Pembantu Pribadi Tuan Muda

Pembantu Pribadi Tuan Muda
Bab 52 : Penjelasan


__ADS_3

"Tuan, ini sarapan Anda." ucap Raga dengan membawa nampan yang baru diberikan oleh Laisa.


Sudah lebih dari satu minggu berlalu. Tidak ada harapan yang bisa membuat Raga tenang. Apa lagi, setelah Laisa berbicara dengan bosnya ini.


"Aku akan sarapan Raga, letakkan saja di sana." sahut Vinlo sembari menatap indahnya matahari pagi yang menyinari langit.


Dia tidak bisa melupakan perkataan Laisa saat mengantar sarapannya.


"Maaf, Nayla sepertinya perlu waktu untuk bertemu denganmu. Aku tidak bisa membantu banyak dalam hal ini." kata Laisa.


Vinlo menyandarkan kepalanya dengan perasaan yang benar-benar tidak tenang. Dia takut kalau Nayla meninggalkannya.


"Kemarikan sarapannya," ucap Vinlo kembali.


Raga yang mendengar hal itu seketika gembira. Dia segera membawa nampan berisi sarapan kepada Tuannya.


"Ini Tuan." Raga menaruh sarapan di meja kecil yang tersedia khusus untuk pasien.


Vinlo menatap sarapannya dengan wajah tenang, dia menyuap sup hangat yang langsung membuatnya tenang meski sedikit.


"Raga, apa menurutmu Nayla tidak akan memaafkanku?" celetuknya.


Raga segera menjawab dengan baik. "Nona Nayla pasti akan memaafkan Anda. Dia baik Tuan, Andalah yang mengenalnya."


Vinlo mengangguk, dia kembali menyeduhkan sup hangat itu untuk mengisi perutnya.


Diakui oleh Vinlo, dia lemah tidak memiliki daya tahan tubuh yang baik. Sekali jatuh sakit, dia akan berakhir di sini.


Untuk sembuh kembali, harus ada dukungan kuat dari orang sekitarnya. Sayang, tidak ada dukungan yang Vinlo dapat karena orang tuanya saat ini sedang bertengkar.


Vinlo tahu itu semua karena setiap menjengkuknya, baik Ayah maupun Istri Ayahnya itu. Mereka akan berdebat di depan pintu dengan memojokkan yang bersalah.


Tidak ada niat untuk menghentikan pertengkaran itu, Vinlo sendiri saja tidak ada tenaga untuk bergerak. Jadi, bagaimana dia bisa menghentikan pertengkaran orang tuanya.


"Tuan, apa Anda perlu sesuatu?" tanya Raga.


Vinlo menggeleng, dia tidak perlu apa pun. Saat ini, dia hanya menunggu kedatangan Nayla dan menjelaskan segalanya.


Saat berpikir seperti itu, seseorang mengetuk pintu yang membuat Vinlo menatap ke arah tersebut. Raga segera membukanya untuk melihat siapa yang telah menganggu mereka.


"Selamat pagi, Raga."


Raga terteguh hingga mengambil langkah memundur melihat seorang wanita datang dengan wajah yang tenang, Dia adalah Olati.

__ADS_1


"Wanita ini, bukankah dia hampir membunuh Tuan." benak Raga.


"Siapa?" tanya Vinlo berharap Nayla yang ada di balik pintu.


"Tuan, Nona Olati ingin bertemu Anda." ucap Raga.


Vinlo menjadi datar mendengar perkataan itu. Dia segera menghela napas dengan panjang. "Biarkan dia masuk," kata Vinlo.


Raga mengangguk dan membuka lebar pintu untuk wanita yang tersenyum padanya. "Terima kasih, Raga." ucap Olati.


"Bagaimana kabarmu, Kak Vin?" tanya Olati dengan duduk di kursi yang tidak jauh dari ranjang pasien.


Vinlo menatap Olati dengan wajah yang begitu tidak baik-baik saja. "Kamu bisa mengetahuinya dengan melihat wajahku." jawab Vinlo.


Olati mengangguk dan mendengus secara bersamaan. "Jawaban kakak cuek sekali. Sudahlah, aku kesini untuk menyampaikan salam perpisahan dan ... aku minta maaf atas kejadian saat itu,"


"Aku tidak tahu kalau kakak sudah memiliki orang yang dicintai. Aku pikir, kakak hanya bercanda saat itu."


"Siapa yang menduga, kalau kakak telah menyukai seseorang. Dia beruntung mendapatkan seorang pria seperti kakak. Yang pasti, bukan tampan atau kaya, tapi hati kakak yang tulus mencintainya."


Olati segera bangun dari kursinya lalu berdiri menatap ke arah jendela. "Cuaca hari ini tampak mendung ya, apa akan terjadi sesuatu? Sudahlah ... kemarin Tante datang kepadaku,"


"Dia bilang kalau aku harus menikahimu. Lalu aku menolak untuk menikah, aku juga bercanda soal pertunangan itu. Jadi, aku meminta maaf soal semua yang terjadi."


"Dan, aku ingin menyampaikan kalau aku akan ke luar negeri untuk menikmati masa sendiriku. Maafkan aku atas semua yang terjadi. Lalu, maafkan juga Tante yang mendesakmu,"


"Niatnya baik, Dia hanya ingin kau menikah dengan wanita yang sempurna. Aku juga sudah menjelaskan kepada Tante kalau kau pasti ada alasan mencintai wanita itu,"


"Hah, seandainya aku bisa menemui wanita yang Kakak cintai. Aku pasti akan mengucapkan selamat padanya." ucap Olati.


"Berhentilah, jika ingin pergi, pergilah!" ucap Vinlo dengan nada yang cuek.


Olati segera memayunkan bibirnya dan memilih untuk pergi dengan tenang. Dia datang ke sini hanya untuk perpisahan bukan untuk sesuatu yang lain.


Saat Olati membuka pintu, langkahnya terhenti karena melihat seseorang.


Vinlo mengerutkan alis melihat Olati yang menghalangi pintunya. "Pergilah!" ucapnya lagi.


Olati tersenyum dan menangguk pada pria yang menyuruhnya pergi. "Silahkan masuk," ucap Olati pada wanita di balik pintu.


Raga maupun Vinlo menjadi bingung mendengar perkataan Olati.


Setelah Olati pergi, pintu ruangan masih terbuka dengan memperlihatkan seseorang masuk ke dalam ruangan.

__ADS_1


Wajah Vinlo menjadi lega melihat orang yang masuk di ruangannya. "Nayla?" gumam Vinlo.


Raga mengerti situasi yang akan terjadi, dia segera melangkah pergi meninggalkan keduanya.


Mata Vinlo tidak berbohong, Dia begitu berbinar melihat Nayla datang.


"Ceritakan, apa penjelasanmu seperti perkataan Laisa." ucap Nayla.


Kesenangan Vinlo menghilang ketika mendengar ucapan Nayla yang begitu dingin. Seperti orang asing yang baru bertemu.


"Aku merasa kita seperti orang asing, Nay. Kamu berbicara dengan nada cuek seperti kesal kepadaku. Maafkan aku," ucap Vinlo.


Kepalanya menunduk dengan rasa bersalah yang muncul di benaknya. Rasa senang akan kehadiran Nayla menghilang sirna di hati.


Tidak mendengar balasan Nayla, Vinlo menangis dalam benaknya. Dia benar-benar menyakiti Nayla hingga wanita itu tidak merespon apa yang dia katakan.


"Baiklah, terima kasih telah mau datang ke sini. Aku minta maaf kepadamu dengan apa yang terjadi."


"Saat itu, aku terpaksa menerima pertunangan karena Istri Ayahku mengancamku. Jika aku tidak bertunangan dengan Olati, maka kamu dan Ibumu akan dicelakai olehnya."


"Karena hal itu lah, Aku akhirnya menyetujui semua itu. Maaf, aku memang bodoh hingga pikiranku tidak berjalan baik. Aku tahu kamu akan sakit hati ketika tahu pertunangan itu. Niatku ingin mengatakan semuanya saat kamu kembali."


"Tapi, kamu datang dan pergi sebelum aku bisa menjelaskan segalanya. Aku ingin menemuimu tapi Zivarka dan Laisa benar-benar menyembunyikan jejakmu."


"Nayla, maafkan diriku." ucap Vinlo dengan penjelasan yang begitu panjang lebar. Dia menundukkan kepalanya tidak ingin menatap Nayla.


"Jadi, seperti ini saja ... tidak ada penjelasan lainnya?" tanya Nayla.


Mendengar hal itu, Vinlo mengangkat pandangannya untuk melihat wajah sang kekasih yang memetakkan air mata.


Melihat hal itu, Vinlo ingin bangun untuk memeluk Nayla. Namun, infus yang masih terhubung menghalanginya.


"Hiks, aku mengerti. Ibumu benar, lebih baik kamu menikahi wanita yang berpendidikkan tinggi. Memiliki keluarga yang sederajat. Apa daya diriku yang hanya merupakan gadis desa." ucap Nayla dengan wajah sedihnya.


"Tidak Nay, yang mencintaimu aku! Bukan Istri Ayahku. Akulah yang akan menentukan siapa istriku, bukan Dia!" pekik Vinlo.


Nayla tampak meneguhkan hatinya. Vinlo yang melihat tangisan wanita yang dia cintai merasakan rasa sakit di hati.


"Sudahlah, aku sudah mendengar semuanya. Maaf, aku tidak bisa berkata apa pun." kata Nayla sembari bangun dari tempat duduknya.


Vinlo terteguh melihat Nayla yang ingin pergi. "Tunggu Nay! Aku mohon jangan pergi. Aku mencintaimu, aku masih berharap kita bisa melanjutkan hubungan ini. Aku masih mengharapkannya, ku mohon!" seru Vinlo dengan menangkupkan tangannya.


Nayla yang ada di ambang pintu segera berbalik dengan langkah lebar mendekat. Vinlo merasa tubuhnya di dekap tiba-tiba. Air matanya mengalir dengan memeluk tubuh Nayla.

__ADS_1


"Ku mohon Nay, jangan pergi! Aku ingin bersamamu, aku tidak ingin kehilangan orang yang ku cintai. Ku mohon!" pekik Vinlo sembari memperdalam pelukannya. Dia benar-benar takut kehilangan Nayla.


__ADS_2