
"HMPH!"
Nayla dan Vinlo berdiri di tempat, mata mereka sama-sama tidak percaya dengan apa yang terjadi.
Sahabatnya, Laisa. Wanita itu menabrak seseorang hingga jatuh dan menciumnya. Lebih miris lagi, ciuman di bibir yang membuat Nayla terpaku.
Beberapa pelanggan yang lewat hanya tersenyum melihat tingkah sahabatnya Nayla. Karena merasa tidak tega, Nayla memutuskan untuk menyadarkan dua orang yang sedang berciuman tanpa sengaja.
"La-,"
Vinlo menutup mulut Nayla degan cepat. "Gadis itu sungguh berani. Dia mencaci maki diriku dan pria asing yang menabraknya. Sekarang kita lihat, apa dia juga akan memaki pria ini?" benak Vinlo.
Nayla menatap sahabatnya yang kini bangun dengan kesunyian yang ada. Berdiri di belakang Laisa, membuat Nayla penasaran, seperti apakah ekspresi sahabatnya itu.
"KA-KA-," Laisa berdiri dengan tangan menunjuk di depan pria asing. Pria itu berpenampilan sangat keren untuk beberapa orang. Dia mengunakan tindik di daun telinga. Tidak hanya itu, ada kalung yang tampak menyilaukan mata.
Tidak bisa lagi berucap, Laisa memutuskan pergi meninggalkan semua yang terjadi. Langkah lebar di ambil olehnya, hingga tampak seperti seseorang yang tengah berlari.
"Eh," Nayla ingin menyusul Laisa yang pergi keluar dari pusat perbelanjaan. Namun, Vinlo menahannya.
"Jangan menganggu dirinya. Dia pasti akan menyelesaikan masalah ini, lagi pula dia yang salah duluan." ucap Vinlo.
Nayla terdiam mendengar apa yang Vinlo katakan. Benar adanya, saat Laisa berdiri karena tidak percaya bahwa Vinlo adalah Tuan Muda Margatha. Di saat itu, Laisa menabrak seseorang hingga menjadi seperti ini.
"Cih! Cewek si*l*n, cari dia sekarang. Mati mau pun hidup, dia harus ada di depanku!" Pria asing yang di tabrak Laisa, bangun dengan ekspresi marahnya. Tato di bagian leher dengan bentuk bulan bintang tampak jelas di depan mata Nayla.
"Pria ini, mengerikan." benak Nayla.
Vinlo terkejut ketika pria asing itu pergi dengan tatapan tajam yang menusuk. Kepergiaannya membuat Nayla ingin menelpon sahabatnya.
"Tunggu!" Vinlo menghentikan tangan Nayla, "Jangan menganggu saat dia berlari. Aku akan meminta Raga untuk menjaganya. Dia di kejar oleh keluarga Zi." lanjutnya.
Nayla menatap tuan muda yang tampak tenang. Lalu kemudian tuan mudanya bergegas menghubungi sang seketaris.
"Keluarga Zi ... semoga Laisa baik-baik saja" benak Nayla.
Tidak perlu menunggu lama, Vinlo kembali dengan tatapan tenang seperti biasanya. "Ayo kita melanjutkan apa yang tertunda. Hari sudah menjelang sore." ajak Vinlo.
__ADS_1
Nayla mengangguk tanpa bertanya lebih. Dia yakin, Tuan Muda akan menolong Laisa.
Karena waktu yang terus berjalan, Nayla dan Vinlo tiba di apartment jam 4 sore. Mereka membawa beberapa barang yang ada, lalu sisanya diserahkan kepada pelayan apartment khusus.
"Terima kasih." Nayla tersenyum memandang semua pelayan apartment khusus yang sudah menolongnya. Ucapan terima kasihnya begitu dihargai oleh semua orang.
"Sudah selesai, terima kasih tuan muda sudah membantu dan...." Nayla melihat kearah Raga yang tengah berdiri di ambang pintu.
"Raga, panggil saja Raga. Hm, Nayla bukan?" ucap Raga.
Vinlo yang mendengar hal itu segera memandang seketarisnya. Tatapannya tajam hingga Raga menatap kearah lain dengan cepat.
"Iya, aku Nayla. Baiklah Raga, aku akan memanggilmu,Raga." Nayla menatap kearah dapur, karena mereka tidak makan siang. Dia memutuskan untuk membuat sesuatu sebagai tanda terima kasihnya.
"Tuan muda, bagaimana kalau kita makan siang bersama. Meski hari sudah sore, setidaknya kita mengisi perut yang kosong ini. Raga, kamu juga makan di sini ya." ucap Nayla.
Raga seketika panik mendengar hal itu, ada rasa senang juga ketika di ajak makan siang. Dia yang menunggu di mobil selam beberapa jam, sudah kehilangan tenaga untuk bergerak. Namun, yang membuat dia panik, ketika Vinlo memandang kesal kearahnya.
"Haha, tidak perlu Nayla. Aku akan makan di rumah saja." Raga memutuskan untuk menolak tawaran yang diberikan kepadanya.
Nayla menahan tangan Raga dengan cepat. "Tidak, kamu juga sudah membantu. Apa ada masalah hingga kamu tidak mau makan di sini? Ha benar, maafkan aku," Nayla menundukkan kepala dengan pelan. "Maaf, seharusnya aku tidak bertindak secara berlebih." lanjutnya.
Vinlo segera mendekat dengan merangkul pundak Nayla. Jarak mereka berdua sudah menghilang sejak makan malam sate yang terjadi.
Raga yang melihat kedekatan dua orang didepannya hanya bisa mengeleng. Dia akui, semenjak sate yang disarankan, Tuan Muda berubah menjadi pria yang selalu makan siang di rumah. Selain itu, Tuan Muda akan pulang tepat waktu.
"Mereka, sudahlah ... bukan urusanku dalam hal percintaan mereka." benak Raga.
"Tenanglah, Raga akan ikut bergabung untuk makan bersama. Nayla, hanya untuk makan bersama, kamu tidak perlu takut. Selama itu hal yang baik, aku tidak akan marah kepadamu." ucap Vinlo.
Nayla mengangguk dengan senyum terukir di bibir, Dia menatap Raga yang tercenga. "Raga, ayo makan bersama di sini. Aku akan memasak makanan yang enak."ajaknya.
Raga tentu tidak bisa lagi menolak, dia tahu bahwa menolak makanan gratis itu tidaklah baik dan satu lagi, dia akan diancam oleh Tuannya sendiri.
"Tentu, Raga akan ikut makan malam bersama." Raga tersenyum dengan anggukkan kecilnya.
Nayla bergegas pergi dengan melepaskan rangkulan Vinlo.
__ADS_1
Melihat Nayla berlari kecil menuju dapur, Vinlo menatap punggung kecil wanita yang kini menghilang dari pandangannya.
"Teruslah menatapnya. Setelah puas, tolong ingat besok keberangkatan kita ke luar kota." bisik Raga.
Vinlo hanya tersenyum menatap seketarisnya. Dia mengarahkan lengannya hingga jentikkan di jidat terasa oleh Raga.
"Aw!" Raga mengusap jidatnya untuk menghilangkan rasa sakit. "Tega, sungguh boss yang tega menyiksa anak buahnya." celetuknya.
Vinlo tersenyum kembali, kali ini senyumannya membuat Raga mengeleng seketika. "Kamu ingin mendapatkannya lagi, Raga?" tanyanya.
Raga menjauh seketika, dia melangkah pergi meninggalkan Tuan Muda yang menatap tajam kearahnya.
"Mengerikan, dia mengerikan." gumam Raga.
...-*-...
Di meja makan, hidangan sederhana membuat Raga dan Vinlo tercenga. Mereka melihat ikan goreng dengan sambel kecap, lalu beberapa tumisan lainnya.
Rasa lapar menyerang dengan cepat, membuat Raga dan Vinlo saling berebut menyantap apa yang ada di meja.
"Hm, maaf Tuan muda dan Raga. Ada yang ingin ku tanyakan." Nayla menghentikan aksi yang memalukan itu.
Sadar apa yang terjadi, Vinlo mengubah suasana menjadi seperti biasanya. Sedangkan, Raga pura-pura tidak tahu apa pun.
"Katakan saja." ucap Vinlo.
Nayla mengangguk, "Be-begini tuan muda, bagaimana keadaan Laisa?" tanyanya.
Nayla merasa tidak enak dengan kejadian yang dia alami hari ini. Laisa, sahabatnya itu telah melakukan sesuatu hingga dia di kejar. Nayla hanya ingin mengetahui keadaannya.
"Maksud Nayla, Wanita yang tuan muda suruh aku untuk melindunginya?" Raga menatap kearah Vinlo dan Nayla secara bergantian.
"Benar, wanita itu yang seharusnya kamu jaga." Vinlo menjawab pertanyaan Raga dengan cepat.
Nayla yang mendengar hal itu segera menatap kearah Raga. "Lalu, bagaimana keadaan Laisa?" tanyanya.
Melihat keseriusan Nayla, Raga menatap kearah Tuannya. Ada anggukkan dari lawan yang membuat Raga buka mulut.
__ADS_1
"Dia bertemu tuan muda dari keluarga Zi. Ada beberapa pengawal yang mengejarnya, tapi...."