Pembantu Pribadi Tuan Muda

Pembantu Pribadi Tuan Muda
Bab 9 : Usapan Kepala


__ADS_3

Seketaris Pribadi masuk ke dalam ruang milik Ceo muda. dilihatnya seorang Pria tengah menundukkan kepala dengan tampilan kusut.


Jas yang terlempar di sofa dengan tidak beraturan, lalu berkas yang tampak berantakkan. “Apa yang terjadi kepada Tuan muda Vinlo?” benak Raga, seketaris Pribadi berwajah imut.


“Ma-maaf Tuan Muda, anda harus menanda tangani berkas itu sebelum jam 5,” Ucap Raga. dia tahu tidak ada gunanya mengatakan semua itu, Tuan Vinlo adalah Ceo disini. dia bisa saja menanda tangani semua berkas sesuka hatinya.


Namun, Raga mendapat tugas dari tuan besar untuk memperhatikan dan menuntun Anak mereka bekerja dengan baik. Tugas yang berat dan tidak bisa di tolak.


Raga Marfa adalah anak dari seketaris Tuan Margatha. Ayah Raga sangat dipercaya oleh keluarga Margatha hingga dia mengikuti jejak Ayahnya.


“Hm ... Raga, apa yang akan kamu lakukan jika melakukan kesalahan dan hal itu sangat membuatmu bahagia.” ucap Vinlo yang menatap kearah Seketaris Pribadinya.


Raga mengedipkan mata dengan rasa tidak percaya, sudah hampir 10 tahun bersama dengan Tuan Muda ini. baru kali ini, dia melihat kepanikan Vinlo.


“A-A... Apa?” tanya Raga dengan wajah bingung. Pikirannya tidak berjalan ketika mendengar apa yang Vinlo katakan.


“Huh~ sudahlah ... kamu pasti tidak akan mengerti.” Vinlo ingin bangun dari duduknya. Raga yang melihat hal itu langsung mengerbak meja dengan tiba-tiba.


“Tunggu!” pekik Raga. Vinlo yang melihat tingkah dadakkan Raga merasa terkejut. Wajahnya menjadi bingung dengan apa yang Raga ucapkan.


“Apa yang harus ku tunggu? Aku ingin mengambil bolpoin dan menanda tangani berkas ini, bukannya kamu bilang jam 5 berkas sudah di tangani?” ucap Vinlo.


Raga mengeleng kepalanya. “Kita singgirkan hal itu. Tuan Muda? apa yang anda lakukan, membuat kesalahan tetapi anda bahagia, Apa itu?”


Vinlo menatap kearah lain dengan wajah memerah. “Hei! Tuan muda, jangan menyembunyikan apa yang sudah anda ucapkan.” Raga menatap tajam kearah Vinlo.


“Tidak ada.” ucap Vinlo dengan menatap kearah jendela. Dia mengingat kejadian yang terjadi hari ini, degupan jantungnya berhasil memuncak hingga wajahnya memerah.


“Apa aku kelewatan?” benaknya.


...-*-...

__ADS_1


Nayla termenung di depan pakaian. Dia baru saja menyelesaikan beberapa pekerjaan. Tetapi, hari ini hal aneh terjadi.


Saat makan siang,


“Terima kasih makan siangnya.” Ucap Vinlo bangun dari tempat duduk.


Nayla mengangguk dan bergegas membersihkan meja makan. Setelah semua siap, dia melihat Tuan Muda bergegas pergi.


Tidak ingin di nilai buruk, Nayla melangkah mendekat kearah pintu.


“Ada apa Nayla?” tanya Vinlo menatap kearah Nayla.


Nayla mengelengkan kepala. “Tidak ada Tuan, hanya ... Kakak Kia mengatakan, sebaiknya Nayla berada didekat anda. Agar, anda tidak perlu menunggu kedatangan Nayla.”


Vinlo mengangguk mendengar apa yang di katakan oleh Nayla. “Jangan memaksakan dirimu. Begini saja, aku akan pergi dan kamu tidak perlu selalu mengikutiku hingga di depan pintu. Cukup, melihat dari kejauhan saja.”


Nayla terteguh mendengar apa yang di katakan oleh Tuan Mudanya. Dia menduga kalau dirinya telah melakukan kesalahan, tidak heran Tuan Muda ingin dia menjauh. Mungkin, Nayla sudah melangkah melebihi batasannya.


“Maafkan Nayla, baiklah ... Nayla akan mengikuti saran Tuan Muda.” ucap Nayla.


Vinlo mengenggam erat berkas yang ada ditangan. Ditatap Nayla yang masih terdiam di dekat pintu, wajah gadis itu menunduk. Terlihat seperti anak kecil yang baru saja mendapatkan teguran.


Nayla menundukkan kepala karena tidak ingin melewati batasannya. Dia tidak mau melihat wajah Tuannya sendiri, takut akan terjadi sesuatu kepadanya. Tapi, apa yang dilakukannya malah membuatnya kaget.


Tuan Muda Vinlo mengusap kepalanya dengan lembut. Nayla mengangkat kepalanya dengan cepat. Mata mereka saling bertemu, suasana yang tenang itu berubah menjadi cangung.


“Hm, aku berangkat.” Ucap Vinlo.


Nayla terdiam mendengar ucapan Tuannya, pintu apartment tertutup secara otomatis. Setelah telinganya tidak mendengar langkah kaki seseorang. Nayla menutup wajahnya yang memerah.


Mengingat kejadian saat makan siang, Nayla menjadi seperti ini. bengong hingga pekerjaannya tidak berjalan dengan baik.

__ADS_1


Pakaian yang sudah rapi kembali hancur karena perbuatannya. Lalu, dia hampir saja menjatuhkan barang yang ada di kamar Tuan Muda Vinlo.


“Astaga, Nayla fokuslah.” Guman Nayla.


Usapan kepala itu, berhasil mengubah suasana yang ada didalam ruangan. Nayla seketika ingat dengan ucapan Nyonya besar dan Ibunya.


“Benar,aku tidak boleh mencintai tuanku sendiri. Ayo’ Nayla ... jangan sampai kamu lemah dengan tujuanmu sendiri.” Nayla menyemangati dirinya.


Pekerjaan yang sempat berantakkan itu segera diselesaikan dengan berhati-hati. Dia berusaha untuk melupakan apa yang terjadi. Menurutnya semua itu karena sebuah kebetulan yang tiba-tiba.


“Aku merasa, tuan muda baik. Mungkin, dia melakukan itu karena mengira aku bersedih?” pikir Nayla. Dia mengingat, Tuan Muda menebak kalau dia baru saja menangis.


“Oke, kita anggap seperti itu ... sekarang, saatnya kita menyiapkan menu makan malam ini.”


...-*-...


Raga masih menatap kearah Vinlo yang fokus pada berkas didepannya. “Tuan Muda, katakan saja apa yang terjadi. Jika anda menjelaskannya,Raga pasti bisa membantu.” Ucap Raga dengan percaya diri.


Vinlo menghela nafas mendengarnya. “Oke baiklah, dengar....” di jelaskan apa yang dia alami. Dari awal kejadian hingga akhir.


Raga yang mendengar apa yang dikatakan oleh Tuan Mudanya mengangguk puas. “Oh, jadi seperti itu kejadiannya.”


“Hm....” dengan mengusap dagu yang begitu bersih, Raga berpikir dengan pikiran yang tidak di ketahui oleh Vinlo.


“Aku memiliki firasat buruk.” Benaknya.


“Kalau aku yang ada di posisi anda, pasti akan merasa bersalah. Tetapi, jika memikirkan tentang perasaan kita. Aku berpikir, mungkin Tuan muda telah jatuh cinta kepada Pembantu anda sendiri.” celetuk Raga.


Vinlo yang mendengarnya terkejut. “Hah? Jatuh cinta?”


Raga mengangguk. “Benar, tidak mungkin seseorang menyentuh kepala bahkan mengusapnya tanpa ada perasaan. Pasti, didalam hati anda terdapat sesuatu yang membuat anda berani melakukannya.” Jelasnya.

__ADS_1


Vinlo mengeleng kepala mendengarnya. “Tidak, itu tidak mungkin. Sudah, lebih baik selesaikan berkas ini.”


“Tapi!” Raga ingin melanjutkan pembahasan mereka. Vinlo dengan cepat mengangkat tangannya, tanda dia sudah serius dengan apa yang dia kerjakan.


__ADS_2