
Langkah kaki Vinlo begitu cepat menuruni tangga. Dia ingin mengajak Nayla berjalan-jalan. Namun, setiba di ruang tengah, matanya melihat seorang wanita yang sedang duduk.
"Apa yang Anda lakukan di sini?" tanya Vinlo dengan suara dinginnya. Wanita yang duduk itu adalah Mayra Margatha, Ibu tirinya.
"Kenapa? Apa ibumu tidak boleh bertamu di apartmentmu sendiri, Vinlo." ucap Vin Margatha, Ayah Vinlo.
Mendengar ucapan Ayahnya, Vinlo hanya mendengus. Dia ingin kembali ke kamar dan meninggalkan mereka.
"Hei, duduklah di sini. Ada yang ingin ayah bicarakan kepadamu." Ayah Vin duduk di samping istrinya.
Vinlo tidak menjawab atau menolak. Dia duduk berlawanan dengan menatap ke arah ayahnya.
"Vin," seru Mayra.
Tidak ada balasan dari Vinlo setelah mendengar seruan itu. Dia tidak ingin menyahutnya.
"Vin, apa seperti itu didikkan ayah padamu?" tanya Ayah Vin yang menatap serius pada putranya.
Vinlo lagi-lagi menghela napas, "hm kenapa?" ucapnya.
Mayra tersenyum, "tidak apa dia mencuekiku. Vinlo, kamu sudah ku anggap seperti anakku sendiri." benaknya.
"Begini, tadi saat aku tiba. Nayla tampak terburu-buru,"
Vinlo mengerutkan alis mendengar ucapan istri ayahnya itu. "Terburu-buru?" tanyanya.
"Hm, Nayla meminta izin kepadaku untuk libur lebih awal. Aku mengijinkannya karena Ibu Nayla sakit. Aku juga sudah memberi gaji keduanya, jadi tidak perlu khawatir." lanjut Mayra.
"Jadi, dia pulang ke desa. Tidak memberitahuku? Tidak, bukan seperti ini jalan hubungan kami. Aku akan menunggunya kembali." benak Vinlo.
"Sudah, kita bukan membahas itu. Biarlah Nayla libur lebih awal, apa lagi Ibunya sakit. Oke, sekarang kita ke pembahasan utama,"
Vinlo menatap bingung mendengar hal itu, "Pembahasan utama, apa itu?"
"Yunrajt memberitahuku, mereka bahagia dengan kerja sama ini. Namun, mereka membuat sebuah usulan. Bagaimana kalau, aku dan Yunrajt, menjodohkanmu dengan Olati." ucap Ayah Vin.
"Apa? Perjodohan gila apa ini! Aku tidak setuju, ayah." tolak Vinlo setelah mendengar ucapan Ayahnya. Dia benar-benar menolak dengan usulan tersebut.
__ADS_1
"Apa yang membuatmu tidak setuju. Bukankah kamu dan Olati sudah berteman sejak kecil. Jadi, menikahi gadis itu tidak akan membuatmu kesulitan untuk mengenalnya." jelas Ayah Vin.
Vinlo menggeleng, dia segera mengubah ekspresinya dengan amarah yang tertahan. "Aku menolak, tidak ada cinta dalam pernikahan itu. Aku tidak mencintainya!"
Ayah Vin menggeleng, "Cinta akan hadir jika kalian terus bersama. Jadi, kenapa kamu menolaknya?"
"Aku sudah katakan, aku tidak mencintainya ayah, orang yang ku cintai...,"
"Tenanglah suamiku!" potong Mayra.
Vinlo diam ketika Istri sang ayah memotong ucapannya.
"Apa yang tenang Mayra? Aku tidak marah kepada Vinlo." ucap Ayah Vin yang bingung dengan ucapan Istrinya.
"Maksudku, kamu harus tenang dan menunggu keputusan Vinlo. Karena ini dadakkan, dia tidak bisa mengambil keputusan dengan baik. Beri dia waktu untuk berpikir." jelas Mayra.
Ayah Vin mengangguk-angguk kepala, dia setuju mendengar penjelasan istrinya. "Baiklah, Ayah akan menunggu keputusanmu. Ingat, beri jawaban yang ada alasannya."
Vinlo ingin segera menolak tapi Mayra dengan cepat menghentikannya. "Ayo suamiku, kita pulang. Vinlo pasti ingin beristirahat," ucapnya.
Vinlo duduk di ruang tengah dengan wajah kesal. "Aku harus menghentikan perjodohan ini." gumamnya.
...-*-...
Di dalam mobil, Nayla merasa gelisah. Dia tidak tenang memikirkan kondisi ibunya.
"Terima kasih Laisa dan Zivarka. Kalian telah membantuku," ucap Nayla.
Saat ini, Nayla ikut mobil Zivarka. Dia dijemput tepat pada apartment Vinlo.
"Apa yang kamu katakan, aku akan selalu membantumu, Nay." ucap Laisa. Dia duduk di depan bersama Zivarka.
"Bagaimana kabar dari ibuku, apa Dia baik-baik saja?" tanya Nayla.
Laisa segera menoleh ke belakang dan melihat Nayla yang begitu gelisah.
"Pak kades memberitahuku kalau saat ini, Tante sedang tertidur. Dia bilang, Ibumu sempat mimisan dan tiba-tiba pingsan." sahut Laisa.
__ADS_1
Nayla semakin tidak tenang. Malam ini, dia tidak bisa menenangkan diri karena rasa khawatir. Namun, suara notifikasi membuat pandangannya teralihkan.
Sebuah pesan yang dikirim seseorang. Nayla segera membukanya karena pesan itu dari Vinlo, sang kekasih.
-Semoga ibumu cepat sembuh ya. Ku harap, kamu bisa kembali dengan cepat pula, aku merindukanmu-
"Aku juga Vin, aku merindukanmu." benak Nayla.
Dalam keadaan malam yang mulai tenang. Nayla berharap, semua yang terjadi saat ini bisa dilewati dengan lebih baik.
"Ibu, tunggu aku." gumamnya.
Waktu berlalu, mobil dengan cepat memasuki perdesaan yang tampak sepi. Zivarka memarkirkan mobilnya tepat di kediaman kepala desa.
"Ayo keluar," ajak Laisa.
Ketiganya berdiri di depan sebuah rumah yang tengah ramai. Ada bapak dan ibu-ibu yang beristirahat sambil bercerita.
"Selamat malam," sapa Nayla memasuki kediaman Kepala Desa. Dia tidak sabar untuk menemui ibunya.
"Syukurlah Nak Nayla tiba. Ayo nak, ibu akan mengantarmu bertemu Durvin." tuntun wanita tua yang mengantar Nayla.
Nayla segera masuk ke dalam dan menemui sang Ibu. Dia tiba di kamar yang berisi dua orang wanita. Mereka adalah teman ibunya.
"Biarkan Nayla dekat dengan ibunya." ucap wanita tua yang membawa Nayla. Dua teman sang ibu segera mengangguk.
Nayla duduk di lantai dengan kaki tampak berlutut. Dia memegang wajah sang ibu yang tertidur lelap.
"Mbok, apa ibuku tidak istirahat belakangan ini?" tanya Nayla.
Salah dari mereka segera menjawab. "Nak Nay, Ibumu, tidak beristirahat selama tiga hari. Dia bekerja untuk mencari uang, agar bisa memberi kebutuhannya."
"Saat itu, rumah ibumu kecurian. Ibumu bilang kalau uang pemberianmu telah di ambil. Dia pun bekerja hingga lupa waktu." jelasnya.
Nayla mengerutuki dirinya. Semua ini karena dia lupa memberikan uang kepada sang Ibu. Meski begitu, menitipkan uang pun sulit. Tapi, tetap saja semua ini salahnya.
"Ibu, maafkan Nayla. Nayla seharusnya tidak melupakan ibu." gumam Nayla.
__ADS_1