
Nayla dan sang Ibu menatap kearah Laisa yang menikmati teh hangat. Wajah keduanya saling bingung dengan Laisa yang tampak tenang.
"Kamu yakin, Nayla. Tidak akan terjadi apa-apa padanya?" bisik Durvin.
Mendengar bisikkan sang ibu, Nayla mengangguk. "Laisa tampak baik-baik saja Bu, pasti tidak terjadi apa-apa padanya." bisik Nayla.
"Baiklah, Kalau seperti itu, nikmati waktu kalian. Jangan bergadang ya. Ibu akan beristirahat."
Nayla dan Laisa mengangguk. Setelah kepergian Sang Ibu, barulah Nayla mendekatkan diri kepada sahabatnya. "Hei, apa yang terjadi kepadamu?" tanya Nayla.
Mendengar hal itu, Laisa hanya menghardikkan bahunya. "Tidak ada yang terjadi, kamu tenang saja."
Nayla tetap tidak percaya dengan ucapan sahabatnya. Dia pun menatap tajam ke arah Laisa. Hingga sesuatu menarik perhatian Nayla. "Kenapa bibirmu terluka?" tanyanya.
Laisa yang memakan cemilan, langsung berhenti. Dia menutupi bibir yang terluka.
Curiga dengan tingkah sahabatnya. Nayla semakin menatap Laisa.
"Berhentilah menatapku. oke, oke, aku menyerah." ucap Inta dengan mengangkat kedua tangannya.
"Kalau begitu, katakan apa yang terjadi kepadamu. Bagaimana bisa, kamu datang dengan selamat." Nayla menatap teguh pada Laisa.
"Hei! Kamu mengira aku akan meninggal disana? Wah, keren juga jalan pikirmu." Laisa menatap kearah langit-langit rumah Nayla. "Sebenarnya...."
Setelah kepergian bus, Laisa menatap kearah Zivarka dengan pandangan datar. "Jadi, apa yang harus gua pertanggung jawabkan pada lo!"
Zivarka ingin berucap setelah mendengar perkataan Laisa. Namun, Laisa dengan cepat menghentikan dirinya. "Wait, jika Lo meminta hal aneh, gua akan menolaknya." peringatan Laisa.
"Gua belum ngomong, lo juga tidak akan mungkin menolaknya." ucap Zivarka.
Mendengar hal itu, Laisa hanya memandang remeh pada Pria didepannya. "Katakanlah!"
"Gua baru kali ini diperintah oleh wanita. Lo, orang pertama yang melakukannya. Jadi, gua peringatkan kepada Lo, jangan menghentikan gua, sebelum gua puas." Zivarka mendekatkan diri di dekat Laisa. beberapa anak buah yang ada seketika berbalik badan. Mesin motor itu berbunyi hingga membuat Laisa menutup telinga.
__ADS_1
Belum selesai menerima kebisingan, Laisa mendengar bisikkan seseorang. "Jika lo melepaskannya, Lo akan menjadi pacar gua."
Laisa ingin berucap, tapi Zivarka dengan cepat membungkam mulutnya. Dengan rasa didesak, Laisa menerima serangan Zivarka. Permainan lidahnya berhasil melemahkan kaki Laisa.
Dirangkul pinggang Laisa agar tidak jatuh. Lalu, tengkuknya disentuh oleh jemari lentik Zivarka. Ciuman mereka semakin mendalam dengan kedekatan yang ada.
Laisa merasa begitu lemah hingga pikirannya terasa menghilang. Dengan kesadaran yang kuat, Dia mendorong Zivarka. "Hah,hah,hah." Laisa mengatur pernapasannya dengan cepat. Mulutnya ditutup dengan tangannya sendiri.
"Oke, lo sekarang pacar gua!" Zivarka tersenyum puas menatap Laisa.
Dengan amarah yang muncul, Laisa menunjuk kearah pria didepannya. "Lo! Lo!"
"Eh! Kenapa?" Zivarka memegang tangan Laisa, lalu menarik wanita itu masuk kedalam dekapannya.
"Lepasin gua, bajing*n! Lo mengambil keuntungan dari gua!" teriak Laisa dengan mendorong tubuh Zivarka.
Senyum hadir dibibir, Zivarka dengan erat mendekap Laisa. "Lo kalah, gua sudah bilang kalau gua puas, lo lepas. Tapi Lo malah melepaskan ciumannya. Jadi, lo engak bisa menolak apa yang gua katakan."
Laisa menatap tajam kearah pria di depannya. dengan kesal, Laisa menghela napas. "Seterah!" ucapnya. Zivarka yang mendengar itu tersenyum, dia memeluk Laisa dan mencium singkat bibirnya. "Maaf, Bibir lo sedikit terluka."
Nayla terdiam mendengar cerita yang Laisa katakan. Bagaimana bisa, kisah Laisa begitu mulus hingga mereka jadian. Meski, ada sedikit paksaan disana. Sedangkan cinta Nayla tidak semulus itu.
"Ada apa denganmu, sekarang kamu yang malah termenung." ucap Laisa. Dia membenarkan duduknya sambil menyeduh teh yang sudah dingin.
Dengan ragu, Nayla berucap. "Laisa, aku sedang bingung sekarang."
"Bingung? Apa yang membuatmu bingung?" tanya Laisa.
Nayla menatap wajah sahabatnya. Setelah menenangkan diri, dia kembali berucap. "Aku jatuh cinta kepada...,"
"Kepada?" tanya Laisa. Dia menatap serius ke arah Nayla.
"Kepada, Tuan Muda Vinlo. Laisa, ibu menyuruhku untuk membuang perasaan ini. Apa yang harus ku lakukan?" Nayla begitu bingung dengan apa yang dialaminya. Ibunya sendiri sudah melarangnya, bagaimana nasib perasaannya ini.
__ADS_1
Laisa menenangkan Nayla dengan mengusap kepalanya. Dengan tingkahnya yang dadakkan, Nayla akhirnya memetakkan air mata.
"Hei kenapa menangis. Apa ada yang salah dengan tingkahku?" tanya Laisa dengan panik.
Hisakkan tangis Nayla terhenti, dia mengeleng kepala dan berkata. "Tidak, tidak ada yang, hiks! Salah."
Laisa ikut sedih melihat sahabatnya seperti ini. Sahabatnya baru saja jatuh cinta, lagi pun cinta itu merupakan cinta pertama yang sulit dilupakan. Jangankan melupakan cinta itu, membuangnya pun mustahil.
"Maaf, Nayla. Aku tidak bisa membantumu dalam hal ini. Tapi, aku punya beberapa hal yang mungkin bisa kamu pertimbangkan." Laisa menjauhkan diri dan menatap kearah jendela. Malam hari sudah tiba, besok mereka akan kembali. Waktu untuk menikmati kebersamaan keluarga terasa singkat.
"Ikuti kata hatimu. Cinta tidak bisa dibuang. Dipendam pun akan menjadi penyakit hati. Jika memang sulit, carilah solusi terbaik. Nayla, ibumu mungkin punya pengalaman pribadi. Dia hanya takut kamu terluka,"
Laisa menyentuh pundak Nayla, dia kembali berucap. "Namun, kamu bisa memutuskan keputusanmu sendiri. Nayla, semua ada ditanganmu. Kamu pasti tahu resiko dari keputusanmu sendiri. Jadi, jangan khawatir. jika kamu mencintainya, maka lihat apakah dia membalas cintamu."
"Membalas cintaku?" Nayla menatap bingung, dia sebenarnya tahu masalah cinta ini. Namun, entah bagaimana, dia malah tampak bodoh.
"Hm, seperti itu...," Laisa menunjuk gelang yang dikenakan Nayla. "Aku tahu, kamu tidak akan mungkin membeli benda seperti itu. Sistem hidupmu, selama itu berguna, kamu akan membelinya. Sedangkan, gelang itu, kamu akan berpikir ribuan kali untuk mengenakan atau membelinya."
Nayla menatap gelang yang ada dipergelangan tangannya. Dia mengusap permata ungu yang berkilau.
"Tebakkanku, itu pemberian dari orang yang kamu cintai." Laisa tanpa menunggu lama langsung menebak apa yang terjadi kepada sahabatnya. Nayla terteguh mendengar tebakkan Laisa.
"Benar, gelang itu pemberiannya. Maka, apa yang perlu kamu khawatirkan.Dia sudah menyatakan cintanya kepadamu, Nayla. Dengan gelang itu, membuktikan kalau kamu akan menjadi miliknya." lanjut Laisa.
Nayla menatap lekat gelang yang dikenakan. Dia memikirkan Vinlo yang belakangan ini berubah. Nayla juga selalu mendapatkan usapan kepala setiap Vinlo berada didekatnya.
Saat Laisa mengusap kepalanya, Nayla mengingat tingkah Vinlo hingga perasaan rindu muncul dihati.
"Oke, sekarang hentikan keraguan itu. Pasti ada jawaban yang akan memberimu kebahagiaan. Kamu harus menikmati waktu bersama Ibumu, besok kita akan kembali."
Nayla mengangguk, dia mengantar Laisa di pintu rumah. "Kamu tidak menginap disini?" tanyanya.
Laisa mengeleng, diangkat tas ransel yang dia bawa. "Tidak perlu, aku harus menjenguk ibu panti. Besok sore, aku akan kesini menjemputmu bersama Bi Sih. Sampai jumpa!"
__ADS_1
Nayla melambaikan tangannya. Ketika Laisa sudah menjauh, barulah Nayla masuk kedalam rumah dan segera membersihkan diri.