
Nayla dan Laisa berdiri dihalte bus. Mereka menunggu bus menuju kekampung halaman Nayla.
"Aku pikir, kamu tidak akan ikut denganku." ucap Laisa.
Nayla menoleh kearah sahabatnya, "Sangat langka bisa pulang bersamamu, Laisa. Jadi, aku tidak bisa menolak kesempatan ini. Tapi, apa kamu benar-benar diizinkan libur?"
Laisa tercengir mendengar pertanyaan sahabatnya. Dia mengaruk bagian tengkuk yang tidak gatal. "Haha, aku memberikan surat sakit kepada pemimpinku. Yeah, dia pasti akan tahu kalau itu surat bohongan, hehe."
Nayla menghela napas dengan tingkah sahabatnya. Bekerja yang melelahkan itu hanya dianggap mainan oleh Laisa. "Sudahlah, semoga atasanmu percaya dengan surat itu."
Laisa mengangguk dengan cepat, dia membenarkan posisi tas yang berisikan pakaiannya.
Sebuah bus berhenti didepan mereka. Beberapa penumpang turun dan naik secara bergantian. Nayla dan Laisa segera mencari posisi ternyaman mereka setelah masuk kedalam bus.
Terdapat dua tempat duduk dibagian belakang. Mereka segera mengambil tempat itu dengan Laisa dibagian jendela.
"Akhirnya bisa duduk." Laisa merasa lega setelah mendudukkan bokong cantiknya.
"Bukankah di halte ada tempat duduk, kenapa kamu tidak duduk disana?" tanya Nayla dengan memeriksa segala yang ada ditas selempangnya.
"Panas, semoga bus ini tidak ikutan panas. Eh!" Laisa mengenggam tangan Nayla dengan tiba-tiba.
Sang pemilik tangan terkejut hingga membuat Laisa kaget. "Kenapa? Apa sekarang kamu tidak menyukai sentuhan kulit?" tanya Laisa.
Nayla segera mengeleng, "Tidak, aku hanya terkejut karena kamu mengagetkanku."
"Oh, maaf kalau begitu. Yeah itu semua karena gelang yang ada ditanganmu. Bagaimana kamu bisa mendapatkannya?" tanya Laisa, dia menunjuk gelang yang ada di tangan Nayla.
Nayla segera memperhatikan gelang berpermata ungu. Dia mengusap pelan, merasakan kehangatan dari gelang itu. "Ini, pemberian seseorang." jawabnya.
Laisa memayunkan bibir sambil mengangguk-angguk. "Pemberian ya ... oh ya, kamu sudah digaji?" tanya Laisa kembali.
"Sudah, tapi ...," Nayla ragu melanjutkan ucapannya. Dia mencengkram erat rok panjang yang dikenakan.
"Kenapa? Apa gajinya tidak sesuai dengan pekerjaanmu?" kerutan muncul dialis Laisa. Dia menatap sahabatnya yang kini tersenyum.
"Tidak, aku hanya merasa aneh dengan gaji yang tuan muda berikan." ucap Nayla.
Laisa mengarahkan tangannya kehadapan Nayla. "Mana? Aku akan menghitungnya!"
__ADS_1
Nayla tidak merasa risih dengan tingkah Laisa. Jika orang lain melihat perbuatan Laisa, sahabatnya ini pasti akan dipandang buruk.
Dengan perlahan Nayla memberikan amplop coklat kearah Laisa. Digenggam dan diduga-duga tanpa membuka amplop itu, Laisa menoleh dengan pandangan terkejut.
"Eh, ini beneran gajimu?" tanya Laisa.
Nayla menatap Laisa yang sangat terkejut. Kebingungan mengetarkan hatinya. "Kenapa?"
"Aneh, dari beratnya ... gajimu bukan 2 juta, melainkan 6 atau 7 juta." ucap Laisa. Dia mengembalikan amplop coklat tanpa membukanya.
Nayla mengenggam amplop pemberian Vinlo. Rasa khawatirnya semakin menjadi. "7 juta?" gumamnya.
"Kamu sungguh luar biasa Nayla, bagaimana bisa pembantu mendapatkan gaji 7 juta dalam 1 bulan? Ah tidak, keluarga Margatha pasti memberikan gaji yang sebadan. Baguslah, setidaknya 7 juta ini bisa kamu gunakan untuk kekurangan yang ada. Bibi pasti akan bahagia mendengar hal ini." Laisa mebatap kearah jendela.
Nayla terdiam mendengar perkataan Sahabatnya. 7 juta bukan uang yang sedikit. Jika 10 bulan berkerja menjadi pembantu pribadi Vinlo, dia akan mendapatkan hasil 70 juta. Itu sangat mustahil baginya. "Pasti ada kesalahan." benak Nayla.
Bus yang memasuki wilayah sepi tanpa pemukiman. Membuat pemandangan menjadi begitu indah. Menuju kekampung, mereka harus melewati jalan yang penuh hutan. Meski begitu, jalan ini adalah jalan tercepat menuju kampung.
Nayla dan Laisa menikmati pemandangan yang ada. Hari yang panas sedikit sejuk, menyegarkan suasana. Hingga, bus berhenti dengan dadakkan.
Semua penumpang terkejut ketika bus benar-benar berhenti. Apa lagi, suara motor yang begitu dekat mengelilingi mereka.
"Kenapa banyak motor yang menghalangi jalan kita?"
"Apa ini perampokkan?"
Kepanikkan para penumpang membuat Laisa dan Nayla berdiri dari tempat duduk mereka. Suara bising kendaraan terdengar ditelinga. "Apa yang terjadi didepan sana?" tanya Nayla.
Laisa menatap kearah jendela yang menampakkan anak-anak motor. Jaket mereka berwarna hitam,dibagian punggungnya terdapat tulisan 'ZI'.
"Mereka lagi?" pekik Laisa. Nayla yang mendengar ucapan sahabatnya segera menoleh. Sambil mengerutkan alis, Nayla berucap. "Lagi? Apa maksudnya itu."
Laisa menghela napas dengan hembusan yang panjang, dia berdecak pingang sambil cemberut. "Dua hari yang lalu, pria penerus keluarga Zi mendatangiku. Dia ingin meminta ganti rugi karena aku telah menciumnya. Aku tentu menolak untuk ganti rugi, aku juga kehilangan ciuman pertamaku."
Nayla membelak dengan perasaan tidak percaya. Mulutnya tercenga, ingin berucap tapi engan untuk bersuara. Jari telunjuk perlahan mengarah kedepan Sahabatnya, tapi diturunkan kembali.
"Aku akan turun dan menemuinya, dia perlu-,"
"Tunggu!" Nayla menghentikan Laisa. Dia menatap seluruh penumpang yang tidak menghiraukan mereka. "Jangan bertingkah bodoh! Kamu menemui mereka sama saja masuk kekandang singa. Diamlah disini, supir pasti memiliki cara yang tepat untuk menyelesaika-,"
__ADS_1
"EHEM, CEK,CEK ... SEMUA MENDENGAR SUARA KU? AKU AKAN MENGATAKAN KEPADA PENUMPANG SEKALIGUS SUPIR YANG ADA DIDALAM BUS. KELUARKAN GADIS BERNAMA LAISA KEPADA KAMI. KAMI AKAN MELEPASKAN KALIAN SETELAH MEMBAWA GADIS ITU."
Nayla dan Laisa terkejut mendengar teriakkan seseorang. Mereka melirik kearah depan, terdapat pria yang memegang mic dengan salon ditangannya. "Pria itu gila!" gumam Laisa.
Nayla menahan sahabatnya yang ingin keluar. Dengan gelengan kepala, Nayla berkata. "Jangan pergi, Laisa! Mereka berbahaya, kamu akan-,"
"Tenanglah," Tepukkan hangat diberikan Laisa. Dia mengubah posisinya untuk bisa keluar dari bus. "Dengar Nayla, kamu harus tiba di kampung. Hubungi aku, nanti aku akan menyusulmu. Satu lagi, jangan khawatir tentangku, kirim salam kepada Bibi dan Bi Sih. Aku akan mengkabari Bi Sih untuk menjemputmu dikampung." lanjutnya.
Nayla tanpa sadar mengalirkan air mata, dia merasa kesal tidak bisa menahan sahabatnya. "Tenang saja, Aku akan mengunjungimu di kampung. Tunggu aku oke!" ucap Laisa yang melepaskan genggaman tangan Nayla.
Langkah kaki Laisa menuju keluar bus. Seseorang yang ingin berteriak seketika diam ketika Tuan Muda Zi berdiri dari sandarannya.
Nayla bergegas mendekati tempat supir dan melihat interaksi Sahabatnya dengan ketua gang motor itu.
"Tuan muda Zi, atau yang dikenal Zivarka. Apa Lo belum puas dengan jawab gua waktu itu?" tanya Laisa.
Zivarka, tuan muda Zi hanya mendengus mendengar perkataan Laisa. Dia mendekat dan membelai wajah Laisa yang memandang datar padanya.
"Seperti sebelumnya, gua ingin meminta pertanggungjawaban lo. Ciuman pertama gua, kembalikan!" ucap Zivarka dengan jari telunjuk dibibir Laisa.
Hempasan tangan Laisa berikan untuk menjauhkan tangan Zivarka darinya. Dia tersenyum dan menatap bus yang seluruh penumpang berisi orang tua. "Aku akan bertanggung jawab, tapi ...,"
Laisa menunjuk kearah Bus. "Bebaskan mereka!"
Nayla terkejut mendengar perkataan sahabatnya. Dia ingin segera turun dari bus untuk menyelamatkan Laisa.
"DENGAR!" teriak Laisa. Tanpa bantuan apa pun, suaranya mengema hingga menantul disekitar mereka.
Semua yang ada didalam maupun diluar, diam seketika. "JANGAN ADA YANG KELUAR DARI BUS! BERANGKATLAH, KETIKA MEREKA MEMBUKAKAN JALAN UNTUK KALIAN!" Lanjut Laisa.
Nayla menatap Laisa yang kini berbalik badan. Dia tidak bisa keluar karena pintu bus terkunci. "Apa yang dia lakukan?" benaknya.
Laisa menatap kearah Zivarka dengan pandangan serius. pria yang merupakan ketua gang motor itu seketika mengangkat tangannya.
Barisan motor yang terdiri dari puluhan orang, membukakan jalan sesuai perintah Laisa.
Supir bus segera menyalakan mesin dan menjalankan kendaraan meninggalkan masalah yang terjadi.
Nayla merasa kesal dan marah sekaligus. Dia menatap jendela yang terlihat Laisa melambaikan tangannya. "Laisa." gumam Nayla dengan suara yang lirih.
__ADS_1