
Bagaimana perasaanmu ketika semua yang kamu hayalkan menjadi kenyataan. Pasti bahagia hingga tidak tidur semalaman. Itu lah yang Nayla alami.
Tiga hari berlalu seperti mimpi. Dia berdegup-degup setiap menjalani hari karena akan melangsungkan pernikahan.
Sekarang, Nayla dan Ibunya tinggal di apartment Vinlo. Lalu, calon suaminya itu berada di kediaman utama untuk mempersiapkan segala yang ada.
Pekerjaan utama Vinlo sebagai CEO muda tidak akan lepas darinya. Jadi, sebelum pernikahan tiba Vinlo berniat untuk menyelesaikan semua tugas itu dan menikmati hari bersama Nayla.
Sedangkan Nayla, lebih banyak di rumah dan beristirahat. Dia ingin bekerja tapi sang Ibu segera melarangnya.
"Kamu akan menjadi istri seseorang. Kalau berkerja, nanti sakit di saat hari pernikahan mu tiba. Beristirahatlah, Nayla." kata sang Ibu saat mereka tiba di Apartment Vinlo.
Saat ini, Nayla baru tiba dari butik pernikahan. Dia disuruh oleh Mertuanya untuk melakukan pengecekan gaun pernikahan.
Pengecekkan itu melelahkan untuknya."Bagaimana?" tanya Laisa yang bertamu di Apartment tempat mereka tinggal.
Nayla menghela napas dengan lelah. "Aku tidak tahu kalau Fitting baju pengantin akan selelah ini. Kamu tahu Laisa, saat di sana aku harus mencoba lima gaun sekaligus."
Laisa tertawa mendengar hal itu, dia menaruh minuman dingin yang dia buat. "Minumlah, segarkan tubuhmu."
Gelas yang tampak mengoda itu segera di ambil oleh Nayla. Di seduh minuman itu hingga tenggorokannya segar kembali.
"Kalau begitu, gaun berwarna apa yang kamu kenakan?" tanya Laisa dengan duduk di depan Nayla.
"Putih, aku memilih gaun warna putih karena acara pernikahan itu bukankah lebih bagus kalau putih." ucap Nayla.
Laisa menggeleng mendengar ucapan sahabatnya. "Berbelit-belit sekali. Sudahlah, bersiaplah besok pernikahanmu."
Nayla seketika gugup mendengar ucapan itu, hingga tangannya bergemetar.
"Hei, kamu akan menikah besok, bukan melakukan ujian masuk sekolah. Kenapa gemetar sih," celetuk Laisa.
Nayla tidak bisa merespon apa yang Laisa katakan. Dia lebih memilih memikirkan bagaimana keadaannya nanti di acara pernikahannya.
...-*-...
Keindahan halaman yang menjadi tempat pernikahan Nayla dan Vinlo.
Semua hadir menyaksikan pernikahan ini sembari menikmati indahnya alam yang luar biasa. Angin berhembus menerpa wajah semua yang datang di acara pernikahan tersebut.
Pentas kecil di buat untuk para pengantin yang akan melangsungkan pernikahan. Seorang Penghulu sudah berdiri di sana dengan raut bahagia.
Seorang pria mengenakan setelah jas rapi dengan mic di tangan. Dia berdiri di dekat pentas lalu menatap semua ke arah para tamu undangan.
"Selamat datang kepada para tamu yang telah hadir di acara pernikahan Vinlo Margatha dan Nayla Putri. Kami, keluarga Margatha mengucalkan terima kasih banyak kepada kalian."
"Hari ini, Putra keluarga Margatha dan Putri Ibu Durvin, akan melangsungkan pernikahan. Semoga, pernikahan yang berlangsung di beri keberkahan hingga akhir kehidupan mereka."
"Tanpa berlama-lama, kita panggil Vinlo Margatha untuk naik ke altar." ucap Raga.
Seorang pria berjas hitam dengan kemeja putih melangkahkan kaki jenjangnya. Dia menaiki Altar dengan percaya diri bersama senyuman yang ditampilkan.
"Nayla Putri, kami persilahkan...." lanjut Raga.
Semua mata melirik ke arah wanita yang menutup kepalanya dengan gaun putih yang dia kenakan. Di samping wanita itu, ada seorang wanita yang mengenakan gaun biru malam, menuntun sang pengantin.
Tidak ingin memalingkan pandangannya, Vinlo memperhatikan Nayla yang dituntun oleh Laisa menaiki altar pernikahan.
Di sana sudah ada Ibu Durvin yang menyerahkan putrinya.
Acara pernikahan ini berjalan lancar tanpa hambatan, bahkan saat janji pernikahan di ucapkan. Pasangan pengantin itu dengan bahagia menyebutkan janji mereka.
"Silahkan, berciuman." ucap Penghulu yang melangkah mundur.
Tangan Vinlo segera meraih penutup kepala Nayla. Meski wajah kekasihnya itu terlihat, tetap saja penutup kepala ini menghalangi pandangannya.
Berbeda dengan Nayla yang berharap tidak akan melakukan semua ini. Semburan merah di wajahnya tampak hingga dia menunduk dengan cepat.
Vinlo yang melihat wajah memerah Nayla terteguh. Dia menjatuhkan penutup kepala Nayla agar tetap di sana. Lalu, tubuh Nayla di tuntun agar Vinlo bisa menutupi ciuman mereka.
Mata Nayla membelak seketika. Dia hampir terjatuh saat Vinlo memiringkan tubuhnya agar wajahnya di sembunyikan dari para tamu undangan.
Degupan di hati memuncak, ciuman singkat itu berhasil membuat Nayla lemas hingga Vinlo merangkulnya.
"Hei, lempar bunganya!" teriak Laisa.
Nayla mengangguk dengan rasa kaku yang dia alami. Tubuhnya gemetar karena apa yang terjadi. Di lempar bunga itu dengan berbalik badan.
Mata Nayla melirik ke mana bunganya berlabuh. Dia terteguh melihat Laisa mendapatkan bunga tersebut.
__ADS_1
"Tampaknya, Laisa akan menyusul kita." ucap Vinlo.
Nayla tersenyum melihat hal itu, dia segera mengangguk dan menatap Vinlo yang juga tersenyum padanya.
"Nayla," Vinlo mengenggam tangan Nayla.
Mendapati tingkah kekasihnya yang tampak berbeda, membuat Nayla memperhatikan wajah suaminya itu.
"Aku memenuhi janjiku. Maaf atas apa yang terjadi. Sekarang, cintai aku seperti cintamu saat itu." ucap Vinlo.
Nayla menggeleng mendengarnya. "Tidak,"
"Tidak, kenapa?" tanya Vinlo.
Nayla mengeratkan genggam di antara mereka. Dia berdiri menatap Vinlo yang kini merangkul pinggangnya.
"Aku tidak akan memberikan cintaku seperti dulu. Akan ku berikan cintaku sepenuhnya untukmu, Vinlo." ucap Nayla.
Senyum Vinlo terukir setelah mendengar hal itu. Dia memeluk Nayla dan mencuri ciuman di pipi tanpa di sadari semua orang.
Setelah pernikahan selesai, acara puncaknya ada di malam hari. Di mana semua orang menikmati pesta pernikahan ini.
Malam yang indah bersama gaun Nayla yang tidak kalah indah. Dia tampil dengan gaun biru malam selutut, sepatu yang tidak terlalu tinggi dan make up tipis yang membuat orang-orang tertarik melihatnya.
"Nay, kemarilah!" seru Ibu Mayra.
Nayla yang baru tiba di acara malam ini segera melangkah menuju ke arah ibu mertuanya.
"Ada apa Nyo, ehem ... Ibu?" tanya Nayla sembari memperbaiki panggilannya.
Ibu Mayra tersenyum, dia mengusap kepala Nayla. "Ini sayang, ibu-ibu ini ingin memberimu hadiah. Ambil hadiahnya."
Nayla melihat dua paper bag yang di arahkan kepadanya. Dengan tersenyum dan sedikit menundukkan kepala, Nayla mengambil dua benda itu. "Terima kasih," ucapnya.
"Aduh cantiknya. Nayla dari mana hm? Kota mana, lulusan mana? Apa dari luar negeri?" tanya wanita yang memberinya hadiah.
Wajah Nayla menjadi kaku seketika. Dia bingung merespon ucapan wanita ini. Nayla melirik Ibu Mayra yang dirinya tahu, kalau wanita itu juga memiliki harga diri tinggi.
"Nayla berasal dari desa Jeng, tapi ... kebaikkannya, kecantikannya, perhatiannya dan bagaimana dia mencintai putraku. Lebih luar biasa dari wanita kaya, lulusan terbaik bahkan dari kota terkaya sekalipun." sahut Ibu Mayra sembari merangkul Nayla.
Kepala Nayla menoleh seketika, dia terkejut mendengar apa yang Ibu Mayra katakan. Tidak ada yang membayangkan kalau Nayla akan mendapatkan pujian dari Ibu mertuanya ini.
Nayla tidak merasa ada permusuham bahkan saingan di antara mereka. Dia merasa lega dengan hal ini.
"Nay!" seru Laisa.
"Sudah, berkumpulah dengan sahabatmu." ucap Ibu Mayra.
Nayla mengangguk dan izin pamit meninggalkan dua wanita yang kini berbicang kembali.
"Ada apa, Laisa?" tanya Nayla setelah tiba di depan Laisa.
"Ini, hadiah dariku. Kenakanlah malam ini dan tunjukkan kepada suamimu." ucap Laisa dengan memberikan paper bag.
Nayla mengambil paper bag itu dan melihat isi yang ada di dalamnya. Tangannya menampilkan sebuah baju tembus pandang. Wajah Nayla seketika memucat.
"Hei, apa yang kamu lakukan? Kenapa memberikanku baju ini?" tanya Nayla dengan panik. Dia memasukkan kembali baju itu dan menatap ke arah Laisa.
"Itu baju dinas malam. Kenakan saja, di jamin malam pertamamu akan indah." ucap Laisa dengan tersenyum.
Nayla bungkam seketika, saat ini hanya ada satu kata di dalam pikirannya. 'Sesat!'
"Oke, aku harus kembali. Badanku sakit seharian ini. Maaf ya engak bisa berlama-lama. oh ya, kita foto dulu!"
Seperti ucapan Laisa. Seluruh keluarga berkumpul untuk mengambil gambar pernikahan ini. Laisa berdiri di samping Nayla. Mereka berdua di dampingi oleh pasangan mereka masing-masing.
Cahaya kamera segera menerangi mereka beberapa detik. Gambar bahagia pun di ambil oleh kamera tersebut.
"Terima kasih takdir, kamu masih memberikan kebahagiaan untukku. Terima kasih." benak Nayla.
"Terma kasih, Ibu ... doamu kepada putramu ini akan selalu bersama, hingga akhir kehidupanku. Ibu, aku sudah menemukan orang sepertimu. Dia adalah Istriku!" benak Vinlo.
...-TamaT-...
...(⚠️🚫⚠️ Scene tambahan, Malam Pertama. Mohon bijak dalam membaca. Jika bisa, skip bagian ini, terima kasih⚘⚠️🚫⚠️)...
"Hei, aku mengatakan yang sebenarnya!" ucap Zivarka kepada Pria yang baru saja menikah.
"Tapi aku takut, kamu kan tahu kalau kami baru menikah." sahut Vinlo menatap pria yang dulu tidak akrab dengannya.
__ADS_1
"Hei, kamu ini. Lebih baik melakukannya secara langsung. Aku jamin, malammu akan di lalui dengan panas hingga pagi hari." imbuh Zivarka.
Vinlo menghela napas mendengar hal itu. "Aku, aku akan mencobanya."
"Tenang saja, tidak lama Istrimu akan hamil. Dirimu kan bibit unggul." celetuk Zivarka.
Vinlo tercenga mendengarnya. Dia tidak bisa lagi berkata-kata di depan Pria yang telah tidur lebih dahulu dengan kekasihnya.
"Sudahlah, aku akan pulang. Kekasihku tidak enak badan." pamit Zivarka.
Vinlo mengangguk dan memperhatikan kepergian Zivarka. "Huh, apa Nayla ada di kamar sekarang?"
-*-
Di dalam kamar pengantin, seorang wanita mengenakan hadiah yang di berikan oleh sahabatnya.
Wajah wanita itu memerah karena apa yang dia lihat. "Apa Laisa sengaja mengerjaiku?" gumamnya.
Sebuah pakaian yang tidak akan pernah lagi Nayla pakai. Dia melihat pakaian berwarna hitam sepaha, tembus pandang yang hanya menutupi bagian privasinya.
Mendapati hal ini, Nayla segera mengambil selimut. Dia ingin segera menganti pakaiannya tapi mengingat kalau ini juga termasuk malam pertama mereka, niatnya urun seketika.
Pintu kamar terbuka, memperlihatkan Vinlo yang masuk dengan wajah penuh senyuman. Nayla yang melihat hal itu meneguk salivanya.
"Em, ak-aku ingin mandi dulu." ucap Vinlo yang kemudian berlalu.
Nayla terteguh dengan tingkah Vinlo. Dia segera mendudukkan diri di kasur. "Jantungku berdegup-degup."
Setelah menunggu tiga puluh menit, pria yang telah menjadi suaminya keluar dengan handuk membalut di pinggangnya.
"Ehem, Na-Nayla?"
Nayla segera membangunkan diri dengan selimut yang menutupi tubuhnya. Dia menatap jendela karena tidak berani menatap wajah Vinlo.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Vinlo sembari memeluk Nayla dari belakang.
Kebiasaan yang tidak akan berubah. Vinlo akan selalu memeluk Nayla dari belakang dan menaruh dagu di bahu kekasihnya.
"Ti-tidak, a-ada." sahut Nayla dengan terbata-bata.
Vinlo yang mendengar hal itu merasa bingung. Dilirik selimut tebal yang Nayla kenakan.
"Biasanya, wanita yang berinisiatif untuk memberikan yang terbaik padamu. Tapi saranku, kamu lah yang memulainya terlebih dahulu." saran Zivarka sebelum acara berakhir.
Vinlo menarik napas dan memberanikan diri berbisik di telinga Nayla. "Nay!"
Tubuh Nayla merinding mendengar bisikkan itu. Dia segera berbalik badan hingga selimut yang menutupi bahunya terbuka.
Tampak jelas kalau Nayla hanya mengenakan gaun malam dengan satu jari untuk penyangah baju itu.
Vinlo meneguk salivanya. Dia menarik selimut Nayla dan menutupi tubuh istrinya itu.
"Haha, ku rasa lebih baik kita tidur sekarang."
ucap Vinlo. Keberaniannya mengajak Nayla untuk melakukam hubungan badan menghilang seketika.
"Kenapa Vin? Bukankah kamu yang ingin melihatku mengenakan semua ini?" tanya Nayla. Sekarang dirinya benar-benar terpengaruh dengan Laisa.
Vinlo menenangkan diri. Dia mengenggam bahu Nayla. "Aku tahu kamu pasti belum siap, benar bukan?"
Nayla melepaskan selimut yang menghalanginya. Menampilkan lekukan tubuh yang membuat Vinlo merasa di serang secara tiba-tiba.
"Kalau begitu, aku akan lepaskan baju ini." ucap Nayla yang ingin melangkah pergi.
Tangan Vinlo dengan cepat menghentikan dirinya. Wajah merah dan napas yang dihembuskan dengan kasar membuat Nayla meneguk salivanya.
"Terima kasih untuk yang memberikan hadiah ini kepadamu. Nayla," Vinlo memeluk Nayla dan keduanya saling merasakan kontak fisik yang begitu dekat.
"Boleh?" tanya Vinlo.
Nayla memejamkan matanya, dadanya berdegup kencan. Ingin menolak tapi dia juga ingin semakin dekat. Hingga kepalanya mengangguk untuk menjawab apa yang Vinlo tanyakan.
Mendapatkan lampu hijau, Vinlo membawa Nayla di ranjang dan memulai ritual panas mereka.
Biarkan cahaya lampu redup yang menjadi saksi. Lalu biarkan lenguhan yang bernyanyi untuk menemani malam yang panjang ini.
"Nayla, aku mencintaimu." bisik Vinlo mencium ceruk leher Nayla.
Tangan Nayla merangkul di leher Vinlo. Dia merasakan sesuatu yang membuatnya malu sendiri. "Ayo, cepatlah semua ini berlalu," benak Nayla.
__ADS_1