Pembantu Pribadi Tuan Muda

Pembantu Pribadi Tuan Muda
Bab 39 : Kekalahan dan Kemenangan


__ADS_3

Akhirnya, tantangan memakan bakso mercon itu pun diterima. Dengan memesan dua porsi bakso, kedua pasangan segera menyantap hidangan tersebut.


Awal menyantap bakso itu, semua tampak baik-baik saja. Hingga di suapan kedua,


"Siittt, Huh, pedasnya." celetuk Nayla dengan mengibas-ngibas tangan di depan mulutnya. Berharap, rasa panas itu menghilang.


Tidak hanya dia yang merasa kepedasan, Vinlo yang ada di samping menahan diri untuk tidak berdesih dan mengeluh. Dia berusaha untuk makan lagi dengan tenang.


Berbeda dengan Zivarka dan Laisa. Dua orang itu telah menyuap untuk yang kelima. meski begitu, suara kepedasan mereka terdengar ditelinga.


"Shuuhh, Gila!" pekik Laisa dengan mengibas-ngibas mulutnya. Rasa pedas itu benar-benar membara.


Vinlo berusaha untuk tetap tenang meski rasa pedas sudah memerahkan wajahnya. Nayla memperhatikan wajah itu segera membuka botol mineral dan memberikannya.


"Terima kasih," ucap Vinlo yang langsung meneguk air tersebut.


Laisa sudah meneguk tiga botol mineral dan hampir setengah lagi baksonya akan habis. Namun, air matanya sudah mengalir hingga puluhan tisu sudah dia habiskan.


"Hikss! Waaah gilaa," jerit Zivarka. Dia mengambil botol mineral bekas Laisa dan meneguknya.


Empat puluh menit berlalu, empat orang itu pun berhenti makan dengan sisa bakso mereka.


Nayla dan Vinlo baru memakan setengah, sedangkan Laisa dan Zivarka hanya tersisa beberapa suap untuk menyelesaikannya. Sayang, tidak ada kesanggupan lagi untuk menghabiskan bakso mercon itu.


"Mbak, Teh hangatnya empat!" ucap Laisa yang sudah tidak tahan lagi. dia bersandar di bahu Zivarka dengan sang kekasih yang juga bersandar padanya.


"Ini empat teh hangatnya." ucap Mbak yang mengantar empat gelas teh.

__ADS_1


Semua langsung menyeduhnya untuk menghilangkan rasa pedas yang masih membekas. Perlu waktu untuk menenangkan diri, tapi tidak ada yang bisa menghilangkan rasa pedas itu untuk sementara waktu.


"Jadi, siapa yang menang?" tanya Vinlo yang berusaha untuk bersikap tenang.


Laisa segera melambaikan tangannya sambil bersandar di bahu sang kekasih. "Ayoo, tuan muda, tentu saja kami yang menang. Anda tidak melihat sisa bakso kami. Meski tidak habis, tapi yang paling sedikit baksonya itu kami." jelasnya.


Vinlo merasa tidak terima dengan hal itu, dia melirik Nayla yang sudah tidak tahan lagi. Hingga dengan keberanian tinggi, Vinlo menuntun sang kekasih bersandar padanya.


Merasa seseorang menarik tubuhnya, Nayla melihat Vinlo yang tersenyum dan menepuk bahunya dengan perlahan. Mengerti yang di maksud Vinlo, Nayla segera bersadar dengan perasaan berdegup-degup.


"Beginilah rasanya jatuh cinta." benak Nayla.


Pada akhirnya, kekalahan dan kemenangan menjadi keputusan akhir. Vinlo Margatha yang harus membayarnya karena kekalahan mereka. Sedangkan, Laisa dan Zivarka menerima kemenangan tanpa mengeluarkan uang sepersen pun.


"Yeah, kali ini kami yang menang ... kapan-kapan kita buat tantangan lagi ya." kata Laisa sebelum pergi.


Laisa dan Zivarka sudah pamit terlebih dahulu. Mereka hanya mengunakan motor yang lebih mudah untuk keluar dari area parkir. Untungnya, Mobil Vinlo tidak terhalang dengan mobil lain, hingga dia pun bisa mengeluarkannya dengan muda.


Perjalanan pulang dengan cepat di lakukan, Vinlo merasa perutnya sudah tidak enak hingga dia perlu toilet. Berbeda dengan Nayla yang ingin melelapkan diri karena terlalu kenyang.


Kecepatan mobil itu terasa oleh Nayla, dia melihat ke arah Vinlo yang tampak pucat dengan keringat di wajahnya. "Loh, Vin ... kamu tidak apa-apa?" tanya Nayla.


Vinlo hanya mengangguk tanpa menangapi perkataan kekasihnya itu. yang ada di pikirannya hanya untuk bisa tiba di rumah lebih cepat.


Melihat tidak ada jawaban, Nayla pun menebak kalau sang kekasih sekarang sakit perut. "Oh ya, ada tepung ketan di rumah ... aku bisa membuatkan itu untuk dirinya." benak Nayla.


Tiba di apartment, Vinlo menarik tangan Nayla untuk secepatnya berada di sana dan bergegas ke toilet.

__ADS_1


Nayla segera ke dapur dan menyiapkan tepung ketan dengan air putih. Tidak perlu banyak, cukup satu sendok makan dengan air secukupnya. Setelah tercampur rata, Nayla segera menuju ruang tengah dan melihat Vinlo yang kini terduduk lemas.


"Vin, bisa minum ini dulu?" tanya Nayla yang mendekat ke arah Vinlo. Kini tidak ada lagi rasa ragu memanggil nama kekasihnya.


Vinlo mengangkat kepalanya dan melihat Nayla yang membawa cangkir di tangan. "Apa kamu membuat obat herbal? Nay, aku tidak bisa mengkonsumsi itu." ucapnya.


Nayla tersenyum dan mendekat lalu menunjukan isi dari cangkir yang dia bawa. "Ini hanya tepung ketan. Tidak berbau dan pahit. Hanya ada rasa lengket di tenggorokan."


"Tapi aku tidak mau." tolak Vinlo.


Dengan wajah sedih Nayla berucap, "Kalau begitu, Kamu akan terus sakit. Minumlah, hanya satu tegukkan."


Vinlo menyerah dengan bujukkan Nayla. Dia segera meneguk obat itu dan merasakan rasa lengket di tenggorokan. "Aku ingin air putih."


Nayla segera mengambil air putih dan memberikannya kepada Vinlo. Dengan perlahan Vinlo meneguk air itu untuk menghilangkan rasa lengketnya.


"Gimana, tidak pahit kan?" tanya Nayla.


Vinlo menarik tangan Nayla hingga sang kekasih duduk dengan tiba-tiba. Kepala Vinlo di baringkan pada pangkuan sang kekasih yang tampak tegang.


"Tenanglah Nayla, aku hanya berbaring." ucap Vinlo menatap layar televisi. Dinyalakan layar televisi itu dan menunjukkan kartun-kartun lucu.


Perhatian Nayla teralihkan, dia menonton serial itu hingga menjadi tenang dan bahkan mengusap-usap kepala kekasihnya.


"Hehe, Nay ... Aku mencintaimu." kata Vinlo tiba-tiba.


Nayla terteguh kembali dan menatap wajah kekasih yang juga menatapnya. "A-aku, aku, aku, cinta ... juga," tutur Nayla dengan tidak beraturan.

__ADS_1


Vinlo tersenyum, dia kembali menatap televisi dan menonton serial kartu bersama Nayla. Kali ini rasa jarak di antara mereka benar-benar menghilang. Hanya ada kesadaran yang harus di jaga, agar tidak terjadi apa-apa.


__ADS_2