Pembantu Pribadi Tuan Muda

Pembantu Pribadi Tuan Muda
Bab 14 : La-i-sa


__ADS_3

Di ruang tengah, Nayla mengantarkan beberapa bungkus cemilan yang tersedia di dapur. “Ini, Tuan Muda.” dengan segera Nayla menaruh semua cemilan itu di atas meja.


Vinlo mengangguk dan memfokuskan diri pada laptop didepannya. Melihat pria yang mengetarkan hati, Nayla memundurkan diri untuk menenangkan pikirannya.


Makan malam memang berjalan lancar, tetapi tidak dengan perasaannya. Entah bagaimana, degupan itu semakin menjadi. Nayla juga berharap Tuan Muda memerintahkannya, seakan dia ingin diperhatikan.


“Huh, apa yang sebenarnya terjadi.” Benak Nayla.


Dari pada memikirkan perasaan tidak jelas, Nayla memutuskan untuk beristirahat didalam kamarnya, dia ingin menenangkan diri.


“Tuan Muda, jika perlu sesuatu, panggilah Nayla. Nayla izin kekamar.” Ucap Nayla, dia mendapatkan persetujuan dari anggukkan kepala Vinlo.


Segera langkah kaki Nayla menuju kekamarnya, dia mengunci pintu dan berbaring dikasur empuk dengan kepala bersembunyi.


“Hah!”


Nayla mendekap bantal yang ditindih olehnya, dia menenggelamkan wajah hingga nafasnya tertahan. “Hah, hah.” Nayla mengatur nafas setelah beberapa detik menahannya.


“Agh, bagaimana caraku menghilangkan detak jantung ini?” guman Nayla. Dia melirik kearah cermin yang tidak jauh darinya. “Tidak! Tidak bagaimana mungkin, aku berharap detak jantungku hilang, Aku akan dead dong.”


Wajah Nayla semakin kacau karena ucapannya sendiri, tubuhnya berputar di tempat tidur. Selimut yang terlipat rapi seketika hancur, karena ulahnya.


Asik dengan tingkahnya yang tidak sesuai dengan Nayla sendiri, dering ponsel menyadarkannya. Tangan Nayla segera mengambil ponsel pintar yang tidak jauh dari tempat tidur.


“Eh, Laisa?” guman Nyala melihat layar ponselnya, dilirik jam dinding yang menunjukkan pukul 9 malam. Nayla tidak bisa mengangkat panggilan sebelum Tuan Mudanya beristirahat.


Jadi, Nayla memutuskan untuk melihat keadaan diruang tengah. Dengan perlahan,Nayla membuka pintu kamar. Tubuhnya bersandar di ganggang pintu, saat pintu sudah terbuka setengah, Nayla terkejut melihat seorang Pria berdiri didepan kamarnya.


“Nay-,”


Tubuh yang tidak berdiri dengan seimbang, tangan Nayla tergelincir dari kenop pintu. Dia dengan cepat menubruk tubuh Tuan Mudanya.


“Agh!”

__ADS_1


Nayla membelakkan matanya, dia dengan cepat membangunkan tubuh ketika tahu bahwa dia menindih Tuan muda Vinlo.


“Ma-,” ucapan Nayla berhenti dengan cepat. dia merasa punggung dan pingangnya didekap oleh orang yang saat ini tertindih. Wajah Nayla hingga degupan jantungnya semakin menjadi.


“Bangunnya perlahan, jangan terburu-buru.” Ucap Vinlo dengan suara yang begitu lembut.


Nayla tidak bisa menangapi ucapan Itu. Dia hanya mengangguk dan bangun dengan hati-hati.


“Kemarilah.” Ucap Vinlo dengan uluran tangan yang ada didepan mata Nayla.


Nayla engan untuk menyambut uluran tangan itu, tetapi tidak sopan menolak bantuan seseorang. Jangan pandang dia siapa, selama niatnya baik bantuan apa pun pasti berarti.


Tangan Nayla segera meraih uluran dari Tuan Muda Vinlo. Nayla di tarik hingga keseimbangannya goyah dan berakhir di dada bidang Vinlo.


“Maaf, Aku menarikmu terlalu kuat.” Ucap Vinlo dengan menjauhkan Nayla dari tubuhnya.


Dengan senyum yang terpaksa, Nayla mengeleng mendengar apa yang dikatakan oleh Vinlo. “Tidak, seharusnya Nayla yang meminta maaf. Maafkan Nayla.”


Nayla menganggukkan kepalanya dengan cepat. “Baik, Tuan Muda.”


“Ya, kalau begitu, selamat malam.” Nayla lagi-lagi mengangguk dan melihat kearah Vinlo yang pergi menaiki tangga.


Kesadaran Nayla kembali ketika getaran ponsel ditangan, dengan cepat dia melihat siapa yang menelponnya.


“La-i-sa!” guman Nayla, bergegas dirinya melangkah kembali ke kamar. Diambil earphone di meja dekat kasur, lalu dia kenakan dan menjawab panggilan Sahabatnya.


“Hei, apa yang kamu lakukan sampai tidak menjawab panggilanku?”


Nayla merasa alisnya berkedut mendengar apa yang dikatakan oleh Laisa. “Ada apa menghubungiku?” ucapnya dengan nada ramah.


“Apa terjadi sesuatu? Aku tahu jika suaramu seperti ini, pasti kamu sedang kesal sekarang.”


Nayla menahan nafasnya sesaat, lalu dihirup dan hembuskan nafas itu dengan baik.

__ADS_1


“Ya, telah terjadi sesuatu. Sekarang, kamu harus bertanggung jawab.” Ucap Nayla menjawab apa yang Laisa katakan.


“Hah, Aku? Apa yang salah denganku, aku hanya...,”


Nayla menatap kearah layarnya, dia memastikan ponsenya tidak mati. Laisa yang berhenti bicara membuatnya bingung sendiri.


“Apa, apa aku menganggumu?”


“Akhirnya sadar juga.” Ucap Nayla dengan senyum pasrahnya. Dia tahu, Laisa memiliki kepekaan yang rendah.


“Astaga, maafkan aku. Maafkan diriku ini ... aku tidak tahu kalau kamu masih berkerja, yasudah nanti saja. Lanjutkan pekerjaanmu,”


“Jangan memutuskan panggilannya!” ucap Nayla dengan suara tenang, dan yang ada di panggilan saat ini terdiam seketika.


“Katakan, apa yang membuatmu menelponku?” tanya Nayla, dia tidak ingin panggilan ini menjadi sia-sia.


“Sebenarnya, aku hanya gabut menelponmu. Entah kenapa, aku merasa kamu membutuhkanku.”


Nayla terdiam seketika, memang benar dia berniat untuk bercerita permasalah yang dialaminya. Hanya saja, dia belum menemukan momen yang tepat.


Sekarang sesuatu telah terjadi, Nayla merasa wajahnya masih memerah dan hatinya berdegup begitu kencang. Tetapi, Nayla tidak bisa mengatakannya sekarang. dia perlu menenangkan diri dan pikirannya.


“Nayla?”


“Ah, Iya.” Nayla melirik ponselnya dengan cepet, terlihat panggilan masih terhubung kepada sahabatnya.


“Aku putuskan panggilannya ya, maaf menganggumu.”


Nayla menarik nafas dengan perlahan dan menghembuskannya. “Baiklah, jika ada sesuatu, aku pasti akan menghubungimu.”


Panggilan pun berakhir. Tetapi, tidak dengan degupan jantungnya. Nayla masih merasakan genggaman Vinlo di telapak tangannya.


“Hah! Apa yang terjadi kepadaku.”

__ADS_1


__ADS_2