
Asena kini sudah sampai di depan gerbang hitam yang menjulang tinggi, sudah beberapa kali Asena mencoba untuk mengintip dan melihat apa yang sedang terjadi di dalam sana.
Seorang lelaki yang bertugas berjaga di gerbang tanpa sengaja melihat ke arah Asena yang sedang mengamati situasi rumah ini dan itu begitu mencurigakan sekali menurut sang penjaga rumah ini.
“Nona, apa yang Anda lakukan di depan gerbang rumah ini?” tanya sang penjaga setelah berdiri di depan Asena.
“Pak, saya adalah anak dari perempuan yang bekerja di rumah ini sebagai seorang pelayan,” kata Asena. “nama Mama saya adalah Sima, saya datang ke sini karena tidak menemukan keberadaan Mama saya di rumah, saya menduga jika Mama saya pasti belum pulang bekerja,” kata Asena jujur pada penjaga rumah ini.
“Sima,” kata sang penjaga dengan kepala yang tertunduk sedih. Asena memperhatikan gelagat aneh penjaga rumah ini.
“Ya, nama Mama saya adalah Sima, apakah dia ada di dalam rumah ini sekarang? Bisa tolong panggilkan dia?” tanya Asena yang seakan sudah tidak sabar ingin mengetahui kondisi perempuan yang telah melahirkannya itu.
“Sima sudah pulang sejak dari tadi sore,” kata penjaga rumah ini pada Asena berdusta. “kamu coba saja hubungi nomor ponselnya, mungkin saja Mama kamu sedang pergi ke suatu tempat sebelum pulang ke rumah,” kata penjaga rumah ini. Tanpa menunggu sahutan dari Asena, penjaga rumah besar ini langsung masuk kedalam pos penjagaan kemudian kembali menutup gerbang rumah ini dengan begitu rapat.
__ADS_1
“Aneh sekali sikap penjaga itu,” batin Asena menaruh curiga.
Asena memutar tubuhnya hendak menjauh dari rumah ini, tanpa sengaja Asena melihat ke arah Yessi dan juga Zevana yang kini sedang duduk di mobil baris pertama. Mobil hitam mewah itu melewatinya begitu saja dan terlihat berhenti sesaat di depan gerbang rumah ini. Penjaga yang tadi sempat berbicara dengan Asena pun langsung membukakan pintu rumah ini kemudian mobil yang kedua perempuan itu duduki melesat masuk begitu saja.
“Mereka adalah pemilik rumah ini? Berarti selama ini orang yang mempersulit Mama dan juga membuat Mama pulang kerja dengan keadaan lapar dan juga pucat adalah kedua perempuan itu,” batin Asena dengan kedua tangan yang terkepal begitu kuat.
Asena mulai merasakan firasat yang buruk sekarang, tapi Asena tidak tahu itu apa. Asena mencoba untuk menepis pemikiran buruknya dan memilih pulang ke rumah siapa tahu Mamanya sudah pulang sekarang. Ya, semoga saja seperti itu.
Selang beberapa waktu.
“Mama ... Mama,” teriak Asena panik mencari keberadaan perempuan yang telah melahirkannya itu, tapi Asena tidak menemukan Sima dimanapun. Padahal Asena sudah mengecek setiap ruangan yang ada di dalam rumah ini.
Asena melangkah ke pintu ruang tamu rumah ini kemudian menghentikan langkahnya tepat di hadapan Cem. "Dimana kamu sembunyikan Mama?” tanya Asena pada Cem tanpa sopan. Lelaki sepertinya tak pantas untuk di sopani dan juga di kasihani. Begitulah yang sekarang sedang ada didalam pikiran Asena.
__ADS_1
“Mana aku tahu, bahkan aku datang ke rumah ini karena begitu merindukan istriku yang cantik itu,” kata Cem yang menghina dan Asena tahu itu dengan begitu jelas sekali.
Asena hendak membuka suara namun, ia melihat ke arah kedua lelaki bertubuh kekar yang kini berdiri di pintu rumahnya.
“Si-siapa kalian?” tanya Asena dengan suara yang bergetar di ujung lidahnya.
“Bukankah dia cantik?” tanya Cem pada kedua lelaki itu. “Sekarang mana uangnya dan kalian bisa bawa dia kemanapun kalian inginkan,” sambung Cem ketika melihat kedua lelaki itu menatap ke arah Asena dengan sorot mata penuh minat dan juga damba.
“Brensek! Apa yang akan kamu lakukan, berani sekali kau menjual aku, dasar lelaki kurang ajar seharusnya kemarin kau mati saja,” ketus Asena sembari hendak melangkah menghampiri lelaki kurang ajar yang kini sedang duduk di kursi.
“Cantik ikut bersama kami,” kata seorang lelaki kemudian tanpa bicara lagi lelaki itu langsung menutup mulut Asena menggunakan sapu tangan yang sudah di berikan obat tidur terlebih dahulu.
Satu lelaki lain memberikan uang yang telah mereka sepakati sebelumnya. Tanpa memiliki hati Cem malah tertawa puas melihat begitu banyak uang yang ia miliki sekarang hanya dengan menjual anak tirinya itu.
__ADS_1
Asena berontak mencoba untuk melepaskan diri, tetapi ketika obat tidur itu mulai bekerja Asena pun mulai tak sadarkan diri.