Pembantu Pribadi Tuan Muda

Pembantu Pribadi Tuan Muda
Bab 50 : Aku mengetahuinya


__ADS_3

"Laisa, tolong bantu aku. Boleh ya, sekali ini saja!" ucap teman sepekerja Laisa.


Saat ini, Laisa baru saja ingin pulang. Dia sudah mendapatkan bagian kerjanya. Akan tetapi, temannya ini menghentikan dia.


"Hm, tapi ...,"


"Tenang saja, saat gajian nanti ... kamu akan mendapatkan seperempat dari gajiku." bujuknya.


Laisa hanya bisa pasrah dengan permintaan temannya itu. "Tidak perlu, aku akan membantumu. Tapi, ini yang terakhir kalinya." ucap Laisa.


Temannya itu mengangguk dan segera menyerahkan sebuah nampan berisi makanan.


"Eh tunggu, ini untuk siapa?" tanya Laisa.


"Oh, tugasku menjaga seseorang di ruang rawat VIP. Bawalah itu, sudah saatnya dia makan sarapan."


Setelah berucap seperti itu, Temannya melangkah pergi meninggalkan Laisa yang tercenga.


"Eh? Tugasnya enak banget. Selama bekerja di sini, tugasku hanya menjadi penjaga kamar mayat. Huh, nasib-nasib." gerutu Laisa.


Bekerja menjadi perawat di sini bukan keinginannya. Tapi, Laisa mendapatkan kesempatan ini karena tidak sengaja menolong pemilik rumah sakit.


Dia adalah Kakek dari kekasihnya, Zivarka. Maka tidak heran kenapa dia di sini tanpa pendidikkan yang seusai. Oke, lupakan semua itu.


Laisa berhenti di sebuah ruangan yang memang khusus menjadi milik orang lain. "Margatha? Jadi, keluarga ini juga menyiapkan segalanya hingga rumah sakit sekalipun. Ku harap, mereka tidak menemukan Nayla." benak Laisa.


Saat ingin mengetuk pintu, seseorang segera membukanya. Laisa melihat wanita bersama pria yang dia tebak kalau mereka adalah Tuan besar dan Nyonya besar, Margatha.


"Se-selamat pagi," sapa Laisa.


Kedua orang itu hanya mengangguk dan segera pergi meninggalkan ruangan. Laisa sedikit bingung dengan apa yang terjadi. Dia melihat raut wajah keluarga itu tampak tidak baik-baik saja.

__ADS_1


"Tidak ada urusannya denganku. Aku harus meletakkan sarapan ini dan segera pergi." gumam Laisa.


Langkah kaki Laisa ingin segera masuk ke dalam ruang rawat. Dia berhenti melangkah saat mendengar ucapan seseorang.


"Kamu melakukannya demi dirimu? Kamu tahu aku menyayanginya, kenapa kamu malah menyakitinya!"


"Tidak, aku ... aku tidak ada niat melakukan itu. Aku hanya tidak mau dia berakhir dengan seorang gadis desa."


"Apa kamu menghinaku? Aku menikahi Ibu Vinlo, dia dari desa. Apa kamu ingin mengatakan kalau gadis desa tidak sebanding dengan gadis berpendidikan tinggi?"


"Sayang, kamu salah paham. aku tidak mengatakan itu,"


"CUKUP! Aku tidak ingin mendengarnya. Sudahlah, aku akan menenangkan diri dulu."


"Tunggu ... tunggu aku, Vin!"


Laisa terdiam mendengar perkataan dari orang tua, orang yang dia kenali. "Jadi, yang di rawat saat ini pasti pria itu." benaknya.


Selain itu, Laisa melihat pria itu pucat pasi karena tidak memiliki nutrisi yang cukup. "Dia? Apa dia seperti ini karena kepergian Nayla?" benak Laisa lagi.


Dia meletakkan sarapan yang telah mendingin karena ulahnya. Mengetahui hal itu, Laisa segera mengambil nampannya kembali.


"Sarapannya menjadi dingin, akan saya hangatkan." ucap Laisa.


"Ti-tidak perlu!"


Laisa segera menoleh untuk melihat pria yang tampak rapuh yang begitu fokus menatap jendela. Dia mengerutkan alisnya melihat hal ini.


"Taruh saja di sana dan pergilah!"


Laisa mengangguk dan segera mengundurkan diri untuk pergi. Sebelum benar-benar pergi, Laisa memastikan kembali kalau penglihatannya tidak salah.

__ADS_1


"Dia, Vinlo Margatha." benak Laisa.


Di ruang istirahat, Laisa duduk sembari berpikir. "Kenapa bisa dia dirawat? Apa yang terjadi kepadanya." benak Laisa.


"Hei, Laisa!"


Laisa menoleh untuk melihat seorang wanita datang dengan membawa makan siangnya. Mereka pun makan siang bersama.


"Hm, boleh aku bertanya." ucap Laisa.


"Tentu, tanyakan saja."


"Hm, jadi begini ... aku baru saja mengantikan pekerjaan dari Dewra. Apa kamu tahu kenapa bisa anak tunggal keluarga Margatha masuk rumah sakit ini?" tanya Laisa.


"Oh, Tuan Muda Vinlo itu ya ... hm, aku tidak salah dengar, Tuan Muda mengalami Anemia dan dehidrasi. Dia tidak makan dan minum selama satu hari penuh,"


Laisa terkejut mendengar penjelasan itu. "Apa itu bawaan dari kecil?"


"Benar, ada cerita kalau Tuan Muda itu mudah sakit saat kecil. Dia dimanja dan selalu mendapatkan apa yang dia mau. Hingga, kematian Ibunya terjadi diusia tidak salah 10 tahun. Aku tidak mengetahui semuanya,"


"Yang pasti ... Tuan Muda itu menjadi anti dengan perempuan. Meski ada banyak pelayan bahkan perawat yang mendekatinya. Tidak ada yang membuat pria itu tertarik."


"Eh, benarkah?" sahut Laisa. "Jadi, apakah hanya Nayla yang selama ini bisa membuat Vinlo jatuh cinta? Jika benar, maka ...." benak Laisa.


"Kenapa kamu menanyakan ini, Laisa?"


"Oh, aku hanya penasaran saja. Dia berbicara dengan nada dingin, seakan memberi jarak dariku." jawab Laisa.


"Nah benarkan! Dia pria yang sangat anti. Meski begitu, dia orang yang lembut. Mungkin, orang yang dicintainya merasakan semua perlakukan Tuan Muda itu."


Laisa segera mengangguk untuk membalas ucapan temannya. Dia tiba-tiba memikirkan hubungan Nayla dan Vinlo.

__ADS_1


"Aku tidak boleh gegabah. Meski aku mengetahuinya, Aku harus memastikan dulu ... apakah, Vinlo benar-benar mencintai Nayla. Aku tidak ingin melihat, Nayla menangis lagi." benak Laisa.


__ADS_2