
Terdengar suara nyanyian burung berkicau sembari mengepakkan kedua sayap mereka berterbangan di angkasa raya berkelompok menuju suatu tempat. Asena membuka matanya kemudian perempuan itu pun melihat ke arah Tuan Altair yang saat ini sedang memperhatikan wajahnya, Asena tentu saja merasa malu karena diperhatikan seperti itu oleh suaminya hingga perempuan itu mengambil bantal untuk menutupi wajahnya. Tuan Altair yang mengetahui jika istrinya malu-malu hanya bisa terkekeh geli.
"Kenapa kau tutupi? Aku sudah melihatnya sejak dari tadi," kata Tuan Altair pada Asena. Tuan Altair berusaha untuk menjauhkan bantal itu dari wajah istrinya namun Asena tak membiarkannya begitu saja.
"Kenapa suka sekali menatap orang ketika tidur?" tanya Asena tanpa menjauhkan bantalan dari wajahnya.
"Walaupun tertidur kamu terlihat cantik sekali, bahkan lebih cantik," puji Tuan Altair apa adanya.
"Apalah sebaiknya aku tidur dan tidak bangun lagi supaya kecantikanku tak sampai melebur di matamu." Asena mulai menjauhkan bantalan sofa itu ketika ia sudah memastikan jika penampilannya jauh lebih baik dari sebelumnya.
"Kenapa kau bicara seperti itu sayang?" tanya Tuan Altair.
"Karena aku takut jikalau kecantikan aku hilang maka, kau akan bosan padaku dan mencari perempuan lain," kata Asena menatap lekat ke arah manik mata suaminya seakan mencoba untuk membaca pikiran lelaki itu, tetapi gagal karena Tuan Altair selalu saja pandai menyembunyikan isi hatinya.
Tuan Altair menarik pinggang Asena hingga jarak keduanya mulai terkikis. "Aku takkan pernah bosan padamu, kau berbeda dari perempuan lainnya." Tuan Altair berbicara jujur kepada Asena kemudian lelaki itu mengecup puncak kepala istrinya.
"Maafkan aku, tetapi aku tidak bisa mempercayainya karena begitu banyak perempuan yang lebih cantik dariku di luar sana," kata Asena kemudian memeluk tubuh Tuan Altair seakan tak ingin lelaki ini menjauh darinya.
"Yang lebih cantik mungkin memang lebih banyak, tetapi yang lebih baik darimu aku tak percaya masih ada," kata Tuan Altair mendekap istrinya ke dalam pelukannya.
"Tuhan, semoga saja kau tak akan pernah memisahkan ku dengannya. Cukup kau panggil kedua orang tuaku dan jangan kau ambil cintanya dariku," batin Asena dengan memejamkan matanya.
"Sayang ini masih pagi," kata Tuan Altair ambigu.
__ADS_1
"Ini memang masih pagi kalau begitu kita tidur lagi, atau kau menginginkan sesuatu untuk aku lakukan pagi ini?" tanya Asena pada Tuan Altair sembari mendongakkan kepalanya.
"Kita senam di pagi hari," jawab Tuan Altair dan Asena langsung menganggukkan kepalanya.
"Tapi sebelum itu aku akan membersihkan tubuh terlebih dahulu, lalu kita senam pagi di sekitar rumah ini saja," jawab Asena polos. Perempuan ini tidak menyadari arti tatapan ranjang yang sekarang sedang suaminya itu berikan hingga Tuan Altair mulai membuka suara karena gemas melihat istrinya yang tak kunjung mengerti dengan isyarat yang ia berikan.
"Yang aku maksud adalah senam di sini," kata Tuan Altair sembari membalikkan posisi mereka hingga kini lelaki itu ada di atas Asena.
Kalian sudah paham kan dengan apa yang Tuan Altair katakan dan silakan bayangkan sendiri di pagi hari melakukan aktivitas senam menggelora hingga membuat suara decitan ranjang terdengar di dalam kamar dan tak ada adegan ranjang patah eheheh.
***
Asena sedang menyisir rambutnya di depan cermin kemudian perempuan itu memoles wajahnya menggunakan make up dengan sangat tipis sekali supaya tidak terlihat pucat dan yang terakhir Asena mengaplikasikan lipstik warna bibir supaya menambah sempurna penampilannya di hari ini.
Asena yang mengetahui akan hal itu segera menatap suaminya, "Sayang tetaplah di sana dan jangan mendekat, aku sudah sangat lelah sekali," kata Asena polos. Bagaimana mungkin Asena tak merasa lelah dan tubuhnya ini bahkan terasa seperti habis digebuki oleh puluhan orang akibat sikap Tuan altyair yang begitu brutal di pagi hari tadi.
"Aku hanya melakukannya tiga kali, tetapi kau sudah ketakutan seperti ini ketika aku dekati padahal aku hanya ingin mengecup keningmu saja," jawab Tuan Altair santai bahkan terlihat senyuman tipis di bibirnya seakan lelaki itu merasa begitu puas sekali ketika ia sudah berhasil membuat istrinya merasakan bahagia di atas ranjang. Yang bener itu bukan bahagia Tuan Altair, tetapi kau menyiksa Asena hingga perempuan itu ketakutan seperti ini.
"Anda bilang hanya 3 kali?" katanya Asena dan Tuan Altair langsung menganggukkan kepalanya. "tiga kali yang Anda maksud sudah mirip seperti 10 kali yang saya rasakan," ujar Asena kesal kemudian kembali melanjutkan menyisir rambutnya dan fokus melihat ke arah cermin.
Jika saja Tuan Altair tidak tahu kalau istrinya ini masih virgin ketika pertama kali berhubungan dengannya, pastilah Tuan Altair sudah salah sangka dengan apa yang Asena ucapkan barusan.
"Apakah kita jadi pergi ke kediaman perempuan itu?" tanya Tuan alytair.
__ADS_1
"Tentu saja jadi, tak baik menunda sesuatu berlama-lama," jawab Asena.
yang Asena fokuskan sekarang hanyalah balas dendam dan tidak lebih dari itu.
***
Saat ini Zevana sedang mencoba untuk membuka jendela yang ada di dalam ruangan kamar ini, Zevana tak ingin terus-terusan terkunci di dalam ruangan terkutuk ini tanpa melakukan apapun dan ia pun mulai merencanakan keluar dari jendela kamar.
Setelah mencoba beberapa saat akhirnya Zevana bisa membuka jendela kamarnya, tetapi yang terjadi adalah. Ternyata ada pagar besi yang kini nampak di pandangannya kemudian terdapat kain hitam yang menutupi sinar mentari masuk ke dalam ruangan kamar.
"Sialan! Sejak kapan mereka memasang pagar besi di depan jendela kamarku? Jika seperti ini maka aku tak akan memiliki harapan untuk bisa kabur," umpat Zevana kemudian menjatuhkan tubuhnya di lantai. "Aku akan membunuhmu Asena, lihat saja aku akan menghancurkan kamu," kata Zevana dengan menggenggam kedua tangannya sendiri.
Zevana mengedarkan pandangannya ke sekitar ruangan yang nampak gelap gulita tanpa ada setitik pun cahaya yang menerangi ruangan kamarnya. Entah sudah berapa lama Zevana terkurung di dalam ruangan ini, ia tak tahu karena Zevana tak bisa melihat terik mentari dan ia juga tidak memiliki ponsel sekarang.
Bahkan ketika perutnya terasa begitu lapar sekali barulah ada orang yang mengantarkan satu bungkus roti beserta satu gelas air minum, tapi Zevana percaya jika mereka pasti mengiriminya makanan sekitar 3 atau 4 hari sekali karena di saat itu tubuh Zevana terasa begitu lemas sekali hingga tak sanggup berdiri. Zevana selalu merangkak menuju ke pintu untuk mengambil makanannya, dirinya diperlakukan seperti hewan oleh orang-orang tak berhati itu.
Setelah dihukum sedemikian rupa ternyata Zevana masih tidak menyadari kesalahannya sendiri dan justru malah menyalahkan orang lain atas apa yang terjadi padanya sekarang.
Terdengar pintu ruangan ini mulai dibuka dan nampaklah dua pengawal berjalan mendekati Zevana.
"Anda akan segera keluar dari ruangan ini dan sebaiknya ganti baju lalu bersihkan tubuh Anda terlebih dahulu!" setelah memberikan perintah pengawal itu pun berjalan keluar dari ruangan ini dan tidak bisa mengunci kembali pintunya.
"Benarkah aku akan segera dilepaskan dari ruangan ini? Lihat saja, aku akan menghancurkan kalian semua. Aku akan membunuhmu Asena," kata Zevana mengancam Asena. "aku sudah menduga jika Papa tak mungkin memberikan semua hartanya kepada perempuan sialan itu!" kata Zevana dengan semangat.
__ADS_1