Pembantu Pribadi Tuan Muda

Pembantu Pribadi Tuan Muda
Bab 47 : Sakit


__ADS_3

Mobil berhenti di depan gedung yang tinggi. Nayla melangkah keluar dari taksi yang dia tumpangi. "Pak, tunggu sebentar ya." ucap Nayla.


Pak supir mengangguk di dalam mobil. Nayla segera melangkahkan kaki menuju apartment milik Vinlo.


Setiba di sana, yang dia dapatkan hanya kesunyian. Di dalam ruangan itu penuh keheningan. "Apa Tuan Muda ada di kediaman utama? Ah aku lupa, seharusnya aku mengunjungi kediaman utama untuk melapor kepulanganku." gumamnya.


Nayla kembali lagi menuju taksi yang masih menunggu. Dia melangkah sedikit berlari, entah kenapa ada rasa kerinduan yang menghantuinya saat ini.


"Mau kemana neng?" tanya Pak supir.


Nayla segera menjawab, "Kediaman Utama Margatha, Pak."


"Baik!"


Mobil pun melaju di jalan raya. Karena perjalanan yang panjang, Nayla harus pulang di malam hari seperti dia ke desa.


Tidak menunggu lama, taksi berhenti di depan halaman utama Keluarga Margatha. Nayla bisa melihat ada begitu banyak mobil yang datang.


"Ada acara?" benak Nayla.


Setelah membayar taksinya. Nayla segera melangkahkan kaki untuk masuk ke dalam. Dia penasaran, kenapa ada acara di malam hari seperti ini. Ditambah, begitu banyak mobil-mobil mewah yang terparkir.


Sembari menuju ke rumah mewah itu. Nayla melewati beberapa orang yang sedang berbincang.


"Aku dengar juga begitu. Keluarga Margatha baru saja bekerja sama dengan keluarga Yunrajt. Jadi, tidak mungkin melewatkan kesempatan ini."


"Hm, bagusnya lagi Olati merupakan teman masa kecil Vinlo. Jadi, mereka tidak perlu merasa canggung untuk saling berkenalan 'kan?"


"Setuju, Tuan Muda Vinlo dan Nona Muda Olati. Mereka pasangan yang serasi."


"Hm, Semoga setelah pertunangan ini, pernikahannya akan menyusul."


Nayla mempercepat langkahnya setelah mendengar perbincangan orang-orang. Hati yang dipenuhi kerinduan seketika berubah menjadi rasa takut dan penasaran.


"Tidak mungkin, tidak mungkin kan?" gumam Nayla.


Berjalan menyusuri lorong, Nayla seketika berhenti di antara kerumunan orang.


"Tuan Vinlo, silahkan sempatkan cincin ini di jari manis Nona Olati."


'Tidak, bukan seperti ini. Bukankah kamu telah berjanji kepadaku. Berjanji, ber-' pikiran Nayla menjadi kabut besar di dalam hatinya.


Tidak bisa lagi menahan air mata yang akan keluar, Nayla dengan rasa sakit di hati, melangkahkan kaki untuk pergi dari ruangan ini.

__ADS_1


"Tuan muda, silahkan."


Nayla masih mendengar ucapan pemimpin acara itu. Dia tidak ingin menoleh, tidak ingin berhenti. Hatinya benar-benar sakit setelah semua yang dia lihat di depan mata.


Penantian, janji dan ucapan seseorang. Terlalu bodoh dia mempercayai semua itu. Kini, apa yang di katakan Ibunya itu benar. Dia akan menderita setelah mengetahui semuanya.


"Hiks!" Nayla mengusap wajahnya hingga tidak memperhatikan langkah di depan.


Tiba-tiba, Nayla menubruk seseorang yang membuatnya mendongak.


"Cih, menjauhlah dariku!" ucap Seorang yang tidak lain adalah Zivarka, kekasih Laisa.


Nayla segera menyinggir dan berniat untuk melanjutkan langkahnya. Namun, Zivarka menahan tas Nayla yang hampir saja membuatnya terjatuh.


"Lo, sahabatnya Ayang Laisa ya?" tanya Zivarka.


Nayla engan untuk berucap, dia hanya mengangguk sebagai jawabannya.


"Masuklah, gua akan mengantar lo kerumah Laisa." ajak Zivarka.


Tidak ada tempat untuknya kembali. Jika dia ke desa, maka semuanya akan menjadi masalah untuk Ibunya. Lebih baik bertemu dengan Sahabatnya, itulah yang ada dipikiran Nayla.


Nayla mengangguk dan masuk ke dalam mobil. Mereka pun keluar dari kediaman Margatha.


Mata Nayla menatap gelang pemberian Vinlo, gelang itu benar-benar dikenakan dengan baik dan selalu ada di sana. Nayla menjaganya seperti janji yang selalu Vinlo katakan. Namun, semua kepercayaan itu hilang seketika, dia merasa ditipu dengan ketampanan Tuan Mudanya itu.


Mobil memasuki kawasan perumahan. Tidak lama, mereka berhenti di rumah bernomor 04.


"Keluarlah," ucap Zivarka.


Nayla mengangguk dan segera keluar dari mobil. Dia melihat perumahan di sini begitu sepi meski banyak orang yang menyewa rumah.


"Laisa!" seru Zivarka.


Pintu rumah itu terbuka cepat, menampilkan Laisa yang mengenakan daster ala ibu-ibu. Tubuhnya yang cantik itu membuat Zivarka memeluknya dengan cepat.


"Malam sayang!" ucapnya.


"NGAPAIN LO DI SINI HAH? GANGGU ORANG TIDUR TAHU!" pekik Laisa.


Zivarka segera membungkam mulut kekasihnya dengan memberikan ciuman secara langsung. Nayla yang melihat hal itu segera menatap ke arah lain.


"Jangan marah-marah. Nanti tetangga bangun loh. Oh ya, Itu," Zivarka menjauh dari pandangan Laisa. Dia menunjukkan Nayla yang berbalik badan.

__ADS_1


"Eh, Nayla?" Laisa segera mendekati sahabatnya.


"Ada apa hm," mata Laisa membelak seketika. Tidak ada yang bisa menyembunyikan sesuatu darinya. Apa lagi Nayla, mereka sudah saling mengenal.


"Siapa yang membuatmu menangis?" tanya Laisa dengan nada dinginnya. Dia melirik Zivarka yang tidak jauh dari tempatnya berdiri.


"Aku tidak akan selingkuh Sayang, percayalah padaku." ucap Zivarka membela diri.


Nayla menahan Laisa, dia segera memeluk sahabatnya dengan air mata yang mengalir. "Hiks! La-isa," lirih Nayla.


Tidak tega melihat sahabatnya seperti ini, Laisa menuntun Nayla untuk masuk ke dalam rumah sewanya.


Zivarka ingin ikut masuk tapi dirinya segera mendapati penolakkan dari Laisa.


"Pulanglah, ini urusan perempuan." ucap Laisa sebelum pintu tertutup rapat.


Zivarka hanya menghela napas. Dia menatap mobil yang dia bawa. "Aku akan menghilangkan lokasi mobil ini dulu." gumamnya. Dia tahu, saat ini mungkin saja Vinlo mengejarnya dengan alat pelacak.


Di dalam rumah sewa, Laisa mendudukkan Nayla di ruang tamu. "Aku akan membawakan air hangat untukmu," ucapnya.


Nayla tidak menjawab apa pun. Laisa menjadi bingung mendapati sahabatnya seperti ini.


Segelar air hangat ditaruh pada atas meja. Laisa duduk kembali di samping Sahabatnya.


"Baiklah, jika ingin menangis, maka menangislah." ucap Laisa dengan membentangkan kedua tangannya.


Tangis Nayla yang tertahan seketika pecah. Air matanya mengalir deras hingga membasahi baju daster Laisa.


Setelah agak mereda, Nayla mulai berbicara tanpa melepaskan pelukkan sahabatnya. "Laisa, hatiku sakit."


Laisa mengusap-usap punggung sahabatnya. "Kenapa?" tanya Laisa.


"Vinlo, dia bertunangan dengan seorang wanita. Dia adalah anak dari rekan bisnis. Aku tidak tahu kalau mereka akan bertunangan."


Hati Laisa bergemuruh mendengar perkataan sahabatnya. Dia tidak tahu kalau Tuan Muda itu akan berbuat seperti ini.


"Sa-saat aku kembali, hiks! Aku terkejut melihat Vinlo akan menyematkan cincin ditangan wanita itu. Laisa, aku telah jatuh cinta dengan orang yang salah."


"Ibu bilang, aku akan menderita jika jatuh cinta kepada Tuanku sendiri. Ternyata, ini lah yang Ibuku katakan."


"Dia berjanji kepadaku, kalau hanya aku lah yang akan menjadi istrinya, menjadi miliknya. Tapi kenapa, kenapa dia mengingkarinya?"


Laisa mengusap wajah Nayla yang kini mau melepaskan pelukkan mereka. "Dengar Nayla, kita tidak tahu apa yang terjadi. Untuk sekarang, Tinggalah di sini bersamaku. Tenangkan hatimu dan beri kan luang yang cukup agar kamu bisa memahami segalanya."

__ADS_1


"Aku yakin, Akan ada yang terbaik di akhir." Laisa kembali memeluk Nayla. "Tenang saja Nayla, jika dia benar-benar mencintaimu. Dia akan mencarimu, hingga kepenjuru dunia sekali pun." benak Laisa.


__ADS_2