Pembantu Pribadi Tuan Muda

Pembantu Pribadi Tuan Muda
Bab 35 : Pernyataan Cinta


__ADS_3

Nayla berdiri di samping Raga dengan memegang tas miliknya. Dia menundukkan kepala karena berdiri di depan orang tua dari Tuan Mudanya.


"Ayah, kami izin pamit untuk pulang ke apartment." Ucap Vinlo yang tanpa menunggu balasan, langsung melangkah ke luar.


Raga dan Nayla juga ikut pergi dengan memberikan hormat mereka.


Kepergian ketiganya membuat seorang Nyonya besar menatap tajam.


"Suamiku, apa kita-." Nyonya besar menghentikan ucapannya, ketika sang Suami mengangkat tangan. "Biarkan dia. Dia sudah dewasa dan memiliki keputusan yang akan dia tanggung sendiri." ucap Tuan besar.


Nyonya besar tidak bisa berkata apa pun. Dia mengangguk dan menatap kepergian sang suami yang meninggalkannya. Kia dan Bi Sih juga berniat untuk pergi.


"Kia!" panggil Nyonya besar. Kia yang mendengar hal itu segera mendekat. Sedangkan, Bi Sih memilih untuk undur diri.


"Iya Nyonya. Ada perlu sesuatu?" tanya Kia. Nyonya besar memandang ke arah pintu. Dia masih mengingat jelas bagaimana Putra angkatnya pergi.


"Perhatikan, jika ada yang berubah, katakan kepadaku. Kia, kamu dekat dengan Nayla bukan? Sebisa mungkin, tidak ada kabar kalau putraku menyukai gadis itu." ucap Nyonya besar dengan begitu serius.


Kia mengangguk, "Baik Nyonya."


Nyonya besar pun melangkah pergi meninggalkan Kia yang masih berada di tempatnya. Setelah langkah kaki Nyonya besar menghilang, barulah Kia melangkahkan kakinya. Dia menuju ke dapur dengan perasaan campur aduk.


"Bagaimana ini, Aku sudah tahu kalau suatu saat nanti. Baik Nayla dan Tuan Muda Vinlo, mereka pasti akan saling menyukai. Apa, Nyonya besar mengetahui kejangalan ini." benak Kia. Dia berharap tidak akan terjadi masalah dengan Nayla.


...-*-...


Di dalam mobil, Nayla duduk dengan mengepal tangannya. Rasa gugup hadir di hati, bersama rasa asing yang membuatnya tidak tenang.


"Aduh, aku merasa akan terjadi sesuatu. semoga bukan hal yang buruk." benaknya.


Mobil berjalan menuju apartment. Tidak menunggu lama, roda empat itu berhenti di parkiran. "Ayo, Nayla." ucap Vinlo yang berada di sampingnya.


Nayla mengangguk dan membuka pintu dengan cepat. Dia melangkah keluar dan berjalan bersama dengan Vinlo dan Raga.


Setiba di apartment. Semua berdiri di ruang tamu dengan kesunyian yang ada. Nayla tidak tahan dengan semua ini, dia pun meminta izin untuk pergi.

__ADS_1


"Tuan, Nayla akan pergi ke dapur untuk menyiapkan makan malam." ucap Nayla.


Vinlo menggeleng, dia melirik Raga yang mengangguk kepala. "Raga izin pulang tuan. Selamat malam." ucapnya.


Nayla menatap bingung dengan situasi saat ini. Dia diam di tempat hingga Raga pulang ke rumahnya.


"E'em, Tuan apa Anda perlu sesuatu?" tanya Nayla.


Vinlo mengangguk. Dia melangkah menuju koper yang diletakkan tidak jauh dari tempatnya. Nayla memperhatikan apa yang di lakukan oleh Vinlo. Lirikkan matanya benar-benar membuat Vinlo tersenyum karena tahu apa yang tengah diperhatikan Nayla.


"Ehem!" Vinlo mengenggam sesuatu ditangan. Dia melangkah mendekati Nayla yang dia rindukan. Selama 1 minggu di luar kota, Vinlo merasa hari-harinya penuh kesunyian. Tidak ada panggilan 'Tuan' yang biasa Nayla seru.


"Nayla," Vinlo berdiri tepat di depan Nayla. Dia sedikit menundukkan kepala, untuk melihat wajah imut yang sudah menarik perhatian saat pertama kali bertemu.


Nayla pun tidak tinggal diam. Dia mendongak untuk melihat wajah Vinlo yang begitu tenang. Penuh senyum dengan lirikkan mata yang lembut.


"Em, iya Tuan?" Kebingungan tampak di wajah Nayla.


Vinlo dengan senyum manis, berkata. "Ada sesuatu yang ingin ku ucapkan kepadamu. Namun, ku harap kamu membuat keputusan yang tepat saat menjawabnya."


"Nayla, Maaf sebelumnya. Aku ingin mengatakan kalau aku telah jatuh cinta kepadamu. Jadi, mau kah kamu menjadi kekasihku, Nayla?" Vinlo mengenggam salah satu tangan Nayla dan menatap dengan penuh perhatian.


Nayla tahu, dibalik tatapan mata itu terdapat cinta yang siap mengisi hatinya. Namun, teguran yang didapat menghantui Nayla.


"Ingat, jangan jatuh cinta kepada tuanmu sendiri."


"Buanglah cintamu, Nak."


"Jangan sampai kamu menaruh perasaan padanya."


"Nayla, aku percaya kepadamu."


Dengan berat hati, Nayla berucap. "Tuan muda, maaf ... ku rasa-,"


Vinlo menutup mulut Nayla dengan telapak tangannya. Dia mengsejajarkan tinggi mereka dengan mata yang terpaku indahnya bola mata Nayla.

__ADS_1


"Jika karena Istri Ayahku, kamu bertindak seperti ini. Aku akan mengatakan kalau kamu sebenarnya mencintaiku, Nayla."


Nayla ingin mengelak apa yang Vinlo katakan. Tetapi, Pria di depannya ini sudah terlebih dahulu berucap.


"Sekali lagi, aku ucapkan kalimat yang sama. Tapi! Jawablah dengan kejujuranmu, Nayla. Apa yang ada di hatimu, keluarkanlah di depanku. Jika memang tidak ada cinta, kamu akan menjawabnya dengan ketulusanmu juga. Aku, percaya kepadamu."


Hati berdesir mendengar perkataan tulus yang Vinlo katakan. Bagaimana bisa, Nayla menahan perasaannya jika sudah seperti ini. "Tu-tuan."


"Nayla," seru Vinlo dengan suara yang lirih.


Nayla menundukkan kepalanya, "Nayla tidak pantas tuan. Nayla memang menyukai Anda, tapi Nayla sadar tidak akan bis-,"


Tubuh Nayla didekap dengan tiba-tiba. Ucapannya berhenti ketika mendapatkan pelukkan itu. Dia bisa merasakan kebahagiaan dari orang yang memeluknya.


"Nayla, aku mencintaimu. Dengan ini, aku nyatakan kalau kamu membalas cintaku. Nayla!" Vinlo memegang bahu Nayla dengan pandangan bahagia. "Mulai sekarang, Kamu adalah kekasihku!" pekik Vinlo.


Nayla bengong mendengarnya. Dia masih terdiam di tempat selama Vinlo memeluk dirinya.


Hingga beberapa saat kemudian, Vinlo menyadarkan Nayla dengan menepuk pipinya. "Ada apa?"


"Dia begitu bengong dengan ucapanku. Maaf Nayla jika tidak seperti itu, kamu akan menolakku karena status kita yang berbeda. Aku, tidak akan pernah menyia-yiakan kesempatan ini." benak Vinlo.


Nayla bernapas dengan hembusan cepat. Ingatannya mengulang perkataan Vinlo barusan. Dia, dinyatakan sebagai kekasih oleh Vinlo. Pernyataan cinta ini, berjalan secara paksa. namun, Nayla diam-diam menyetujuinya.


"Tu-tuan muda, bolehkah Nayla beristirahat." Nayla berucap dengan begitu pelan. Hatinya tidak tenang sekarang, dia ingin segera bersembunyi dan menenangkan diri.


Tahu dengan perasaan Nayla, Vinlo mengangguk. Namun, dia mengulurkan tangan untuk mengenakan sesuatu dileher Nayla.


Sebuah kalung dengan permata yang sama permata berwarna ungu yang begitu cantik. Meski kecil, Nayla bisa merasakan, ketulusan Vinlo untuknya.


"Ini?" tanya Nayla dengan menatap bingung. Vinlo tersenyum dan mengusap kepala wanita di depannya. Kini, wanita itu sudah menjadi kekasih Vinlo sendiri. "Kenakanlah, itu bukti bahwa kamu adalah kekasihku. Ehem, lebih tepatnya, Milikku." ucap Vinlo.


Nayla akan gila jika dia berlama-lama di sini. Dia segera menunduk malu dan memundurkan diri. Setelah itu, di ambil tas yang terletak pada koper Vinlo. Dia menjauhkan diri dengan berucap, "Tu-tuan, Nayla akan menyimpan ini dulu. Na-nanti, Nayla akan membereskan semuanya. Tu-tuan beristirahatlah, per-permisi!"


Vinlo tersenyum melihat Nayla yang melangkah pergi dengan langkah cepat. Dia berpikir, jika bisa selain memeluk Nayla. Dia akan melakukan hal lain. Untung, pikirannya tidak kemana-mana.

__ADS_1


Dengan tangan terangkat, Vinlo memekik senang. "YES!"


__ADS_2