
Saat ini Tuan Altair dan juga Asena sudah berada di dalam rumah sakit paling tepatnya berada di dalam ruangan kandungan. Terlihat Asisten Lan dengan setia berdiri di belakang kedua majikan itu hingga seorang dokter meminta kepada Asena untuk berbaring di atas ranjang pasien guna untuk melakukan USG.
Asisten Lan tetap mengikuti kedua majikannya. Tuan Altair tidak merasa keberatan akan kehadiran Asisten Lan karena selama ini lelaki itu selalu menjadi bayangannya yang mengikuti kemanapun ia pergi. Asena juga merasa tidak keberatan karena Asisten Lan ia anggap seperti saudaranya sendiri hingga suara sang dokter mulai terdengar.
"Nona Asena. Saya akan mengoleskan gel ini ke dalam perut Anda, bisakah jika Anda membuka sedikit bajunya," pinta sang dokter paruh baya dengan mengulas senyuman manis.
"Baiklah, dokter," jawab Asena yang tidak merasa keberatan.
Ketika Asena hendak membuka bajunya Tuan Altair langsung menutup kembali baju istrinya lalu melihat ke arah asisten Lan yang sekarang sudah berdiri membelakangi mereka.
"Asisten Lan, jangan hanya berdiri di sana dan tunggulah di luar!" perintah Tuan Altair. Tuan Altair sangat posesif sekali ia tak mungkin membiarkan ada lelaki yang melihat lekuk tubuh istrinya sekalipun itu Asisten Lan sendiri.
"Baik Tuan Altair." Setelah bicara Asisten Lan langsung melangkah pergi dan berjaga di depan ruangan ini.
"Baiklah kalau begitu bisakah kita mulai sekarang?" sang dokter hendak mengoleskan gel yang ada di tangannya ke perut Asena, tetapi ucapan Tuan Altair menghentikan apa yang akan sang dokter lakukan.
"Apakah gel itu terasa panas ketika mengenai kulit istriku?" tanya Tuan Altair mulai posesif.
"Gel ini terasa dingin jika mengenai kulit," jawab sang dokter.
"Kalau begitu coba berikan gel itu padaku, aku akan mencobanya terlebih dulu untuk memastikan jika kau tidak sedang berdusta padaku. Jika kau sampai berbohong maka habis karirmu di rumah sakit ini!" kecam Tuan Altair kepada sang dokter.
__ADS_1
Dengan tangan yang gemetar sang dokter memberikan gel itu di tangan Tuan Altair, kemudian Tuan Altair pun mengoleskannya ke perutnya dan benar apa yang sang Dokter katakan. Gel ini ternyata dingin dan bukan panas seperti apa yang ia perkirakan sebelumnya.
"Sayang, jangan seperti itu kau mengganggu dokter yang sedang bertugas," kata Asena yang merasa kasihan melihat sang dokter yang sekarang sudah menunjukkan wajah pucat pasih dengan keringat yang sudah mengucur deras dari keningnya.
"Aku hanya mencoba untuk memastikannya saja sayang," jawab Tuan Altair santai.
"Kalau begitu lanjutkan pemeriksaan," kata Tuan Altair kepada sang dokter.
Sang dokter mulai mengoleskan gel itu ke perut Nona Asena dengan gerakan perlahan.
"Nona Asena dan juga Tuan Altair silahkan melihat ke arah layar komputer yang ada di hadapan kalian," pinta sang dokter dengan ucapan yang sangat hati-hati sekali.
Tuan Altair dan juga Asena langsung melihat ke arah layar komputer yang ada di depan mereka sesuai dengan instruksi sang dokter.
"Apa jenis kelaminnya?" tanya Tuan Altair yang sudah merasa penasaran dengan jenis kelamin anak pertamanya. Ini adalah hal pertama untuk Tuan Altair jadi sangat wajar jika sang penguasa merasa asing. Tuan Altair mungkin memang sangat ahli pada bidangnya, tapi dibeberapa bidang lainnya tentunya tidak karena setiap orang pasti memiliki kelemahan.
Dokter yang memeriksanya Nona Asena langsung berwajah pucat karena takut akan menjawab pertanyaan Tuan Altair. Dan Asena sudah mengerti jawabannya sehingga ia memilih untuk memegang punggung tangan sang dokter kemudian mengulas senyuman manis seakan mencoba untuk meredakan rasa takut di hati dokter malang ini.
"Sayang usianya masih sangat kecil sekali jadi kita masih belum bisa mengetahui jenis kelaminnya," kata Asena menjelaskan pada suaminya. "apakah jika anak ini perempuan maka kau tidak menyukainya dan begitu juga sebaliknya?" tanya asena lagi kepada Tuan Altair.
"Tentu saja perempuan ataupun lelaki aku tidak peduli yang terpenting itu terlahir dari rahimmu, sayang," jawab Tuan Altair sembari mengusap perlahan rambut istrinya.
__ADS_1
"Selama ini aku hanya mendengar kabar jika Tuan Altair begitu mencintai istrinya dan sekarang aku bisa melihatnya secara langsung. Singa jantan itu berubah menjadi kucing anggora ketika berada di hadapan sang istri," batin sang dokter dengan memperhatikan sepasang insan yang ada di hadapannya sekarang.
***
"Jika membuatkan istriku makanan maka pastikan sayuran dan juga buah-buahan yang masih sangat segar sekali, dan selalu awasi dia kapanpun itu karena aku tidak ingin kalau sampai istriku terluka sedikit saja," kata Tuan Altair kepada Bi Irene yang sekarang sedang berdiri di hadapannya.
"Saya akan menjaga Nona Asena seperti menjaga putri saya sendiri." Tuan Altair hanya menjawab dengan anggukan kepala setuju.
"Sayang, kau itu jangan berlebihan seperti ini. Tanpa perlu kau beritahu maka Bi Irene akan melakukan yang terbaik untukku," gerutu Asena pada suaminya.
"Sayang, aku hanya memastikannya saja," jawab Tuan Altair.
"Nona Asena, Tuan Altair melakukan itu karena ia begitu menyayangi Anda dan juga calon bayi yang sedang anda kandung sekarang, Bi Iren mengerti apa maksud Tuan Altair. Jadi Nona asena tak perlu mencemaskan apa yang sedang saya pikirkan sekarang," kata Bi Irene kepada Asena.
"Terima kasih Bi. Saya memang sudah kehilangan kedua orang tua saya, tetapi setiap kali melihat sikap Bi Irene yang selalu menyayangi saya dan juga ingin menjaga saya maka itu membuat saya seperti bisa melihat sosok almarhum Mama saya di dalam sikap Bi Iren," kata Asena sembari mengusap perlahan punggung tangan perempuan paruh baya itu.
"Saya sudah menganggap kalian seperti anak saya sendiri. Suami saya meninggal ketika usia saya masih 30 tahun dan sejak saat itu saya tak pernah terpikirkan untuk menikah lagi hingga saya mendapatkan pekerjaan di rumah Tuan Altair," jelas Bi Irene.
"Apakah Bi Irene tidak memiliki anak sebelumnya?" tanya Asena.
"Suami saya mandul," jawab Bi Iren.
__ADS_1
"Kalau begitu anggaplah kami seperti anak Bi Iren sendiri," pinta Asena dengan senyuman bahagia. Tuan Altair hanya diam karena yang terpenting baginya sang istri merasa nyaman dan juga bahagia.