Pembalasan Asena

Pembalasan Asena
Sikap Tuan Altair Mengejutkan Semua Orang


__ADS_3

Tuan Altair melihat ke arah perempuan cantik itu dengan mata menajam. Perempuan cantik itu begitu bodoh sekali dan ia mengira jika Tuan Altair sedang marah kepada perempuan yang ada di dekat Tuan Altair sekarang.


"Tuan Altair perempuan ini tadi tidak sengaja menabrak teman saya hingga membuat berkas-berkas yang harusnya dikirimkan untuk Anda jatuh berserakan di lantai." Perempuan cantik itu bicara sembari menyelipkan beberapa sulur anak rambutnya ke belakang telinga kemudian tangannya mengusap perlahan lehernya seakan mencoba untuk menggoda Tuan Altair dengan cara murahan itu.


Asena yang melihat tingkah perempuan itu pun langsung berdecih kemudian berdiri di samping Tuan Altair.


"Berani sekali kamu berdiri di dekat Tuan Altair kemari lah," perempuan cantik itu hendak menarik tangan Asena, tetapi tidak terduga Asena menepis kasar tangan perempuan itu hingga membuat perempuan cantik tersebut memekik kesakitan.


"Jangan berani menyentuhku dengan tangan kotor kamu!" kata Asena. Tuan Altair hanya diam membiarkan apapun yang ingin istrinya itu lakukan kepada pekerjanya.


"Berani sekali kau melakukan hal ini padaku," kata perempuan cantik itu tidak terima namun, ia berbicara dengan wajah memelas dan juga suaranya meminta perhatian dari Tuan Altair.


Perempuan paruh baya yang kini sudah berdiri sembari membawa beberapa berkas bergetar ketakutan. Asisten Lan mengambil alih berkas itu karena memang berkas itu ia butuhkan secepat mungkin.


"Bawa ke meja saya!" perintah Asisten Lan pada pengawal yang berdiri di belakangnya sekarang.


"Tu-tuan Altair maafkan atas kecerobohan saya," perempuan malang tersebut dengan kepala yang tertunduk. "saya tadi berjalan dengan membawa tumpukan berkas itu hingga tidak menyadari jika Nona ini melangkah ke arah saya, saya yang bersalah dan biarkan Nona ini pergi." perempuan paruh gaya itu justru menyalahkan dirinya sendiri akan apa yang terjadi karena ia merasa kasihan kepada Asena yang memiliki usia sama dengan putrinya.


Semua orang yang ada di sekitar lobby utama melihat apa yang sedang terjadi. Mereka tidak satu detik pun mengalihkan pandangannya karena merasa penasaran keputusan apa yang akan Tuan Altair ambil kali ini sedangkan selama ini Tuan Altair dikenal kejam dan juga tak pernah memaafkan siapapun tanpa terkecuali.


"Asisten Lan!" Panggil Asena.


"Ya, Nona Asena," jawab Asisten Lan setelah memberikan berkas-berkas itu kepada bawahannya kemudian melangkah mendekati Nona mudanya tersebut.

__ADS_1


Semua orang yang ada di sekitar lobby utama langsung membulatkan kedua matanya ketika mereka mendengarkan Asisten Lan berbicara dengan nada sopan kepada perempuan yang sedang berdiri di dekat Tuan Altair sekarang.


"Naikkan dua kali lipat jabatan perempuan paruh baya ini!" perintah Asena kepada Asisten Lan.


Asisten Lan hanya bisa diam kemudian menatap ke arah Tuan Altair yang langsung menganggukkan kepalanya setuju dengan apa yang istrinya inginkan.


"Mulai sekarang urus semua keperluan sekolah putra-putrinya!" perintah Tuan Altair juga.


"Sebenarnya siapa perempuan ini? Kenapa ia bisa mengambil keputusan begitu saja dan bahkan Tuan Altair juga mendukung keputusannya?" kira-kira seperti itulah pertanyaan yang ada di pikiran semua orang yang melihat kejadian ini.


"Nona terima kasih atas kebaikan Anda. Tuan Altair terima kasih atas kebaikan Anda dan semoga Anda akan selalu mendapatkan kebahagiaan," ujar perempuan paruh baya itu dengan meneteskan air matanya. Tidak menduga jikalau perempuan yang ia bantu justru malah membuat kehidupannya berubah jadi lebih baik dari sebelumnya.


"Tetaplah berbuat baik, aku sangat senang sekali ketika melihatmu membelaku padahal kau juga dalam keadaan kesulitan," kata Asena sembari mengusap perlahan pundak perempuan paruh baya itu dengan mengulas senyuman manis.


Altair melirik ke arah istrinya dan ia bernafas lega karena berpikir jika Asena sudah tidak marah lagi kepadanya sekarang.


"Nona, maafkan atas apa yang saya lakukan tadi sungguh saya tidak bermaksud seperti itu," kata perempuan cantik mencoba untuk mengamankan karirnya di dalam perusahaan ini.


"Asisten Lan!" panggil Asena lagi.


"Ya, Nona Asena," jawab Asisten Lan dengan menunjukkan kepalanya.


"Selidiki tentang kelakuan perempuan ini selama berada di perusahaan! Jika ia selalu mempersulit orang lain maka keluarkan saja dari perusahaan ini, tapi jangan sampai mempersulitnya jika sedang mencari pekerjaan di luar perusahaan Garden Group!" perintah Asena.

__ADS_1


"Lakukan seperti apa yang dia inginkan!" perintah Tuan Altair.


"Baik, Tuan," jawab Asisten Lan patuh.


Perempuan cantik dan juga perempuan paruh baya yang tadi berdiri di hadapan Tuan Altair pun segera membubarkan diri. Terlihat beberapa orang yang masih ada di lobby utama terus saja memperhatikan ke arah Tuan Altair sekarang dan tentu saja itu mereka lakukan secara diam-diam.


Asena kembali melanjutkan langkah kakinya keluar dari lobi utama perusahaan Garden group. Tuan Altair mengikuti langkah istrinya kemudian menarik pelan tangan Asena.


"Sayang maafkan aku, sungguh aku tidak menduga jika kamu yang membuat makan siang itu," kata Tuan Altair masih mencoba untuk membujuk istrinya.


"Sudah lupakan saja dan anggap aku tidak pernah datang ke perusahaan ini, menyesal sekali aku sudah menghabiskan waktu setengah hari di dapur dan makanan yang sudah susah payah aku buat justru berakhir di tong sampah," keluh Asena yang masih belum bisa memaafkan suaminya.


"Apakah barusan aku tidak salah dengar? Tuan Altair meminta maaf kepada seseorang perempuan!" ucap para pegawai saling berbisik satu sama lain.


Asena menepis tangan Tuan Altair dan tidak disangka Tuan Altair justru membopong tubuh Asena mirip seperti sedang menggendong sekarung beras. Asena terus aja berontak meminta untuk dilepaskan, tetapi Tuan Altair tidak peduli dan terus saja membawa istrinya menuju ke lift yang ada di lobby utama perusahaan Garden Group.


"Altair lepaskan aku! Dasar brengsek, lepaskan aku! Apakah pendengaranmu itu sudah tidak berfungsi lagi sekarang hingga kau tidak mendengarkan ucapanku," umpat Asena sembari memukul punggung suaminya.


"Apakah mataku tidak sedang salah melihat sekarang?" tanya seorang perempuan kepada temannya.


"Atau mungkin telingaku juga sedang salah mendengar sekarang?" tanya perempuan lainnya ikut kebingungan sembari mengusap-usap kedua telinganya.


"Kalian berdua tidak salah melihat dan juga mendengar karena aku juga melihat dan juga mendengar hal yang sama."

__ADS_1


Para perempuan itu merasa sangat iri sekali melihat ada seorang perempuan cantik yang diperlakukan baik oleh Tuan Altair. bahkan untuk kali pertama mereka semua mendengar ada orang yang berani mengatakan kata-kata kasar kepada Tuan Altair.


Akhirnya hari ini para pekerja perempuan menjulukinya dengan hari patah hati massal karena lelaki yang mereka incar justru sudah memilih tambatan hatinya.


__ADS_2