
Tuan Altair merasakan gelora yang begitu besar sehingga lelaki itu tak bisa menghentikan panggutannya kepada Asena, sedangkan Asena mulai merasakan kehabisan nafas bersamaan dengan itu seseorang membuka pintu ruangan ini tanpa mengetuknya.
"Tuan Altair," perkataan Lan mengambang di udara ketika lelaki itu menyadari apa yang sedang terjadi di dalam ruangan ini. Lan Membuatku kedua matanya kemudian langsung membalikkan tubuhnya membelakangi Tuan Altair dan juga Asena.
Asena yang mendengarkan suara orang lain di dalam ruangan ini dengan sekuat tenaga menjatuhkan tubuhnya di lantai dan Tuan Altair juga ikut terjatuh tentunya, hal itu menimbulkan suara benturan yang cukup keras.
"Saya akan keluar sekarang," kata Lan mencoba menyelamatkan diri dari amukan majikannya. Setelah berada di luar ruangan ini Lan langsung memegangi dadanya yang berdetak tidak stabil, matanya ternodai dengan sikap sang majikan yang begitu brutal suara dentuman keras itu juga membuat Lan penasaran, sebenarnya ingin melihat tetapi takut. Hahaha ternyata asisten Lan bisa kepo juga. Maklumlah Asisten Lan kan juga manusia biasa.
Selama ini Asisten Lan sudah biasa melihat begitu banyak perempuan yang menginginkan Tuan Altair, tetapi ini untuk kali pertama asisten Lan melihat jika Tuan Altair begitu menginginkan seorang perempuan yang statusnya hanyalah rakyat biasa dan bekerja sebagai seorang pelayan, sungguh hal yang menakjubkan andaik tidak melihatnya secara langsung maka Lan tak akan percaya.
Ketika terjatuh dari atas sofa Tuan Altair memeluk Asena dengan sangat erat seakan takut perempuan itu akan jatuh atau kepalanya terbentur meja yang ada di dekat mereka.
"Auch, sakit sekali punggungku," rintih Asena. Asena memejamkan matanya dengan tangan yang masih mengusap pinggangnya yang terasa begitu nyeri hingga perempuan itu tidak menyadari jika kini ia masih berada di atas tubuh Tuan Altair.
"Bukankah seharusnya yang mengeluarkan suara kesakitan itu adalah aku, karena tertimpa tubuh kamu yang berat ini," balas Tuan Altair. Lelaki itu menatap ke arah Asena dan melihat bibir perempuan itu yang nampak sedikit bengkak karena ulahnya.
Asena segera membuka kedua bola matanya dan benar apa yang Tuan Altair katakan. Asena buru-buru hendak beranjak berdiri tetapi Tuan Altair memegangi kepalanya.
"Kau itu sangat ceroboh sekali! Bagaimana jika sampai kepalamu terbentur pinggiran meja." Sembur Tuan Altair marah dengan mata yang menajam.
Asena mengarahkan pandangan ke sisi kiri dan ia melihat tangan Tuan Altair terbentur pinggiran meja. Entah mengapa lelaki ini membiarkan tangannya yang terkena pinggiran meja dari kepala Asena? Tapi hal itu sekarang tidaklah penting karena yang terpenting Asena harus menjauhi lelaki ini sekarang dia meminta kecupan besok-besok bisa melihat hal lainnya. Argh! Kenapa Asena malah ngelantur sih.
__ADS_1
"Sekarang apakah Nana tidak jadi dipecat?" tanya Asena kepada Tuan Altair. Kedua pipi Asena terasa merah merona, ini untuk kali pertama ia berciuman dan entah mengapa jantungnya berdetak tidak stabil sekarang.
"Hem," jawab Tuan Altair.
"Terima kasih atas kebaikan Anda. Dan sekarang saya akan kembali ke restoran lagi." Tanpa menunggu jawaban dari Tuan Altair. Asena langsung membungkukkan tubuhnya kemudian berlari secepat mungkin keluar dari ruangan ini.
Tuan Altair yang melihat perempuan itu melesat cepat bak roket di angkasa hanya bisa terkekeh geli. Tuan Altair pun semakin tertarik kepada Asena setelah ia mengetahui ada perempuan yang menjaga kesuciannya seperti Asena. Bahkan tanpa bertanya sekalipun Tuan Altair sudah bisa menebak jikalau Asena tidak pernah berciuman sebelumnya.
"Astaga apa yang kamu lakukan di sini Asisten Lan," tanya Asena kaget setelah ia membuka pintu ruangan Tuan Altair dan mendapati asisten Lan berdiri di sana.
Dari kejauhan terlihat seorang perempuan cantik dengan baju yang minim bahan sedang berjalan mendekat ke arah Asena dan juga asisten Lan. Perempuan itu adalah orang yang menyiram Asena menggunakan air kemarin sore, Ya ia adalah Zevana.
"Bukankah itu perempuan yang kemarin mencari masalah denganku dan dia juga anak pelayan itu," kata Zevana pada dirinya sendiri setelah memastikan jika itu memang perempuan yang membuatnya kesal kemarin sore. Yesi sempat menundukkan foto dari anak pelayan yang bekerja di rumahnya dan ternyata itu adalah Asena dunia memang terkadang begitu sempit sekali hingga mengenal orang yang saling bersangkutan seperti ini.
"Oh ... silakan masuk kalau begitu," kata Asena seraya meminggirkan tubuhnya dari pintu ruangan itu dan kini asisten Lan masuk ke dalam ruangan tersebut.
Asena terkejut sekali ketika melihat perempuan yang kemarin menyiramnya dengan air kini berdiri di hadapannya dengan mata tajam.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Zevana dengan tatapan penuh selidik. Zevana mengamati wajah Asena dan ia pun baru menyadari kalau Asena begitu cantik sekali walaupun tidak memoles wajahnya menggunakan make up.
"Saya tadi mengantarkan makanan untuk Tuan Altair," jawab Asena berdusta. "Saya akan kembali bekerja dan Maaf masalah yang kemarin." Setelah bicara Asena langsung pergi begitu saja.
__ADS_1
"Mana mungkin Altair menyukai perempuan miskin sepertinya," batin Zevana yang sempat menduga jika Asena memiliki hubungan dengan Altair. Mana mungkin.
Zevana mengetuk pintu ruangan Tuan Altair kemudian masuk ke dalamnya. Mungkin hanya Zevana saja yang berani masuk ke dalam ruangan itu tanpa menunggu sahutan dari dalam ruangan tersebut, Zevana merupakan mantan kekasih Tuan Altair dan sekarang menjadi teman baik lelaki itu.
"Saya akan keluar terlebih dahulu," kata Lan. Lan menghembuskan nafasnya lega setelah ia mengetahui jika Tuan Altair tidak menghukumnya karena sudah lancang mengganggu adegan mesra yang tersuguh di dalam ruangan ini tadi. Sepertinya lain kali Lan harus bersikap lebih baik lagi kepada Asena karena perempuan itu ternyata pandai sekali membuat emosi Tuhan Altair mereda.
"Zevana. Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Tuan Altair menatap ke arah perempuan itu dengan wajah datar.
"Aku sangat bosan sekali bisakah jika kita makan bersama sore hari ini?" tanya Zevana setelah mendudukkan tubuhnya di sofa yang sama dengan Tuan Altair.
"Aku sangat sibuk sekali, lain kali saja," kata Tuan Altair sembari beranjak berdiri dari posisi duduknya.
"Baiklah kalau begitu. Sekarang aku akan keluar dari ruangan ini, tetapi besok siang tidak ada alasan lain untuk menolak ku mengajak kamu makan siang bersama." Setelah bicara Zevana melangkah pergi dengan wajah yang masam. Ini bukan kali pertama Altair menolaknya, tetapi Zevana masih ingin memperjuangkan cinta mereka, sebenarnya bukan cinta yang Zevana perjuangkan tetapi ia hanya menginginkan harta kekayaan Altair yang sangat banyak. setelah keinginannya tercapai Zevana akan naik tahta secepat mungkin dan memperbesar perusahaannya jikalau sudah menjadi istri altair. itulah alasan Zevana mencoba untuk mendekati Altair.
***
Seperti apa yang Zevana katakan kemarin. Kini Zevana datang ke kantor Tuan Altair siang hari ini dan hendak mengajak Tuan Altair makan siang bersama tetapi Tuan Altair menolak.
"Altair ayolah temani aku makan siang bersama. Aku sangat lapar sekali sekarang," rengek Zevana seraya menyandarkan kepalanya di bahu Tuan Altair.
Suara ketukan pintu mulai terdengar dari luar ruangan ini. Masuklah Asena ke dalam ruangan ini sembari membawa paper bag yang berisikan makanan pesanan Tuan Altair.
__ADS_1
"Perempuan itu lagi, dia mengganggu sekali," batin Zevana yang tidak menyukai kehadiran Asena.