
Usia kandungan 5 bulan.
Saat ini kondisi perut Asena sudah mulai membuncit. Tubuh Asena yang dulunya terlihat langsing juga mulai gemuk hingga membuat kedua pipinya nampak cabi sekarang.
Sejak kehamilan 3 bulan Tuan Altair sudah meminta istrinya untuk pindah ke lantai 1 dikarenakan Tuan Altair tidak ingin jika sampai istrinya menaiki anak tangga rumah ini setiap harinya karena hal itu tidak bagus untuk kondisi ibu hamil. Tuan Altair selalu menjaga Asena setiap saat, bahkan tak jarang lelaki itu juga mengajak Asena datang ke kantor hingga semua pekerja pun sudah mengetahui kalau Asena adalah istri Tuan Altair.
Pagi hari ini Asena berdiri di depan cermin kemudian melihat bentuk tubuhnya yang mirip seperti badut. Asena menghembuskan nafasnya, rasa kesal dengan bentuk tubuhnya sekarang dan timbullah perasaan tidak nyaman ketika melihat Tuan Altair menatap perempuan lain di hadapannya. Entah mengapa Asena takut jika suaminya jatuh cinta kepada perempuan yang lebih cantik dan juga lebih molek tubuhnya di luar sana sedangkan kondisi Asena sekarang sungguh tidak menarik sama sekali.
Tuan Altair begitu kaya dan juga tampan dan setiap kali mengingat semua hal itu sungguh membuat Asena merasa tidak nyaman sekali.
"Sayang, kenapa sejak dari tadi kau masih berdiri di depan cermin dan melihat pantulan tubuhmu sendiri?" tanya Tuan Altair sembari memeluk istrinya dari arah belakang. Sejak dari tadi Tuan Altair memperhatikan Asena hanya saja perempuan itu masih tak menyadarinya.
"Aku ingin diet," kata Asena sembari melepaskan pelukan suaminya kemudian perempuan itu duduk di sofa yang ada di dalam ruangan kamarnya.
Tuan Altair tidak langsung marah lelaki itu dengan pengertian ikut duduk di samping sang istri kemudian berkata, "Kenapa kau tiba-tiba ingin diet? Bukankah kau sudah tahu Sayang jika perempuan hamil itu memang kondisi tubuh dan juga fisiknya akan berbeda," tanya Tuan Altair pada istrinya dan ia juga mencoba untuk menasehati sang istri.
Asena melihat ke arah suaminya lalu berkata, "Aku sudah tidak cantik lagi dan lihatlah bentuk tubuhku ini," kata Asena sembari menghela nafas lelah. "Aku takut jika kau akan mencari perempuan lain di luar sana dan kau akan meninggalkanku," kata Asena. Tuan Altair mendengar dengan sangat jelas getaran dari suara istrinya.
__ADS_1
Asena tiba-tiba menitihkan air matanya, hal itu tentu saja membuat Tuan Altair merasa tidak nyaman ketika melihat istrinya menangis di hadapannya seperti ini.
"Sayang, sungguh aku tak pernah memikirkan untuk mencari perempuan lain di luar sana, bagiku kau adalah kehidupanku," kata Tuan Altair mencoba menjelaskan pada istrinya. "Aku sungguh sangat mencintai kamu dan jangan pernah sekalipun berpikir untuk diet karena bentuk tubuhmu ini sudah membuatku jatuh cinta," sembari mengusap perlahan perut istrinya yang sudah membesar sekarang.
"Apakah kau menyayanginya?" kata Asena yang tiba-tiba sudah merasa tenang setelah mendengarkan penjelasan suaminya barusan.
"Tentu saja aku sangat menyayangi kalian berdua sehingga ketika ada yang memintaku untuk mengambil pilihan maka aku tak akan bisa memilih salah satu diantara kalian! Aku rela mengorbankan nyawaku hanya untuk membuat kalian hidup bahagia jadi jangan pernah berpikir kalau aku akan mencari perempuan lain sebab jika aku berniat melakukannya maka sudah sejak dari dulu aku akan melakukannya," jelas Tuan Altair kemudian mengecup bibir istrinya.
***
Asena mulai terbangun dari tidurnya ketika ia merasakan perutnya berbunyi seakan janin yang ada di dalam rahimnya sekarang sedang kelaparan. Asena mendudukkan tubuhnya perlahan karena takut mengganggu suaminya yang sedang terlelap tidur.
"Maaf jika aku membangunkan kamu," kata Asena merasa tidak enak hati karena sudah mengganggu tidur suaminya.
"Kenapa harus minta maaf justru aku akan marah jika kau keluar dari ruangan kamar ini tanpa memberitahuku terlebih dahulu," kata Tuan Altair sembari mengucap kedua matanya kemudian lelaki itu menyandarkan punggungnya di sandaran ranjang.
"Aku merasa lapar dan ingin makan kebab malam ini," kata Asena kepada suaminya.
__ADS_1
"Oh ... begitu, aku akan meminta Bi Irene untuk membuatkannya," jawab Tuhan Altair hendak beranjak turun dari atas ranjang, tapi langsung di cegah oleh istrinya.
"Aku ingin makan kebab yang ada di pinggir jalan," jawab Asena lagi.
Tuan Altair tidak langsung menjawab lelaki itu lebih dulu mengarahkan pandangannya ke jam dinding yang letaknya lurus dengan ranjang. "Ini sudah sekitar jam 11.00 malam," kata Tuan Altair seakan menolak permintaan Asena secara tidak langsung.
Asena mengusap perutnya dengan wajah memelas kemudian berkata, "Bukan aku yang menginginkannya tetapi calon anak kita," jawab Asena. Asena tahu selama ini suaminya tak pernah menolak permintaannya jika sudah menyangkut pautkan tentang janin yang sedang tumbuh subur di dalam rahimnya sekarang.
"Sayang, kamu selalu membawa-bawa calon anak kita hingga membuatku tak bisa menolak," jawab Tuan Altair sembari mengusap kasar wajahnya.
"Sepertinya anak ini memang keberuntungan untukku," kata Asena dengan mengulas senyuman manis.
"Anak ini dan juga kamu adalah anugerah terindah dari Tuhan yang aku miliki. Dan akan aku jaga selamanya. Aku sungguh sangat menyayangi kalian berdua." Tuan Altair mendekatkan tubuhnya ke arah sang istri kemudian mengecup kening istrinya dan kemudian mengecup perut istrinya seakan sedang mencoba untuk mencium janin yang ada di dalam sana.
"Aku akan ganti baju sekarang dan kita langsung berangkat," ujar Asena dengan kegirangan bukan main. Asena sangat beruntung sekali karena Tuan Altair selalu memanjakannya dan selalu mengikuti apapun yang perempuan itu inginkan.
Asena tak pernah berpikir jika ia akan mendapatkan lelaki sebaik dan juga setampan Tuan Altair yang selalu ingin menyenangkan hatinya. Jika Asena mengingat kehidupannya yang dulu sungguh asena menitipkan air mata dan andaikan saja Mamanya masih hidup pasti perempuan paruh baya itu merasa bahagia melihat kebahagiaan Asena sekarang.
__ADS_1
Tapi mama dan juga Papanya kini sudah berada di alam lain. Keduanya memang tak bisa bersatu di dunia ini tapi Asena berdoa semoga keduanya bisa bersatu di alam yang tak Asena ketahui tempatnya.