Pembalasan Asena

Pembalasan Asena
Aku Ingin Mereka Semua Menderita


__ADS_3

Yessi terus saja mengunci dirinya di dalam kamar tanpa ingin menemui siapapun, bahkan perempuan itu juga terlihat terus saja mendekap guling dengan sesekali melihat ke sekitar ruangannya seakan takut jika ada polisi yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan ini kemudian membawanya ke penjara. rasa bersalah Yessi membuatnya tak bisa melupakan suara jeritan Sima dan juga linangan cairan berwarna merah di lantai waktu itu, Yessi memang begitu takut dengan film horor jadi tak heran kalau perempuan itu tidak pernah bisa melupakan kejadian naas tersebut walaupun hanya sedetik saja. Bahkan ketika memejamkan mata Yessi akan melihat bayangan ketika Zevana mendorong Sima dari lantai atas. Yessi bisa gila jika terus seperti ini.


Zevana tidak pergi ke perusahaan semenjak melihat kondisi Yessi tidak stabil seperti sekarang. Perempuan itu terus saja menjaga Yessi siang dan malam dengan perasaan yang cemas melihat kondisi saudaranya seperti ini.


"Yessi ayo makan siang terlebih dahulu," ajak Zevana setelah ia menaruh nampan berisikan makanan di atas meja dekat sofa.


Zevana hanya bisa menghela nafas pelan ketika melihat kondisi Yessi sekarang, tetapi tidak pernah terbesit sedikitpun penyesalan di hati Zevana telah mendorong Sima dari lantai atas rumah ini.


"Yessi kamu tidak bisa terus-terusan seperti ini dan mengunci dirimu di dalam kamar, jika sampai Papa kembali nanti maka dia akan curiga," kata Zevana mencoba membujuk Yessi dan berhasil. Perempuan itu kini langsung mendudukkan tubuhnya. "bersikaplah seperti tak pernah terjadi apapun, aku yang mendorongnya dan kau tidak bersalah cukup itu saja yang perlu kamu ingat Yessi," sambung Zevana mencoba meyakinkan adik kandungnya jika semua akan baik-baik saja.


"Aku tidak ingin semua orang tahu, aku akan mencoba bersikap seperti tak pernah terjadi apapun, itu hanyalah mimpi bukan kenyataan," kata Yessi dengan terpaksa mencoba membujuk dirinya sendiri dengan perasaan yang sulit untuk bisa tergambarkan.


Zevana tersenyum manis selalu mengusap perlahan kepala adiknya itu. "Jadilah adik yang pintar, aku sangat menyayangimu," kata Zevana sembari mengecup puncak kepala Yessi dengan penuh kasih sayang.


Zevana menggandeng tangan Yessi kemudian meminta adiknya itu untuk duduk di sofa dan mulai melahap makanannya. Zevana melirik ke arah ponselnya yang bergetar dan itu adalah nomor dari orang yang telah ia tugaskan untuk menjaga Sima di rumah sakit itu.

__ADS_1


Wajah Zevana yang tadinya terlihat santai kini mulai nampak tegang. Zevana takut jika sampai Yessi memperhatikannya dan perempuan itu kambuh lagi ketakutan, jadi Zevana memilih berbicara di luar kamar ini.


"Yessi habis kan makananmu, aku harus pergi ke ruangan kerja karena ada meeting online siang hari ini," dusta Zevana kepada adiknya. Yessi mengangguk kan kepalanya setuju.


Zevana berlari menuruni anak tangga rumah ini mencoba mencari tempat aman di mana Yessi tidak bisa mendengarkan perbincangannya bersama dengan seseorang yang ada di dalam panggilan telepon.


"Apa yang kau katakan, sekarang kau disekap? jangan kira aku ini bodoh! Jika kau memang disekap Lalu kenapa kau bisa menghubungiku sekarang?" tanya Zevana balik kepada orang kepercayaannya.


"Kita sudah ketahuan dan perempuan itu telah dipindahkan ke rumah sakit lain yang jauh memiliki fasilitas lebih lengkap!" ujar orang kepercayaan Zevana.


"Dasar bodoh! Kenapa kau ketakutan seperti ini. Perempuan miskin itu tak akan bisa melakukan apapun karena dia tak memiliki bukti," kata Zevana menyepelekan Asena.


"Sialan! Kenapa Altair ikut campur urusanku! Dia bukanlah tandinganku," perkataan Zevana terhenti ketika ia mengingat ucapan orang kepercayaan itu sebelumnya. "istri Tuan Altair? Sejak kapan Altair memiliki istri." Kemarahan Zevana semakin naik ke puncak ubun-ubunnya setelah mendengarkan kabar itu dan siapakah perempuan yang telah menikahi lelaki incarannya selama ini. Zevana yang merasa emosi langsung mengambil vas bunga kemudian melemparkannya ke sembarang arah kemudian perempuan itu juga membuang bantalan-bantalan sofa yang ada di ruang tengah rumah ini serta mengacak-acak apapun yang ia lihat untuk melampiaskan emosinya.


Yessi yang berada di lantai atas mendengarkan kegaduhan itu pun perempuan tersebut keluar dari kamarnya dan melihat apa yang Zevana lakukan sekarang.

__ADS_1


"Ada apa ini? Aku tidak mau mati? Aku tidak mau masuk penjara, semua hanyalah mimpi, bukan nyata," kata Yessi sembari melangkah mundur dengan wajah kelihatan ketakutan sekali.


Rumah sakit.


Asena masuk ke dalam ruangan VIP rumah sakit ini, netra perempuan itu melihat ke arah perempuan paruh baya yang sekarang sedang terbaring lemah di atas ranjang pasien dan terdapat beberapa alat medis yang menancap di tubuhnya. Tak ada senyuman manis ataupun sapaan riang yang biasanya Asena dapatkan ketika melihat perempuan yang telah melahirkannya itu, Asena menangis tertahan melihat kenyataan ini.


"Mama ... Mama ... bagaimana mungkin ini bisa terjadi? Andaikan aku tahu sejak dari awal, Asena tak akan pernah izinkan Mama untuk bekerja di rumah itu," ucap Asena dengan bibir yang bergetar menahan kesedihan. Suara asena yang bercampur dengan isak tangis membuat siapa saja bisa merasakan kehancuran dan juga kesedihan perempuan malang itu.


Tuan Altair mengusap perlahan pundak Asena, Tuan Altair hanyalah manusia biasa yang tak bisa membuat Sima terbangun secara tiba-tiba dari koma. Yang bisa Tuan Altair lakukan sekarang hanyalah mencoba untuk membalaskan dendam istrinya.


"Jangan menangis, biarlah orang-orang yang telah menyakitimu yang akan menangis," kata Tuan Altair. sungguh baru kali ini Tuan Altair begitu perhatian pada seseorang bahkan lelaki itu juga mau menuruti keinginan orang lain padahal biasanya Tuan Altair tak pernah mendengarkan ucapan siapapun sekalipun itu asisten Lan sendiri.


Tak banyak yang tahu jikalau Tuan Altair kehilangan kedua orang tuanya ketika ia berusia 18 tahun dan Tuan Altair yang masih remaja dipaksa untuk menjadi pewaris hingga membuatnya menjadi lelaki dingin dan juga Arogan sebab dunia memperlakukannya dengan tidak adil. Hingga akhirnya datanglah Asena yang seakan membuat hari-harinya berwarna dan juga terasa sempurna, melihat sikap polos Asena dan juga keluguan hatinya membuat Tuan Altair lambat laun mulai jatuh cinta padanya.


Asena menarik dalam nafasnya kemudian menghembuskannya perlahan. Saat ini Asena juga melihat ke arah Tuan Altair yang menatapnya.

__ADS_1


"Aku ingin mereka semua menderita! Aku ingin mereka semua hancur!" kata Asena sembari menahan Isak tangisnya namun, setetes demi tetes air mata terus berjatuhan di kedua pipinya.


Untuk menenangkan istrinya, Tuan Altair memeluk Asena sembari berkata, "Aku akan memastikan mereka semua tak akan bisa hidup dengan tenang lagi setelah membuatmu seperti ini," ucapkan Tuan Altair sembari menggenggam kedua tangannya.


__ADS_2