
Diruang tengah, suasana menjadi hening seketika. Raga yang banyak berbicara, memilih untuk menutup mulut.
Nayla yang berdiri di samping Vinlo juga tidak bisa berkata apa-apa. Dia memperlukan penjelasan dari semua yang didengar. Nayla akui, dia tidak seharusnya menguping saat itu.
"Suasana menjadi sepi seperti tidak memiliki kehidupan. Nayla, apa kamu punya manisan?" tanya Vinlo dengan menatap kearah Nayla.
Nayla terteguh ketika mendapatkan tatapan Tuan Mudanya. "Em, a-aku akan mengeceknya."
Dengan cepat, Nayla melangkah menuju ke dapur. Dia membuka lemari penyimpanan dan melihat brownies yang dia buat saat ada waktu sengang.
"Aku akan membawa ini, hm ... bersama teh hangat juga." benak Nayla.
Kembali keruang tengah, Nayla membawa nampan berisi brownies dengan teh hangat. Hidangan itu tersaji di depan mata Vinlo dan Raga.
"Ini tuan muda." ucap Nayla, Dia ingin meranjak pergi karena tidak mau menganggu urusan orang lain.
"Tunggu Nay," Vinlo menghentikan kepergian Nayla. "Duduklah di sini, ada yang ingin ku katakan kepadamu." lanjutnya.
Mendengar perkataan Vinlo, Nayla melangkah di dekat sofa. Dia berdiri tanpa berniat untuk duduk disana.
"Aku sudah mengatakannya kepadamu, Nayla. Duduklah." Vinlo mengarahkan tangan pada sofa yang tepat di depannya. Raga yang duduk di sofa lain hanya mengeleng kecil.
"Aku penasaran, siapa yang duluan jatuh cinta diantara mereka berdua." benak Raga.
Nayla menggelengkan kepalanya, "Tidak tuan muda, Nayla akan berdi-,"
"Kamu ingin duduk di sampingku Nayla?" potong Vinlo dengan tangan yang menepuk pelan di sampingnya.
Nayla segera duduk di sofa yang Vinlo tunjukkan diawal. Dia menunduk dengan wajah yang mulai memerah.
"Luar biasa, baru pertama kali aku melihat, tuan muda mengoda wanita." benak Raga sambil berpura-pura tidak tahu apa pun.
Vinlo menatap Nayla yang tidak berani mengangkat wajahnya. "Oke, aku akan menjelaskan apa yang terjadi diruang kerja. Kamu mendengar apa saja Nayla?"
"Na-Nayla mendengar, tuan muda tidak boleh menunda kerjasama dengan seseorang. Tuan muda, apa itu perjalanan bisnis anda?" tanya Nayla. Kali ini, dia menatap Vinlo dengan wajah serius.
__ADS_1
Saat dia diseleksi, Nyonya besar memberinya pertanyaan tentang perjalanan bisnis hingga keluar kota. Nayla sangat berhati-hati tentang ini. Dia akan sendirian disana. Lalu,tidak ada Bi Sih, Kakak Kia dan sahabatnya Laisa.
Nayla takut, jika terjadi sesuatu diluar sana. Mengingat, hanya dia yang menjadi pembantu pribadi dari Tuan Muda keluarga Margatha.
"Benar, aku akan melakukan perjalanan bisnis. Sebenarnya, beberapa hari yang lalu, aku harus kesana. Namun," Vinlo menatap wajah wanita di depannya. "Ada hal yang membuatku menunda semua itu ... seperti apa yang kamu katakan, aku tidak boleh menunda lagi. Besok, aku akan berangkat keluar kota,"
"Tuan, apa Nayla harus ikut kesana?" Nayla memotong perkataan Vinlo. Rasa khawatir sedang merasuki hatinya. Dia merasa belum siap untuk bekerja hingga keluar kota ini.
Vinlo dan Raga, sama-sama tercenga mendengar perkataan Nayla.
"Kenapa? Kamu ingin ikut juga, Nayla?" tanya Vinlo, salah satu alisnya terangkat dengan senyum tipisnya.
Nayla menunduk seketika, tangannya terkepal erat dengan degupan jantung yang menjadi-jadi. "Na-nayla berpikir,tuan muda akan-," Nayla menghentikan ucapannya.
"Apa yang kamu lakukan Nayla, kenapa kamu malah berharap untuk ikut kesana. Tuan muda tidak bilang akan membawamu." benak Nayla, dia baru menyadari apa yang membuatnya gelisah. Dengan rasa malu yang memuncak, Nayla semakin memundukkan kepala.
'Memalukan, kemana aku harus menyembunyikan rasa malu ini?'pikir Nayla.
Menyadari perubahan Nayla, Vinlo mengambil cangkir yang masih terisi. Aroma teh yang menyegarkan, tercium dihidungnya. "Tingkahnya, semakin mengemaskan," benak Vinlo.
Lirikkan mata Vinlo mengarah kepada Raga. Raga yang sedari tadi diam, mengangguk kecil setelah menyadari arti lirikkan itu.
"Prff, uhuk!" Vinlo menutup mulutnya dengan cepat. Dia hampir saja menyemburkan teh yang diseduh.
Wajah bingung Raga menatap Vinlo. Dia bertanya dengan kepala miring kekanan. Tanpa perlu mengeluarkan kata-kata, Vinlo membalas hal yang sama.
"Hah? Dia ingin mempersingkat waktunya? Wowowo, tidak mungkin 1 hari akan selesai." benak Raga. Karena sudah mendapatkan gelengan dari Tuan Mudanya, Raga kembali menjelaskan.
"Hm, itu hanya perkiraan saja. Jika bisa, hanya akan memakan waktu 1 hingga 3 hari."
Nayla mengangguk dengan pelan, dia tahu bahwa bekerjasama dengan sebuah perusahaan lain, perlu memakan waktu yang lumayan lama. "Kalau begitu, Nayla akan menunggu tuan muda kembali dari perjalanan bisnis." ucap Nayla.
Bagai siraman pagi yang menyegarkan bunga. Vinlo tersenyum dengan perasaan bahagia. "Tentu, kamu boleh menungguku Nayla. Hanya, untuk besok, kamu bisa libur dari pekerjaanmu."
"Libur?"
__ADS_1
"Hm, Ayah ku sudah mengatakan kepadaku, bahwa kamu akan diliburkan besok. Kamu bisa pulang kampung bersama Bi Sih. Setelah itu, Bi Sih akan membawamu kembali." jelas Vinlo.
Nayla merasa senang sekaligus sedih. Sedih karena tidak melihat pria di depannya, senang karena bisa bertemu dengan ibunya.
"Lalu, ini..."
Nayla menatap amplop coklat yang tampak berisi. Dia bergantian melirik amplop dan Tuan Muda didepannya.
"Ini, Apa tuan muda?" tanya Nayla.
"Gaji pertamamu. Maaf, aku terlambat memberikannya." Jawab Vinlo dengan mengarahkan amplop coklat hingga tepat didepan Nayla.
Melihat hal itu, Nayla merasa ragu untuk mengambilnya.
"Tenang saja, Aku sudah meminta izin kepada ayahku untuk mengatur gajimu. Tidak perlu khawatir tentang istri,ayahku itu." lanjut Vinlo.
Penuturan kata Vinlo membuat Nayla ingat tentang ucapan Kakak Kia. Saat itu, dia mendengar kalau Tuan Mudanya ini tidak menganggap Nyonya besar sebagai Ibu tirinya. "Apa, tuan muda begitu membenci, ibu tirinya? Bukankah, dia menghargai semua perempuan?" benak Nayla.
"Besok jam 7 pagi, aku akan kesana. Bi Sih juga datang untuk menjemputmu, berkemaslah." Vinlo bangun dari tempat duduknya. Dia melangkah pergi menuju kearah Nayla.
Usapan lembut dikepala membuat Nayla terdiam seketika. Dia tidak berucap apa-apa saat Vinlo mengusap kepalanya.
"Istirahatlah, kamu tidak boleh sakit saat di kampungmu." ucap Vinlo yang kemudian berlalu bersama Raga.
Tangan Nayla menyentuh kepalanya. Dia masih merasakan kehangatan dari usapan lembut Tuan Muda. "Tuan muda, apa aku akan mendapatkan masalah. Aku, telah jatuh cinta kepadamu." benaknya.
Nayla menggeleng seketika, dia merasa tidak seharusnya berbenak seperti itu. Nayla segera bangun dan membawa nampan lalu amplop coklat yang diberi kepadanya.
Setelah semua pekerjaan selesai. Nayla memilih untuk duduk ditepi kasur dengan menatap amplop ditangannya. Seperti apa yang Nayla tebak, amplop itu begitu penuh.
"Apakah ada yang salah dengan isinya didalam? Kenapa amplop ini begitu sesak. Jika aku tidak sengaja menepuknya, pasti semua isinya akan keluar." gumam Nayla.
Tidak ingin berpikir yang bukan-bukan, Nayla memutuskan untuk menyimpan amplop itu. Dia segera mematikan lampu untuk beristirahat.
Suara ketukan pintu, menghentikan keinginan Nayla. Dia beranjak bangun dan mendekati pintu untuk mengetahui siapa yang tengah mencarinya
__ADS_1
.
"I-ya?"