Pembalasan Asena

Pembalasan Asena
Kecurigaan Sima Pada Yesi


__ADS_3

Setelah melalui hari yang begitu melelahkan akhirnya Asena bisa pulang ke rumahnya, Asena berjalan melewati rumah-rumah besar yang nampak megah sekali, sesekali perempuan itu mengamati suasana di halaman rumah besar tersebut. Terbayangkan oleh Asena jikalau seandainya dirinya bisa memberikan rumah yang layak untuk mamanya pasti begitu membahagiakan sekali.


Asenal mengedarkan pandangannya lagi ke salah satu rumah yang sedang ya lewati, terlihatlah di depan rumah itu terdapat pohon-pohon besar yang menjulang tinggi dan juga ada taman yang dipenuhi dengan bermacam-macam bunga. Hanya dengan satu kali lihat saja Asena sudah tahu jikalau bunga-bunga yang ada di taman tersebut pastilah memiliki harga yang sangat mahal sekali. Asena kembali membayangkan seandainya ia duduk di taman bunga itu kemudian bercanda ria dengan wanita yang telah melahirkannya. Bukankah hal itu terlihat begitu harmonis dan juga hangat sekali. Angan-angan Asena terbuyarkan dengan suara klakson mobil yang begitu kencang, pun perempuan itu langsung meminggirkan langkahnya karena ternyata Asena tadi berjalan di tengah-tengah jalanan sebab ia melamun jadi tak memperhatikan langkah kakinya.


Mobil yang membunyikan klakson tadi berhenti tepat di samping Asena yang juga menatapnya. Terlihat ada perempuan cantik yang membuka kaca mobil baris kedua dan tidak disangka perempuan itu langsung melemparkan segelas air putih ke wajah Asena dengan air muka nampak geram.


Asena yang tidak menduga dengan sikap perempuan cantik itu sampai berbatu-batuk akibat air tersebut masuk ke hidungnya ketika Asena menarik nafas. Asena merasakan yang nerasak kurang nyaman di bagian dadanya segera menepuk pelan dadanya itu.


"Kau kalau jalan pakai mata! Jika sampai tadi aku menabrak mu maka mobilku ini akan langsung aku jual karena aku tak mau terkena sial." Perempuan cantik yang nampak arogan itu berbicara dengan sangat kasar sekali. Sungguh disayangkan jika kecantikan paras perempuan itu tak sama dengan hatinya.


"Maafkan saya, Nona," kata Asena dengan kepala yang tertunduk. Memang Asena yang bersalah karena melangkah di tengah-tengah jalanan dan beruntunglah sopir perempuan itu tidak menabraknya tadi. Sebenarnya Asena tahu jika sikap perempuan asing nan cantik itu begitu berlebihan tetapi ia lebih memilih mengalah daripada harus mencari masalah karena kebanyakan orang kaya memang akan selalu membesar-besarkan masalah kecil.


Tanpa menjawab permintaan maaf Asena perempuan cantik itu segera menutup kaca mobilnya kembali lalu mobil hitam mewah itu melesat menjauh dari Asena seakan tak mau berlama-lama berada di dekat perempuan miskin sepertinya.

__ADS_1


"Jika suatu saat aku menjadi kaya maka, akan aku pastikan, jikalau aku tak akan sombong sepertinya dan aku akan membantu orang-orang yang kurang mampu," gerutu Asena pada dirinya sendiri. Asena memiliki jiwa sosial yang cukup tinggi jadi ia tak mungkin melakukan hal kejam seperti itu dan Asena tak akan pernah mau menyakiti hati orang lain.


***


"Nona Yesi semua makanan yang Anda pesan tadi sudah saya taruh di atas meja," lapor Sima kepada seorang perempuan cantik yang kini sedang duduk di ruangan tengah rumah ini sembari menyilangkan kedua kakinya tak sopan di atas meja-siapa lagi jika bukan Yesi.


Yesi mengamati wajah Sima yang nampak lelah dan juga pucat, perempuan itu pun merasa puas sekali dan ia bisa membayangkan bagaimana khawatirnya Asena ketika mengetahui mamanya pulang bekerja dalam keadaan lemah dan juga letih serta nampak tak baik-baik saja. Yesi sudah kehilangan belas kasihnya pada sesama manusia dan kini yang menyelimuti hatinya hanyalah rasa dendam.


"Dia benar-benar perempuan yang bodoh sekali kalau mau bunuh diri maka jangan di depan mobilku," gerutu Zevana sembari melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan tengah rumah ini. Perempuan itu melangkah mendekati Yesi kemudian menghempaskan tubuhnya di sana.


"Tadi di tengah jalan ada perempuan bodoh yang melangkah di jalur mobil. Dan hampir saja supirku menabraknya jikalau tidak mengerem mendadak." Zevana bercerita dengan dada yang naik turun seakan mencoba menahan gemuruh api emosi di dalam hatinya. Zevana melihat ada satu gelas jus anggur di atas meja dan perempuan itu langsung meneguknya hingga tandas dalam gelas.


Yesi mengerucutkan bibirnya kesal melihat sikap Asena tapi ia hanya bisa diam saja karena tahu sekarang Zevana sedang emosi.

__ADS_1


Di tempat lain.


Setelah sampai di rumah Asena pun begitu terkejut sekali ketika mendapati seluruh lampu yang ada di teras rumahnya masih padam, hal itu menandakan jikalau Mamanya belum pulang dari bekerja.


"Bukankah di awal bekerja Mama mengatakan jikalau iya akan pulang sebelum pukul 05.00 sore, tetapi sekarang sudah hampir pukul 07.00 malam dan Mama juga belum datang." Asena masih mengingat dengan sangat jelas apa yang pernah Mamanya itu katakan sebelum bekerja, tetapi kenapa sekarang malah berbanding terbalik. bahkan kemarin Mamanya juga pulang dipukul 08.00 malam dengan keadaan perut lapar dan juga wajah yang nampak pucat.


Asena membalikkan tubuhnya berniat keluar dari halaman rumahnya untuk mencari keberadaan sang Mamaz tetapi baru saja berjalan beberapa langkah hendak meninggalkan kediamannya terlihatlah seorang perempuan paruh baya melangkah mendekatinya.


"Itu adalah Mama," kata asena. Asena melangkah mendekati Mamanya lalu mengamati wajah perempuan itu ya nampak pucat sama seperti beberapa hari yang lalu dan terdengarlah bunyi perut Sima keroncongan seakan belum diisi sejak dari tadi siang. Asena yang mengetahui hal itu pun langsung memeluk Sima kemudian mengajak perempuan paruh pria itu masuk ke dalam rumah mereka, kini semua lampu yang ada di rumah Asena telah menyala.


"Mulai dari besok Mama tidak perlu bekerja lagi!" kata Asena yang tidak tega jika melihat orang tua yang begitu ia sayangi nampak keletihan seperti ini.


"Sebenarnya Mama sudah pulang dari tadi sore, tetapi mampir ke rumah sakit dulu untuk menjenguk Papa kamu, Mama tahu lelaki itu telah melakukan banyak kesalahan kepada kita tetapi tidak seharusnya jikalau kita menelantarkannya di saat kondisinya sedang tidak stabil seperti sekarang," dusta sengaja Sima katakan supaya Asena tidak merasa cemas dengan kondisinya. "Kenapa wajah kamu basah seperti ini? Ataukah mungkin terjadi sesuatu ketika kamu berada di jalan?" tanya Sima sembari mengamati wajah dan juga baju putrinya yang nampak basah. Entah mengapa Sima kembali teringat dengan percakapan kakak beradik itu ketika ia masih ada di tempatnya bekerja.

__ADS_1


Asena menceritakan apa yang terjadi secara jujur kepada mamanya hal itu membuat Sima merasa curiga sekali seakan sejak awal ia bekerja Nona Yesi sudah mempersulitnya setiap waktu.


"Aku ingat dengan sangat jelas jikalau waktu itu rumah megah tersebut tidak membutuhkan pekerja, tetapi ketika Nona Yesi melihatku perempuan itu pun langsung menyetujui jika aku bekerja namun, untuk melayani kebutuhannya, ataukah Nona Yesi dan juga Asena saling kenal di masa lalu?" tanya Sima pada dirinya sendiri.


__ADS_2