Pembantu Pribadi Tuan Muda

Pembantu Pribadi Tuan Muda
Bab 11 : Menjaga Jarak


__ADS_3

Melihat wajah cantik dengan tingkah laku yang membuatmu tersenyum sendiri. Vinlo Margatha baru pertama kali melihat gadis imut yang bingung dengan sekitarnya.


Langkah kaki gadis itu berakhir tersandung hingga Vinlo bergegas mendekat dan menolongnya. “Kamu tidak apa-apa?” tanya Vinlo.


Gadis didepannya begitu imut dan terteguh karena melihat wajahnya. Vinlo merasa debaran hebat yang terpompa. Dia bergegas pergi setelah memastikan gadis itu baik-baik saja.


Setelah kejadian itu, besok hari Vinlo melihat gadis yang sama tengah menyemangati dirinya diruang dapur. Senyum tanpa sadar terukir dibibirnya.


“Imut sekali.” Benak Vinlo.


Vinlo menatap hidangan yang disajikan. Dia tidak sabar menyantap hidangan itu karena dibuat oleh orang yang menarik perhatiannya.


Saat bubur ayam masuk kedalam mulut, Vinlo merasa begitu banyak kehangatan didalamnya. Tampak sekali, kalau masakan ini dibuat dengan keseriusan tinggi.


“Ku harap, Ayah akan memilihnya.” Benak Vinlo.


Namun, siapa yang menduga kalau keputusan akhir malah membuatnya bersedih hati. Gadis yang diinginkan olehnya kalah dengan gadis lain.


Setelah sesi penilaian untuk mencari pembantu Pribadi. Vinlo engan melihat siapa yang menang, dia sudah tahu kalau gadis imut itu tidak akan bersamanya.


Tetapi, siapa yang menduga. Kepala pelayan tiba dengan gadis yang menunduk malu. “Dia, gadis imut kan?” benak Vinlo.


Hari pertama Gadis itu berkerja, Vinlo ingin menjadi dirinya sendiri. tidak perlu bersikap dingin karena dia ingin Pembantunya tidak cangung.


Namun sayang, dia melakukan kesalahan. Pertama, mengusap kepala Nayla. Saat itu, Vinlo melihat cctv dikantor.


Dia mendapati Nayla menangis setelah mendapatkan telpon seseorang. Vinlo sadar bawah Nayla begitu rindu dengan keluarganya. Niat tidak ingin makan siang, malah berakhir di rumah dan kecangungan terjadi.


Lalu, Vinlo mengerutuk pada jantungnya sendiri. degupan jantung karena memeluk Nayla. Gadis yang sudah menarik perhatiannya, tentu membuat Vinlo tidak ingin dia terluka. Tapi, tindakkannya berhasil membuat Vinlo tersadar ada batasan yang harus dia jaga. Tinggal diapartment ini bukan kehendaknya, tapi karena dia terpaksa.


Vinlo ingin hidup tanpa melihat Ibu angkat, dia tidak menyukai wanita itu. jadi, dia meminta izin kepada Ayahnya untuk tinggal diapartment dengan alasan dekat kantor.


Namun, alasannya menjauh dijadikan kesempatan oleh Ibu Angkat. Hadirnya Pembantu di kediamannya sekarang karena rencana Wanita itu. Vinlo berharap tidak akan terjadi sesuatu yang mengerikan.

__ADS_1


Helaan nafas Vinlo berhembus, dipagi ini dia menatap kearah cermin. Mengingat kejadian yang memalukan itu berhasil mengembalikan degupan dihatinya.


“Dengar Vinlo, kamu harus ingat. Dia adalah pembantumu. Jangan sampai melakukan sesuatu yang bisa menyakitinya.” Guman Vinlo.


Suara ketukkan pintu membuatnya sadar seketika. “Iya?”


“Tuan Muda, sarapan sudah siap.”


Mendengar suara Nayla membuat senyum Vinlo hadir seketika. Dia yang menyadari hal itu segera mengubah raut wajahnya. “Baik, aku akan kesana.”


Suara langkah kaki menjauh membuat Vinlo bernafas lega. Dia harus memikirkan orang lain sebelum dirinya. Dia tidak ingin ada yang menderita, karena Ibunya juga melakukan hal yang sama. hargai orang lain dan orang lain akan menghargaimu, itulah yang Ibunya katakan.


“Mari mulai harimu dengan baik, Vinlo.” Ucap Vinlo menyemangati dirinya.


...-*-...


Nayla bergegas ketempat lain, hari ini sarapannya sederhana. Roti panggang dengan telur mata sapi, segelas susu menjadi pendamping sarapan kali ini. Nayla memutuskan sarapan seperti ini karena mengingat perkataan Kia.


“Tuan Muda juga bisa meminum susu diwaktu sarapan dan diwaktu makan malam.” Mengingat hal itu,Nayla memutuskan membuat sarapan sederhana. jika, Tuan Muda tidak menyukainya, dia akan membuatkan apa yang diminta.


Tidak lama menunggu, dia mendengar suara kursi ditarik dan suara sendok terdengar ditelinganya. “Tuan Muda sedang sarapan.” Benak Nayla.


Saat ini Nayla berdiri didapur, ruangan dapur dan meja berjarak. Nayla memilih berada disana karena hatinya tidak tenang sejak kejadian kemarin.


Bagaimana bisa, dia baru sadar saat waktu beristirahat. Hatinya berdegup, ingatannya mengulang kejadian yang sama lalu suara Tuan Mudanya selalu terpikirkan oleh Nayla.


“Nayla, lupakan.” Benak Nayla.


Lama dia menunggu hingga suara langkah kaki menjauh dari ruang makan. “Apa Tuan Muda sudah menyelesaikan sarapannya?”


Nayla mengintip dari dapur, dia melihat Tuan Muda menaiki tangga menuju ke kamar. Helaan nafas lega dilakukan oleh Nayla, dia merasa aman sekarang.


“Aku akan membersihkan semuanya.”

__ADS_1


Dibersihkan piring kotor dan di lap meja makan. Nayla menatap semua pekerjaan yang telah selesai, meski masih ada hal lain yang menunggunya.


Terdengar suara langkah kaki yang membuat Nayla menolehkan kepala, dia melihat Tuan muda menuruni tangga.


Nayla tidak lupa dengan segala tugas yang sudah Kia katakan. Jadi, dia bergegas kearah tangga dan menunggu kedatangan Tuan Mudanya.


Vinlo terteguh melihat Nayla berada disamping tangga. Dia tersenyum kecil dan melanjutkan langkahnya. “Aku pikir, dia akan menjaga jarak dariku.” Benak Vinlo.


Tas terulur didepan Nayla, dengan cepat dia menyambut tas itu. mereka sama-sama melangkah dengan kesunyian yang ada. tidak ada yang saling bicara karena mereka saling mengingatkan diri sendiri, siapa dirinya dan siapa kita.


Setiba didepan pintu, Nayla memberikan tas milik Vinlo. Kepalanya menunduk karena tidak ingin menatap kearah Tuan Mudanya.


Vinlo yang melihat Nayla sepert ini merasa gemas sendiri. dia mengangkat tangannya dan berniat untuk memberikan sebuah usapan. Tapi, tingkahnya berhenti ketika ingat bahwa mereka memiliki batasan.


“Ehem, Aku berangkat.” Ucap Vinlo bergegas keluar. Pintu Apartment tertutup otomatis setelah Tuan Muda pergi.


Nayla menahan nafasnya dan segera berlari kekamar. Dia menghela nafas dalam sekali hempusan.


“Ke-kenapa Tuan muda...,” Nayla melihat jelas tangan Tuan Muda terangkat dan hampir menyentuh kepalanya. Dia menutup mata dengan berharap ini cepat berakhir, tapi tidak ada usapan yang membuat pikirannya menjadi aneh.


“Kenapa denganmu, Nayla. Apa yang kamu pikirkan.” Nayla memejamkan mata, entah kenapa dia malah berharap Tuan Muda mengusap kepalanya


Takut pikirannya semakin kacau, Nayla bergegas mencuci muka dan menjernihkan pikirannya sendiri. dia harus sadar dan mengingat tujuannya. Bekerja untuk membantu sang ibu.


Setelah perasaannya kembali tenang, Nayla menyelesaikan tugas yang ada.


“Aku harus mengingat semuanya, jangan sampai karena hal seperti ini. aku dipecat tanpa gaji.” Guman Nayla menyinggirkan pikiran yang berjalan.


Nayla mengerjakan pekerjaan yang ada, dari membersihkan ruang tengah, kamar dan mencuci pakaian. Kali ini semua yang dia kerjakan berjalan dengan lancar.


Dibuka pintu menuju kelantai atas. Apartement milik Tuan Muda Vinlo berada dilantai atas. Nayla sebenarnya takut melihat ketinggian apartment ini. dia bahkan tidak berani keluar karena mereka harus mengunakan lift untuk turun.


“Apa yang akan ku lakukan jika nanti bahan-bahan didapur habis. Aku merasa tidak sanggup untuk mengunakan lift.” Benak Nayla.

__ADS_1


Pakaian dijemur dengan hati-hati, semua pakaian itu milik Tuan Muda, sedangkan Pakaiannya hanya seberapa. Setelah semua selesai, Nayla memutuskan untuk kembali ke dapur.


“Apa Tuan Muda akan makan siang di rumah?” benak Nayla sambil menutup pintu.


__ADS_2