Pembantu Pribadi Tuan Muda

Pembantu Pribadi Tuan Muda
Bab 10 : Canggung


__ADS_3

Waktu berjalan dengan cepat bagi Nayla. Dia melihat jam menunjukkan pukul 7 malam. “Apa yang harus ku lakukan? Aku sudah mandi, sudah memasak makan malam ... lalu, apa yang harus ku kerjakan?” benaknya.


Nayla melangkah keruang tengah, diliriknya sofa yang tampak berantakkan. “Apa aku lupa membersihkan ruang tamu?” guman Nayla.


Bergerak seluruh tubuhnya untuk membereskan semua yang ada disofa. Nayla menikmat waktunya, dia lupa dengan kejadian yang hampir membuatnya menyerah.


Asik mengerjakan semua yang ada, suara bell berbunyi dan pintu dibuka oleh seseorang. Nayla bergegas untuk kearah Pintu.


“Cukup, lihat dari kejauhan saja.”


Nayla berhenti ditengah ruang tamu. Dia melihat Tuan Muda Vinlo datang dengan wajah terkejut.


“Aku harus melihat kedatangannya dari jauh bukan?” benak Nayla mengingat perkataan Tuannya.


Nayla melihat Tuan Mudanya melangkah masuk dengan sedikit menganggukan kepalanya. Tubuh yang tinggi itu hanya perlu beberapa langkah untuk tiba didepan Nayla.


Mata Nayla terkejut melihat tas yang di arahkan kepadanya. “Aku pulang.” Ucap Vinlo.


Dengan kelagapan Nayla menyambut tas yang ada didepannya. Setelah mendapatkan tas itu, Nayla melihat Tuan Muda Vinlo pergi tanpa sepatah katapun.


Suasana diantara mereka berubah menjadi cangung karena kejadian yang tidak disengaja. Nayla bergegas naik ke lantai dua. Dia akan mengantar tas milik Tuan Muda Vinlo dan menyiapkan pakaian untuknya.


Setelah semua selesai, Nayla bergegas kedapur dan menyajikan makan malam untuk Tuan Muda. “Hm, apa tuan muda ingin minum teh?” guman Nayla.


Dibuat teh hangat dengan gula sesuai ingatannya. Dua sendok teh dibuat dalam gelas itu, lalu diaduk dengan perlahan oleh Nayla.


Suara kursi tertarik membuat Nayla menolehkan kepala, dia melihat Tuan Muda Vinlo sudah duduk dimeja makan.


“Tuan muda ingin makan malam lebih awal?” benak Nayla. Tidak biasanya Tuan Muda begitu awal makan malam.


Nayla bergegas mendekat, dia membawa teh hangat di tangannya. Saat tiba dimeja, kaki Nayla tersandung dengan kakinya sendiri.


Teh hangat itu terlempar dengan cepat. Nayla melihat hal itu bergegas bangun dan berniat untuk menjaga Tuan Mudanya. Naluri yang ada dihati itu muncul begitu saja, Nayla mendekat dengan perlahan.


Namun, bukan melindungi, Nayla merasa dialah yang dilindungi.Nayla membuat mata dengan cepat, dia menatap kaget melihat Tuan Muda Vinlo memeluknya. “A-Apa yang terjadi?” guman Nayla.


“Apa kamu terluka?” tanya Tuan Muda Vinlo dengan melepaskan pelukkannya. Matanya menatap kearah Nayla dengan wajah khawatir.


Nayla terkejut hingga wajahnya memerah, dia merasa mereka terlalu dekat hingga nafas mereka saling menyatu. Wajah Tuan Muda Vinlo hanya berjarak beberapa inci dari wajahnya.

__ADS_1


“Ah, maafkan aku.” Ucap Tuan Muda Vinlo menjauhkan wajahnya.


Nayla yang sudah memerah hanya bisa menundukkan kepala. Dia merasa degupan jantungnya terpompa dengan cepat.


Tidak ingin suasana tambah cangung, Nayla bergegas berjongkok untuk mengambil pecahan kaca. Tangannya digenggam oleh Tuan Muda dengan tiba-tiba.


Nayla menatap kearah Tuan Muda yang mengendonganya dan mendudukkannya dikursi. “Jangan menyentuh kacanya, tanganmu akan terluka.” Ucap Vinlo.


Degupan jantung itu semakin menjadi, Nayla menatap tangan yang digenggam oleh Tuan Muda. “Nayla, apa yang terjadi kepadamu.” Benaknya.


Tuan Muda Vinlo tiba dengan peralatannya. Melihat kedatangan Tuannya, Nayla bergegas bangun.


“Apa yang kamu lakukan?” tanya Vinlo dengan menatap kearah Nayla.


Nayla menjawab, “Tuan Muda, kemarikan alatnya. Nayla yang akan membersihkan semua ini.”


Tuan Muda Vinlo terdiam sesaat. “Tidak, biar aku saja.”


“Tapi!” Nayla ingin melanjutkan ucapannya, sayangnya tangan Tuan Muda Vinlo terangkat. Dia tidak mungkin melawan apa yang diperintahkan.


Mata Nayla ingin menatap serpihan kaca yang tidak jauh dari meja makan. Pandangannya terhenti ketika melihat baju tidur Tuan Muda bahas terkena teh yang terlempar olehnya.


“Apa?” Vinlo menatap kearah Pembantunya.


“Pakaian anda basah, anda melindungi Nayla. Tuan Muda, biar Nayla yang membersihkan semuanya.” Pinta Nayla.


Vinlo menatap Nayla dengan wajah bingung. “Apa yang kamu katakan? Pakaianku basah?”


Nayla mengangguk. Vinlo bergegas merasakan baju belakangnya. Kehangatan dari teh belum menghilang, dia sadar dengan apa yang terjadi. “Tidak apa, aku akan mandi dan tidak mungkin membengkak kan?”


Nayla mengambil paksa peralatan yang ada ditangan Vinlo. Dia menatap kearah Tuan Mudanya. “Tuan, lebih baik anda mandi. Nayla yang akan membersihkan ini dan setelah itu, Nayla akan mengobati punggung anda.”


Vinlo ingin menolak dengan apa yang Nayla ucapkan, dia ingin membantu kembali tetapi tangannya dihentikan oleh Nayla.


“Tuan Muda, ini tugas Nayla. Tolong, bersihkan diri anda dan tunggulah Nayla.”


Mendengar ucapan Nayla. Vinlo bangun dan melangkah pergi menginggalkan gadis yang menyuruhnya membersihkan diri.


Nayla melihat tuan muda melangkah pergi tanpa sepatah katapun. Dia tahu bahwa ucapannya sudah kelewatan, tetapi Nayla tidak tega melihat seseorang terluka karena perbuatannya.

__ADS_1


Dengan cepat Nayla membersihkan kekacauan yang terjadi. Setelah semua selesai, Nayla bergegas mengambil obat luka bakar di kotak P3K.


Kakinya berlari menaiki tangga, tidak ingin Tuan Mudanya menunggu lama. Dia harus bertanggung jawab dengan apa yang terjadi.


Ketukkan pintu dilakukan oleh Nayla, jawaban didalam mengijinkannya masuk. Nayla membuka pintu dan melihat Tuan Muda Vinlo sedang duduk di sofa kecil.


“Permisi.” Ucapnya.


“Kamu ingin mengobati punggungku? Kenapa ingin melakukannya?” tanya Vinlo setelah Nayla masuk kedalam kamar.


Nayla mendekat kearah Tuannya. “Tuan Muda, Nayla harus merawat anda. Nayla melakukan kesalahan, jika Nayla berhati-hati, Teh hangat itu tidak akan mengenai anda. Anda terluka karena kesalahan Nayla.”


Vinlo terdiam mendengar apa yang Nayla katakan, dia menegakkan tubuhnya dan membiarkan Nayla mengobati punggungnya.


“Maafkan Saya.” Ucap Nayla.


Vinlo mengelengkan kepala. “Tidak apa, wajar jika terjadi kesalahan dalam berkerja, Lain kali berhati-hatilah.” Ucapnya.


Nayla mengangguk dan bergegas menyelesaikan kegiatannya. Dia tidak ingin berlama-lama dalam ruangan seperti ini. sudah cukup tinggal diatap yang sama, jangan sampai mereka melakukan sesuatu yang terlarang.


Naif sekali pikiran Nayla, tidak mungkin Tuan Mudanya melakukan sesuatu padanya. Hatinya saja yang terlalu takut.


“Sudah selesai, Tuan Muda apa ada ingin makan malam?” tanya Nayla.


Vinlo mengenakan baju santainya dengan cepat. “Hm, sajikanlah.”


Dengan anggukkan kepala Nayla menerima apa yang dikatakan Tuan Muda. dia melangkah keluar kamar setelah pamit, meninggalkan seorang pria yang menutup wajahnya.


“Jantung sialan.” Ucap Vinlo.


...-*- ...


Tiba di dapur, Nayla bergegas menyiapkan kembali makan malam yang tertunda. Dia merapikan semuanya dan menghidangkan teh hangat diatas meja.


Vinlo datang dengan perlahan, dia duduk dan menikmati makan malam yang sudah disajikan oleh Nayla.


Nayla bergegas mengerjakan pekerjaan lainnya, dia tidak ingin satu ruangan dengan Tuannya. Degupan hati Nayla belum padam.


Kedekatan yang terjadi membuat Nayla merasa canggung berada didekat Vinlo. “Nayla, apa yang terjadi kepadamu.” Benaknya.

__ADS_1


__ADS_2