Pembantu Pribadi Tuan Muda

Pembantu Pribadi Tuan Muda
Bab 51 : Aku merasa kehilangan


__ADS_3

Semenjak pertemuan itu, Laisa tidak mengatakan apa pun kepada Nayla. Dia tetap bungkam sampai dirinya mendapatkan tugas untuk menjaga Tuan Vinlo Margatha.


"Kenapa harus aku? Aku tidak ingin bertemu dengan pria itu lagi. Akan ada rasa kasihan di benakku, hah." helaan napas terjadi bersamaan dengan benak Laisa yang baru saja mengeluh.


Dia tidak menyangka, tugasnya yang menjaga kamar mayat berubah menjadi perawat seorang Tuan Muda.


"Apa aku mengantikan posisi Nayla? Dia sebagai pembantu pribadi dan aku menjadi perawatnya. Gila," gerutu Laisa.


Sembari membawakan makan siang, Laisa melirik ke kanan dan ke kiri, memastikan tidak ada yang mendengar gerutukannya.


Pagi tadi, dia menghidangkan sarapan sebelum pria itu bangun. Sekarang, Laisa mau tidak mau harus bertemu dengan Tuan Muda ini. Dia hanya takut jika nanti Vinlo akan bertanya tentang Nayla padanya. Mengingat kalau Vinlo tahu bahwa dirinya adalah sahabat, kekasihnya itu.


"Tidak, dia bukan kekasih. Tapi, mantan kekasih." gumam Laisa.


Pintu kamar rawat di buka perlahan. Laisa terdiam melihat Vinlo yang semakin hari semakin menderita. Benar, semenjak pertemuan pertama itu, Laisa tidak lagi melihat kondisinya.


Sekarang, ini sudah melewati satu minggu dari kejadian itu. Laisa berpikir bahwa Vinlo akan membaik. Namun sayang, itu sebuah kebalikkan dari dugaannya.


"Makan siangnya, Tuan." ucap Laisa.


"Hm."


Laisa melirikkan mata untuk melihat pria yang kurus dengan tatapan sedu. Dia mendapati kalau Vinlo selalu menatap jendela seperti berharap akan sesuatu.


"Cuaca hari ini indah ya, Tuan." ucap Laisa sekedar basa basi.


Namun siapa yang menduga, basa basinya itu malah di sambut dengan baik oleh Vinlo.


"Hm, sangat indah. Aku pun tidak tahu, sudah berapa lama aku memandangnya."


Laisa berbalik badan karena mendapati Tuan Muda itu menoleh ke arahnya. Laisa tidak ingin Vinlo tahu kalau dia yang menjadi perawat di sini.


"Suaramu, aku seperti pernah mendengarnya."


Laisa terteguh mendengar perkataan Vinlo. Dia berdehem beberapa saat sebelum berucap. "Haha, tidak mungkin saya pernah bertemu tuan, ini pertama kalinya saya menjaga tuan."


"Oh, lalu kenapa kamu berbalik badan seperti itu?"


"Ah, hahaha ... saya hanya tidak ingin menampakkan wajah saya, takut tuan merasa jijik." ucap Laisa tanpa menyaring perkataannya.

__ADS_1


"Aku tidak jijik. Sudahlah, lakukan sesukamu."


Laisa menghela napas karena Vinlo tidak bertanya lebih. Dia tetap menatap tembok agar mereka tidak saling bersitatap.


"Tuan, apa Anda tidak berniat untuk sembuh dengan cepat? Ah, maafkan saya yang telah lancang bertanya." ucap Laisa.


Setelah berkata seperti itu, dia mengerutuki dirinya di dalam pikiran. "Dasar bodoh! Kamu seharusnya keluar dari ruangan tanpa ada pembicaraan lain. Emang, rada miring juga nih otak." benaknya.


"Aku ingin cepat sembuh. Tapi, ku rasa itu sulit."


Laisa terdiam mendengar respon dari pria di belakangnya. Dia pun ingin mengetahui apa sebab Vinlo di sini.


"Sulit? Tidak akan sulit jika Anda berusaha." sahut Laisa.


"Kamu benar, tidak akan sulit jika berusaha. Tapi, apa yang ku usahakan, bisakah membuat wanita yang ku cintai kembali."


"Siapa wanita yang dia cintai?" benak Laisa setelah mendengar perkataan Vinlo.


"Kenapa dengan wanita Anda, tuan? Apakah dia meninggalkan Anda?" tanya Laisa.


"Hehe, tidak ... dia tidak meninggalkanku. Tapi, aku lah yang membuatnya pergi."


"Kamu tahu, aku bukan seorang tuan muda yang berani. Penerus yang di dambakan para wanita. Tapi, aku adalah seorang manusia lemah yang mudah di perdaya."


"Kini, semua itu hanya menjadi penyesalan untukku. Aku kehilangan dia, bahkan langit pun tidak memberiku kesempatan untuk menjelaskan semua yang terjadi."


Laisa diam mendengarkan apa yang dikatakan oleh Pria di belakangnya. Dia tahu, siapa yang di bicarakan ini.


"Tuan, apa harapan Anda?" tanya Laisa.


"Harapanku? Aku ingin menjelaskan kepada Dia. Kalau pertunangan saat itu bukanlah kenyataan. Aku melakukan itu demi melindunginya. Dan saat itu, aku adalah orang bodoh yang terjebak."


"Meski begitu, aku yakin ... Dia tidak akan mau kembali kepadaku. Huh, tidak apa ... seperti inilah takdirku."


"Ubahlah takdir Anda Tuan. Saya yakin, tuan akan mendapatkan apa yang diharapkan. Saya hanya bisa memberikan dukungan agar tuan selalu semangat untuk sehat kembali dan mencari dirinya." ucap Laisa.


"Hm, kamu benar. Terima kasih, Laisa." ucap Vinlo.


Laisa terkejut hingga berbalik untuk menatap pria yang tersenyum padanya. Dia tidak menduga kalau secepat itu Vinlo menyadarinya.

__ADS_1


"Kapan? Kapan Anda tahu kalau-,"


"Aku sudah tahu saat kamu menjadi perawat dadakan di sini. Aku mengenal Zivarka, dia tidak akan membuat kekasihnya berkerja di tempat lain, tanpa pengawasannya." ucap Vinlo.


"Kenapa kamu diam saat tahu kalau itu aku?" tanya Laisa.


"Karena, kamu pasti akan mendukung keputusan Nayla. Aku, tidak akan bisa memaksamu." jawab Vinlo.


Laisa menghela napas. Dia benar-benar dalam situasi yang membingungkan.


"Maaf, aku juga tidak bisa mengatakan semuanya. Tapi, aku sakit melihat Nayla menangis karena perbuatan Anda." ucap Laisa.


Vinlo mengangguk-angguk kepala dan menatap ke arah jendela. "Aku hanya ingin bertemu dengannya. Katakan padanya, jika dia mau untuk bertemu denganku. Aku akan menunggunya di sini."


Laisa terdiam mendengar hal itu. Dia bingung mengambil keputusannya sendiri. "Bagaimana ini," benaknya.


...-*-...


Di rumah sewa, Laisa melirik Nayla yang membawa bolu peca di dalam mangkuk.


"Ada apa denganmu, setelah pulang kerja kamu tampak sedih begitu." ucap Nayla yang duduk di sampingnya.


Helaan napas Laisa lakukan, dia menatap Nayla yang juga menatap padanya.


"Nay, ada hal yang ingin ku katakan kepadamu. Ku harap, kamu memikirkan ini dengan baik."


Nayla mengerutkan alisnya mendengar perkataan Laisa. "Kenapa? Apa terjadi sesuatu?"


Laisa segera meraih pundak Nayla untuk menatap padanya. "Dengar Nayla, saat ini kekasihmu sedang ada di rumah sakit. Dia tampak kurus karena tidak mau makan. Sebaiknya,"


"Kamu ingin bilang kalau Vinlo mencariku? Laisa, apa kamu sedang berbohong kepadaku?"


Laisa menggeleng kepala mendengar pertanyaan Nayla. "Tidak, satu minggu yang lalu. Aku mengantikan tugas teman kerjaku. Dia ditugaskan untuk merawat Tuan Muda Margatha. Dan, aku lah yang merawatnya saat itu."


"Sebenarnya, aku tidak yakin kalau Pria itu sedang menderita. Tapi, setelah satu minggu berlalu, aku menjadi iba melihat pria itu."


"Dia menjadi semakin kurus dan makannya pun tidak beraturan. Lalu, dia berpesan kepadaku. Jika kamu mau, temuilah dia agar pria itu bisa menjelaskan kesalahpaham yang terjadi di antara kalian." ucap Laisa dengan segala penjelasannya.


Nayla terdiam, dia melirik ke arah lain dengan wajah tidak tenang.

__ADS_1


"Maaf Nay, aku bukan membela Dia. Tapi, aku ingin kalian menentukan hubungan ini dan segera mengakhiri apa yang terjadi. Ku harap, kamu memikirkan semuanya dengan baik." Laisa bangun dari tempat duduknya.


"Aku tidak bisa membantu banyak Nayla, ku harap kalian bisa berakhir dengan baik." benak Laisa yang melangkah pergi.


__ADS_2