Pembantu Pribadi Tuan Muda

Pembantu Pribadi Tuan Muda
Bab 42 : Kejutan


__ADS_3

Olati bangun dari tempat duduk, dia melangkah mendekati Vinlo yang menandatangani berkas-berkasnya.


"Kak Vin, ayo makan siang bareng!" ajak Olati.


Vinlo tidak menghiraukan ajakkan itu, dia lebih memilih untuk menangani berkas dan mengacuhkan wanita berparas cantik.


Olati mengambek hingga menatap ke arah lain. "Tidak bisakah kamu menemaniku walau sebentar saja?" celetuknya.


Vinlo terkekeh pelan dengan nada sinisnya. "Bukankah kedatanganmu ke sini untuk rapat. Tidak ada hubungannya dengan makan siang. Aku sudah punya janji dengan orang lain, jadi tidak bisa menemanimu." sahut Vinlo.


Mendengar hal itu, Olati menghela napas dan meranjak menuju sofa yang terdapat tas kecil itu. Diambil tas itu lalu melangkah menuju pintu ruangan.


"Aku akan mengunjungi Tante Mayra dan Paman Margatha" ucap Olati yang kemudian melangkah pergi meninggalkan ruangan.


Dia menuju lift dan segera naik ke sana untuk menuruni lantai. "Menyebalkan, Kak Vin begitu cuek." gumam Olati.


Pintu lift terbuka, Olati melangkah melewati ruang resepsionis dengan menatap pintu keluar. Namun, lirikkan mata itu mengarah kepada wanita dengan pakaian sederhana.


Wajah yang tidak berpoles tapi kecantikkan alaminya membuat Olati merasa iri. "Cantik sekali," benaknya. Dia kembali melangkah keluar dari ruangan.


...-*-...


Nayla tersenyum ke arah wanita yang bertugas di resepsonis. Dia meletakkan paper bag di meja. "Permisi," ucapnya.


Wanita yang bertugas segera mengangkat kepala dan melihat Nayla. "Iya, ada yang bisa di bantu?" tanyanya.


"Hm, ada Tuan Vinlo?" Nayla berucap dengan nada pelan khas anak desa.


Wanita itu mengangguk dan segera mengangkat telepon genggam yang dekat di samping tempatnya duduk. "Atas nama siapa dan tujuan dari kedatangannya?"


"Ah, nama ...." Nayla mengingat perkataan Kia, kalau dia datang ke sini untuk memberi kejutan kepada kekasihnya itu. "Hm, untuk nama bisakah Anda rahasiakan. Lalu, tujuannya ini...,"

__ADS_1


Nayla menunjuk paper bag di tangannya. "Untuk mengantar makan siang."


Wanita bertugas itu mengangguk, dia segera mengarahkan telepon genggamnya ke arah telinga. "Selamat siang pak ... saya ingin memberitahukan kepada Anda, ada seseorang yang datang mengantarkan makan siang untuk Anda. Apakah Anda ingin mengambilnya?"


Anggukkan kepala beberapa kali di lakukan, Wanita bertugas sebagai resepsonis itu akhurnya menutup panggilan.


"Tuan bilang akan ada Raga yang mengambilnya. Siahkan menunggu terlebih dahulu ya, di sana ruang tunggunya." ucapnya sambil menunjukkan arah ruang tunggu berada.


Nayla mengangguk dan segera melangkah menuju ke arah ruang tunggu. Belum juga mencapai ruangan, matanya melirik ke luar perusahaan. Dia melihat wanita tinggi yang masuk ke dalam mobil.


"Cantik," gumam Nayla ketika dia bisa melihay wajah wanita itu. Rasa tidak percaya diri seketika muncul. "Tubuhnya tinggi, rambutnya panjang dengan polesan cantik di wajahnya. Wanita itu, siapa dia." lanjutnya dalam benak.


Nayla kembali dengan tujuannya. Dia ingin masuk ke raung tunggu tapi ditahan seseorang.


"Nayla?"


Tahu siapa pemilik suara itu, Nayla menoleh dan mendapati Raga tengah menatap dengan pandangan terkejut.


"Loh, kok bisa sampai ke kantor?" tanyanya meski tahu jawaban dari pertanyaan itu. Namun, Raga merasa takut jika Nayla datang saat Olati masih di ruang kerja Vinlo. Apa yang akan terjadi nanti?


Matanya memperhatikan bagaimana reaksi Raga dengan kedatangannya. "Kamu pasti terkejut, oh ya jangan beritahu Vinlo kalau aku lah yang mengantar makan siang ini."


Raga segera menyadarkan dirinya. Dianggukkan kepala sebagai persetujuan dari ucalan kekasih Tuannya ini. "Kalau begitu, mari naik ke lantai atss. Tuan sedang di sana." ajaknya.


Nayla mengangguk pelan dan melangkah terlebih dahulu. Raga segera mendekati resepsonis yang dari tadi memperhatikan mereka.


"Hm, maaf Pak Raga, wanita itu siapa ya?" tanya Wanita itu.


Raga segera menyahut, "Jika dia datang lagi. Izinkan dia masuk karena dia Nayla, pembantu tuan muda."


Tetap dengan kerahasiaan. Raga juga harus berbohong demi melindungi Tuannya. Dia tahu, Tuan Vinlo tidak akan mendapat persetujuan dari hubungan ini.

__ADS_1


Namun, mengatakan kebenaran itu kepada Tuannya, ada sedikit masalah yang bisa membuat Vinlo menderita. Jadi, Raga berusaha menahan diri dan mengamati Tuannya.


...-*-...


Vinlo menutup telepon genggam yang terhubung kepada resepsonis. Dia mengerutkan alid dengan perasaan bingung.


"Makan siang, di antst ke kantor? Engak salah?" gumam Vinlo.


Dia ingin bangun dari tempat duduk. Saat ingin melangkah ke sofa, Vinlo tiba-tiba kepikiran dengan ponsel pintarnya. Diambil ponsel itu dan dia menghidupkan layarnya yang terdapat pesan dari pembantu di kediaman utama.


"Bi Kia, kenapa dia menghubungiku?" benak Vinlo. Di buka pesan itu yang berisi...


-Tuan Muda, ada seseorang yang mengantar makan siang Anda. jadi, tidak perlu pulang ke apartment-


Mendapatkan pesan seperti itu, Vinlo semakin bingung. Rasa penasarannya pun memuncak ketika ada kejangalan dalam pesan Bi Kia.


Saat ingin keluar untuk bertemu secara langsung. Vinlo di kagetkan dengan kedatangan Raga bersama seseorang di belakangnya.


"Siapa di sana, Raga?" tanya Vinlo dengan berusaha untuk bisa melihat siapa orang tersebut. Di lirik bagian kaki yang terdapat rok semata kaki, membuat Vinlo berbenak, "Apa seseorang yang Bi Kia katakan, dia itu Nayla?"


Raga tersenyum, dia melangkah ke samping dan menghadirkan seorang wanita yang menundukkan kepala. "Ke-kejutan, Vin!" ucapnya dengan malu-malu.


Vinlo merasa senang, dia segera mendekat dan memeluk Nayla. "Kejutan yang luar biasa. Nay, aku merindukanmu."


Mendengar ucapan itu, Raga memutar bola matanya dengan jengah. Dia segera keluar ruangsn untuk membiarkan pasangan bucin itu.


"Nay, ayo duduk dulu!" Vinlo menutup pintu dan menuntun Nayla untuk duduk di sofa. "Kapan datang, hm?"


"Tidak lama kok, yang pasti kakiku belum merasakan kekraman." sahut Nayla.


Vinlo tertawa dan mengangkat perlahan kaki Nayla. "Eh, apa yang kamu lakukan, Vin?" tanya Nayla.

__ADS_1


Sambil memijit, Vinlo menjawab, "kakimu akan sakit menunggu di sana. Biar aku memijitnya dulu."


"Tidak perlu, aku tidak apa-apa loh." Nayla berusaha menolak, tapi pada akhirnya dia menyerah dan membiarkan Vinlo memijiti kakinya.


__ADS_2