
“Anda tidak ingin makan siang, Tuan Muda?” tanya Raga sambil membuka kotak makan siangnya.
Melihat kotak makan siang itu, Vinlo mengingat omlet buatan Nayla. Rasanya sangat enak hingga Vinlo menginginkan menu itu ada dimakan siangnya. Sayang, Vinlo tidak ingin merepotkan pembantunya itu.
Melihat begitu banyak pekerjaan di apartmentnya, Vinlo sadar bahwa wanita juga ada waktu istirahat. Jadi, dia tidak ingin meminta sesuatu sebelum Nayla terbiasa dengan semuanya.
“Tidak, aku akan makan siang diluar.” Jawab Vinlo sambil melirik cctv apartmentnya.
Matanya melihat Nayla yang sibuk membersihkan segala didalam ruang tengah, dia juga menyajikan makan siang yang sederhana. Tanpa sadar, Vinlo tersenyum memperhatikan semua itu.
Raga memakan roti yang dibelinya dengan perlahan, matanya melirik kearah Vinlo yang tersenyum melihat sesuatu. “Apa yang anda lihat, Tuan Muda?” tanya Raga kembali dengan mulut yang dipenuhi roti.
Vinlo tidak melirik Raga, dia menjawab dengan santai dengan apa yang Raga tanyakan. “Sedang mengawasi Cctv.”
“Oh, lalu apa yang ada disana?” tanya Vinlo lagi, entah kenapa dia merasa penasaran dengan apa yang dilakukan oleh Bosnya sendiri.
“Menyajikan makan siang.” Jawab Vinlo dengan cepat.
Raga yang memakan roti seketika tersedak mendengar apa yang dikatakan oleh Vinlo. Dia berdiri dan menatap kearah Tuan Mudanya.
“Ada apa denganmu?” tanya Vinlo dengan wajah bingung.
Raga menelan seluruh gumpalan roti yang ada didalam mulut. “Tuan Muda, apa yang anda lakukan disini?” tanya Raga, dia menepis pertanyaan yang diberikan oleh Tuan Mudanya.
“Kenapa? Aku berkerja disini.” Jawab Vinlo dengan wajah bingung. Raga dengan cepat mendekat kearah Tuan Muda, dia melihat layar komputer yang menampilan hidangan lezat.
“Astaga, Apa yang anda lakukan Tuan Muda? anda seharusnya merasa senang dihidangkan makan siang seperti ini. lihat, itu masih hangat. Ah, bagaimana kalau Anda mengizinkanku untuk memakannya. Anda tidak ingin makan siang bukan?” tanya Raga dengan wajah berbinar.
Melihat hal itu, Vinlo bergegas bangun dan mengambil jas yang ada di punggung kursi. “Tidak, itu makan siangku. Kamu makan saja roti yang telah kamu beli....” ucap Vinlo menolak apa yang dikatakan oleh Raga.
Mendengar hal itu, Raga mendekat dengan mengenggam lengan Tuan Muda. “Jangan seperti itu, aku masih lapar Tuan Muda.” Raga menampilkan wajah sedih untuk dikasihani.
Sayangnya, Vinlo tidak menghiraukan raut wajah Raga. “Gunakan gajimu untuk makan siang diluar,” Vinlo bergegas melepaskan tangan Raga. Dia pergi meninggalkan Seketaris pribadinya.
__ADS_1
“Tuan Muda, Tega!” pekik Raga, beberapa saat kemudian, dia mengerutuki dirinya karena sudah mengumpat.
Vinlo tiba di apartment dalam waktu yang cepat. Dia merasa kesal dengan apa yang dikatakan oleh Raga. “Dia ingin makan siang disini dan menghabisi semua itu. enak saja.”
Dengan menekan jempol dipintu, tidak perlu menunggu lama, Pintu apartment dibuka olehnya. Lirikkan mata melihat kearah jam yang menunjukan pukul 2 lewat.
“Jam 3 akan ada rapat, aku harus menghabiskan makan siang ini.” guman Vinlo.
Kakinya melangkah mencari keberadaan Nayla. Di apartment ini, hanya ruang dapur, tamu, dan tempat yang memang sering dilewati, tempat itu mendapatkan cctv. Sedangkan Kamar, Vinlo tidak memasangnya. Kamar memiliki tempat pribadi masing-masing.
Vinlo melangkah mendekati kamar Nayla, dia sudah mencari keberadaan gadis imut itu diseluruh ruangan. Karena tidak menemukannya, Vinlo memilih mengunjungi kamar Nayla.
“Apa aku ketuk saja pintunya?” benak Vinlo melihat pintu kamar Nayla. Dia ingin mengatakan kalau dia pulang untuk makan siang.
“Nayla sehat Ibu, Ibu sendiri bagaimana? Nayla berharap Ibu menjaga kesehatan disana.”
Tangan Vinlo berhenti di udara, dia ingin mengetuk pintu untuk bertemu dengan Nayla. Tetapi, telinganya mendengar apa yang dikatakan oleh Pembantunya itu.
“Dia sedang menelpon Ibunya?” guman Vinlo. Terdengar olehnya suara serak karena menahan tangis. Vinlo seketika menjauh dan bergegas kedapur.
“Aku lupa, dia memiliki orang tua yang dia sayang. Biarkan dia menghabiskan waktu bersama Ibunya.” Vinlo menatap hidangan di meja makan.
Nayla melakukan semua dengan benar, meski Gadis muda itu sedikit melakukan kesalahan. Vinlo tidak bisa memarahinya. Anehnya lagi, Vinlo senang melihat senyum Nayla.
“Mari makan.” Benak Vinlo menyantap hidangan yang tersaji. Dia menghabiskan makannya dengan cepat dan merapikan diri. Setelah semua itu, Vinlo bergegas pergi karena jam sudah begitu lewat dari kesepakatannya.
“Sepertinya, aku bahagia dia ada disini.” Benak Vinlo.
...-*-...
Nayla termenung di lantai atas. Dia mengambil pakaian yang telah kering. Rambut yang terikat rapi tidak terganggu dengan angin yang meniupnya.
Kesadaran Nayla kembali ketika salah satu baju Tuan Muda terbang kearahnya. “Eh?”
__ADS_1
Nayla dengan cepat menyimpan kaos yang berhasil mengingatkannya dengan kejadian kemarin. “huh~ sebaiknya aku meminta maaf kepada Tuan Muda. aku tidak menyambut kedatangannya, dia pasti mencariku.” Benak Nayla.
Hari yang mulai terganti dengan malam. Nayla memperhatikan masakkannya. Kali ini, dia membuat Steak daging.
Seperti apa yang diucapkan olehnya, Nayla harus mempelajari menu-menu selain hidangan desa. Dia tidak ingin kalah dengan orang lain. Resep yang didapat berasal dari sahabatnya sendiri, bahkan Laisa memberikan video, cara pembuatan Steak tersebut.
“Oke sudah.” Nayla menatap puas dengan hidangannya kali ini. dia sudah mencicipi rasa dari steak daging buatannya. “Semoga, Tuan Muda menyukai Steak ini.” Ucap Nayla dengan senyum bahagia.
“Steak?”
Nayla menoleh dan melihat seseorang datang dengan pakaian santai. kejadian ini membuatnya merasa familiar.
“Tu-Tuan muda? Kapan anda tiba?” tanya Nayla. Dia tidak tahu kalau Tuan Muda datang.
“Sudah lama, saat kamu menyiapkan makan malam ini.” Jawab Vinlo dengan menarik kursi, dia duduk dan menatap kearah hidangan didepannya.
“Jadi ini yang kamu maksud dengan steak?” ucap Vinlo. Nayla bergegas mendekat kearahnya.
“Tuan Muda, sebelumnya maafkan Nayla yang tidak menyambut kedatanganmu. Sekarang pun Nayla meminta maaf.”
Nayla melihat raut wajah Tuan Muda yang bingung. Melihat hal itu, Nayla memperjelas perkataannya. “Saat Tuan Muda datang untuk makan siang, Nayla seharusnya ada didekat anda.”
Vinlo tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh Nayla. Senyumnya berhasil membuat Nayla terteguh.
“Bukannya aku sudah mengatakan kepadamu, Nayla. Jangan memaksakan dirimu. Lagi pula, tidak ada yang salah, kamu tidak harus menyambut kedatanganku. Karena, pekerjaanmu lebih penting. Memang, menghargai seseorang sangat penting, Tetapi ... Pikirkan keadaanmu, jika kamu sibuk dan tidak tahu, maka tidak masalah.”
Nayla diam mendengarkan apa yang dikatakan oleh Tuan Mudanya. Tetapi, hanya Nayla yang tahu bahwa saat ini, hatinya tengah berdegup kencang karena Senyum Tuan Mudanya.
“Kecuali, kamu tahu kedatanganku, tapi kamu tidak menghiraukannya. Baru, saat itulah aku akan menegurmu. Jadi, tidak perlu minta maaf.” Akhir penjelasan Vinlo.
Nayla mengangguk, dia seketika menjauhkan tubuhnya. “Selamat makan malam Tuan Muda. apa anda ingin minum Teh?”
Vinlo mengeleng. “Malam ini, tolong buatkan aku jus.” Pintanya.
__ADS_1
Nayla mengangguk dan bergegas pergi. dia merasa senang karena Tuan Muda memberinya tugas lain. entah kenapa, jantung di dadanya berdetak lebih cepat.
“Tenanglah, Nayla.” Benaknya.