
Nayla menatap kearah lift yang ada di depannya. Ragu-ragu untuk melangkah masuk kedalam ruangan itu. 'Aku masih takut untuk menaikinya' pikir Nayla.
Uluran tangan membuat kesadaran Nayla kembali. Dia menatap kearah Tuan Muda yang berdiri di ambang pintu. "Kemarilah, aku akan menjagamu." ucapnya.
Nayla tersenyum ketika melihat keseriusan dari Vinlo. Tanpa membuat Vinlo menunggu lama, Nayla mengulurkan tangan untuk menyambutnya.
Di dalam lift, tangan Nayla di genggam erat oleh Vinlo. "Aku merasa jantung ini tidak pernah tenang ketika bersama tuan muda." benak Nayla.
"Kita akan langsung menuju ke pusat perbelanjaan keluarga Margatha. Untuk uang bulanan, ini kartunya." Vinlo menekan angka di samping pintu lift.
Nayla melihat Tuan Muda melangkah mendekatinya. Lalu, sebuah kartu berwarna biru terulur ke depan Nayla. "U-untuk apa tuan muda?" tanyanya.
Kebingungan Nayla membuat Vinlo melirik kearah lain dengan cepat. "Astaga, Vinlo tahanlah ... aku sudah mengenggam tangannya, hal ini saja sudah membuatku menderita." benak Vinlo.
"Ehem, jika ada keperluan, seperti kamu memesam barang. Kartu ini akan membayar semuanya." jelas Vinlo.
Nayla menatap kartu yang ada di tangannya. "Nayla merasa tidak akan mengunakan semua ini, kecuali untuk membeli keperluan. Tuan muda saja yang menyimpannya." Nayla mengembalikan kartu kearah Vinlo.
"Tapi bagaimana jika kamu," Vinlo menghentikan ucapannya ketika pintu lift terbuka. Dia melangkah keluar bersama Nayla dengan genggaman yang yang tertaut.
Selama keluar, semua karyawan di apartment itu tidak menghiraukan mereka. Seperti sudah biasa melihat seorang pria keluar bersama dengan wanita.
Berbeda dengan Raga yang berdiri di samping mobil. Dia terteguh ketika melihat Vinlo dan Nayla melangkah kearah dirinya. "Aku tidak salah lihat kan? Tuan muda mengenggam tangan pembantunya? Waah di luar nalar." benak Raga.
Langkah kaki Vinlo berhenti tepat di depan seketarisnya. Tentu, dengan genggaman tangan yang sama.
Nayla hanya bisa tersenyum melihat seketaris Tuan Muda yang menatap kearahnya. Dia berniat untuk melepaskan tangan yang tertaut itu, tapi semua sia-sia karena genggaman Vinlo begitu erat.
"Kita berangkat tuan muda?" tanya Raga dengan membuka pintu bagian belakang.
Vinlo mengangguk dan melangkah masuk dengan genggaman yang masih terjalin. Nayla hanya bisa mengikuti Tuannya karena genggaman itu.
"Tuan muda, tuan muda, apa dia melupakan kelakuannya sendiri?" benak Raga.
Setelah masuk ke dalam mobil, barulah Vinlo melepaskan genggamannya. Tangan berkeringat itu memberikan kebahagiaan untuk hatinya sendiri.
Berbeda dengan Nayla yang akhirnya bisa bernafas lega. Dia mengepal tangannya untuk menghilangkan keringat yang ada.
Raga yang menyetir di depan hanya bisa tersenyum tipis. Dia seperti seorang tamu yang menganggu kebersamaan seseorang.
Tidak ada percakapan di dalam mobil. suasana benar-benar sunyi hingga Raga bingung untuk mencairkannya. 'Apa aku hanya diam seperti ini. Suasana ini begitu menakutkan.' pikir Raga.
__ADS_1
Kekhawatirannya menghilang ketika tiba di tempat perbelanjaan. "Kita sudah tiba tuan muda." ucap Raga.
Vinlo mengangguk dan bergegas keluar dari mobil. Dia melangkah menuju ke pintu sebelahnya untuk mengeluarkan Nayla. Sayangnya, Nayla sudah keluar sebelum dia tiba.
Raga yang melihat hal itu tertawa seketika, dia menutup mulutnya setelah sadar dengan qpa yang terjadi. "Tuan, aku akan menunggu di parkiran." Imbuh Raga.
Vinlo yang mematung seketika sadar, dia mengangguk dan mendekat kearah Raga yang menyetir.
"Kamu membawanya kan?" tanya Vinlo.
"Aku pikir dia akan melupakan benda itu." benak Raga. Di ambil masker hitam untuk menutupi bagian hidup dan mulut Tuan Muda.
"Oke, pergilah dan tunggu panggilanku." Vinlo mengenakan maskernya dengan cepat.
Raga yang mendengar perkataannya memasang wajah kesal. "Bisa-bisanya Tuan Muda Margatha mengucapkam kata seperti itu. Ah tidak, dia sedang jatuh cinta. Hm ... pembantu itu mengubah dirinya." Raga bergumam sambil menatap kearah perginya dua orang yang berbeda status.
...-*-...
Nayla menatap Tuan Muda yang ada disampingnya. Rasa gugup tengah menghantui dirinya itu. melihat pusat perbelanjaan yang begitu besar. Lalu, terdapat tiga lantai yang membuat matanya membelak seketika.
Pertama kali Nayla berada disini, dia sudah sulit untuk menghembuskan nafas karena disini begitu ramai orang-orang.
Dilihat seluruh pakaian yang Nayla kenakan. Tidak ada hal aneh di badannya, malah tampak rapi baginya. "Aku berpikir yang tidak-tidak." benak Nayla.
"Ada apa?" tanya Vinlo.
Nayla menoleh kearah Tuan Mudanya. Pria berbadan tinggi itu membuat Nayla mendongak untuk bisa melihat wajahnya.
"Tuan muda, kenapa anda memakai masker?" Nayla baru melihat wajah Vinlo. Saat masuk ke sini, dia tidak memperhatikan Tuan Mudanya sendiri.
"Jangan dipikirkan, ayo kita berbelanja." Vinlo mengenggam kembali tangan Nayla. Mereka berdua melangkah menuju ke bagian sayuran.
"Aku tidak mungkin mengatakan hal yang sebenarnya. Yang harus ku lakukan adalah menyembunyikan identitasku karena seluruh toko di pusat perbelanjaan ini, milik ayahku." benak Vinlo.
Jika wajahnya terlihat, maka semua orang tidak akan memberikan harga. Melainkan di beri secara gratis. Vinlo tidak ingin itu terjadi, dia ingin menikmati semua ini dengan Nayla di sampingnya.
"Kita akan berbelanja sayuran dan buah-buahan, sudah di list semua?" tanya Vinlo.
Nayla mengangguk dengan wajah panik. Dia di bawa ke toko sayuran dan buah-buahan.
"Lihatlah apa yang perlu kita beli. Nanti aku akan menunjukkan tempatnya." ucap Vinlo.
__ADS_1
Nayla melepaskan genggaman yang terjalin, diambil selembar kertas dari tas kecilnya. Di sana sudah tertulis berbagai hal yang di perlukan.
"Sepertinya akan memperlukan waktu lama untuk mencari keperluan ini." ujar Vinlo. Nayla mengangguk dengan cepat.
Mereka berdua berbelanja dengan suasana yang sangat bersahabat. Nayla mencari bahan yang di perlukan, lalu Vinlo menunjukkan jalan dengan keranjang yang dia dorong.
"Tuan muda, tepungnya terlalu tinggi." Nayla berjinjit untuk meraih tepung yang ada di rak teratas.
Mata Nayla terpaku pada tangan pria yang meraih tepung tersebut. Yang lebih mengagetkan Nayla, sebuah tangan terulur di pingangnya.
"Hati-hati, jangan berjinjit." ucap Vinlo.
Para ibu-ibu yang melihat hal itu seketika tersenyum-senyum.
"Lihat tuh, terlihat sekali suaminya menjaga sang istri."
"Keluarga yang bahagia."
"Seharusnya suamiku seperti itu, perhatian dan memberikan waktunya."
Gumam-gumam para ibu rumah tangga membuat Nayla terdiam seketika. Dia mendengar jelas apa yang dikatakan oleh mereka.
"Ehem, ayo kita pergi ke tempat lain." ajak Vinlo.
Nayla mengangguk dan melangkah mengikuti Vinlo. Mereka segera meninggalkan toko serba ada.
Setelah keluar dari tempat itu, mereka berhenti di kursi umum yang tersedia.
"Maaf tuan muda,Nayla merepotkan anda." ucap Nayla.
Vinlo menatap kearah wanita yang duduk di kursi umum. Dia ikut duduk disamping Nayla, "Tidak apa, aku juga minta maaf dengan apa yang di katakan para ibu-ibu itu. Pasti semua itu membuatmu tidak tenang."
Nayla mengeleng, dia ingin berbicara untuk mengubah suasana yang ada di antara mereka. "Tu-,"
"B*J*NG*N, LO PRIA B*J**G*N, B**GS*T, MATA LO TUH DI LETAKKAN PADA KAKI HAH? BAGAIMANA BISA SEPERTI INI! BENAR-BENAR...."
Teriakkan seseorang membuat perhatian Nayla teralihkan. Dia melihat seorang wanita dengan pakaian oversize tengah memaki Pria yang meringkuh ketakutan.
"Laisa?!" gumam Nayla.
Vinlo yang berdiri di samping Nayla segera melirik kearahnya. "Laisa? Siapa dia?"
__ADS_1