Pembantu Pribadi Tuan Muda

Pembantu Pribadi Tuan Muda
Bab 15 : Membuat Jarak


__ADS_3

Jika Nayla mengalami debaran jantung luar biasa. Maka, seorang pria saat ini tengah mengalami guncangan hebat dihatinya.


Mata hingga bibirnya bergetar tidak tenang. Wajahnya merah tomat, degupan jantungnya berdisko dengan baik hingga kedua tangannya berdekap didada.


“Astaga, tolong berhentilah...,” guman Vinlo.


Saat ini, dia tengah berjongkok di balkon kamar. Angin berhembus menerpa wajahnya, rambut Vinlo sedikit melayang saat angin itu tiba.


Setelah perasaan kembali tenang, Vinlo berdiri dan mendekati pagar balkon. Dilihatnya langit bersama bulan yang ditemani bintang, mereka tampak cantik hingga Vinlo menarik senyum dibibirnya.


“Apa yang terjadi kepadaku ... Nayla tampak cantik, senyum dan degupan jantungnya terdengar ditelinga. Ah~ aku menyukainya.” Vinlo memilih untuk beristirahat didalam kamar, dia tidak ingin berlarut memikirkan semua ini.


Entah kenapa, dia menginginkan kedekatan yang lebih. Tangan yang mengenggam Nayla, masih terasa hangat ditangannya.


Dicium telapak tangan yang berhasil membuat hidupnya berubah. Vinlo sudah mendapatkan beberapa Pelayan, mereka juga masih seorang gadis. Tetapi, tidak ada yang lebih imut bahkan menarik dimatanya, Kecuali Nayla.


“Vinlo, tidurlah dan mulai hari seperti biasanya.” Benak Vinlo yang merebahkan tubuhnya di kasur.


Malam ini, biarlah menjadi kenangan tersendiri, Vinlo akan menyimpan semua ingatannya didalam memori dan berharap tidak melupakannya.


...-*- ...


Pagi yang indah menyambut, Vinlo bangun lebih awal. Dia tidak ingin Nayla membangunkannya, lebih baik dirinya yang bangun sendiri.


Tubuh yang tinggi dengan otot yang sempurna, Vinlo melangkah menuju kekamar mandi pribadinya. Hari ini, jadwal tidak padat. Dia akan pergi dua hari lagi untuk melakukan perjalanan bisnis.


Memikirkan bisnis, Vinlo merasa sedih dihatinya. Dia berpikir, tidak ada Nayla selama dua hari disana, tidak hal yang bisa dilihat olehnya, juga tidak ada senyuman dari pembantu itu.


“Apa, apa aku meminta Raga saja yang melakukan perjalanan bisnis?” guman Vinlo disela-sela membersihkan gigi.


Setelah berucap demikian, dia bergegas mengeleng kepala. “Astaga, Vinlo ... jangan berpikir seperti itu, Raga sudah banyak mengontrol beberapa Bisnis bulan lalu. Aku harus meringankan pekerjaannya.”


Vinlo bergegas membersihkan diri dan bersiap untuk kekantor.


Di atas kasur, sudah ada setelan kerja yang disiapkan oleh Nayla. Senyum Vinlo seketika terukir, dia merasa lucu membayangkan bagaimana Nayla bertindak.


Didalam pikirannya, Nayla pasti bergerak cepat lalu pergi dengan cepat pula. Yang terpenting, agar Dia tidak bertemu dengannya.


“Gadis itu.” guman Vinlo.


Setelah semua pakaian berada ditubuh yang begitu indah. Rambut ditata rapi, dasi dikenakan dengan cepat, tak lupa sepatu kerjanya. Vinlo bergegas mengambil tas dan melangkah keluar kamar.


“Mari sarapan, hari ini ... Nayla membuat apa ya?” benak Vinlo.


Tercium aroma masakkan yang begitu enak dihidungnya. Vinlo bergegas menuruni tangga, dilihatnya sang Gadis bernama Nayla berdiri di sana.

__ADS_1


“Seperti biasa, dia mengerjakan apa yang Bi Kia katakan. Hehe, Nayla,Nayla.” Benak Vinlo.


Setiba di lantai bawah, Vinlo memberikan tasnya. “Hari ini-,”


Vinlo menghentikan ucapannya, matanya melihat Nayla yang menjaga jarak darinya. tampak seperti membuat jarak diantara mereka.


Melihat hal itu, hati Vinlo merasa aneh. Ada perasaan tidak suka yang muncul. Perasaan senangnya berubah seketika, dia menatap datar dan melangkah menuju ke meja makan.


Disana terhidang nasi goreng dengan telur mata sapi. Vinlo yang kehilangan mood tidak selera untuk memakannya. “Aku tidak sarapan, ada rapat dipagi hari, maaf.” Ucap Vinlo.


Dia kembali melangkah menuju kepintu apartement. Perasaan hancur itu berhasil membuatnya kesal sendiri. “Aku berangkat.” Ucapnya lagi setelah mengambil tas dari tangan Nayla.


Vinlo pergi tanpa memandang sang gadis, hatinya sakit ketika Nayla membuat jarak kepadanya. “Ah~ sial!” guman Vinlo.


...-*-...


Nayla mematung ditempat, dia tahu bahwa apa yang terjadi sekarang karena perbuatannya sendiri. semalam, degupan hati menghilang setelah kantuk menyerang.


Namun, pagi ini Nayla malah tidak tenang jika didekat Tuan Muda Vinlo. Hatinya semakin berdegup tidak beraturan, Nayla tidak bisa sepert ini.


“Aku harus menjaga jarak dari Tuan Muda.” pikir Nayla saat membuat sarapan pagi. Setelah ke kamar Vinlo, Nayla bergegas membuat sarapan yang lagi-lagi sederhana.


Dia menyajikan semuanya dengan baik hingga matanya melihat Tuan Muda sedang menuruni tangga. Tidak ingin melupakan pekerjaannya sendiri, Nayla bergegas mendekat.


“Tolong, tolong berkerja samalah. Tenanglah,” benak Nayla.


Tiba di meja makan, wajah Nayla yang tidak tenang seketika bingung. “A-,” Nayla ingin berucap untuk bertanya apa yang terjadi. Dia melihat Tuan Muda tidak segera duduk di kursi.


“Aku tidak sarapan, ada rapat dipagi hari, maaf.”


Mendengar perkataan yang tenang tapi tampak penuh kesedihan, Nayla bungkam seketika. Dia melanjutkan langkahnya hingga tiba di pintu.


Ingin berucap kembali untuk menanyakan apa yang terjadi, dia malah mendapati Tuan Muda pergi dengan wajah datar yang tidak biasanya. Nayla menjadi terdiam dan mematung ditempat.


“Apa yang telah ... ku lakukan?” Nayla menundukkan kepala. Dia mengingat, apa saja yang dia lakukan hingga Tuan Muda seperti itu.


Pekerjaan yang seharusnya berjalan lancar, kini malah membuat Nayla kewalahan. Dia melakukan banyak kesalahan, mulai dari mengepel dan mencuci pakaian. Ada banyak air dan sabun yang tertumpah dimana-mana.


Selain itu, Nayla menyadari bahwa beberapa pakaian belum dirapikan olehnya. Semua pekerjaan itu tidak berjalan dengan baik.


“Huh~ aku harus menyetrikanya lagi.” guman Nayla melihat kemeja yang tampak kusut.


Dia melihat dari arah lain, terlihat mesin cuci yang telah berhenti. Langkah kaki dengan cepat menuju kearah mesin cuci, dia masih harus mengiling pakaian yang lain.


Langkah kaki yang tiba-tiba membuatnya ambruk hingga lututnya lecet karena tergores. Nayla tidak memperdulikan lutut cantiknya, yang terpenting saat ini pekerjaan yang tidak berjalan baik itu.

__ADS_1


Perlu waktu yang lama, hingga jam 2 siang telah tiba. Nayla beristirahat dikamar sambil berbaring. Dia sudah menyiapkan makan siang untuk Tuannya, jadi tidak perlu repot nanti.


Suara getaran dengan dering yang mengema didalam kamar, membuat Nayla segera mengambil ponsel pintarnya. Terlihat nama sahabat yang sedang menelpon.


“Halo!” sapa Nayla.


“Hai Nay, apa kamu sedang istirahat sekarang?”


“Hm, aku sedang istirahat. Apa yang terjadi?”


“Tidak ada, aku hanya bosan. Oh ya, aku memberi kabar kepadamu. Bahwa sekarang aku berhenti berkerja di restorant.”


“Apa yang membuatmu berhenti disana? bukannya kamu senang memasak?”


Nayla melangkah mendekati pintu, dilirik kearah dapur untuk memastikan apakah ada Tuan Muda.


“Hm, aku bosan. Sekarang, aku mengikuti tes menjadi perawat. Mumpung uang ku masih ada, jadi aku mengikuti tes itu.”


“Perawat? Kamu ingin mengantar jenazah?” celetuk Nayla sambil menutup kembali pintu kamar. Dia merasa hatinya tidak tenang karena tidak menemukan Tuan Muda untuk makan siang.


“Hei! Jangan seperti itu. dukunglah sahabatmu ini....”


“Laisa ... Menurutmu, apa yang membuat mood seseorang berubah secara tiba-tiba?” tanya Nayla, dia tahu bahwa Laisa memiliki berbagai kepribadian yang dia sendiri tidak bisa mempercayainya.


“Membuat mood seseorang berubah? Hm, bisa jadi hal yang tidak disukainya malah terjadi. Seperti, kamu melakukan sesuatu yang tidak diinginkan olehnya. Contoh, kemarin ada perawat yang melayani seorang pasien. Pasien itu mau meminum obat jika dilebur dalam air, sayangnya si Perawat malah memaksa untuk menelan obat itu tanpa meleburkannya. Yeah, seperti itulah contohnya.”


Nayla diam mencerna apa yang dikatakan oleh Laisa. Melakukan sesuatu yang tidak diinginkan olehnya, Nayla memikirkan kejadian yang terjadi, dia membuat jarak kepada Tuannya.


“Apa karena itu?”


“Apa yang karena itu? jika sulit mencari jawaban, setidaknya jangan paksakan dirimu bertindak seperti bukan kamu. Jadi diri sendiri, Nay.”


“Laisa, apa yang terjadi jika jantung berdegup lebih cepat?”


“Hah? Apa yang kamu tanyakan?”


Nayla tidak menjawab apa yang dikatakan oleh sahabatnya, dia lebih memilih untuk mengecek keadaan di dapur. Apakah tuan muda kembali?


“Kalau jantung berdegup dengan cepat hanya ada beberapa hal yang spesial. Mungkin, kau telah jatuh cinta kepada seseorang?”


Pandangan Nayla bergetar seketika, dia terteguh melihat Pria yang berdiri tepat didepannya. Apa lagi, dia mendengar perkataan Laisa yang berhasil mengembalikan debaran jantung didada.


“Halo! Nay?”


“Tu-Tuan Muda.”

__ADS_1


__ADS_2