Pembalasan Sang Artis

Pembalasan Sang Artis
Bab 97


__ADS_3

Tapi dia hampir tidak memperkirakan biaya pengobatan untuk keguguran, termasuk makan sehari - hari, pakaian, tempat tinggal itu Hendi yang keluar uang, meskipun uangnya tidak banyak, tapi Hendi hampir melepaskan pekerjaannya sendiri, dia keluar dari Cemerlang Entertainment demi menolongnya. Apabila ia mencoba menghubungi perusahaan lain, ia berani saja menelantarkan manejer ini, dia sama sekali tidak bisa berada di situasi tersebut. Hendi tidak pernah separah Joyce, demi keuntungan apa pun bisa di jual.


" Oke, aku akan bantu, negosiasi dengan mereka."


Hendi keluar dari apartemen, ia turun tangga dan menelepo sebuah perusahaan, " Kalian yakin akan menandatangani kontrak dengan Joyce."


" Iya."


Hendi menghembuskan napas, " Jadi kalian akan merencanakan manajer baru untuknya ? Aku ..... Aku mungkin boleh tidak tanda tangan bersama dengan dia, tapi au harap kalian benar - benar memperlakukan dia dengan baik, dia adalah artis yang baik, hanya saja melewati jalan berkelok."


" Kamu tahu Joyce jalan di jalan belok, mengapa kamu selalu membantunya ? Dengan begini kamu malah menyakiti dia dan diri sendiri."


" Kamu siapa ? Mengapa suaramu terdengar sangat khas !" Hendi tiba - tiba menyadari hal yang tidak benar.


Kak Ruby dari ujung sana menjawab, " Kamu tidak salah, aku adalah asisten Yenny, kak Ruby, aku tahu hanya dengan menggunakan cara seperti ini baru bisa melihat sosok asli Joyce, demi keuntungan pribadi, ia berani mengorbankan anaknya Bayu, kamu mengejarnya demikian, layak kah ?"


" Aku sudah bilang dia hanya jalan di jalan berkelok, dia bukan orang seperti itu !"


Hendi itu bekerja dengan Joyce sejak ia di dunia hiburan ii, ia selalu bersam Joyce, dia masih ingat ketika Joyce memulai karir masih sangat polos dan lugu, seketika itu karena perkataan dari grup wanita sebelah, ia sakit hati semalaman, dia hanya tidak bisa mempercayai perubahan Joyce.


" Hendi, karena status kita manajer, aku hanya ingin menasihati kamu, tidak peduli Joyce akan meninggalkan dunia entertainment, bosmu pekerjaannya sudah di ujung tanduk demi perjalanan selanjutnya, terlebih lagi kamu masih ada anak yang harus di pelihara, aku saranin cukup sampai di sini, kamu coba pikirkan kembali dan hubungi aku."


Hendi memotong telp, dia tidak sampai hati, dia mengerti situasinya lebih berat dari Joyce.


Di tambah lagi barusan melihat respon dari Joyce, dia tidak percaya dia bisa lanjut berjalan dengan Joyce.


Tapi dia masih ingin memberi kesempatan untuk Joyce, malam itu dia membawa Joyce ke jalan keluar apartemen pertama kali ia tinggal.


" Kamu bawa aku ke sini ngapain ?" Joyce mengernyitkan alis, dia membawa topi dan melihat sekeliling, " Aku bukannya menyuruhmu menghubungi perusahaan itu ? Hasilnya bagaimana ? Aku kapan bisa tanda tangan ?"


Hendi menghembuskan napas, " Aku dari awal memulai karirku dari sini, sebenarnya sekarang masih belum terlalu larut, dunia entertainment sangat cepat perubahannya, yang jelas kamu harus banyak berlatih kemampuan, cepat atau lambat hingga saat itu tiba aku akan terus menemaniku.

__ADS_1


" Kenapa aku harus memulai dari sini, bukannya ada perusahaan yang ingin tanda tangan kontrak dengan aku ?" Perkataan Joyce sungguh mengundang emosi.


Dia membenci tempat itu, di samping itu dia sudah merasakan hidup menderita, ia masih ingin menikmati kehidupan yang berkecukupan, tak ingin kembali ke situ.


Di tambah lagi, rencananya tidak ada Hendi.


Jadi, alasan utama adalah memberhentikan manajer, Joyce mengedip mata dan menyetujuinya.


" Joyce, mengapa gampang sekali bagimu untuk tidak peduli denganku."


" Kamu tenang saja, aku tidak mungkin tidak peduli denganmu !" Joyce tiba - tiba melihat ke belakang.


Harapan Hendi mulai hilang, dia thu, dari awal Joyce belum menghapus sama sekali, dia baru saja ingin memberi tahu informasi dari telp tersebut, menggunakan uangnya untuk mentraktirnya di restoran mahal, merayakan awal yang baru.


Kemudian di lukai oleh perkataan Joyce.


" Tunggu aku terkenal, aku akan memberimu uang ganti rugi, kamu sabar istirahat beberapa waktu ini saja." Dia dengan santainya berkata demikian seperti tajamnya pisau menusuk dada.


" Tolonglah, sekarang mereka ingin tanda tangan kontrak dengan aku, aku tidak mungkin membawa kamu, aku udah bilang aku akan ganti rugi ! Sungguh banyak omong." Joyce memakai sepatu high heels menginjakkan kakinya di pinggir jalan, memanggil taksi dan pergi.


Dari dalam hatinya ingin sekali terus bermimpi indah, namun sama sekali tidak ingin menghadapi kenyataan.


Ketika pekerjaan Joyce lagi sedikit, bagaimana ia memperlakukan orang sekeliling, sekarang bagaimana Joyce memperlakukan dia ?


Hendi merogoh beberapa batang rokok dan berdiri di depan pintu apartemen.


Dia menelepon istrinya, " Beberapa hari ini kalian bagaimana keadaannya ?


" Masih baik - baik saja, hanya saja perusahaanku agak kurang lancar, ada beberapa pegawai yang di PHK, Hendi, kamu kapan pulang ke rumah ? Anakku dan aku rindu kamu."


" Menghasilkan uang sedikit banyak tidak masalah, yang jelas kita bersama - sama."

__ADS_1


Mata Hendi berkaca - kaca, ia berkata, " Besok. besok aku akan pulang."


Dia sudah memberikan kesempatan kepada Joyce, dia sendiri yang mengabaikan.


Hubungan kerja sama mereka memang sebenarnya sudah harus di akhiri.


Di saat susah Hendi, ia tidak pernah melepaskan Joyce, Joyce malah seenaknya demi sebuah kontrak melepaskannya. Hendi malam itu juga menghubungi kak Ruby, " Aku membolehkan kalian bertemu. Tapi berharap tidak usah membawa wartawan."


" Kita tidak akan sebegitu jahat terhadap Joyce, hanya saja ..........."


Kak Ruby berhenti sejenak, " Aku kenal seorang teman, dia pekerjaannya adalah properti, kalau kamu butuh, tinggalkan dunia entertainment ini dan kamu masih bisa melanjutkan pekerjaan."


" Tidak perlu ........"


" Kita tahu keuntungan pekerjaan istrimu di perusahaan tidak terlalu bagus, kalau kalian bersama - sama kehilangan penghasilan, anak kalian bagaimana ? Kamu tenang saja, ini bukan termasuk menjual Joyce, kamu hanya melakukan pilihan yang tepat."


...................


Hari kedua, Joyce menyuruh mengeluarkan semua uang.


Dia megernyitkan dahi, " Hanya ini ? Ini tidak cukup beli baju seluruh tubuh, kamu tahu gak sih hari ini aku akan bertemu mereka, ini tuh sangat penting buat aku !"


" Ini yang ku punya." Hendi mengeluarkan dompet kosongnya dan menunjukkan kepada Joyce.


Joyce tidak sungkan berkata, " Bukannya masih ada kartu kredit ? Segera pergi bawa aku ke toko bermerk untuk beli baju mahal ! Hanya perlu kontrak kerja yang baru, baru ada hari yang baik untukmu !"


Nadanya seperti menyuruh pembantu.


" Tidak bisa, sekarang aku tidak ada pekerjaan lagi, aku tidak bisa menambah bebanku."


" Ya sudah kamu pergi minta uang dengan istrimu ! Dia bukannya kerja kan ?" Joyce mulai marah, " Sudahlah, aku juga tidak berharap padamu."

__ADS_1


Hendi melihat dia sedang melipat baju di kamar, dia tidak bersuara jalan keluar, dia sudah melihat dengan jelas Joyce orangnya seperti apa.


__ADS_2