepada almarhum Mamanya, lelaki itu benar-benar tak bisa dimaafkan.


Setelah menempuh beberapa waktu perjalanan akhirnya mereka sampai juga di mana tempat Cem disekap selama ini.


Tuan Altair turun dari dalam mobil bersama dengan Asena dan seperti biasa lelaki itu selalu menggandeng tangan istrinya seakan Asena adalah seorang balita yang baru saja belajar berjalan.


"Sayang bisakah kau lepaskan genggaman tanganmu ini, aku sungguh merasa tak nyaman dan aku juga tak akan jatuh bisa aku pastikan itu," bujuk Asena kepada Tuan Altair. Asena tentu saja merasa malu karena mereka selalu bergandengan tangan kemanapun paling tepatnya suaminya tak mau melepaskan genggaman tangannya.


"Jangan kita bergandengan saja terus, aku tak masalah," kata Asena.


"Lan! Apakah sudah kau pastikan jika lelaki itu terikat kedua tangan dan juga kakinya?" tanya Tuan Altair mencoba memastikan.


"Saya sudah memastikannya, bahkan saya juga sudah mengeceknya sendiri secara langsung jikalau ikatan di tubuh lelaki itu kuat dan tak akan bisa lepas," jawab asisten Lan yang memang sudah memastikan semuanya sejak dari awal agar tidak ada kejadian yang tak terduga.


"Bagus! Suruh empat pengawal berdiri di belakangnya!" titah Tuan Altair lagi yang langsung dijawab anggukan kepala oleh Asisten Lan.


Kedua pipi Asena berwarna merah karena bahagia sebab suaminya selalu saja mencoba membuat dirinya merasa aman dan juga nyaman sungguh kehadiran Tuhan Altair bagaikan malaikat untuk Asena.

__ADS_1


tanpamu Asena sadari diam-diam sejak dari tadi Tuan Altair melihat ke arah istrinya yang senyum-senyum sendiri seakan sedang memikirkan sesuatu dan tidak disangka Tuan Altair pun mengubah wajahnya menjadi datar dengan sorot mata yang tajam.


"Jangan pernah berani memikirkan lelaki lain!" kecam Tuan Altair dengan tatapan posesif.


"Kau cemburu, sayang?" tanya Asena sembari melihat ke arah suaminya. Melihat wajah posesif suaminya itu membuat Asena ingin menggoda Tuan Altair hingga perempuan itu menghentikan langkahnya sekarang.


"Tentu saja aku cemburu karena kau adalah milikku," balas Tuan Altair sembari menghentikan langkahnya juga dan kini menatap ke arah Asena.


Asisten Lan sudah bisa menebak apa yang akan terjadi dan lelaki itu pun memutar tubuhnya. Semua pengawal yang ada di sekitar Tuan Altair ikut melakukan hal yang sama seperti Asisten Lan tanpa disuruh sekalipun.


Asena melangkah kemudian memeluk tubuh Tuan Altair dan mendongakkan kepalanya mengamati wajah tampan suaminya yang nampak begitu menyegarkan mata.


"Bagaimana mungkin aku bisa memikirkan orang lain ketika seluruh pikiranku hanya tertuju padamu," jawab Asena jujur kemudian mengecup sekilas bibir Tuan Altair dan tersenyum manis.


"Jadi kamu tadi sedang memikirkan ku?" tanya Tuan Altair dan Asena langsung menganggukkan kepalanya. Kedua pipi Tuan Altair langsung merona merah dan terdapat senyuman tipis di bibirnya.


"Kau nampak sangat tampan sekali jika sedang tersenyum dan jangan pernah tunjukkan senyuman ini di hadapan perempuan lain karena aku tidak suka," kata Asena posesif. Bahkan perempuan itu juga sampai mengacungkan satu jarinya di hadapan Tuan Altair seakan tanda mengancam.


Mendengar Asena berbicara dengan nada posesif dan juga cemburu kepadanya hal itu tentu saja membuat Tuan Altair merasa bahagia dan juga beruntung sekali hingga lelaki itu langsung mendaratkan kecupan di bibir Asena.


"Hentikan banyak orang di sini," kata Asena ketika ia berhasil melepaskan panggutan suaminya.


"Tak akan ada yang melihat atau mereka akan kehilangan penglihatan mereka," lewat Tuan Altair hendak mendaratkan kecupan untuk yang kesekian kali di bibir istrinya, tetapi Asena mendorongnya perlahan dan mengerucutkan bibirnya kesal dengan sikap suaminya. Tuan Altair hanya bisa terkekeh geli kemudian mengajak Asena masuk ke dalam ruangan Cem berada.

__ADS_1


__ADS_2