Pembalasan Asena

Pembalasan Asena
Permintaan Asena


__ADS_3

Asena baru saja turun dari dalam mobil restoran yang mengantarkannya ke perusahaan Gerden Group. Asena tidak menyadari jika kini Tuan Altair sedang berjalan di belakangnya. Semua mata menatap ke arah Asena ketika melihat jika baru kali pertama ada orang yang berani berjalan di depan Tuan Altair.


Seorang pengawal yang mengetahui hal itu segera melangkah mendekat ke arah Asena kemudian pengawal itu langsung menarik tangan Asena supaya minggir dari jalan Tuan Altair.


“Lepaskan tangan saya, sakit,” kata Asena yang merasakan nyeri di tangannya. Tangannya kemarin terkena kuah sup yang panas dan tadi pagi di injak oleh Zevana, lalu sekarang di tarik dan di genggam paksa oleh lelaki bertubuh kekar itu. Asena berusaha menarik tangannya dari genggaman lelaki itu dan berhasil.


Semua orang yang ada di lobby utama perusahaan ini melihat ke arah Asena yang sedang berjalan mundur ke belakang, Asena tanpa sengaja menjatuhkan rantang berisikan makan siang Tuan Altair ke atas lantai hal itu membuat Asena kaget.


Waktu seakan berjalan melambat ketika tubuh Asena hampir saja jatuh karena mulai kehilangan keseimbangan. Dan di saat yang bersamaan pinggang Asena di tarik oleh seseorang lalu orang itu mendekap tubuh Asena seakan tak ingin melihat perempuan itu jatuh ke lantai. Asena menghirup aroma parfum mint yang menguar dari tubuh orang yang menyelamatkannya dan Asena buru-buru membuka kedua kelopak matanya perlahan guna untuk melihat siapa orang yang menyelamatkannya sekarang.


“Tu-tuan Altair,” kata Asena dengan nada suara yang tergagap-gagap.


“Aku tidak percaya jika Tuan Altair menyelamatkan pelayan itu, ini sungguh baru kali pertama terjadi dan jika tak melihatnya sendiri maka aku sungguh tidak percaya,” kata para pekerja kantor ini dengan suara yang bersahutan satu sama lain.


Asena yang menyadari jika kini ia masih berada di dalam pelukan Tuan Altair pun segera menarik tubuhnya, Asena tak menyadari jika ia hampir saja menginjak makanan yang telah berserakan di lantai marmer perusahaan ini dan Tuan Altair kembali menarik perempuan itu mendekat padanya.


“Perhatikan langkah kamu,” bisik Tuan Altair di dekat telinga Asena.


“Bukan salah saya, pengawal itu tadi menarik tangan saya dan sakit sekali,” kata Asena kemudian pandangannya mengarah ke punggung tangannya yang kini sudah memerah.


“Tuan Altair memperhatikan hal itu kemudian langsung menatap tajam ke arah pengawal yang tadi menarik tangan Asena.


“Lan. Pecat pengawal itu!” titah Tuan Altair.


“Tuan, pengawal itu hanya menjalankan tugasnya karena sejak dari dulu memang tak ada yang boleh berjalan di depan Anda,” ujar Lan mencoba menjelaskan pada Tuan Altair jika apa yang pengawal itu lakukan adalah benar, hanya saja pengawal malang itu tidak tahu jika perempuan yang ia tarik merupakan perempuan yang selalu ingin Tuan Altair lindungi. Sungguh malang sekali.

__ADS_1


“Kau berani membantah kata-kataku!” bentak Tuan Altair pada Lan.


“Tidak,” jawab Lan. “Saya akan melakukan perintah Anda. Maafkan atas kelancangan saya barusan, Tuan Altair,” kata Lan seraya membungkukkan tubuhnya.


Asena baru mengerti alasan kenapa pengawal itu menarik paksa tangannya dan meminta Asena untuk minggir hanya saja Asena tadi tidak menyadari akan hal itu. Asena tak bisa membiarkan pengawal itu di pecat karena disini yang salah adalah Asena sebab tak mengetahui tentang aturan tersebut.


“Tu-tuan Altair, saya mohon jangan pecat pengawal itu dari pekerjaannya, karena sesungguhnya dia tidak salah, sayalah yang salah,” ujar Asena dengan kepala yang tertunduk. Asena berharap lelaki arogan yang ada di hadapannya sekarang mau mendengarkan ucapannya, ya lelaki itu cukup angkuh untuk bisa mendengarkan permintaan orang lain, tapi meskipun begitu tidak ada salahnya jika Asena mencobanya.


“Lan! Biarkan dia tetap bekerja!” titah Tuan Altair. “Kamu harus membayar permintaan kamu itu padaku, Asena,” setelah bicara Tuan Altair kembali melanjutkan langkahnya.


“Baik Tuan,” kata Asena dengan membungkukkan tubuhnya mengucap terima kasih.


“Tuan Altair terima kasih atas kebaikan Anda,” kata pengawal itu tersenyum bahagia. Lelaki itu merasa seakan baru saja terbebas dari hukuman mati.


Tuan Altair menghentikan langkahnya ketika tidak mendengarkan suara langkah Asena. Lelaki itu menolah ke arah belakang membuat Lan langsung meminggirkan tubuhnya. Tatapan Tuan Altair menajam ketika melihat Asena berjalan keluar dari pintu utama perusahaan ini.


“Mana aku tahu,” jawab resepsionis lainnya.


Tuan Altair menarik lengan tangan Asena sebab ia tahu tangan Asena sedang terluka dan Tuan Altair tak ingin menyakiti perempuan itu. Asena menatap ke arah Tuan Altair dengan wajah yang nampak bingung sekali.


“Mau kemana kau?” tanya Tuan Altair dengan nada suara terdengar dingin sekali.


“Saya mau kembali ke restoran karena tadi makan siang Anda tumpah,” kata Asena dengan kepala yang tertunduk takut. Lelaki kejam ini bias memecatnya kapan saja dan ia harus berhati-hati dengannya.


“Ikut ke ruangan saya sekarang!” titah Tuan Altair pada Asena.

__ADS_1


“Baik,” jawab Asena. Asena hanya bisa mengikuti perintah majikannya itu karena Bos adalah raja.


Asena berjalan di belakang Lan dan Tuan Altair hanya meliriknya saja. Samar-samar Asena masih bisa mendengar jika banyak orang yang kini sedang membicarakan tentangnya. Lan melirik ke arah para pekerja yang masih saja sibuk memperhatikan ke arah mereka, kemudian Lan pun menatap tajam ke arah mereka berdua hingga semua orang segera membubarkan diri.


***


“Lan! Panggilkan Dokter!” titah Tuan Altair.


“Apakah Anda sakit Tuan?” tanya Asena polos. Asena sedang berdiri di samping Tuan Altair yang kini sedang mendudukkan tubuhnya di kursi kerjanya.


"yang sakit bukan aku, tapi kamu," jawab Tuan Altair sembari menatap ke arah Asena mengunakan ekor matanya.


“Saya?” tanya Asena sembari menunjuk ke arah dirinya sendiri. Asena mengerutkan keningnya bingung seba. dirinya merasa baik-baik saja sekarang.


“Tangan kamu sakit,” kata Tuan Altair memperjelasnya.


Asena langsung melihat ke arah Lan yang kini sedang sibuk menghubungi seseorang yang Asena percaya ialah Dokter.


“Asisten Lan tolong jangan hubungi Dokter karena saya baik-baik saja,” pinta Asena dengan wajah memohon.


Lan tidak menjawab tetapi lelaki itu melihat ke arah Tuan Altair yang kini hanya diam saja.


Asena menghembuskan nafasnya kasar ketika ia ingat jika Asisten Lan hanya akan mendengarkan perintah dari Tuan arogan ini dan buka dirinya.


“Tuan, lihatlah tangan saya baik-baik saja, bahkan saya juga bisa memijat pundak Anda,” kata Asena kemudian mengarahkan kedua tangannya untuk memijat pundak Tuan Altair.

__ADS_1


Menurut kalian apakah Tuan Altair akan mencabut perintahnya?


__ADS_2