
"Sayang. Apa yang kamu lakukan di dalam dapur ini?" hanya Tuan Altair setelah lelaki itu masuk ke dalam dapur dan melangkah menuju istrinya.
"Tentu saja aku membuatkan sarapan pagi untukmu, Sayang memangnya apa lagi. Bukankah setiap hari aku juga melakukannya," kata Asena kepada suaminya.
"Sekarang kamu sedang hamil dan aku tidak mengizinkanmu untuk masuk ke dalam dapur kecuali hanya untuk menikmati makanan saja!" perintah Tuan Altair dengan posesif.
"Lalu apa yang aku lakukan di pagi hari jika tidak membuat sarapan pagi?" tanya Asena balik kepada suaminya. Asena mendudukkan tubuhnya di sofa yang ada di dalam kamarnya.
Tuan Altair ikut mendudukkan tubuhnya di sofa yang sama dengan sang istri dan lelaki itu melihat ke arah wajah istrinya yang nampak masam dan tentulah perempuan itu merasa kesal padanya sekarang.
"Sayang, kamu jangan marah karena aku tak ingin terjadi sesuatu padamu. Ingatlah ada darah dagingku di dalam kandunganmu sekarang dan aku ingin yang terbaik untuk kalian berdua," kata Tuan Altair dengan mengusap perlahan rambut panjang Asena.
"Tapi aku merasa bosan kita harus terus duduk di dalam ruangan ini, kau juga sangat sibuk bekerja akhir-akhir ini sepertinya engkau melupakanku," kata Asena sembari melepaskan pelukannya yang kemudian memberikan jarak diantara mereka berdua. Tuan Altair yang melihat sikap istrinya justru merasa gemas dan langsung memeluk tubuh Asena kembali tanpa ingin melepaskannya.
"Kalau begitu bagaimana jika kau ikut ke kantor hari ini? Kemudian siang harinya kita pergi ke rumah sakit untuk melakukan USG," ajak Tuan Altair kepada Asena.
Kedua mata Asena langsung berbinar bahagia ketika mendengarkan ucapan suaminya. "Benarkah aku boleh ikut ke kantor?" tanya Asena kegirangan kepada sang suami. Tuan Altair menganggukkan kepalanya.
Selang beberapa waktu.
Saat ini Asena sudah berada di dalam ruangan kantor suaminya. Sedangkan Tuan Altair sendiri sedang sibuk melakukan meeting sekitar 2 jam yang lalu.
Asena beranjak berdiri dari posisi duduknya kemudian mengitari ruangan ini dan berhentilah ia di meja kerja suaminya, Asena tersenyum manis ketika melihat fotonya terpampang di meja sang suami. Setelah puas memperhatikan sekitar ruangan ini Asena pun memilih berjalan-jalan keluar karena ia mulai merasa bosan.
"Dulu ketika aku datang kemari aku tak pernah memperhatikan sekitar perusahaan ini dengan detail, dan sekarang aku sudah bisa melihatnya, perusahaan ini begitu besar sekali," kata Asena sembari terus melangkahkan kakinya.
__ADS_1
Asena melihat ke salah satu ruangan yang terbuat dari kaca transparan. Perempuan itu tidak sengaja melihat ke arah suaminya yang sedang duduk di kursi sembari mendengarkan penjelasan dari seseorang perempuan yang sedang berbicara di depan layar lebar di hadapannya.
"Lihatlah dia nampak serius sekali, sebenarnya yang dia lihat perempuan itu atau layar lebarnya?" tanya Asena pada dirinya sendiri mulai merasa cemburu ketika mengetahui suaminya memperhatikan perempuan lain tepat di hadapan matanya.
Asisten Lan memperhatikan ke arah Nona Asena kemudian lelaki itu pun berbisik kepada Tuan Altair mengatakan jika Nona Asena sedang memperhatikannya dari luar ruangan ini.
Tuan Altair bukannya marah lelaki itu justru mengulas senyuman tipis kemudian ia keluar dari ruangan ini untuk menghampiri istrinya yang sekarang sedang melamun.
"Sayang apa yang kau lakukan berdiri di depan ruangan ini?" hanya Tuan Altair pada istrinya.
"Astaga sejak kapan kau berada di sini?" tanya Asena kaget sembari memegangi jantungnya yang sekarang sudah senam marathon. Asena mulai mengalihkan pandangannya ke arah tempat suaminya tadi duduk dan lelaki itu benar-benar tidak ada.
"Aku sedang ada di sini dan kenapa kau malah melihat ke arah lain," kata Tuan Altair yang seakan sudah bisa menebak apa yang sekarang ada di dalam pikiran istrinya.
"Sana masuklah. Aku tidak ingin mengganggu," kata Asena sembari mendorong suaminya menjauh.
"Aku menunggu di ruangan kerjamu saja, aku tidak ingin mengganggu kalian, lebih lagi aku tidak ingin mengganggu seseorang lelaki yang sedang memperhatikan perempuan yang ada di sana itu," kata Asena lagi dengan mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Tuan Altair yang merasa gemas langsung mengecup sekilas bibir istrinya ketika ia sudah memperhatikan ke sekitarnya kalau aman terkendali dan tak ada yang sedang memperhatikan mereka sekarang.
"Aku selalu menyukaimu jika sedang cemburu seperti ini, sayangku," kata Tuan Altair sembari mengajak perlahan rambut istrinya.
"Jangan lakukan hal seperti itu lagi, nanti kalau ada orang yang lihat gimana," gerutu Asena dengan mengerucutkan bibirnya kesal.
"Aku sudah memastikan semuanya aman terkendali, jadi kamu jangan merasa cemas," kata Tuan Altair. "Ayo ikut aku masuk kedalam ruangan meeting sekarang." Tanpa menunggu sahutan dari istrinya, Tuan Altair mengandeng Asena masuk ke dalam ruangan meeting.
__ADS_1
"Sayang aku malu, apa yang akan mereka pikirkan kalau melihat ada orang asing ikut meeting," kata Asena mencoba untuk keluar dari ruangan ini lagi.
Tuan Altair langsung memeluk istrinya kemudian berkata, "Aku akan mengatakan kamu istriku dan mereka semua pasti akan paham," jawab Tuan Altair santai.
"Siapa perempuan yang bersama dengan Tuan Altair sekarang?"
"Baru kali pertama aku melihat Tuan Altair membawa seorang perempuan ke dalam ruangan meeting."
"Jika dilihat dari cara Tuan Altair memperlakukan perempuan itu, pastilah perempuan itu sangat penting baginya."
Suara-suara itu saling bersahutan dengan lirih hingga memancing tatapan dingin Asisten Lan.
"Diam! Atau kalian keluar saja dari ruangan ini!" kata asisten Lan dengan tatapan penuh kritik.
"Ma-maafkan kami Asisten Lan," kata orang-orang tersebut yang tadi sempat membicarakan Tuan Altair.
"Duduklah," kata Asena pada Tuan Altair sembari menarik kursi yang sempat suaminya itu duduki sebelumnya. Itu tidak lepas dari perhatian semua orang yang ada di dalam ruangan meeting.
"Duduklah di sini," kata Tuan Altair dengan nada suara terdengar lembut. Kemudian lelaki itu mendudukkan paksa tubuh istrinya di kursi yang selama ini selalu ia duduki ketika berada di dalam ruangan meeting.
Semua orang yang ada di dalam ruangan ini saling menatap satu sama lain kebingungan dengan apa yang sedang mereka lihat sekarang. Tidak biasanya Tuan Altair berbicara dengan nada suara lembut dan juga sorot mata Lelaki itu terlihat teduh dan itu selama ini tak pernah mereka semua bayangkan sebelumnya.
Asena mengedarkan pandangannya ke sekitar kemudian ia melihat jika begitu banyak orang yang memperhatikannya sekarang. "Biar aku berdiri saja," kata Asena yang merasa tidak enak hati.
"Duduklah sayang." Kali ini Tuan Altair berbicara dengan nada memohon dan bukan dengan nada perintah seperti biasanya.
__ADS_1
Semua orang yang ada di dalam ruangan ini pun saling menatap satu sama lain dan ada juga beberapa lelaki yang mengucek kedua matanya seakan tak percaya dengan apa yang barusan ia lihat di hadapannya ini.