Pembalasan Asena

Pembalasan Asena
Siapa yang Membantu Kami


__ADS_3

Saat ini Asena sedang berada di dalam mobil bersama dengan Tuan Altair. Di baris pertama mobil ini ada Asisten Lan yang sedang sibuk mengemudikan mobil menuju ke arah rumah Asena. Asena beberapa kali melirik ke arah Tuan Altair yang sejak dari tadi sibuk melihat ke arah depan. Entah apa maksud lelaki ini yang memaksa untuk mengantar ke rumahnya, Asena merasa tidak nyaman sekali kenapa lelaki menakutkan seperti ini justru selalu berkeliaran di sampingnya. Masih jelas teringat didalam benak Asena jika lelaki disampingnya ini bersikap kejam dengan mendorong kedua perempuan pekerja club malam.


“Apa maksudnya dekat denganku? Dia bahkan memberikan aku banyak uang?” tanya Asena pada dirinya sendiri. Asena mengedarkan pandangannya ke arah jendela dan ia menatap berjuta bintang yang kini tengah bertaburan di langit malam, sang rembulan nampak cerah di tengah-tengah redupnya hati Asena.


“Jadilah pelayan di rumahku!” titah Tuan Altair tanpa menatap ke arah Asena.


Asena melihat ke arah Tuan Altair sembari membantin, “Apakah manusia berwajah datar ini barusan berbicara denganku?” tanya Asena pada dirinya sendiri.


“Tanpa merubah ekspresi wajahnya Tuan Altair melihat ke arah Asena. “Aku memang berbicara dengan kau, memangnya dengan siapa lagi,” tutur Tuan Altair yang dengan sangat mudah bisa membaca pemikiran Asena hanya dengan melihat wajah bengong perempuan yang kini ada di sampingnya.


Asena menutupi mulutnya dengan tangan, perempuan itu menatap ke arah Tuan Altair dengan wajah yang nampak terkejut. “Tu-tuan bisa membaca pikiran saya? Wah … ini keren sekali,” kata Asena dengan polos. Asena bahkan melupakan perasaan tidak nyaman ketika berada di dekat Tuan Altair. Asena memiliki sikap yang unik dia bisa nampak begitu ketakutan sekali pada orang lain dan di detik berikutnya perempuan itu bisa dengan mudah merubah jalan pikirannya. Dan contohnya seperti sekarang ini.


Tuan Altair menghela nafas pelan ketika mendengarkan pemikiran konyol perempuan yang ada di sampingnya sekarang. Tangan Tuan Altair mulai bergerak untuk menyentil pelan jidat Asena dan hal itu diperhatikan oleh Asisten Lan dari spion mobil ini. Sikap Tuan Altair yang seperti ini sungguh nampak begitu romantis sekali dan juga sangat berbeda dengan sikap Tuan Altair biasanya.


“Kenapa menyentil saya, Tuan?” tanya Asena sembari mengusap jidatnya yang tidak terasa sakit. Asena masih tak mengerti alasan lelaki berwajah datar ini menyentil keningnya.


“Wajah kamu yang nampak bodoh itu sudah membuat aku mengetahui semua yang kamu pikirkan,” kata Tuan Altair pedas.


“Oh ….” Jawab Asena dengan bibir yang membulat dan kepala manggut-manggut mengerti. "Saya tidak bisa menjadi pelayan Anda," jawab Asena jujur. Berada di samping lelaki ini sungguh sudah membuat seluruh tubuh Asena lemas apalagi harus menjadi pelayan di rumahnya. Oh ... tidak terima kasih.


"Hem." Baru kali pertama ada perempuan yang berani menolaknya. Tidak, perempuan ini bahkan sudah menolaknya beberapa kali, ingin sekali Altair langsung mengirim perempuan ini ke alam lain, namun wajah polos yang memancarkan kejujuran itu menahan Altair untuk menyakitinya.


“Tuan. Anda jangan lupa dengan uang yang sudah Anda janjikan ketika berada di mall tadi,” kata Asena mencoba untuk memberanikan diri. Asena menggengam kuat kedua tangannya seakan mencoba untuk menekan rasa takutnya akan sorot mata Tuan Altair yang sekarang mulai berubah menjadi menajam.


“Dia benar-benar dekat dengaku hanya karena uang,” batin Tuan Altair. “Lan. Berikan apa yang ia minta!” titah Tuan Altair sembari melirik ke arah Asistennya itu mengunakan ekor matanyanya.


“Nona Asena, apakah Anda melihat amplop yang ada di balik kursi, yang ada di depan Anda sekarang?” tanya Lan seraya fokus mengemudikan mobil ini namun, lelaki itu melirik ke arah belakang sekilas dari kaca sepion yang ada di atas kepalanya.

__ADS_1


“Ya,” jawab Asena dengan mengganggukkan kepalanya satu kali.


“Itu adalah uang yang telah Tuan Altair janjikan tadi,” jawab Lan. Lan selalu bisa di andalkan dalam setiap hal bahkan ia sudah mempersiapkan apa yang akan diperintahkan olah majikannya lebih dahulu.


“Baiklah, terima kasih,” jawab Asena dengan mengambil amplop berwarna putih itu kemudian langsung memasukkannya ke dalam tas yang iya bawa.


“Tidak kamu hitung lebih dahulu?” tanya Tuan Altair..Tuan Altair memperhatikan wajah cantik di hadapan sekarang.


Asena mengelengkan kepalanya mantap lalu menjawab, “Saya percaya jika orang kaya seperti Anda tak akan berbohong hanya demi uang reche,” kata Asena dengan mengulas senyuman manisnya. Sungguh lelaki ini membuat Asena takut, tapi lumayan juga Asena bisa mendapatkan uang cepat jika terus berada di samping Tuan Altair.


“Tu-tuan, bagaimana mungkin Anda tahu jika ini adalah rumah saya?” tanya Asena setelah ia menyadari jika mobil yang sedang Lan kemudikan telah berhenti di depan jalanan rumahnya.


“Nona, turunlah!” titah Lan sebab lelaki itu tahu jika Tuan Altair tak akan menjawab pertanyaan Nona Asena.


“Baiklah kalau begitu terima kasih,” jawab Asena.


Asena membungkukkan tubuhnya setelah turun dari mobil kemudian perempuan itu melihat ada 2 pengawal yang kini sedang membawa sekitar 15 paper bag di tangan mereka kemudian satu persatu pengawal memberikan paper bag itu pada Asena.


“Ini adalah milik Anda, Nona,” jawab salah satu pengawal dengan kepala yang tertunduk.


“Mana mungkin ini milik saya? Sepertinya kalian sudah salah,” jawab Asena jujur. Asena jelas masih ingat jika tadi ia hanya meminta satu helai baju pada Tuan Altair. Dan baju pilihannya itu sudah berada di dalam genggaman tangannya. Asena melihat ke arah jendela mobil yang mulai terbuka.


“Itu milik kamu.” Tuan Altair bicara tanpa menatap ke arah Asena. Asena hendak membuka mulutnya untuk menjawab tapi kaca mobil itu kembali tertutup.


“Dasar lelaki aneh,” gumam Asena lirih.


Asena membungkukkan tubuhnya kemudian langsung masuk ke halaman rumahnya yang nampak begitu sederhana, tapi begitu nyaman. Asena merasa sangat bahagia sekali karena ia membawa banyak uang dan dengan begini maka hutang-hutang mereka pada rentenir akan segera lunas-ralat paling tepatnya hutang papa Asena yang suka mabuk dan juga berjudi. Asena menarik nafas dalam kemudian manik matanya melihat ke arah pohon besar yang ada di halaman rumahnya, dedaunan yang tumbuh di sana bergoyang ketika dilewati oleh angin malam. Asena menarik nafas dalam kemudian menghembuskannya perlahan dari mulut, angin malam ini nampak begitu sejuk sekali.

__ADS_1


“Papa, berhentilah membuat onar, kasihan Asena, dia sudah dewasa, putri kita akan malu jika memiliki Papa yang terus saja minum-minum dan juga bermain judi, kasihan Asena yang selama ini telah banting tulang untuk membayar semua hutang-hutang berjudi Papa,” suara teriakan itu nampak jelas di telinga Asena.


“Putri kita? Apakah aku tidak salah dengar, ******,” maki Cem pada istrinya.


Asena menjatuhkan semua paper bag yang ia bawa ketika mengetahui lelaki bejat itu menarik kasar rambut Mamanya kemudian mendorong perempuan itu, Asena berlari dan langsung memegangi mamanya. Kini kedua perempuan itu jatuh terduduk di aspal, Asena mengigit bibir bagian bawahnya ketika ia bisa merasakan jika salah satu kakinya terasa nyeri dan sepertinya ia terkilir.


“Apakah Mama baik-baik saja?” tanya Asena.


“Sayang, masuklah ke dalam rumah,” pinta Sima dengan mengusap wajah putrinya yang sudah basah oleh bulir bening. Entah sampai kapan suaminya bisa berubah dan mereka bisa hidup bahagia layaknya rumah tangga yang jauh dari masalah. Sima tidak memikirkan tentang kehidupannya, tetapi memikirkan tentang anak gadisnya ini yang telah tumbuh dewasa.


“Mana mungkin Asena bisa meninggalkan Mama sendiri,” kata Asena sembari melihat ke arah sudut bibir mamanya yang mengeluarkan darah, Asena mengeraskan rahangya dengan kedua manik mata yang sudah memancarkan kobaran api. Asena melihat ke arah lelaki kejam itu yang kini meraih tas nya yang ada di atas aspal.


“Itu bukan milik kamu, kemarikan,” kata Asena pada Cem. Asena ingin sekali merebut tas itu tapi kakinya terlalu sakit ketika di gerakan, rasa ngilu itu seakan merambat cepat dan naik sampai ke puncak ubun-ubunnya.


“Hahaha, kau pasti habis menjual diri mangkannya bisa mendapatkan uang dengan begitu mudah,” tuduh Cem pada Asena dengan kata-kata laknatnya itu. Cem tak perduli apa yang mau Asena lakukan untuk mendapatkan banyak uang karena yang terpenting ia bisa kembali bermain judi dan juga menghabiskan waktu dengan para perempuan malam.


“Kaga ucapan kamu, kemari kan uang itu,” pinta Asena dengan memegangi kaki Cem.


“Lancang! Kau itu seharusnya berterima kasih padaku karena jika aku tidak menikah dengan perempuan itu, maka kau ….” Perkataan Cem terputus ketika Sima menyela ucapannya.


“Papa, berikan uang itu, itu milik Asena,” kata Sima seraya beranjak berdiri dan berusaha untuk merebut tas milik putrinya dari sang suami. Asena tidak boleh tahu tentang rahasia ini. Jangan sampai.


“Kurang ajar,” kata Cem seraya mengangkat tangannya di udara hendak menampar Sima. Asena yang melihat akan hal itu tentu saja tidak tinggal diam dan perempuan itu langsung mengigit kaki Cem dengan cukup keras.


“Anak sialan! Anak tidak tahu diri.” Cem menatap ke arah bawah tempat dimana Asena berada kemudian lelaki itu langsung mengarahkan kakinya hendak menendang kepala Asena. Sedangkan tangan Cem mendorong Sima agar tidak  mengehentikannya untuk menendang anak kurang ajar ini.


Sima mundur beberapa langkah kebelakang dan terdengar suara pukulan keras di sana Cem menggadu kesakitan sembari memegangi wajahnya.

__ADS_1


“Si-siapa yang membantu kami?” kata Asena dengan kedua mata yang terpejam dengan tubuh bergetar.


Sedangkan Di sisi lain. Ada seseorang yang langsung memeluk tubuh Sima hingga perempuan paruh baya itu tak jadi jatuh.


__ADS_2