
Asena kini sudah berdiri di hadapan seorang lelaki yang memakai penutup mata dengan kedua tangan dan juga kaki terikat di kursi yang sedang lelaki itu duduki sekarang. Terdapat 4 pengawal berjaga di belakang lelaki itu, ya lelaki ini adalah Cem-Papa tiri Asena yang selalu membuat kehidupan Asena dan juga Mamanya bagaikan berada di dalam ancaman setiap waktu.
"Buka penutup matanya!" perintah Tuan Altair. Dengan rahang yang mengeras penuh emosi. Ingin rasanya Tuan Altair langsung menghajar lelaki itu, tapi ia ingin perkataan istri yang tak ingin Altair turun secara langsung untuk mengotori tangannya. Altair yang begitu menyayangi Asena tentu saja mengikuti apa yang istirnya inginkan. Demi untuk membahagiakan Perempuannya.
Setelah penutup mata itu terbuka Cem mulai mengerjap-ngerjapkan kedua matanya seakan mencoba untuk menyesuaikan cahaya di dalam ruangan ini dan lamat-lamat lelaki itu pun mulai melihat bayangan Asena dengan begitu jelas.
"Asena tolong lepaskan Papa dari ruangan ini, Papa akan berjanji tidak akan membuat kamu dan juga Mama kerepotan lagi mulai dari sekarang, tetapi lepaskan Papa terlebih dahulu," mohon Cem kepada Asena.
Asena diam tak menanggapi ucapan lelaki itu. Matanya tak berkedip melihat ke arah Cem yang sekarang sedang menatapnya dengan wajah memohon, terlihat linangan air mata jatuh di kedua pipi lelaki itu. Asena bukannya merasa kasihan justru perempuan ini merasa sangat benci sekali kepada lelaki yang ada di hadapannya.
"Bagaimana caramu menebus dosamu kepada Mama?" tanya Asena balik kepada Cem tanpa menggubris apa yang lelaki itu ucapkan sebelumnya.
"Papa akan meminta maaf padanya, lalu Papa akan menceraikannya dan tak akan mengganggu kalian lagi," kata Cem dengan tubuh yang bergetar ketakutan.
"Benarkah kau akan meminta maaf padanya? Tetapi dengan cara apa kau akan minta maaf pada Mamaku?" tanya Asena balik sembari mendudukkan tubuhnya di sofa yang ada di belakangnya sekarang.
Tuan Altair hanya memberikan ekspresi dingin tanpa mau ikut campur dengan apa yang akan istrinya lakukan. Tuan Altair justru merasa bangga melihat sikap Asena yang nampak tegas dan tidak lemah seperti dahulu lagi.
__ADS_1
"Aku akan menemui Mamamu kemudian meminta maaf padanya secara langsung," jawab Cem yang memang belum tahu kalau ternyata Sima sudah meninggal. "bagaimana mungkin perempuan sialan ini bisa bersama dengan Tuan Altair yang selama ini dikenal kejam, jika tahu seperti ini maka aku tak akan mencari masalah dengannya," batin Cem di dalam hati dengan menunjukkan air muka memelas di hadapan anak tirinya itu.
"Kalau begitu jangan sebut dirimu sebagai Papaku lagi, karena aku sudah mengetahui segalanya," jawab Asena dan mendengarkan itu membuat wajah Cem menambah panik dan juga penuh tanya. "Selama ini tak pernah satu kali pun Mama berfikir untuk meninggalkanmu dan dulunya aku mengira jika Mama begitu mencintaimu, tetapi pemikiran itu ternyata salah, Mama tidak meninggalkanmu karena kau memegang rahasianya," kata Asena sembari menetap ke arah Cem tajam.
"Ra-rahasia apa?" tanya Cem kepada Asena dengan suara yang terbata-bata.
"Rahasia yang kau dan Mama telah sepakati! Kau tahu jika aku bukanlah anak kandungmu dan karena sebab itu kau memanfaatkan keadaan ini untuk menjadikan Mamaku sebagai pelayan," kata Asena dengan suara bergetar di ujung lidahnya menahan gemuruh badai emosi yang sekarang sedang memporak-porandakan hatinya.
"Asena. Maafkan aku, sungguh aku menyesal sekali dan aku akan menemui Mamamu untuk meminta maaf atas semua kesalahanku selama ini," kata Cem kepada Asena dengan derai air mata. Bahkan tubuh lelaki itu juga bergetar semakin hebat ketika melihat 5 pengawal yang baru saja masuk ke dalam ruangan ini. Tatapan kelima pengawal itu seakan mirip seperti hewan buas yang kelaparan dan sudah siap mencabik-cabik tubuh Cem menjadi serpihan.
"Iya, aku akan menemuinya," balas Cem. "tidak aku sangka jika perempuan ini masih seperti dulu. Mudah sekali dikelabui," batin Cem merasa menang karena ia sudah bisa membodohi Asena.
"Aku akan dengan sukarela menuruti permintaanmu, tetapi satu hal yang kamu harus tahu. Mamaku telah meninggal, karena kamu sendiri yang mengatakan ingin menemui Mamaku maka pergilah temui dia!" kata Asena seraya beranjak berdiri.
"Pengawal! Bawakan satu anjing kelaparan untuk mempermudahnya bisa bertemu dengan Mamaku di alam lain! Aku tak ingin banyak anjing kelaparan yang mendekatinya karena mati dengan sangat mudah itu sudah merupakan hukuman paling bagus untuknya dan aku tak berniat meringankan hukumannya, jadi berikan saja satu anjing kelaparan untuk menemaninya di dalam ruangan ini supaya dia tak kesepian." Asena menatap ke arah Cem tajam. Asena merasa sangat puas sekali ketika melihat lelaki itu ketakutan.
Cem langsung membulatkan kedua matanya ketika ia menyadari jika Sima telah meninggal. "Asena tolong jangan lakukan ini kepada Papa, aku sungguh minta maaf dan tak akan mengulanginya lagi." Cem berbicara dengan suara yang bergetar.
__ADS_1
"Hanya orang mati yang tak akan mengingkari janjinya dan karena aku tak mau kau ingkar maka pergilah temui Mama." kecam Asena. Tak ada rasa kasihan sedikitpun di hatinya melihat kondisi lelaki kejam itu ketakutan seperti ini.
"Sayang ayo kita pergi dari ruangan ini supaya lelaki itu lekas menemui Mama," ajak Asena sembari melingkar manja tangannya di lengan Tuan Altair. Ketika melihat ke arah Tuan Altair, Asena mengubah air mukanya menjadi mengemaskan sekali.
"Aku bangga kepadamu, Sayang," kata Tuan Altair sembari menepuk perlahan kepala Asena.
"Kekejamanmu telah menular kepadaku dan itu tak bisa di elak kan lagi," balas Asena dengan tersenyum manis kemudian keduanya pun melangkah pergi meninggalkan tempat ini.
Terdengar suara Cem yang memekik kesakitan dan Asena pun tak perduli seakan perempuan itu sedang menulikan telinganya. Asena lebih memilih nyawa dibalas dengan nyawa dan kesakitan dibalas dengan kesakitan.
Balas dendam Asena telah selesai! Semua orang yang telah menyakiti dan juga melukai hatinya dan juga Mamanya telah mendapatkan balasan yang setimpal atas perbuatan mereka.
"Jika melihat sikap Nona Asena sekarang, iya sungguh mirip sekali dengan Tuan Altair. Pasangan yang sama-sama kejam dan juga menakutkan," batin asisten Lan dengan sesekali melirik ke arah belakang menggunakan kaca spion yang ada di atas kepalanya.
"Melirik ke arah belakang satu kali lagi maka habis gajimu bulan ini, Asisten Lan!" ancam Tuan Altair yang diam-diam memperhatikan Asistennya itu sejak dari tadi.
"Maafkan saya, Tuan Altair," jawab Asisten malang itu sembari mengusap keringat jagung yang sudah memenuhi keningnya menggunakan tissue dengan tatapan lurus ke depan.
__ADS_1