Pembantu Pribadi Tuan Muda

Pembantu Pribadi Tuan Muda
Bab 41 : Ke kantor


__ADS_3

"Berbeda? Nayla tidak merasakan semua itu, Kak Kia." ucap Nayla sebagai jawaban dari pertanyaan Kia.


"Ada Nay, kamu tampak bahagia dengan kedekatanmu. Aku tidak tahu kalau Tuan Muda akan seperti itu, Bersikap manja." ucap Kia dengan melangkah menuju ruang tengah.


Nayla mengikuti langkah Kia, dia sedikit malu mendengar hal itu. Baru saja, dia dan sang kekasih kepergok saat mengenakan dasi. Seandainya, mereka melakukan hal yang lebih, apa dia akan langsung di pecat?


Kia duduk dan menatap Nayla. "Sudah dua bulan lebih ya, kamu di sini. Ah, mungkin sudah lama sekali. Katakan saja, apa kamu dan tuan muda berpacaran?"


Jantung Nayla berdetak dengan begitu kencang. Hanya satu detakkan, seluruh tubuhnya membeku seketika. Dia menatap Kia yang menunggu jawabannya.


"Apa dia akan mengatakan hubunganku ini kepada Nyonya besar?" benak Nayla. Pikiran negatif mulai menghantui. Bagaimana jika nanti, dia malah diusir dan mendapatkan pandangan buruk dari semua orang?


Tidak, Nayla tidak bisa mendapatkan semua ini. Dia bekerja di sini karena ekonomi yang meningkat dan untuk ibunya. Kalau dia dipecat, habis semua harapan yang dia ciptakan.


"Jangan khawatir, aku tidak akan melaporkan hal ini kepada Nyonya Besar. Dengar Nayla, aku justru menyetujui hubungan kalian saat ini,"


Nayla menatap Kia yang kini bangun dan berjalan dengan mendekatinya. "Meski Nyonya besar tidak menyukainya. Aku akan tetap mendukungmu. Tuan Muda Vinlo sudah kehilangan ibu kandung, dia begitu anti di dekati orang lain. Mengakui Nyonya besar pun tidak, hingga akhirnya orang-orang mengira tidak akan ada yang dicintai oleh Tuan Muda. "


Kia memberikan tepukkan di bahu Nayla dengan lembut, dia tersenyum dan kembali berucap, "karena mu, karena cintamu, Tuan Muda Vinlo tampak bahagia. Nayla, aku ikut bahagia saat kalian saling dekat seperti ini."


"Tunggu, Kak Kia hubungan kami salah. Tidak mungkin, Anda menyetujuinya." Nayla merasa tidak percaya dengan hal ini. Dia tahu kalau Kia begitu mentaati aturan sebagai pelayan. Tidak ada cinta yang tumbuh, hanya ada kepatuhan dan kejujuran dalam berkerja.


Kia tersenyum, "aku menyetujuinya Nayla. Sudahlah, ayo buat makan siang dan bawakan makan siang ini di kantor tuan muda." ajaknya.


Nayla merasa otaknya tidak bekerja sama sekali. Namun, hatinya bahagia mendengar persetujuan itu. Dia benar-benar bahagia. "Tidak, hatiku akan berdetak lebih cepat." benaknya.


...-*-...


Tiba di perusahaan keluarga Margatha. Vinlo melangkah menuju ke ruangannya. Saat membuka pintu ruangan, mata Vinlo menjadi datar seketika.


Raga yang ada di belakang Tuannya segera mengintip. Terlihat wanita mengenakan dress pendek dengan kecantikan yang luar biasa.


"Wanita ini, dia bukannya Olati Yunrajt. Putri kesayangan keluarga Rajt." benak Raga. Matanya melirik Vinlo yang tampak begitu tidak senang.

__ADS_1


Langkah kaki mereka berdua membawa masuk ke dalam ruangan. Wanita yang berparas cantik itu segera menoleh dan bergegas bangun untuk menyambut.


"Kak Vinlo," sapa Olati dengan senyum bahagia. Dia berlari mendekat dan ingin memeluk Vinlo.


Mendapatkan hal itu, Vinlo dengan cepat pula menghentikan Olati. Dia segera menjauhkan diri dan melangkah menuju kursinya. "Ada apa? Bukankah rapat keluarga Rajt, tidak seharusnya menghadirkan penerus mereka." ucap Vinlo dengan nada cueknya.


Olati sedikit sedih mendapati perlakukan Vinlo. Dia tidak menduga, pria ini menjadi dingin. "Kak Vin, jangan begitu denganku. bukankah aku dulu teman masa kecilmu."


Vinlo tidak menghiraukan perkataan Olati, dia segera memeriksa dokumen untuk rapat kali ini.


Merasa diacuhkan. Olati memilih untuk menatap Raga yang sedang berdiri di samping pintu. "Raga, duduk lah kemari. Mari kita bercerita," ajaknya.


Mau tidak mau, Raga mengikuti keinginan Olati. Dia merasa kasihan ketika melihat wanita ini diacuhkan oleh tuannya.


Melihat Raga telah duduk, Olati tersenyum dan memulai ceritanya. Raga menjadi pendengar yang baik.


Vinlo tidak menghiraukan cerita keduanya. Dia lebih memilih untuk menatap jam di tangan dan memprediksi kapan harus pulang untuk makan siang. "Seandainya waktu bisa ku hentikan. Aku tidak akan berada di sini sekarang." benaknya.


"Begitulah Raga, menjalani hari diluar negeri itu membosankan. Apa lagi, tidak ada Kak Vin." Olati melirik ke arah Vinlo, berharap pria itu meresponnya. Namun, semua itu percuma saja.


Vinlo bangun dari tempat duduk, dia membawa berkas yang ada lalu menyerahkannya kepada Raga. "Ke ruang rapat," ucapnya.


Olati memanyunkan bibirnya, dia bergegas mengikuti langkah dua pria yang berada di depan.


Setiba di ruang rapat. Tanpa basa basi, Vinlo memulai rapatnya dengan cepat. Dia tidak ingin mengulur waktu hingga makan siangnya tertunda.


Setengah jam berlalu, Vinlo menutup rapatnya. "Terima kasih," ucap Vinlo. Setelah rekan-rekan kerja pergi, Dia melangkah keluar untuk kembali ke ruangannya.


"Tunggu Kak Vin!" seru Olati dengan tergesa-gesa mengejar Vinlo. Dia menghela napas ketika langkah mereka seirama. "Hehe, jangan terlalu cepat berjalan. Aku tidak sanggup mengikuti langkahmu." ucapnya.


Vinlo tidak memperdulikan apa yang dikatakan oleh Olati, dia harus segera menyusun berkas dan menandatangani file sebelum waktu makan siang tiba.


"Lagi-lagi kamu mencuekiku, apa ada yang salah Kak Vin? Aku datang jauh-jauh untuk bertemu denganmu." ucap Olati. Berharap Vinlo akan meresponnya.

__ADS_1


Harapan itu membuahkan hasil, Vinlo melirik Olati tanpa menghentikan langkahnya. "Untuk apa kamu melakukan semua itu, tidak ada gunanya. Merugikan waktumu." ucap Vinlo.


Olati tersenyum, "tidak ada yang rugi. Aku malah mendapatkan keuntungan. Kak Vin, aku mencintaimu."


Vinlo berhenti melangkah, dia menghadap ke arah Olati dengan pandangan dinginnya. "Berhentilah, jangan mengatakan hal yang akan membuat orang lain salah paham. Aku dan kamu, hanya sebatas teman tidak lebih." tegur Vinlo.


Olati menatap malas setelah mendengar itu, dia segera melangkah kembali mengikuti langkah Vinlo.


...-*-...


Nayla puas melihat makan siang kali ini. Dia membuatkan ayam asam manis dengan martabak mini.


Kia yang melihat kepuasan itu tersenyum. Dia merangkul Nayla. "Lihat, masakkanmu ini akan menjadi makanan yang di nanti tuan muda. Bersiaplah Nayla, jam makan siang akan di mulai. Aku akan menghubungi tuan muda untuk menunggu di kantor saja,"


Nayla mengangguk dan ingin bergegas pergi. Namun, Kia segera menghentikannya. "Tapi, aku tidak bilang kalau kamu yang mengantar makan siang ini. Gunakan kesempatan ini untuk mengejutkannya. Dia pasti akan bahagia," lanjut Kia.


Senyum Nayla seketika mengambang. Dia membayangkan bagaimana ekspresi senang Vinlo ketika tahu dia datang ke kantor untuk mengantarkan makan siang ini.


"Sana, bersiaplah." ucap Kia.


Sepuluh menit berlalu, Nayla kembali dengan pakaian sederhananya. Namun, tetap memberikan paras cantik yang tidak berpoles apa pun.


"Bibirmu sedikit pucat, kenakanlah lipbam untuk melembapkannya." Kia memberikan lipbam yang dia bawa di tas.


Nayla ragu mengenakan itu, dia takut bibirnya akan berwarna merah terang.


"Pakailah, tidak akan seperti wanita-wanita malam." ucap Kia.


Dengan perlahan Nayla mengunakan lipbam itu. Terasa di bibirnya, kelembapan yang menghasilkan sedikit warna.


Kia yang melihatnya merasa puas. Nayla memang cantik meski tidak di poles bedak sekali pun. Apa lagi, Cleft chin yang ada di dagu Nayla. "Ayo berangkat, temui pangeranmu itu!" ucap Kia dengan sedikit mengodanya.


Nayla mengangguk dengan wajah memerah. Dia pun membawa paper bag dan bersiap untuk pergi ke kantor Vinlo. Kia sudah menyiapkan taksi yang akan mengantar Nayla. "Hati-hati di jalan!" Kia melambaikan tangan kepada Nayla.

__ADS_1


"Hm, aku berangkat."


__ADS_2