
Langkah kaki dengan cepat berlalu, melewati beberapa ruangan sebelum tiba di balkon rumah sakit.
Laisa menatap dua orang dewasa yang masih berdebat dari kedatangan putranya ke sini.
"Bisakah kalian berhenti untuk bertengkar?" Laisa menatap Tuan Vin dan Nyonya Mayra.
Kedua orang itu terteguh melihat kedatangannya. "Siapa kamu? Jangan menganggu pembicaraan orang lain." ucap Nyonya Mayra.
Laisa menundukkan kepala dengan rasa bersalah yang dia tunjukkan. "Maaf telah lancang menghentikan pembicaraan kalian. Namun, kedatanganku ke sini untuk menyampaikan bahwa aku adalah teman Nayla, pembantu pribadi Tuan Muda Vinlo."
Tuan Vin segera menatap Laisa dan berdiri tepat di depannya. "Kalau begitu, apa yang ingin kamu sampaikan?"
"Begini tuan, saat pertunangan waktu itu. Nayla menceritakan segalanya padaku. Aku mengenal Nayla, Dia tidak akan melanggar janjinya jika tidak ada yang memberinya harapan."
"Namun, Tuan Muda Vinlo memberinya cinta dan perhatian hingga janji yang Dia jaga harus di ingkari."
"Akan tetapi, saat tahu pertunangan itu. Nayla bagaikan wanita yang tercampakkan karena apa yang di janjikan padanya menghilang begitu saja."
Laisa menatap dua orang dewasa yang kini terdiam mendengarkan perbicaraannya. Dia tersenyum dan kembali berucap.
"Aku lah yang menyembunyikan keberadaan Nayla dari jangkauan Tuan Muda Vinlo. Dengan harapan kalau Tuan Muda akan datang mencarinya dan membuktikan seberapa besar cinta yang dia berikan."
"Namun, aku malah menemukan Tuan Muda di rawat dan dalam keadaan yang tidak baik-baik saja. Dan di sinilah aku sekarang, membawa Nayla untuk bertemu dengan Tuan Muda."
"Lihatlah bagaimana kedekatan mereka. Jika memang kalian tidak menerima hubungan ini, aku harap kalian memutuskan semuanya dengan bijak, bukan dengan menyakiti hati orang lain."
"Mari, ikutlah denganku." ucap Laisa sembari menunjukkan jalan untuk kedua orang dewasa itu.
Mereka melangkah bersama menuju ruang rawat Vinlo. Setibanya di sana, semua mata terpaku pada perlakukan yang tidak di bayangkan oleh benak mereka sendiri.
"Aku sudah mengatakan kepada kalian. Kalau Nayla mencintai seseorang tulus dari hatinya. Dia juga mengingkari janji kepada Ibunya sendiri." ucap Laisa dengan menatap Nayla yang ada di dalam ruang rawat Vinlo.
Laisa ingin kembali melanjutkan ucapannya. Tapi, pria yang merupakan Kepala Keluarga Margatha ini segera masuk ke dalam ruangan untuk menemui secara langsung apa yang ada di sana.
__ADS_1
Semua terkejut termasuk Laisa yang ingin menghentikan Tuan Vin. Dia belum mendengar keputusan Nayla, apakah bertahan atau malah memilih berpisah dari Vinlo.
Namun, apa yang Laisa lihat menunjukkan hasil yang sebenarnya. Nayla maupun Vinlo, mereka sama-sama tidak ingin berpisah.
"Nayla, benar bukan?" tanya Tuan Vin.
Nayla mengangguk mendengar namanya di seru. "Benar Tuan, namaku Nayla Putri." sahutnya.
"Menikahkah dengan Vinlo, jadilah istrinya yang selalu mencintai dan menyayanginya." ucap Tuan Vin.
Tampak di wajah Nayla, rasa terkejut yang membuat keseimbangannya menghilang. Untungnya Nayla berada di dekat Vinlo, hingga dengan mudah di jaga oleh Tuan Muda itu.
Melihat tingkah Nayla, Laisa tersenyum kecil. "Hei, mertuanya langsung to the point." benaknya.
"Maafkan apa yang istriku lakukan kepadamu. Dia ingin Vinlo menyayanginya seperti ibu kandungnya sendiri. Namun,caranya salah hingga menyakiti mu dan orang tuamu. Maafkan apa yang dia lakukan." ucap Tuan Vin.
Nayla terteguh melihat Tuan Vin membungkuk hingga Dia segera menuntun Tuan besar itu untuk mengangkat kepalanya.
"Tidak tuan, jangan seperti ini. Nayla lah yang harusnya minta maaf karena melanggar janji Nayla sendiri." ucap Nayla yang kemudian membungkukkan tubuhnya.
"Maaf, aku minta maaf atas apa yang ku lakukan kepadamu. Aku memang ingin memisahkanmu dari Vinlo. Tapi yang ku lakukan tidaklah benar, Nayla maafkan aku." ucap Nyonya Mayra.
Nayla segera membangunkan Nyonya Mayra. "Tidak Nyonya, Nayla yang harusnya minta maaf. Nayla melupakan janji yang Nayla berikan kepada Nyonya."
Nyonya Mayra menggeleng. Dia segera memeluk Nayla dan kemudian melepaskannya. "Menikahlah dengan Vinlo, Nayla. Jika bersamamu, Dia akan bahagia hingga tidak ada hari yang membuatnya bersedih."
Nayla terteguh mendengar semua itu. Dia menjadi bingung untuk membalas perkataan mereka. Hingga tangannya di genggam oleh Vinlo.
"Jika Tante menyetujui hubungan ini. Aku dengan suka rela memanggilmu Ibuku. Karena kau berniat baik padaku." ucap Vinlo.
Suasana seketika hening setelah mendengar perkataan Vinlo. Hingga Laisa tertawa puas yang membuat semua perhatian tertuju padanya.
"Bwahahaha, astaga aku sampai menangis melihat keluarga ini. Aduh, air mataku." ucap Laisa sembari mengusap pipinya.
__ADS_1
"Jika sudah mendapatkan bendera hijau apa lagi yang di tunggu. Menikahlah Nayla, bersama Vinlo dan hidup bersamanya." ucap Laisa.
Semua tersenyum mendengar apa yang dikatakan Laisa.
"Hm, maaf Nayla. Kamu mendapatkan gelang ini dari siapa?" tanya Tuan Vin mendapati pergelangan tangan Nayla.
Nayla segera melihat gelang berpermata ungu yang diberikan oleh Vinlo. "Ini,"
"Itu adalah gelang yang ku berikan untuk melamarnya. Tapi, Nayla tidak tahu kalau aku melamarnya saat itu." imbuh Vinlo.
Lagi-lagi Laisa tertawa mendengar pembicaraan ini. Dia benar-benar tidak tahu kalau seperti inikah takdir cinta Nayla.
"Syukurlah, setidaknya mereka bersama untuk selamanya." benak Laisa.
...-*-...
Nayla berpikir, dia akan mengakhiri semua hubungannya di sana. Namun, saat memeluk pria yang dia cintai, dia malah tidak berniat untuk meninggalkannya.
Dan, inilah akhir dari kedekatan mereka. Nayla tidak menduga kalau Tuan Besar dan Nyonya Besar menyuruhnya untuk menikahi Vinlo.
Setelah pembicaraan yang membuat Sahabatny menangis denang bahagia. Nayla kini duduk di ranjang pasien sembari mendapatkan pelukkan dari Vinlo.
"Aku merindukan pelukkan ini. Memelukmu dari belakang dan terus menempel padamu." ucap Vinlo.
Nayla tersenyum kecil mendengar hal itu. "Tuan Vin,"
"Hm, panggil aku Vin, Nayla." potong Vinlo.
"Vin, sebenarnya aku ingin mengakhiri hubungan kita. Aku tidak bisa bertahan dengan rasa sakit yang ku rasa. Namun, lagi-lagi aku luluh dengan perlakuanmu Vin-,"
"Itu karena rasa cintaku tulus padamu Nayla. Maaf, seharusnya aku mencarimu dan terus mencarimu. Tapi kondisiku benar-benar buruk." potong Vinlo kembali.
Nayla mengangguk dan segera berbalik badan untuk menatap Vinlo, kekasihnya itu. "Cepatlah sembuh, agar kamu bisa memenuhi janjimu padaku."
__ADS_1
Vinlo mengangguk mendengar perkataan Nayla. Dia mencium punggung tangan kekasihnya itu dengan wajah bahagia.
"Tentu saja, aku akan meminta izin pada ibumu dan segera menjadikanmu istriku. Nayla!" ucap Vinlo.