Pembantu Pribadi Tuan Muda

Pembantu Pribadi Tuan Muda
Bab 21 : Ayo, kita berbelanja


__ADS_3

Nayla bingung untuk bertindak. Dia berdiri di ambang pintu sambil menunduk. Siapa yang menduga, olahraga Tuan Mudanya tidak biasa.


Bertelanjang dada dengan berhadapan di cermin yang terpajang. Nayla tentu merasa tidak tenang melihat hal itu, dia tidak berani mengangkat pandangannya.


"Ada apa Nayla?" tanya Vinlo.


Nayla tidak mengangkat pandangannya, dia tetap menunduk hingga matanya melihat kaki yang berhenti.


"Nayla?!"


Pandangan Nayla seketika terangkat. Rasa terkejut melihat Tuan Muda berdiri di depannya, membuat Nayla mundur dengan tiba-tiba.


"Hei, tenanglah!" Vinlo menahan kedua tangan Nayla yang masih mengenggam nampan. Gelas berisi susu coklat itu sedikit bergetar.


Nayla segera membenarkan posisinya. Dia melirik kearah lain agar tidak melihat Tuan Muda. Alasan dia melakukan itu semua, karena Vinlo berdiri dengan bertelanjang dada.


Tubuh sempurna dengan otot-otot yang dirawat. Siapa yang tidak tergiur melihat hal seperti itu.


Sayangnya Nayla tidak tergoda akan semua yang ada di depan, Dia lebih memilih untuk menjaga pandangannya.


Melihat Nayla diam dengan menatap kearah lain. Vinlo mengerutkan alisnya, 'Kenapa dengannya?'


"Tu-tuan, i-ini susu-nya." ucap Nayla dengan kelagapan.


Vinlo memandang tubuhnya dengan cepat. Melihat tidak ada sehelai kain yang dipakai, Vinlo akhirnya sadar. Diambil kaos yang dia lempar, lalu mengenakannya dengan cepat.


"Maafkan aku." imbuh Vinlo.


Nayla mengeleng tanpa melihat kearah Tuan Mudanya. Dia tidak ingin pandangannya menjadi kacau.


"Ehem, ka-kamu tidak perlu menatap kearah lain lagi, Nayla." ucap Vinlo.


Suasana seketika berubah, yang penuh akan kecanggungan berakhir dengan kelegaan. Nayla bernafas lega dalam diam melihat Tuan Muda sudah mengenakan bajunya.

__ADS_1


"Masuklah," lanjut Vinlo.


Nayla melangkah masuk kedalam ruangan dengan wajah tenang. Di taruh nampan yang berisi gelas pada meja khusus.


"Susu coklatnya sudah siap tuan muda, Nayla izin keluar ya."


Vinlo mengangguk dengan cepat. Melihat persetujuan Tuan Muda, Nayla bergegas keluar dari ruang olahraga.


Melihat kepergian Nayla, Vinlo menghela nafas dengan tangan menutup di mulutnya. "Vinlo! Vinlo Margatha! Apa yang telah kamu lakukan? Bisa-bisanya kamu senang melihat wajahnya."


Vinlo mengusap wajahnya yang berkeringat. Dia tidak bisa mempercayai hal ini. Melihat tingkah lucu Nayla membuatnya bahagia, rasa gemes dan ingin mencupit hidung wanita itu terlintas di pikirannya.


"Hah, aku harus melupakan hal ini. Tidak! Aku tidak bisa menahan diri jika dia bertingkah seperti itu. kenapa dia menjadi semakin imut." Vinlo menatap kearah nampan yang terdapat segelas susu disana.


Tanpa sadar, garis tipis tertarik di bibirnya. Senyum hadir dengan perasaan bahagia. "Nayla, aku akan gila." gumam Vinlo.


...-*-...


"Tenanglah, tenanglah Nayla. Jangan mengingat hal yang kamu lihat. oke, tenanglah, tenanglah." Nayla kembali menghela nafas panjang.


Perlu waktu tiga puluh menit, barulah Nayla keluar dengan catatan di tangan. Hari ini, dia akan berbelanja bahan di dapur.


"Sayurannya sudah di catat, lalu cemilan juga sudah terlist di sini. Keperluan pencucian sudah, keperluan untuk mengepel hingga lainnya juga sudah." Nayla menatap catatan di tangannya.


Beberapa pekerjaan sudah dia kerjakan, hanya perlu menyetrika pakaian dan menyimpan pakaian yang sudah di rapikan.


"Aku akan meminta izin-," Nayla menghentikan ucapannya ketika melihat Vinlo melangkah menuju ruang tengah.


"Kebetulan sekali," benak Nayla.


Setiba di ruang tengah, Nayla berdiri tidak jauh dari tempat duduk Tuan Mudanya.


"Ada apa Nay?" Vinlo melirik kearah Nayla yang sudah mengikuti langkahnya. Dia menahan diri untuk tetap tenang selama bersama dengan pembantunya itu.

__ADS_1


"Tuan Muda, Nayla meminta izin untuk keluar. Ada bahan dapur dan perlengkapan lain yang harus Nayla beli." ucap Nayla.


Vinlo yang memainkan ponsel pintar segera berhenti. Dia melihat kearah Nayla, "Apa kamu ingin membeli keperluan bulanan?" tanyanya.


Nayla mengangguk, "Benar tuan."


"Kalau begitu, aku akan bersiap dan ikut berbelanja denganmu." Vinlo bangun dengan cepat. Langkah lebar dia ambil menuju ke tangga.


Melihat hal itu, Nayka bergegas mendekat dengan berdiri di depan Tuan Muda. "Tu-tuan muda, Nayla saja yang pergi. Tuan beristirahatlah di rumah."


Dengan wajah bingung, Vinlo menatap kearah Nayla. "Kamu ingin berbelanja sendiri? Oke, pertanyaanku, kamu tahu dimana tempat untuk membeli semua itu?"


Pertanyaan yang muncul membuat Nayla diam seketika. Dia akui, bahwa inilah hari dia keluar untuk pertama kali setelah bekerja di sini.


"Lalu, bagaimana dengan uangnya? Apa kamu tahu bagaimana membayar semua itu?" tanya Vinlo kembali.


Nayla kembali terdiam, dia mengingat perkataan Kia. Uang belanja bulanan akan dikirim secara rutin. Permasalahannya, di mana uang itu terkirim. Nayla tidak tahu satupun tentang hal ini.


"Sudah jangan banyak berpikir. Aku akan bersiap dan menemanimu belanja." usul Vinlo.


Langkah kaki yang lebar itu kembali melangkah. Nayla hanya bisa menatap punggung tegap milik Tuan Mudanya.


"Aku berbelanja dengan tuan muda?" benak Nayla.


Tidak perlu menunggu lama, Nayla melihat Vinlo keluar dengan celana kulot jeans berwarna hitam, lalu kaos berlengan panjang dengan warna senada. Rambut yang acak-acakkan membuat Tuan Muda semakin tampan.


Nayla terteguh hingga tanpa sadar menenguk salivanya. 'Jangan berpikir yang bukan-bukan' pikir Nayla.


"Ayo, kita berbelanja." ajak Vinlo.


Nayla yang tidak ada pilihan lagi bergegas melangkah bersama Tuan Mudanya. Dengan rok hitam dan baju oversize berwarna abu-abu. Nayla tampak minder dengan tampilannya sendiri.


"Ku harap, semua berjalan lancar." benak Nayla.

__ADS_1


__ADS_2