
Nayla menyiapkan pakaian yang akan dia bawa ke kota. Meski tidak banyak, pakaian itu bisa dia kenakan saat keluar Apartment.
"Sudah semua?" tanya Laisa. Dia duduk di kasur Nayla.
Nayla yang memasukkan pakaian di dalam tas, mengangguk. "Sudah kok. Oh ya, kamu pulang bersama kami, Laisa?"
Laisa menggeleng kepala. Dia bangun dari tempat duduk dan melangkah mendekati jendela. "Tidak, ada seseorang yang menjemputku."
"Eh, Siapa yang menjemputmu?" tanyanya.
"Kamu akan tahu saat melihatnya." jawab Laisa.
Mendengar jawaban itu, Nayla hanya diam tanpa menebak siapa yang di maksud.
"Hm, Laisa." Nayla menaruh tas besar yang hampir terisi penuh. Dia melihat kearah Laisa yang juga menatap padanya.
"Ada apa? Apa terjadi sesuatu?" Laisa berdiri di depan sahabatnya.
Dengan pelan, Nayla berkata. "Bisa kamu membantuku."
Mendengar hal itu, Laisa tersenyum dan menepuk dadanya. "Tentu, katakan saja apa yang perlu ku bantu. Aku ini sahabatmu."
Nayla mengangguk. Dia mendekatkan diri untuk berbisik. "Boleh aku meminjam uangmu. Kasih itu kepada ibuku, dan katakan kalau kamu memberinya."
"Eh? Apa kamu tidak mengatakan kalau kamu sudah gajian?" Laisa menatap bingung pada Nayla. Kemarin, mereka baru saja melihat hasil uang yang bukan main jumlahnya. Uang itu bisa di tabung untuk membeli rumah baru. Namun, siapa yang menduga, Nayla belum memberi tahu kepada sang ibu.
Dengan pelan, Nayla berucap. "Aku ingin memastikan kembali. Apa benar gaji ku sebesar itu. Jika tidak, aku harus mengembalikannya terlebih dahulu. Laisa, apakah kamu bisa membantuku?"
"Tentu saja. Tenanglah, aku akan mengaturnya." Inta memberikan jempolnya ke arah Nayla. Rasa lega di hati yang sesak itu membuat Nayla menjadi tenang.
Setelah semua siap, mereka berdua melangkah keluar. Di sana sudah ada Bi Sih dan Ibu Nayla yang tampak gusar.
"Apa terjadi sesuatu?" benak Nayla. Melihat orang tua yang tadinya bercanda gurau, kini saling diam.
"Sudah semua, Nayla?" tanya sang ibu.
Nayla mengangguk dan menunjukkan tas besar yang dia bawa. "Sudah Bu, semua sudah Nayla bawa."
__ADS_1
Sang Ibu mengangguk. Di peluk dan di cium pipi Nayla dengan kehangatan yang ada. Tidak ingin menangis, Ibu Nayla mengusap kepala putrinya. "Bekerja dengan benar dan jangan sampai tujuanmu menghilang."
Nayla mengangguk, dia membalas pelukkan ibunya. "Nayla akan kembali lagi ke sini Ibu."
Durvin mengangguk. Dia menatap ke arah Laisa yang merupakan sahabat putrinya. "Nak Laisa, kamu juga ya. Jadilah anak yang baik dan jujur."
Laisa tersenyum dan mengangguk pelan. Dipeluknya Ibu Nayla dengan tangan saling bertaut. Ibu Nayla membelakkan mata dan menatap tidak percaya yang ada ditangannya.
"Nak ini-,"
Laisa segera menarik Nayla dan Bi Sih. mereka mendekati mobil yang sudah tiba. "Bi, Jangan dikembalikan. Itu pemberian Laisa!" ucapnya.
Durvin hanya bisa tersenyum dan mengucapkan terima kasih kepada Laisa. Dia tahu bahwa uang yang ada di tangannya ini pasti ada hal-hal yang dirahasiakan.
Di dekat mobil. Nayla, Bi Sih dan Laisa berdiri dengan saling memberi tatapan bingung. Hanya Bi Sih yang bingung mendengar perkataan Laisa.
"Apa maksudnya itu Nak, kamu dijemput seseorang?" tanya Bi Sih.
Laisa mengangguk. Saat ingin menjawab pertanyaan Bi Sih. Suara bising motor menganggu pendengaran mereka.
Ada lebih dari 10 motor berroda dua mendekat. Suara bising berhenti saat tiba tepat di depan mereka. Seseorang turun dari motor dan melangkah mendekati Laisa.
Diarahkan Nayla bersama Bi Sih untuk masuk ke dalam mobil. Namun, Nayla berhenti melangkah dan mengenggam tangan sahabatnya.
"Aku tidak akan meninggalkanmu. Aku tidak ingin kamu di apa-apakan oleh mereka." Nayla menatap tajam ke arah Sahabatnya.
Tahu apa yang Nayla khawatirkan, Laisa tersenyum dengan mengenggam tangan Sahabatnya.
Saat dia ingin berucap, Seseorang datang dan menariknya. "Aku akan mengantarnya pulang." ucap Zivarka.
Nayla menatap ke arah Laisa yang memberinya senyum keyakinan. Dengan ragu dia pun mengangguk. "Ba-baiklah."
Perlahan Nayla mendudukkan bokong cantik di kursi mobil. Dia melirik sahabatnya yang melambaikan tangan.
"Apa tidak masalah dia bersama pria itu?" tanya Bi Sih. Nayla menundukkan kepala, "Dia, akan baik-baik saja Bi."
Mobil berroda empat itu akhirnya berangkat setelah semua siap. Meninggalkan Laisa dan Zivarka yang tengah bertatapan.
__ADS_1
...-*-...
Perjalanan terasa singkat jika tertidur. Itulah yang dialami oleh Nayla. Saat melewati jalan sepi, Dia tertidur dibahu Bi Sih. Ketika bangun, Nayla sudah tiba di kediaman utama keluarga Margatha.
"Sudah bangun?" tanya Bi Sih. Nayla menguap dengan lelah. Dia mengangguk dan menatap sekitar, "Sudah lama tiba bi?" tanyanya.
Bi Sih membuka pintu mobil dan bergegas turun. "Kita baru saja tiba." jawabnya.
Melihat Bi Sih keluar dari mobil, Nayla pun ikut bergegas keluar. Dia melihat hari yang mulai gelap. "Apa aku akan menginap di kediaman ini lagi?" benaknya.
"Ayo kita masuk, Nayla." ajak Bi Sih. Nayla mengangguk dan mengikuti langkahnya.
Setiba di ruang tamu. Nayla dan Bi Sih mendekat kearah Nyonya Besar yang sedang bersantai.
"Selamat sore, Nyonya." ucap keduanya.
Nyonya Besar menatap kearah mereka. Dengan tersenyum dia bangun dari tempat duduk. "Kalian sudah kembali. Waah, lihat wajah bahagia kalian. Maaf ya, liburnya tidak lama. Oh ya, Bi Sih bisa kembali ke kamar. Aku ingin berbicara dengan Nayla, sebentar." ucapnya.
Nayla melirik ke arah Bi Sih yang menganggukkan kepala. Perlahan Bi Sih meninggalkan Nayla seorang diri di ruang tamu.
Setelah kepergian Bi Sih, Nayla menatap Nyonya Besar yang duduk kembali. "Nayla, aku tidak ingin membuatmu lama berdiri di sana. jadi, langsung keintinya. Apa kamu menyukai putraku?"
Nayla terteguh mendengar perkataan Nyonya Besar. Dia baru saja merasakan rasa tenang setelah ditegur oleh sang Ibu. Sekarang, tampaknya Nyonya besar akan memberikan teguran yang sama.
"Aku tahu, kamu anak yang baik. Selain penilaian orang lain, aku menilaimu dengan pandangan berbeda. Kamu akan menepati janjimu kepadaku. Jadi,"
Nyonya Besar menatap serius ke arah Nayla. "Jangan pernah menaruh hati kepada Putraku. Nayla, aku percaya besar kepadamu."
"Oke, ku rasa itu saja. Beristirahatlah." ucap Nyonya besar kembali.
Nayla dengan pelan mengangguk dan melangkah pergi. Hatinya tidak bisa tenang setelah mendengar perkataan Nyonya besar. Tanpa dia ketahui, seseorang memandang datar padanya.
"Kenapa cinta ini begitu sulit. Aku baru saja menikmatinya rasa cinta itu. Sekarang, aku harus membuangnya." benak Nayla.
Tiba di kamar Bi Sih, Nayla duduk dengan wajah sendu. Selama perginya Tuan Muda Vinlo, Nayla akan tinggal di kediaman utama dan tidur di kamar Bi Sih. Sebenarnya, Nayla mendapatkan kamar sendiri. Namun, dia lebih memilih untuk bersama Bi Sih.
Duduk di tepi kasur. Nayla berpikir semua kejadian yang dia alami. Ibunya mengatakan kepadanya untuk membuang cinta yang hadir di hati. Lalu, Nyonya besar juga mengatakan hal yang sama, menyuruhnya untuk tidak jatuh cinta.
__ADS_1
"Huh, kenapa seperti ini." gumam Nayla. Dia ingin berkeluh kesah, kepada orang yang dia kenal. Namun, saat ini tidak ada yang berada di sampingnya. "Apa aku harus menghubungi Laisa?" benak Nayla.