
Nayla menatap kearah Kia yang berdiri di ambang pintu. Seperti ucapan Kia dan Tuan Muda Vinlo, bahwa Kia akan kembali kekediaman utama.
Sebagai kepala pelayan, Kia memang tidak di perbolehkan berlama-lama di luar. Tugasnya lebih banyak dari pada yang Nayla kira. Jadi, Nayla merasa tidak masalah dengan Kakak Kia. Dia hanya merasa sedih tidak ada yang menemaninya.
“Kia pamit tuan muda ... Nayla, Aku akan mengunjungimu lain waktu.” Kia pergi meninggalkan apartement Vinlo.
Kepergiannya membuat suasana menjadi hening. Nayla menutup pintu apartment setelah Tuan Muda Vinlo kembali ketempatnya.
“Sekarang, apa yang harus ku lakukan?” benak Nayla.
Langkah kakinya menuju kearah dapur, di lihat seluruh pekerjaan sudah selesai. Nayla jadi bingung dengan pekerjaannya sendiri.
Kembali melangkah, Nayla menuju keruang pakaian. Disana ada beberapa lembar baju yang belum dirapikan. Mendapatkan pekerjaan di malam hari, Nayla memutuskan untuk segera bekerja. Dia tidak mau, waktunya terbuang sia-sia.
“Aku akan menyelesaikan ini. ku harap, Tuan muda sudah kembali kekamarnya.” Benak Nayla.
Kia memberitahukan kepadanya, jika tuan muda masih berada di luar kamar. Sebisa mungkin dia tidak tidur terlebih dahulu. bisa saja, Tuan muda Vinlo perlu sesuatu hingga meminta bantuan kepadanya.
Setelah merapikan beberapa baju, Nayla menyimpan semua itu di dalam satu tas pakaian. Besok, dia akan menyimpan di kamar tuan mudanya.
“Apa aku kembali ke ruang tengah?” guman Nayla. Kakinya melangkah menuju ke ruang tengah, disana sudah tampak sepi karena Tuan muda sudah kembali kekamarnya.
Di matikan lampu pada beberapa tempat sesuai dengan intruski dari Kakak Kia. Hanya tersisa beberapa lampu untuk menerangi jalan. Nayla memutuskan kembali kekamarnya setelah semua aman.
“Aku sudah mengunci pintu, jendela dan mematikan beberapa lampu. Baiklah, saatnya beristirahat.” Guman Nayla.
Setiba di kamar khusus untuknya, Nayla masih tidak bisa mempercayai kalau dia berada di sini. Apartment mewah dengan fasilitas luar biasa.
“Saat tiba disini, aku juga terkagum-kagum hingga berasa semua ini mimpi.” Guman Nayla. Seragam pembantu lepas dari tubuhnya, diganti dengan baju tidur.
Nayla perlahan naik ke kasur lembut yang di dapat olehnya. Berbaring dengan memandang kearah langit-langit kamar.
“Hari ini, banyak hal yang terjadi. Aku melakukan kesalahan, dari pagi hingga saat tuan berangat kerja. Besok, bagaimana caraku memulai hari ... aku hanya sendirian, hm....”
Nayla memutuskan untuk tidur dari pada berpikir. Dia yakin, besok pasti akan mendapatkan ide terbaik. Di matikannya lampu kamar dan menyalakan lampu tidur yaang ada di samping kasur.
__ADS_1
...-*-...
Pagi hari yang indah ini tidak mendukung bagi Nayla. Dia bengong di dapur, memandang bahan-bahan yang ada. tidak ada ide didalam otaknya untuk membuat sarapan.
“Hei Nayla, kalau seperti ini, kamu akan dipecat oleh tuan muda.” Gumannya menakuti diri sendiri. mata Nayla melirik kearah jam dinding. Pukul 6 lewat 30 menit terlihat di sana.
“Apa yang kamu bengongkan?”
Nayla menoleh kearah sumber suara, dia kaget melihat Tuan Muda Vinlo berada di dapur. Pria itu melangkah mendekati tempat air minum.
“Apa terjadi sesuatu?” tanya Vinlo.
Nayla kelagapan menjawab apa yang di tanyakan oleh tuannya. “I-Itu, Tuan Muda ... maaf, Nayla sedang berpikir untuk menyajikan sarapan. Tetapi, tidak ada ide yang terlintas di pikiran Nayla.” Jawabnya dengan jujur.
Vinlo menatap Nayla dengan pandangan terteguh, diliriknya meja yang berisikan sayuran dan telur.
“Kamu bisa membuat omlet kan?” tanya Vinlo.
Mendengar kata omlet, Nayla mengangguk dengan cepat. “Bi-bisa tuan muda.” jawab Nayla.
Nayla mengangguk setelah mendengarnya. Dia menyiapkan bahan untuk membuat omlet seperti saran Tuan muda. “Kenapa tidak kepikiran untuk membuat omlet sih?” guman Nayla.
Saat fokus menyiapkan seluruh bahan, Nayla teringat sesuatu. Dia mematung seketika setelah mengingat semuanya.
“Astaga, seharusnya aku membangunkan tuan muda!” pekik Nayla.
Disaat-saat seperti ini, Nayla teringat perkataan Kia. “Tuan Muda tidak akan selalu dibangunkan. Dia akan bangun sendiri, bahkan akan menyiapkan sarapannya sendiri. jadi, sebisa mungkin kamu bangun sebelum dirinya.”
Nayla menjadi sedikit tenang mengingat apa yang Kia katakan. Dia bangun terlebih dahulu sebelum Tuan mudanya bangun. Meski, Nayla tahu bahwa dia masih melakukan kesalahan.
Setelah sarapan siap, Nayla memutuskan untuk pergi kekamar tuan muda. di ketuknya pintu kamar dengan perlahan.
“Ada apa?” ucap Tuan Muda Vinlo dari dalam.
Nayla langsung mengatakan tujuannya. “Tuan Muda, sarapan sudah siap.”
__ADS_1
Nayla terdiam di tepat, dia tidak menerima jawaban dari Tuannya. Dia memutuskan menunggu balasan sebelum pergi meninggalkan kamar.
Pintu kamar terbuka, terlihat Vinlo mengenakan dasi yang berantakan. “Ah maaf, aku akan segera turun.” Ucap Vinlo.
Nayla terteguh sesaat, dia mengangguk dan melangkah pergi meninggalkan kamar Tuan Muda. jantungnya tidak aman berada di sana.
Sudah Nayla duga, berada di sini tidaklah aman. Dia mengingat pertanyaan Nyonya besar, tentang mengatasi perasaannya.
“Aku tidak boleh jatuh cinta kepada tuanku sendiri. ibu juga mengatakan hal yang sama.” benak Nayla.
Waktu berjalan, jam 7 tepat pun tiba. Nayla melihat tuan mudanya terburu-buru. “Bukannya tuan muda bangun lebih awal? Seharusnya dia tidak terburu-buru.” Benak Nayla.
“Maaf Nayla, bisa kamu sajikan omlet itu di dalam kotak bekal. Seketaris pribadiku akan mengambilnya ... ah, aku tidak bisa sarapan karena ada rapat di pagi hari. Aku berangkat!” ucap Vinlo dengan terburu-buru.
Nayla hanya menatap kepergian tuannya dengan pandangan kaget. Dia melihat ke sibukkan seseorang dalam bekerja.
“Sebaiknya aku menyiapkan bekal seperti yang dia katakan.” Guman Nayla.
Karena sarapan tidak terlaksana dengan lancar. Nayla memutuskan memulai pekerjaannya. Kain tipis berada di jidat, sapu berada pada tangannya.
“Mari kita bersih-bersih!” Nayla memulai semuanya dengan baik. Menyapu, mengepel, membersihkan jendela, menata barang-barang yang berantakan. Semua di lakukannya dengan santai tanpa hambatan.
Hingga bell apartment berbunyi, Nayla mengingat perkataan Tuan mudanya.
“Apa itu seketaris pribadi Tuan muda?” benak Nayla. Di ambilnya bekal berisi omlet dan melangkah ke pintu apartment.
“Selamat pagi, saya seketarik pribadi Tuan Vinlo. Kedatangan saya disini ingin mengambil bekal Tuan Muda.” jelas seorang pria yang merupakan seketaris pribadi Tuan Vinlo.
Nayla memberikan bekal yang ada ditangannya. “Ini bekalnya.”
Seketaris itu mengangguk dan bergegas pergi setelah berpamitan. Nayla menutup pintu dengan wajah terkejut.
“Dia lucu sekali!” ucap Nayla. Seketaris pribadi yang datang memiliki wajah seperti bayi, padahal dia seorang pria. Matanya cantik membuat Nayla iri seketika.
“Kenapa bisa anak manja bekerja dengan Tuan Muda?” guman Nayla. Dia tidak sadar, bahwa didalam apartment itu berisikan cctv.
__ADS_1