
Setelah masuk ke dalam dapur yang ada di restoran ini, Asena mendudukkan tubuhnya di kursi yang memang khusus untuk para pekerja dan tak lama kemudian Nana datang menghampirinya dengan mengulas senyuman manis. Nana begitu baik sekali kepada Asena sejak awal dia bekerja di tempat ini dan usia Nana juga 3 tahun lebih tua dari Asena membuat Asena merasa memiliki seorang kakak.
"Asena apakah sekarang kamu sudah tahu siapa pemilik restoran ini yang baru?" tanya Nana kepada Asena. Nana nampak mengamati wajah Asena yang menantikan jawaban dari perempuan itu mengenai pertanyaannya dan entah mengapa Nana berharap jikalau pemilik perusahaan itu adalah lelaki yang tampan.
"Tentu saja aku tahu, kan kemarin aku habis mengantarkan makan siang ke perusahaan itu," jawab Asena jujur.
"Coba katakan padaku apa nama perusahaannya?" tanya Nana sembari memegang ponselnya.
"Perusahaan Gerden Group. itu adalah nama perusahaannya dan pemiliknya adalah ...." kata-kata Asena menggantung di udara ketika Nana menyela kata-katanya.
"Astaga pemilik perusahaan ini adalah Tuan Altair, lelaki tampan yang waktu itu datang ke restoran ini," pekik Nana dengan teriakan histeris. Terikan Nana membuat semua orang yang tadinya sedang sibuk berbincang-bincang langsung menoleh ke arahnya. Nana yang merasa malu hanya bisa menyengir kuda.
"Ya, memang dia lah pemilik perusahaan itu dan juga restoran kita sekarang," jawab Asena dengan memutar kedua bola matanya malas. Nana sangat berlebihan sekali, Asena bahkan tak juga jika berada di dekat lelaki arogan dan tukang memerintah itu.
Semua perempuan yang ada di ruangan ini langsung mengerumuni Asena dan juga Nana guna untuk menanyakan tentang ucapan Nana sebelumnya. Asena mengiyakan jikalau memang pemilik restoran ini sekarang adalah Tuan Altair.
"Asena kamu sangat beruntung sekali karena bisa melihat wajah tampan Tuan Altair secara langsung, dan sekarang coba ceritakan kepada kami bagaimana kondisi perusahaan tersohor itu dari dalam. Dan apakah kemarin ketika mengantarkan makanan kamu bertemu langsung dengan Tuan Altair?" tanya semua perempuan saling bersahutan kepada Asena. para perempuan itu sungguh menyukai Tuan Altair karena tampan dan juga penuhi wibawa. Bahkan mereka semua seakan rela kehilangan sebagian sisa umurnya hanya untuk menemani lelaki itu semalam saja, tetapi tidak dengan Asena. Asena justru merasa jengah melihat semua perempuan yang ada di dekatnya nampak terpesona dengan ketampanan lelaki itu, tidak menurut asena Tuan Altair jelek.
Pak Dani melangkah masuk ke dalam ruangan dapur ini dan mendapati semua perempuan sedang mengerumuni Asena. Asena hanya diam kemudian menatap ke arah Pak Dani dengan mengulas senyuman tipis dan hal itu membuat semua perempuan yang ada di dekatnya ikut menoleh ke arah yang sama.
"Kurang dari 5 menit lagi adalah jam kerja kalian, kenapa masih belum siap-siap dan masih sibuk berbicara hal yang tidak penting," tegur Pak Dani dengan suara yang terdengar lembut. Setiap kali menasehati para pekerjanya Pak Dani selalu menggunakan intonasi suara rendah supaya tak menyakiti para pegawainya.
"Apakah Pak Dani tahu siapa pemilik restoran ini?" tanya Nana kepada Pak Dani.
"Mana mungkin saya tahu beliau saja tak pernah muncul di hadapan saya dan semua yang mengurus surat-surat ini pun hanyalah pengawalnya bukan asistennya," jawab Pak Dani. Pak Dani jukai melihat ke arah Nana dan itu adalah tatapan penuh selidik.
__ADS_1
"Pemilik restoran ini adalah Tuan Altair, apakah Anda tahu dia adalah pemilik perusahaan Gerden group yang merupakan salah satu perusahaan terbesar dan memiliki begitu banyak anak cabang di beberapa negara besar lainnya. Presdir muda nan tampan itu adalah bos kita." Nana bercerita panjang lebar tanpa jeda sedikitpun semua itu karena ketertarikannya kepada Tuhan Altair.
"Benarkah Tuan Altair yang memiliki restoran ini?" tanya Pak Dani yang justru malah ikut ghibah bersama dengan mereka semua. Asena yang melihat tingkah manajer dan juga teman-temannya hanya bisa memutar kedua bola matanya jengah kemudian Asena memijat pelipisnya yang terasa pusing sekarang.
Perusahaan Gerden Group.
Tuan Altair sedang duduk di kursi kebesarannya dan kini lelaki itu sedang sibuk berkutat dengan benda berbentuk pipih yang ada di hadapannya, jemari tangan lelaki itu menari di atas keyboard dengan begitu lihainya.
Terdengar dua kali suara ketukan pintu lalu Lan masuk ke dalam ruangan ini. Lan membungkukkan tubuhnya sebelum berbicara kepada Tuan Altair.
"Tuan Altair siang hari ini Anda ingin makan keluar atau di dalam kantor?" tanya Lan sembari menaruh beberapa berkas yang ia bawa di atas meja.
Tuan Altair mengalihkan pandangannya dari layar laptop kemudian membuka berkas yang Lan berikan padanya.
"Ada tanda tangan di sini dan juga di sini," ucap Lan seraya menunjuk dengan 5 jarinya ke arah yang mana saja harus sang majikan goreskan tinta tanda tangannya.
Lan terdiam sejenak bingung dengan kata-kata ambigu majikannya barusan. Restoran biasanya itu, restoran yang mana? menurut Lan restoran yang biasanya Tuan Altair datangi ialah restoran bintang 5, tetapi kenapa memanggil pelayan dari restoran kecil itu untuk datang kemari? Lan bingung sekali mengartikan ucapan Tuan Altair hingga lelaki itu hanya diam dengan menundukkan kepalanya masih mencoba berpikir dengan keras.
Tuan Altair yang tahu Lan hanya diam pun mengangkat pandangannya kemudian melihat ke arah wajah asistennya yang nampak kebingungan. Tuan Altair menghela nafas pelan kemudian berkata,
"kau pesankan aku makanan dari restoran kecil dan suruh pelayan itu yang mengantarnya kemari, kau juga pesan makanan dari restoran bintang 5," jelas Tuan altair lebih detail lagi.
***
Saat ini Asena sedang sibuk melayani para pengunjung restoran, terlihat Pak Dani mulai melangkah menghampirinya.
__ADS_1
"Asena ikut saya ke dapur sekarang!" titah Pak Dani.
"Tapi saya sedang sibuk melayani para pengunjung," jawab Asena yang melihat jika ada salah satu pengunjung yang melambaikan tangannya menyuruh Asena untuk mendekat karena pengunjung itu sudah siap memesan makanannya.
"Nana kau layani pengunjung yang baru masuk itu sepertinya dia hendak memesan makanan sekarang!" perintah Pak Dani. "masalahnya sudah beres sekarang dan kamu ikuti saya masuk ke dapur sekarang!" titah Pak Dani untuk kali kedua kepada Asena.
Asena menjawab dengan satu kali anggukan kepala kemudian perempuan itu mengikuti Pak Dani melangkah masuk ke dalam dapur yang ada di restoran ini. Terlihat para pengunjung perempuan mengamati Asena yang sedang berbicara dengan Pak Dani dan tidak sengaja salah satu dari mereka mendengar kalau ternyata Asena disuruh mengantarkan makan siang ke perusahaan Gerden Group.
"Tidak bisa kah jika perempuan lain saja yang mengantarkan makanan itu ke perusahaan Gerden Group?" tanya Asena. Sungguh Asena tidak mau lagi bertemu dengan Tuan Altair, lelaki itu terlalu menjengkelkan baginya.
"Kalau begitu saya saja yang mengantarkan makanan itu," kata Nana yang tiba-tiba menyela kata-kata mereka. Nana melangkah masuk ke dalam dapur ini dengan tangan membawa catatan pesanan pengunjung.
"Baiklah kalau begitu terserah kamu saja tapi usahakan tidak terjadi masalah karena Tuan Altair merupakan orang yang tak suka jika ada sesuatu yang mengganggunya," jelas Pak Dani. Pak Dani masih mengingat apa yang asisten Lan katakan tadi. Lelaki itu tidak menyebutkan nama Asena tetapi hanya mengatakan jika harus perempuan yang mengantarkan makanan tersebut perusahaan Gerden Group.
Setelah menempuh beberapa waktu perjalanan akhirnya Nana sampai juga di depan perusahaan Gerden Group. Seorang pengawal melangkah menghampiri Nana kemudian mengantarkan perempuan itu ke ruangan Tuan Altair. Asisten Lan meminta pengawal itu untuk mengantarkan seorang perempuan yang membawa makanan dan juga menggunakan baju pelayan jadi tidak heran jika Nana langsung disambut baik oleh pengawal tersebut.
"Wah ... aku tidak pernah menyangka jika perusahaan ini sangat besar sekali dan juga terlihat megah. Bahkan ada pengawal yang mengantarkan aku secara langsung," Kata Nana dengan mengulas senyuman manisnya. Nana masih mengingat apa yang Asena katakan kemarin setelah datang ke lobby perusahaan ini maka Asena kemarin langsung menuju ke resepsionis, tetapi hari ini Nana justru malah dijemput oleh pengawal secara langsung. "ataukah mungkin Tuan Altair diam-diam menyukaiku sehingga ia meminta pengawal secara langsung untuk menjemput aku setelah tahu jika aku yang mengantarkan makan siang untuknya," batin Nana menyimpulkan sesuatu yang menurutnya benar dari sudut pandangnya.
"Saya hanya bisa mengantarkan Anda sampai depan ruangan Tuan Altair, sebelum masuk ketuk pintu terlebih dahulu," kata pengawal tersebut kemudian langkah meninggalkan anak begitu saja.
Nana menarik nafas dalam dan kini jantungnya berdebar dengan begitu kencang sekali. Ia merasa sangat gugup hingga kedua tangannya mengeluarkan keringat dingin sekarang. Nana mengetuk pintu dua kali dan terlihatlah pintu ruangan ini mulai terbuka, Nana menggigit bibir bagian bawahnya mencoba untuk menahan senyuman karena ia percaya jika seseorang yang membuka pintu adalah Tuan Altair. sepertinya Tuan altair begitu senang mengetahui kedatangannya sehingga lelaki itu sendiri yang membukakan pintu untuknya.
Lan yang berdiri di depan pintu langsung membulatkan kedua matanya kaget ketika melihat jika perempuan yang ada di hadapannya sekarang bukanlah Asena melainkan pelayan lainnya.
"Berikan makanan ini kepada saya dan langsung kembalilah ke restoran," kata Lan.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan suruh dia masuk sekarang." Sembur Tuan Altair dari dalam ruangan itu setelah mendengarkan ucapan asisten Lan.