
Hari demi hari pun berlalu. kedekatan yang hadir membuat kebiasaan untuk Nayla dan Vinlo. Tanpa di duga, mereka saling memahami hanya dalam lirikkan mata.
Sudah lebih dari satu bulan, Nayla akui dia terbiasa dengan semua ini. pagi,siang hingga malam, selalu bertemu Tuan Muda menghadirkan rasa yang dia kenali.
Tidak hanya Nayla, Vinlo merasakan hal yang sama. Setiap pagi jika tidak melihat Nayla, rasa resah muncul dibenaknya. Tak hanya itu, Vinlo juga sangat menanti waktu pulang. Jika ada pekerjaan lembur, dia lebih memilih untuk mengerjakannya di rumah.
Semua perubahan ini menjadi rahasia tersendiri. Vinlo dan Nayla saling merahasiakan apa yang terjadi pada diri mereka.
Seperti pagi ini, Nayla menatap Tuan Muda yang masih terlelap dalam tidurnya. Pria yang berselimut di depannya tengah bernapas tenang tanpa di ganggu oleh siapapun.
Nayla tidak tega membangunkan Vinlo. Dia ragu-tagu mengambil tindakkan.
"Tuan muda pasti kelelahan karena banyak bekerja, aku tidak ingin menganggunya ... hm, aku juga tidak tahu, apa tuan muda punya hari libur?" benak Nayla.
Selama tinggal di apartment yang besar ini, Nayla tidak pernah seharipun melihat Vinlo beristirahat di siang hari. Selalu berangkat kerja bahkan di hari minggu sekalipun.
"Hm, aku tidak tahu jadwal tuan muda berkerja. Baiklah, aku akan membangunkannya." Nayla bergumam sambil mendekati ranjang berukuran besar itu.
Dia menarik napas dengan perlahan, "Tu-tuan muda!" seru Nayla.
Tidak ada jawaban, bahkan Vinlo tampak begitu tenang tanpa ada gangguan. Melihat hal itu, Nayla melangkah mendekat agar Tuan Mudanya bisa dibangunkan.
"Tu-tuan muda!" seru Nayla kembali. Semakin mendekat, degupan jantungnya tidak hilang. Dia sudah hampir berusia 20 tahun, tidak mungkin dia bodoh dalam hal percintaan.
Laisa, sahabatnya pernah mengatakan. Hadir suka dan cinta itu berbeda. Jika suka, dia bisa hadir dan menghilang dimana pun. Sedangkan cinta, hadir selalu hingga kehadirannya membuatmu gila sendiri.
'Tidak, aku harus sadar dengan posisiku.' Nayla menggeleng dengan apa yang ada dipikirannya. Sekali lagi, dia menatap kearah Tuan Muda yang masih terlelap.
"Tu-tuan muda!" seru Nayla untuk yang ketiga kalinya.
Seruannya berhasil membuat kerutan muncul di wajah Vinlo. "Hm?" Vinlo sedikit membuka mata untuk melihat siapa yang memanggilnya.
"Tuan muda sudah pagi." ucap Nayla dengan suara yang pelan.
Vinlo menatap aneh, dia melihat seorang pria dengan suara wanita. "Raga, biarkan aku tidur lima menit lagi." ucap Vinlo.
__ADS_1
Dengan cepat Vinlo membalik tubuhnya untuk menyamping, membelakangi Nayla. Melihat Tuan Muda seperti itu, Nayla mendekatkan diri untuk membangunkan kembali.
"Tu-tuan muda su-,"
Perkataan Nayla terpotong karena tarikkan yang dia rasa. Tangan kanannya di tarik hingga terjatuh tepat di atas Vinlo.
"Aku sudah bilang lima menit la-," Vinlo menatap terkejut.
Posisi keduanya sangat begitu dekat, saking dekatnya jantung mereka saling terdengar di telinga. Nayla menatap netra Vinlo, dia merasa tidak percaya dengan yang terjadi.
Untuk pertama kalinya, mereka berdua sedekat ini. Vinlo yang masih merasa kantuk seketika menghilang. Dia menatap Nayla dengan pandangan tidak percaya.
"E-," Vinlo menatap kearah lain.
Nayla bergegas bangun setelah di sadarkan oleh Tuan Mudanya. Hati yang berdegup itu sedikit berkurang. "Tu-tuan muda, a-apa anda tidak berkerja?" tanya Nayla untuk menenangkan suasana yang tegang.
Vinlo segera mengatur diri dengan ketegangan yang terjadi. "Hari ini aku sedang libur." jawabnya denang nada pelan.
Nayla mengangguk dengan cepat, dia mundur beberapa langkah. "Kalau begitu, maaf menganggu tuan."
Kepergian Nayla membuat Vinlo menghela napas panjang. Dia tidak menduga akan terjadi hal seperti ini.
Kepalanya mengingat dengan jelas bagaimana ekspresi Nayla menatap dirinya. Bulu mata lentik dengan bibir merah ranum, dagu yang sedikit terbelah membuat Vinlo ingin mengecupnya.
Dengan mengkibas tangan dikepala, Vinlo menggeleng dengan cepat. "Vinlo, jangan berpikir yang tidak-tidak." gerutunya.
...-*-...
Setelah mengetahui bahwa Tuan Muda libur. Nayla menyiapkan sarapan dengan rapi. "Aku akan membuat menu ringan untuk makan siang nanti."
Nayla melangkah menuju kearah pencucian. Ada beberapa pakaian yang perlu di jemur. Selama kegiatannya berlangsung, Nayla selalu mengingat kejadian tadi pagi.
Yang menjadi permasalah, semakin ingin melupakannya, Nayla malah mengingat jelas bagaimana hidung mancung milik Tuan Muda dekat di mata.
"Sudah Nay, jangan berpikir hal yang bodoh." gerutu Nayla seorang diri. Dia mengangkat keranjang lalu melangkah menuju ke balkon atas.
__ADS_1
Setelah berjemuran, Nayla melihat Tuan Muda melangkah menuju ke meja makan. "Tuan akan olah raga?" benak Nayla
.
Vinlo mengenakan celana olahraga dengan baju kaos biasa. Dia duduk dengan perlahan dan menatap kearah datangnya Nayla.
"Pagi ini, kamu menghidangkan roti pangang bersama telur mata sapi. Bagaimana kamu tahu sarapan yang ku inginkan?" tanya Vinlo.
Nayla berhenti tepat di dekat Tuan Muda, dia menatap hidangan yang tersaji di meja makan. "Tuan muda, Nayla sudah sebulan lebih berada di sini. Tentu Nayla tahu apa yang tuan muda inginkan. Biasanya anda tidak akan memakan sarapan yang terlalu berat di pagi hari, jadi Nayla mengatur semuanya." Jawab Nayla.
Seperti apa yang baru saja dia katakan. Selama satu bulan lebih, Nayla belajar semuanya. Apa yang disuka dan yang tidak di sukai. Nayla juga tahu, kalau ada ruangan khusus olahraga didalam apartment mewah ini. Jadi, dia bisa mengetahui apa saja yang diperlukan.
'Dia sudah memikirkan semuanya, hehe Nayla-Nayla, kamu makin membuatku gemes sendiri' pikir Vinlo.
Sarapan itu di santap dengan lahap hingga bersih di piringnya. Vinlo meletakkan garpu di piring dengan pelan. "Terima kasih sarapannya. Nayla, bisa kamu membuatkanku susu rasa coklat." pinta Vinlo.
Nayla mengangguk, "Tentu."
Vinlo bangun dengan perlahan, dia melangkah menuju ke dapur untuk melihat Nayla yang menyiapkan apa yang dia pinta. "Nay!" panggilnya.
Nayla menoleh dan menghadap kearah Tuan muda yang berdiri di dekat pintu. "Iya tuan?"
"Bawa susunya di ruang olahraga, kamu tahu kan?" tanya Vinlo.
Nayla mengangguk dengan cepat. Dia sudah menjelajahi ruangan ini, tentu saja dia tahu dimana tempat olahraga Tuan Muda.
Melihat Nayla mengangguk, Vinlo bergegas menuju ke ruang olahraganya. Tempatnya tidak luas, tapi bisa memberikan membentuk tubuh Vinlo tetap sempurna. Sebagai Tuan Muda penerus keluarga Margatha, Vinlo harus tampil terbaik.
Nayla menaruh gelas di atas nampan dengan handuk kecil disana. Dia mengingat Tuan Muda melupakan handur kecil itu.
"Baiklah, aku akan mengantar ini." Nayla melangkah menuju ke ruang olahraga.
Setiba disana, dia mengetuk pintu untuk memberitahukan kedatangannya. "Tidak ada jawaban? Aku pertama kali ke sini dengan tuan muda di dalam. Semoga, aku tidak menganggunya." benak Nayla.
Dengan pelan dia membuka pintu. matanya melirik ke kanan dan ke kiri hingga mematung di tempat melihat hal yang begitu tiba-tiba.
__ADS_1