Pembantu Pribadi Tuan Muda

Pembantu Pribadi Tuan Muda
Bab 40 : Mengenakan dasi


__ADS_3

Hari demi hari, berlalu dengan kedekatan yang semakin menjadi. Nayla maupun Vinlo, bagaikan kekasih yang berstatus suami istri.


Kebiasaan yang sering terjadi, yaitu sarapan bersama dengan Vinlo yang kini menemani Nayla.


"Akan lebih seru jika membuat sarapan bersama." ujar Vinlo saat itu.


Maka, pagi ini Nayla tidak terkejut dengan kedatangan sang kekasih. Dia merasa pelukkan Vinlo dari belakang. "Pagi cantik," sapa Vinlo dengan menyandarkan dagunya di bahu Nayla.


Mendapat pelukkan dan sapaan itu, Nayla tersenyum sambil mengaduk-aduk sarapan pagi ini. Dia membuat bubur ayam dengan teh sebagai penemannya.


"Pagi," balas Nayla. Vinlo tersenyum dan semakin mengeratkan pelukkan mereka. Hanya pelukkan dan kedekatan yang masih tertahan. Jika bisa, Vinlo ingin memiliki Nayla seutuhnya. Namun, hubungan mereka masih baru, ditambah Nayla tampaknya ragu-ragu dengan hubungan ini.


Pernah disuatu hari, Nayla menjadi seperti awal mula mereka bertemu. Panggilan Tuan tidak hilang dari mulut kekasihnya.


"Tuan, mari sarapan." kata Nayla saat hubungan mereka masih terlalu baru. Sekarang, Nayla tidak lagi memanggilnya Tuan tapi kekasihnya itu selalu mengingat posisinya.


Bubur ayam terhidang di atas meja. Vinlo engan melepaskan pelukkannya, dia ikut kemana Nayla melangkah untuk menghidangkan sarapan pagi ini.


"Vin, duduklah." Nayla menghentikan Vinlo yang masih menempel padanya. Dia jadi sulit bergerak jika ada seseorang yang seperti ini.


Bukannya menurut, Vinlo semakin menempel engan untuk pergi. Dengan hempusan napas Nayla berhenti melangkah dan segera melepaskan pelukkan itu. Dia menatap Vinlo yang tersenyum padanya.


"Sudah mandi?" tanya Nayla.


Vinlo mengangguk dan ingin kembali memeluk Nayla. Entah kenapa, memeluk Nayla menjadi kesukaannya.


Nayla menahan Vinlo dan berucap, "Bersiaplah. Hari ini bukankah kamu ada rapat?" Nayla tahu jadwal Vinlo dari Raga. Seketaris pribadi kekasihnya itu memberikan seluruh jadwal Vinlo, agar Nayla bisa mendisplinkan sang kekasih.


Semenjak mereka berpacaran, Vinlo tampak tidak selera untuk bekerja, hanya menempel dan terus di dekatnya. Nayla juga tidak mau Vinlo menjadi malas dan lupa tanggung jawabnya. Jadi, sebagai kekasih sekaligus pembantu pribadi, Nayla harus merawat dan menjaganya.


Vinlo tidak ingin bersiap, dia begitu engan berpisah dari Nayla. Satu menit pun terasa sulit untuk dirinya. Tapi, jika dia tidak menghadiri rapat itu. Proyek ayahnya akan lepas kendali hingga dia juga terkena masalah.


"Baiklah, aku akan bersiap." Vinlo mengusap kepala Nayla dan bergegas pergi untuk bersiap.

__ADS_1


Ada hal-hal yang tidak di lakukan Vinlo kepada Nayla. Biasanya, sebagai kekasih akan ada sesuatu yang membuat hubungan mereka semakin dekat. Contohnya, berciuman. Nayla akan menduga kalau Vinlo melakukan itu padanya.


Namun, itu tidak terjadi sama sekali. Hanya usapan dan sesekali colekkan di pipi dan hidungnya.


"Kenapa kamu tidak menciumku?" tanya Nayla disuatu hari ketika tidak tahan lagi memendam rasa penasarannya. Dia ingat sepasang kekasih yang tidak lain adalah Laisa, sahabatnya sendiri.


Kekasih Laisa yang bernama Zivarka, begitu lengket dan berani mencium sang kekasih di depan banyak orang.


Namun, Nayla hanya mendengar hal itu dari sahabatnya, bukan melihat secara langsung. Jadi, hanya rasa penasaran yang menghantui dirinya. Meski sadar kalau dirinya tidak pernah berani melakukan hal itu.


Jawaban Vinlo saat itu simpel dan berhasil membuat Nayla memerah. Hingga Nayla tidak akan bisa melupakannya.


"Aku bisa menciummu jika aku sudah memiliki mu. Saat ini, baru hatimu yang ku raih. Setelah kamu siap menikah denganku, bukan hanya hati , aku juga akan mendapatkan dirimu hingga jiwamu, Nayla."


Itulah yang Vinlo katakan kepadanya, siapa yang tidak memerah dan hati yang semakin jatuh mencintai.


Nayla tersenyum mengingat semua itu, dia segera membereskan beberapa pekerjaan lain sebelum Vinlo tiba.


Vinlo turun dengan tergegas-gesa sambil membawa dasi yang belum dikenakan. dia mendekati Nayla yang baru saja keluar dari ruang pencucian.


Nayla menatap Vinlo dengan pandangan terkejut. Dia segera mendekat dan melihat Vinlo menyerahkan dasi padanya.


"Pakaikan," ucap Vinlo dengan tersenyum.


Gelengan kepala Nayla berikan. Dia segera mengenakan dasi itu kepada Vinlo.


Mengerti kalau dirinya tinggi, Vinlo segera mensejajarkan tinggi badannya agar Nayla bisa leluasa mengenakan dasi.


"Aku rasa, kamu tidak lagi bisa mengenakan dasi." celetuk Nayla.


Vinlo lagi-lagi tersenyum dan berucap, "Kalau ada calon istri, kenapa harus repot-repot mengenakan dasi. Cukup Nayla ku saja yang mengenakannya."


Nayla memerah seketika, dasi yang hampir selesai itu seketika terhenti dengan Nayla yang lupa kelanjutannya.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Vinlo. Dia memperhatikan tangan Nayla yang bingung menentukan kemanakah selanjutnya dia mengikat dasi itu.


Asik dengan kegiatan mereka, suara pintu terbuka terdengar ditelinga. Keduanya segera menoleh dan mendapati dua orang yang terbengong ditempat.


Nayla ikut mematung,dia tidak menduga kalau seseorang yang tiba itu adalah Kakak Kia, Kepala pelayan keluarga Margatha.


"Kak Kia?" gumam Nayla. Tangannya masih mengantung manja pada dasi Vinlo.


Sedangkan Vinlo merangkul pingang Nayla dan menatap dua orang yang salah satunya adalah seketaris pribadi, Raga.


"Masuklah! Lain kali, usahakan untuk menekan bel terlebih dahulu, Bi Kia." tegur Vinlo.


Kia yang baru tiba itu seketika sadar mendengar tegurannya. Hari ini, dia di perintahkan oleh Nyonya besar untuk melihat perkembangan Nayla. Namun, di depan matanya ini, sudah tampak perkembangan yang diluar ekspetasinya.


"Mereka, lebih dekat? Tidak, ini bisa dibilang sebagai kedekatan yang sudah ada statusnya. Apa mereka, pacaran?" benak Kia dengan bingung. Dia masuk ke dalam dan segera merubah ekspresinya.


"Waah, Nayla selesaikan pekerjaanmu. Jangan bengong, tuan muda memang sangat manja. Selesaikan itu dan mari kita diskusi tentang pekerjaanmu." ucapnya santai.


Nayla tercenga mendengar hal itu. Tidak hanya Kia, Raga yang kini tersadar ikut menggeleng melihat kemesraan di depan mata. "Jadi ini alasan pengen cepat pulang ya, dasar tuan muda bucin!" gerutuknya.


"Apa yang kamu lakukan di sana? Masuklah Raga. Apa aku perlu menyajikan karpet merah untuk menyambutmu?" tanya Vinlo dengan menatap tajam kepada Raga.


Melihat tatapan itu, Raga segera masuk dan menuju ke ruang tengah. "Tuan, rapat akan di mulai jam sembilan. Aku sudah mengulur waktunya, jadi harap untuk tidak menunda lagi." ucap Raga.


Vinlo mendecih pelan dan menatap ke arah lain. Dia tidak merespon apa yang Raga katakan.


Nayla menjadi bingung dengan situasi sekarang. Dia ingin menjauhkan diri, tapi Vinlo dengan cepat menahan dirinya. "Lanjutkan Nay," ujarnya.


Tangan yang terhenti itu seketika bekerja kembali. Nayla mengulang ikatan dasi untuk lebih rapi lagi. Setelah selesai, Dia menjauhkan diri dengan bergumam, "Ada Raga dan Kak Kia, jangan melakukan sesuatu yang membuat kita dalam masalah."


Vinlo tersenyum dan mengangguk. Dia segera menuju meja makan untuk sarapan. Kali ini, sarapan tidak di temani Nayla. Jadi, dia bisa dengan cepat menghabiskannya.


Setelah selesai, Vinlo mendekati Raga dan berkata, "Ayo, kamu bilang tidak ingin ditunda lagi kan? Ayo!" ajaknya.

__ADS_1


Raga segera bangun dan melangkah pergi bersama Vinlo. Nayla yang melihat dari kejauhan bernapas lega. Dia pun berbalik badan untuk kembali bekerja.


Namun, Kia menghalangi Nayla dengan berdiri tepat di depannya. "Nay, tampaknya dirimu sudah berbeda dari saat kita bertemu."


__ADS_2