
Rasa tidak enaknya badan ini, membuat Laisa mengeluh di dalam mobil. Dia menatap kekasihnya yang sedang bermain ponsel.
"Ziv, ayolah ... badanku sakit semua, Lo malah bermain game. Apa lo engak memperhatikanku?" tanya Laisa dengan wajah cemberut.
Setelah berucap seperti itu, sesuatu yang berada di perutnya seketika keluar. Dia memuntahkan apa yang dia makan hari ini.
"Sayang, apa yang?" kaget Zivarka.
Laisa tidak tahan lagi, dia akhirnya menjatuhkan diri di sembarang arah. Melihat hal itu, Zivarka segera menuntun kekasihnya untuk bersandar.
"Pak, kerumah sakit sekarang!" ucap Zivakra.
Pak supir segera membawa mobil menuju ke rumah sakit. Setiba di sana, Laisa di gendong oleh Zivarka.
"Ada apa Tuan Muda?" tanya seorang Dokter yang menyambut kedatangan Zivarka.
"Periksa dia, hari ini dia tidak enak badan dan muntah-muntah." ucap Zivarka. Di letakkan Nayla pada ranjang paisen.
"Aku akan kembali," ucap Zivarka lagi sebelum pergi menuju ke toko baju.
Tiga puluh menit berlalu, Zivarka kembali dengan membawa tas kecil berisi pakaian. Dia melangkah menuju ke ruangan khusus keluarga Zivarka.
"Bagaimana dokter?" tanya Zivarka setelah tiba di ruangan kekasihnya. Dia melihat dokter datang dengan wajah bahagia bercampur sedih.
"Hm, begini Tuan Muda. Wanita yang Anda bawa sedang mengandung, usia kandungannya sudah dua bulan. Tampaknya dia tidak tahu akan hal itu, di tambah dia melakukan hubungan terlarang yang membuat kesehatannya menurun."
"Tuan, tinggalkan kekasih Anda. Dia sudah di hamili oleh orang lain." saran Dokter yang tidak tahu apa pun.
Zivarka tersenyum sembari menepuk bahu Dokter. "Katakan, apa yang harus dia tahan dan tidak boleh dia makan."
Mendengar hal itu membuat Dokter menjadi bingung. Dia tidak bertanya alasan pertanyaan itu. Melainkan, menjawab apa yang di tanya.
"Hm, Wanita ini tidak menyukai sayuran. Dia sepertinya tidak sengaja memakan hal itu. Tapi, muntah-muntah ini sudah dia lewati di fase awal. Dia muntah karena rasa lelah, sepertinya seseorang tengah berhubungan badan dengannya."
"Untuk mengembalikan kondisi tubuhnya, harus menghindari hubungan badan terlebih dahulu. Untung saja bayi itu kuat, jadi dia tidak meninggal saat Wanita itu melakukan hubungan badan."
"Lalu, tidur yang teratur. Kemudian, menjaga pola makan dan kalau bisa minum susu yang bagus untuk kandungannya." jelas Dokter.
Zivarka mengangguk dengan wajah bahagia. Dokter yang melihat hal itu terkejut. "Apa tuan muda akan membunuh wanita itu?" benaknya yang lagi-lagi tidak tahu apa pun.
Zivarka membuka pintu dan menghentikan langkahnya. "Dengar dokter!"
Dokter yang ingin pergi itu segera berhenti dan menatap Tuan Muda di depannya.
"Wanita itu adalah kekasihku, kami telah berpacaran lebih dari empat bulan. Dia hamil anakku, karena hanya aku yang menjamah tubuhnya. Jadi, jangan berpikir kalau wanita ini buruk ya." ucap Zivarka sembari tersenyum.
Dokter hanya bisa terbelak mendengar hal itu. Dia tidak bisa berkata apa pun sekarang.
__ADS_1
Di dalam kamar rawat, Zivarka melihat Laisa yang kini cemberut.
"Ke mana aja sih? Lo engak lihat hah, baju ku kotor. Malu, loh!" pekik Laisa.
Zivarka tersenyum, dia menaruh kantong belanjaan di paha kekasihnya. "Ini, pilih bajumu dan aku akan mengantikannya untukmu."
Laisa segera membuka kantong belanjaan itu. Dia melihat beberapa pakaian santai yang di belikan oleh Zivarka.
Kekasihnya itu tengah mengusap-usap perutnya saat ini. Laisa yang mendapati hal itu segera menepis tangannya.
"Kenapa? Apa lo tahu ya kalau aku gendut?" tanya Laisa sembari membuka setengah bajunya. Terlihat perut yang mulai membuncit itu.
"Lihat, aku mulai gemuk. Gimana ya cara diet yang bagus." gerutuk Laisa.
Zivarka yang mendengar hal itu mengerutkan alisnya. Di peluk Laisa dan menyempatkan diri mencium perut kekasihnya.
"Tidak perlu diet sayang. Ayo ganti baju dan kita akan ke kediamanku." ajak Zivarka.
Laisa terteguh mendengar hal itu, "kediaman lo? Waah, itu mustahil untukku. Aku takut dengan keluargamu, bagaimana jika mereka tidak menerimaku karena aku tidak memiliki kedua orang tua, lalu hidup di desa dan terpencil seperti ini."
Zivarka memutar bola matanya dengan malas. Dia segera mengendong Laisa menuju ke kamar mandi khusus. Di sana, Laisa segera berganti baju dengan Zivarka yang membantunya.
Selama menganti baju, Laisa selalu memeluk Zivarka karena menghirup aroma parfum kekasihnya membuat dia tenang.
"Hei, biasanya kau akan melakukan itu kepadaku, kenapa hari ini kau tampak menahan diri." celetuk Laisa.
"Honey?"
Senyum Zivarka semakin menjadi. Dia ingin memakan kekasihnya tapi saat ini, ada yang harus dia jaga dulu.
"Kenapa sayang? Kita bisa melakukannya nanti. Apa kau ingin mencobanya di rumah sakit?" sahut Zivarka.
Laisa menggeleng seketika. Dia tidak mau melakukan itu. Saat ini, dia hanya mengoda kekasihnya.
"Sudahlah, ayo kita pulang." ucap Laisa yang ingin keluar dari kamar mandi. Zivarka segera mengendong kekasihnya dengan cepat.
"Karena kamu lelah, aku akan mengendongmu dan kita akan berkunjung di kediaman Ayahku." ucap Zivarka.
Seperti apa yang di katakan oleh Zivarka. Laisa akhirnya tiba di kediaman kekasihnya. Dia tercenga melihat kediaman sang kekasih yang begitu megah.
"Ayah!" teriak Zivarka.
Laisa kaget mendengar hal itu, dia segera menutup mulut kekasihnya. "Hei, apa yang Kau lakukan? Nanti semua orang bangun. Ini sudah tengah malam loh!" pekik Laisa.
Zivarka yang mendapati kekasihnya seperti ini, segera merangkul pinggangnya. Didekap Laisa hingga terasa olehnya, perut yang buncit itu. Zivarka lagi-lagi tersenyum.
"Ada apa? Apa kau tidak di ajarkan untuk bersikap sopan santun, Zivarka." ucap seorang pria yang menuruni tangga.
__ADS_1
"Siapa wanita yang ada di pelukanmu itu. Apa kau gila membawanya ke kediaman kita? Aku peringatkan kepadamu, bawa wanita yang benar-benar ingin kau nikahi." cibir sang Tuan Zirta, Ayah Zivarka.
"Aku sudah membawanya. Ini dia, calon istriku!" ucap Zivarka dengan menuntun Laisa menghadap ke arah Ayahnya.
Laisa tersenyum kekuk ketika dirinya di tuntun seperti ini. Ingin rasanya bersembunyi di mana pun, yang bisa menutupi wajahnya.
"Oh, jadi dia menantuku. Siapa namanya?" tanya Ayah Zirta.
Zivarka mendorong Laisa untuk duduk di sofa bersama sang Ayah dan dirinya. "Namanya, Laisa. Asal dari desa dan orang tuanya telah meninggal dunia. Dia berkerja di rumah sakit, sebagai perawat." jelas Zivarka dengan begitu teliti.
Ayah Zirta mengangguk-angguk mendengar hal itu. "Oh, kalau begitu kapan kau akan menikahinya?"
"Besok pagi!" sahut Zivarka.
Ayah Zirta dan Laisa terteguh mendengar hal itu. "Apa kau gila, menikah langsung di besok harinya bukan hal mudah!" tegur sang Ayah.
Zivarka merangkul Laisa untuk mendekat ke arahnya. "Apa salahnya, bukankah semua itu tidak sulit untuk Ayah. Lagi pula, Kekasihku ini tengah mengandung anakku. Usia kandungannya sudah dua bulan." ucap Zivarka dengan menyerahkan hasil pemeriksaan.
Ayah Zirta segera membaca hasil pemeriksaan itu. Sedangkan Laisa tercenga mendengar apa yang di katakan kekasihnya.
Dengan bercuri-curi kesempatan, Laisa mendekati telinga Zivarka. "Hei, jangan bercanda. Aku tidak mungkin hamil!" bisiknya.
Zivarka tersenyum, dia mencium dan mengecup bibir Laisa. "Kau tidak tahu kalau tengah hamil. Apa kau lupa, saat itu kau muntah-muntah di pagi hari?"
Laisa mengingat kejadian dua bulan lalu, dia memang mengalami muntah-muntah yang hampir membuatnya tidak bersemangat hidup. Namun, siapa yang menduga kalau semua itu karena dia tengah hamil.
"Bagus!" pekik Ayah Zirta.
Laisa terteguh mendengar pekikkan itu. Zivarka yang tahu segera merangkulnya.
"Jadi, bagaimana Ayah?" tanya Zivarka.
"Baiklah, menikah besok. Biarkan menantuku tinggal di sini, dia telah membawakan cucu untukku. Ayo beristirahat dan besok akan menjadi hari pernikahan kalian."
"Nak Laisa, panggil aku Ayah ya. Jangan takut kepadaku, aku tidak akan marah dengan apa yang terjadi. Hubungan bebas memang seperti ini, tapi tenang saja ... aku tidak akan membuat Putraku lepas dari tanggung jawabnya."
"Kau hanya perlu bersantai, dan menikmati semua yang ada di sini." jelas Ayah Zirta.
Laisa bingung memberi respon apa. Dia hanya merasa senang, ternyata orang baik selalu ada untuknya.
"Baiklah, Ayah akan mengatur semuanya." ucap Ayah Zirta yang kemudian pergi meninggalkan ruang tamu.
Kepergiannya membuat Zivarka menuntun Laisa untuk duduk di pangkuannya. "Terima kasih sayang, aku sangat senang mendengar kalau kau hamil anakku. Yeah, akhirnya ada Zivarka versi bayi."
Zivarka mengelus-elus perut Laisa yang kini ada di pangkuannya. Laisa merangkul di leher Zivarka dan menyandarkan kepalanya. "Apa kau serius menikahiku Zivarka? Bukan karena anak ini kan?"
"Tentu saja bukan, aku menikahimu karena aku mencintaimu. Laisa, menikahlah denganku!" ucap Zivarka.
__ADS_1
Laisa merasa perasaan senang yang membara di hati. Dia segera mengangguk dan memeluk kekasihnya. "Hm, aku ingin menikah denganmu, Zivarka!"