
Suara ponsel menyadarkan kedua orang yang hampir saja melakukan sesuatu.
Nayla maupun Vinlo segera menjauh dan saling menatap kearah lain.
"Hm, maaf Vin ...," Nayla mengambil ponsel yang ada di dalam sakunya. Terlihat yang melakukan panggilan tidak lain adalah Laisa, Sahabtnya. "Syukurlah Laisa, kamu menolongku." benak Nayla.
Jika sahabatnya itu tidak menelpon, Nayla mungkin sudah mendapati hal yang akan dia takuti.
"Vin, apa aku boleh mengangkat panggilannya?" Nayla menatap wajah Tuannya yang tampak lega.
Anggukkan kepala Vinlo berikan, dia segera mendudukkan diri di sofa ruang tengah. "Iya, angkatlah." ujarnya.
Nayla segera mengangkat panggilan Laisa. Belum mengarahkan ponsel di telinga, Nayla mendengar teriakkan sahabatnya.
"Nay!"
Dengan cepat Nayla menjauhkan ponsel itu darinya. Dia melirik Vinlo yang juga terkejut hingga matanya menampilkan tanda tanya. "Hehe, Iya?" tanya Nayla menjawab seruan Laisa.
"Ganti mode panggilan, aku video call ya!"
Belum juga menjawab, panggilan itu terputus secara sepihak. Lalu, beberapa menit kemudian panggilan video call muncul dilayarnya. Nayla segera menjawab panggilan yang membuat kameranya menyala.
Sorotan kamera itu tepat kepada Vinlo yang sedang memperhatikan ponsel miliknya.
"Wow, apa kamu sedang pamer Nay?"
Nayla terteguh mendengar perkataan Laisa. Dia segera mengubah arah kamera menjadi ke depan. Tidak hanya itu, dia tanpa sengaja membuat speker panggilan keluar.
"Kebetulan, bagaimana kalau kamu ajak Tuan Vinlo makan siang bersama aku dan Zivarka?"
Wajah Nayla terbeku seketika. Matanya melihat Vinlo yang terkejut.
"Hallo, Nay!"
Kesadaran Nayla kembali. Dia segera melihat layar ponsel yang menampilkan wajah Laisa. "Ah iya," sambutnya.
"Aku yakin, Tuan Vinlo mendengar ucapanku barusan. Tuan Vinlo, bisakah Anda kemari."
Vinlo bangun dari tempat duduk, dia melangkah mendekati Nayla dan mengambil alih ponsel tersebut.
"Ada apa?" tanya Vinlo. Nayla menatap wajah Vinlo yang begitu serius bertanya. Dia menjadi takut untuk mendekati Tuannya.
"Hai Tuan Vinlo ... Apa Anda mengingat diriku?"
Vinlo mengangguk kepala menjawab pertanyaan Laisa. Dia melihat sahabat kekasihnya yang ditemui saat mereka belanja keperluan bulanan.
__ADS_1
"Baguslah ... apa tuan sudah makan siang? Jika belum, ayo kita makan siang bersama. Ada warung bakso yang wajib nih kita coba."
"Kamu saja yang ke sana. Kami tidak akan makan siang bersamamu." ucap Vinlo.
Nayla merasa sedih mendengar perkataan Tuannya. Ternyata Vinlo tidak menyukai Laisa.
"Aku akan makan siang bersama Nayla. Kami ingin berkencan. Jangan menganggu kami." lanjut Vinlo.
Pikiran yang sudah negatif itu seketika berhenti di dalam otak Nayla. Dia terteguh mendengar ucapan Vinlo.
Suara tawa mengelegar terdengar di telinga keduanya. Nayla mendekati ponsel yang di genggam Vinlo. Dia melihat Laisa yang kini di peluk dari belakang oleh seorang pria.
"Siapa?" tanya Zivarka.
"Oh, ini Sahabatku Nayla dan kekasihnya Tuan Vinlo." jawab Laisa.
"Tuan Vinlo? Vinlo Margatha?" ucap Zivarka dengan kebingungan.
"Hm." Laisa berdehem.
Semua saling menatap melalui ponsel itu. Nayla dan Laisa hanya melirik wajah kekasih mereka yang tampak diam tidak berkata apa-apa.
"Jadi? Mau makan siang bareng? Biar jadi double date." ajak Laisa.
"Doublet date?" tanya Vinlo bingung.
Diseberang sana tersenyum, Zivarka begitu menunjukkan kemesraannya terhadap Laisa. Tidak dilepas pelukan dari belakang itu.
"Hm, ayo kita makan siang bareng." ajak Laisa lagi.
"Apa Tuan Muda Margatha tidak mau makan di warung?" ledek Zivarka
Vinlo dengan elegan menjawab. "Siapa yang tidak mau. Kami akan ke sana, kirim lokasinya."
Laisa dan Zivarka memberikan jempol mereka. Setelah itu panggilan pun berakhir.
Pandangan Nayla tertuju kepada Vinlo. Dia tidak mempercayai kalau Tuannya ingin makan siang di warung. Mengingat Laisa yang suka makan-makanan di pinggir jalan, tidak akan cocok untuk Vinlo.
"Tuan, Ah maksudnya Vin. Ku rasa makan di sana agak sedikit...,"
"Tidak apa Nay. Ayo makan dan kita kencan bersama mereka." potong Vinlo.
Nayla terdiam sekali lagi. Dia dari tadi mendengar perkataan kencan yang keluar dari mulut Vinlo. "Nayla, dia sudah mengajakmu berkali-kali. Tolong pekalah." benaknya.
Dengan anggukkan, Nayla menyetujui ucapan Vinlo. Dia pun bersiap untuk makan siang bersama sahabatnya.
__ADS_1
...-*-...
Di warung makan yang terletak lumayan jauh dari apartment. Nayla mau pun Vinlo berdiri memperhatikan warung tersebut.
Letaknya yang begitu menakutkan. Mungkin karena tempatnya yang dekat dengan jalan raya. Jadi, bayangan kecelakaan terpintas dipikiran keduanya.
Sebuah lambaian tangan menarik perhatian Nayla. Dia melihat Sahabatnya sudah di sana bersama orang yang tidak dia sukai. Namun, melihat Laisa bahagia bersama orang tersebut. Nayla pun ikut bahagia dan akhirnya menyetujui hubungan mereka.
"Laisa ada di dalam." ucap Nayla menatap Vinlo yang mengangguk.
Tuannya tidak risih dengan warung ini. Hanya Nayla yang merasa risih diperhatikan orang-orang.
"Wow, orang kantor begitu sulit melepaskan jasnya." celetuk Zivarka dengan nada sindirian.
Vinlo hanya mendengus dan menarik kursi untuk Nayla. Lalu, dia menarik kursi tepat di depan Zivarka.
"Duduklah!" Laisa tersenyum melihat Nayla yang duduk di depannya.
Senyuman itu dibalas oleh Nayla. "Apa kamu pulang dengan baik?" lirikkan mata Nayla begitu tajam ke arah Zivarka. Teringat olehnya saat di kampung. Bagaimana Laisa yang di dekap paksa oleh pria itu.
Tahu dirinya yang dibicarakan. Zivarka segera merangkul Laisa dan mencium pipinya.
Vinlo sigap menutup mata Nayla. Dia menatap tajam pada Zivarka. "Bisakah tidak bertingkah seperti itu. lebih baik, kalian di rumah saja." ucapnya.
Laisa memutar bola matanya dengan jenggah. Dia segera menepis rangkulan Zivarka. "Tuan Vinlo, Anda juga akan melakukan hal yang sama. Saat ini, bagus untuk menahan kepolosan Sahabatku. Jadi, pertahankan itu. Namun, jika suatu saat nanti ada hal-hal aneh. Ku harap keponakkanku nanti tidak meniru sikap ayahnya." kata Laisa.
Tahu ke arah mana pembicaraan itu. Wajah Nayla memerah seketika. Untungnya Vinlo masih menutupi sebagian wajahnya.
"Sudah ku duga, kamu memang sahabat yang begitu mengerikan." tutur Vinlo.
Zivarka tersenyum, dia segera membenarkan duduknya. "Wanita punya keunikan mereka masing-masing. Tuan Muda Margatha, jangan memperhatikan orang lain. Perhatikan saja kekasihmu, dia mungkin akan kehabisan napas."
Vinlo segera menoleh kepala. Dia melihat Nayla yang bernapas panjang karena sedari tadi menahannya. "Maafkan aku, Nay." ucap Vinlo.
Nayla tersenyum dan mengangguk. Dia menatap Laisa yang ada di depannya. "Ayo makan, Vinlo akan kembali ke kantornya."
"Oh ya, maafkan aku ... ku pikir, Bos bisa bolos dari pekerjaannya." sindir Laisa.
Nayla menampilkan senyumnya kembali. Membuat Laisa segera mendekati Zivarka dan tersenyum kikuk. "Oke-oke, ayo makan." ujarnya.
Laisa memegang pena dan kertas untuk menulis pesanan mereka. Dia melirik dua orang yang ada di depannya.
"Aku ingin bermain sebuah permainan. Lebih tepatnya tantangan. Kita akan memesan bakso besar berisi cabai. Bisa di bilang bakso mercon dengan level 30...," Laisa menunjukkan gambar bakso sebesar dua kepalan. "Jadi, kita pesan dua porsi dan satu porsi itu dimakan dua orang. Siapa yang habis paling dahulu, dia menang. Yang kalah, dia yang membayar pesanan ini."
Nayla dan Vinlo saling melirik mendengar ucapan Laisa. Makan bakso yang terisi cabai, apakah sanggup mereka hadapi.
__ADS_1