
Karena tidak bisa membujuk Asena akhirnya Tuan Altair mengajak Asena ikut serta dengannya mencari keberadaan Cem. Di sepanjang perjalanan Asena terus saja gemetar akan rasa khawatir dan juga kebencian. Ingin sekali kedua tangannya ini menghabisi lelaki itu dan mengirimnya ke neraka, tapi Asena takut pada hukum.
Tuan Altair melirik ke arah Asena kemudian menggenggam tangan Asena seraya berkata, “Kau tak perlu melakukan apapun Asena! Aku yang akan melakukannya untuk kamu,” ujar Tuan Altair. Entah mengapa jika sudah berurusan dengan Asena maka Tuan Altair akan turun tangan sendiri. Sepertinya kini lelaki itu sudah memantapkan hatinya untuk mencintai Asena. Rasa kasihan, ingin melindungi membuat Tuan Altair lambat-laun mulai jatuh hati pada perempuan malang itu.
Asena menundukkan kepalanya kemudian kedua tangannya saling menggenggam satu sama lain. Perempuan itu mulai berkata, “Sejak dari kecil Cem tidak pernah bersikap baik padaku dan entah mengapa aku sempat berpikir jika lelaki itu bukanlah Papa kandungku dan kecurigaan aku itu semakin bertambah nyata ketika melihat Cem berusaha untuk menjual aku pada para lelaki hidung belang, jika memang lelaki itu adalah papa kandungku mana mungkin ia akan melakukan hal keji seperti itu pada putrinya sendiri dan Cem juga selalu berusaha melukai Mama jika tak mendapatkan apa yang ia inginkan, sejak dari kecil yang lelaki itu lakukan hanyalah minum dan juga menghabiskan uang Mama di meja judi, tapi Mama tak pernah terpikirkan untuk menceraikannya,” kata Asena yang sudah tak bisa mengendalikan emosi dan juga kesedihannya hingga air mata perempuan itu jatuh semakin deras membasahi kedua pipinya.
Tuan Altair mengangkat satu tangannya lalu menarik pundak Asena. “Menikahlah denganku! Dan aku akan menyelidiki semuanya untuk kamu, mengenai siapa Cem mengenai siapa majikan Mama kamu dan mengenai semuanya,” kata Tuan Altair.
Asena terdiam sejenak mencoba memikirkan apa yang Tuan Altair katakan barusan, Asena ingin membalas dendam dan juga mengetahui semuanya, jadi menikah dengan Tuan Altair mungkin pilihan yang tidak terlalu buruk dan lebih lagi Tuan Altair akan membantunya, Tuan Altair terkenal sering sekali bergonta-ganti pasangan dan Asena percaya jika lelaki itu akan menceraikannya secepat membalikkan telapak tangan, tapi itu tak mengapa asalkan Asena bisa membalas dendam pada orang-orang yang telah melukai Mamanya selama ini.
“Ayo kita menikah setelah Anda bereskan masalah lelaki sialan itu,” jawab Asena mulai setuju.
“Lan! Siapkan berkasnya besok!” perintah Tuan Altair.
__ADS_1
“Baik Tuan,” jawab Lan yang sejak dari tadi memang sudah mendengarkan apa yang mereka berdua katakan.
***
Tuan Altair dan juga Asena melangkah masuk ke dalam tempat casino. Terlihat para pengawal Tuan Altair yang sudah sampai lebih dahulu mempersilahkan mereka dan juga membukakan jalan. Asena memegangi lengan tangan Tuan Altair, melihat para perempuan malam yang nampak melakukan aktifitas tak pantas mereka di segala macam arah, itu membuat Asena bergidik antara jijik dan juga geli. Asena mengarahkan tangannya untuk menutupi hidungnya karena ia mulai merasa mual ketika mencium aroma alkohol yang menguar dengan begitu pekat sekali dari ruangan ini.
“Tutupi hidung kamu!” perintah Tuan Altair kemudian lelaki itu menyodorkan selembar tissue pada Asena. Hal yang Tuan Altair lakukan saat ini bisa di bilang begitu romantis sekali karena selama ini Tuan Altar tak pernah perduli dengan perempuan lain dan hanya dengan Asena saja lelaki itu perhatikan.
Seorang perempuan cantik melangkah menghampiri Tuan Altair. Beberapa pengawal hendak menghalangi perempuan itu namun, Tuan Altair melarang mereka hingga perempuan malam yang mengunakan baju haram itu dengan penuh percaya diri melangkah menghampiri Tuan Altair.
Asena menatap perempuan itu tajam dan entah mengapa ia mulai tidak suka jika ada perempuan lain yang mencoba untuk mendekati Tuan Altair.
Tuan Altair memperhatikan perubahan wajah Asena. “Apakah kau tidak lihat jika kini aku sedang bersama dengan perempuan lain!” kata Tuan Altair sengaja berbicara seperti itu. "perempuan ini akan menikah denganku besok,” sambung Tuan Altair seakan mencoba memancing sesuatu dari Asena.
__ADS_1
“Sepertinya dia tidak merasa keberatan jika saya menyelinap di antara kalian dan lihatlah gadis cantik ini hanya diam saja,” kata perempuan malam itu dengan tak tahu malu.
Asena mulai merasakan sakit di bagian dadanya, entah mengapa melihat Tuan Altair akan di temani oleh perempuan lain, itu membuat darah yang ada di balik kulit Asena seakan mendidih seketika.
“Jangan asal bicara,” kata Asena dengan tangan yang terangkat tinggi kemudian langsung menampar perempuan yang ada di hadapannya sekarang hingga perempuan itu membuang wajahnya ke arah lain. “Dia adalah milikku, berani kamu menyentuhnya maka aku akan pastikan kau tak bisa berdiri dengan kedua kaki kamu lagi!” entah mendapatkan keberanian dari mana hingga Asena bisa bersikap kasar seperti ini, padahal biasanya Asena akan bersikap lembut dan juga selalu mengalah pada orang lain, tapi sikap itu tak nampak ada padanya sekarang.
“Gadis remaja seperti kamu tak akan pernah bisa dibandingkan denganku!” perempuan malam itu hendak menampar Asena, tapi dengan gesit Asena langsung menendang kakinya kemudian mendorong perempuan itu hingga jatuh ke lantai. Asena menatap perempuan itu dengan tajam sekali, ia tak akan mau di tindas oleh siapapun lagi sekarang.
“Justru ****** seperti kamu mana bisa dibandingkan denganku, aku mungkin miskin dan tak memiliki harta namun, aku memiliki mahkota berharga yang tak bisa perempuan sepertimu jaga!” hardik Asena.
“Tuan, sepertinya Nona Asena mulai bisa melihat betapa kejamnya dunia,” bisik Lan di dekat Tuan Altair.
“Dia perempuanku,” kata Tuan Altair bangga melihat perubahan Asena yang begitu mengejutkan sekarang.
__ADS_1