Pembantu Pribadi Tuan Muda

Pembantu Pribadi Tuan Muda
Bab 32 : Menyatakan


__ADS_3

Suasana ruang tertutup begitu hening bercampur keringat. Para pria berjas begitu bingung untuk mengeluarkan suara karena bos mereka tengah terdiam.


Takut terkena amarah, rapat yang diadakan pagi ini berakhir cepat. Raga yang menghandel rapat kali ini hanya bisa menghela napas.


"Tuan, apa Anda akan terus termenung seperti ini?" tanya Raga.


Vinlo menghela napas. Dia bangun dari tempat duduk dan melangkah keluar ruangan. Melihat tingkah Tuan Mudanya, Raga hanya bisa menggeleng. "Baru satu hari berpisah dengan Nayla. Dia terlihat seperti pohon tanpa daun, menyedihkan."


Di ruangan tamu, Vinlo menjatuhkan dirinya pada sofa empuk yang ada. Dia membaringkan kepala dan menghirup udara segar disekitarnya.


"Huh, membosankan." celetuk Vinlo. Jari-jemari memijit pangkal hidung untuk menenangkan dirinya.


"Baru satu hari berpisah. Anda sudah tampak seperti pohon tua. Kalau seperti ini, apa kita kembali saja?" usul Raga.


Seorang pelayan menyajikan minuman di atas meja bersama hidangan manis menjadi temannya. Setelah dia pergi, Raga memakan hidangan manis itu sambil menatap Tuan Muda Vinlo.


"Jika segampang itu, aku akan memutuskan untuk kembali hari ini juga. Kamu tahu sendiri, keluarga Rajt suka sekali bermain. Mereka menunda pertemuan ini." kesal Vinlo.


Raga yang sibuk menyantap hidangan manis, mengerutuk. "Bukannya waktu itu, Anda juga menundanya. Mereka pasti membalas perbuatan Anda."


Dengan malas Vinlo memutar bola mata. Dia mengambil gelas dan meminumnya. Rasa dingin minuman itu menenangkan hati yang panas. Vinlo akui, dia merindukan Nayla.


"Tuan, ada yang ingin ku tanyakan kepada Anda." Raga mengelap mulutnya dengan lap tangan yang dia bawa. "Katakanlah." Ucap Vinlo sambil menaruh gelas di atas meja.


"Gelang yang Nayla-,"


"Jangan menyebut namanya jika dia tidak ada. Hanya aku yang boleh memanggilnya Nayla." Vinlo memotong ucapan Raga dengan tatapan tajam.


Mendengar hal itu Raga seketika bungkam untuk sesaat. "Lalu, aku harus memanggilnya apa?" benaknya.


Seakan tahu jalan pikir Raga, Vinlo berucap. "Panggil dia, Nona Nayla."


Raga tercenga mendengar perkataan Tuan Muda di depannya ini. Dia merasa ingin membungkam mulut Tuannya dan berkata 'Nayla bukan Istrimu atau milikmu.' Namun sayang, Semua ucapan itu hanya ada di dalam pikirannya.

__ADS_1


"Oke, Nona Nayla." ucap Raga. Vinlo mengangguk tanda setuju mendengar perkataan seketarisnya. "Ehem, jadi ada yang ingin ku tanyakan. Dari mana Anda mendapatkan gelang cantik itu? Aku rasa, tidak ada kesempatan untuk Anda membelinya." lanjut Raga.


Dengan santai Vinlo menjawab. "Itu gelang, peninggalan Ibuku."


"Hah?" Raga terkejut dengan jawaban Tuan Muda. Dia tahu betul, gelang peninggalan Ibu kandung Tuannya ini sangat berharga. Saking berharganya, Gelang itu selalu dipakai oleh Vinlo. Tidak pernah di lepas kecuali kotor atau rusak.


Gelang dengan permata ungu menjadi benda terfavorite untuk Vinlo sendiri. Sekarang, Gelang itu sudah diberikan kepada seorang gadis yang baru 1 bulan dikenal oleh Vinlo.


"Tuan, Anda memberi gelang itu, sama saja melamar dirinya. Apa Anda yakin dengan semua itu?" Raga ragu, ragu dengan semua hal ini. Dia mengenal Tuan Mudanya, keseriusan Tuannya ini tidak dipandang remeh. Yang lebih membuat Raga ragu, hubungan Tuannya dengan Nayla. Apakah semua itu bisa terjadi?.


"Yakin, meski aku belum mengetahui perasaan Nayla kepadaku." jawab Vinlo. Dia menundukkan kepalanya dengan raut sedih.


Tidak tega melihat Tuannya seperti ini, Raga memberi usulan. "Bagaimana, setelah kita kembali dari bisnis ini. Anda menyatakan cinta kepada Nona Nayla."


Vinlo menatap seketaris yang duduk di depan. Usulan yang dikatakan Raga ada benarnya. Kenapa dia ragu dengan keputusannya sendiri. Lebih baik, Dia bergerak cepat sebelum Nayla menjauh darinya.


"Kamu benar, baiklah. Aku akan menyatakan cintaku kepadanya." Keputusan Vinlo. Raga mengangguk mendengar hal itu. Dia merasa lega ketika Tuannya kembali bersemangat.


...-*-...


Tugas Ibunya tidak sulit, hanya memetik buah-buahan yang siap di perjual belikan. Dari buah jeruk, buah mangga, buah naga dan buah Jambu. Setiap satu keranjangnya bernilai uang.


Saat tahu Ibunya bekerja seperti ini, Nayla ikut membantu untuk menambah biaya. Sebenarnya, Nayla ingin memberi uang kepada Ibunya. Namun, dia ragu dengan gaji yang Tuan Muda Vinlo berikan.


"Aduh Nak Nayla, apa kabar nih?" tanya Seorang ibu-ibu yang bekerja di kebun. Nayla dengan senyum khasnya menjawab. "Baik Mbok."


Mbok panggilan selain Tante atau Bibi. Setiap di kampung, Nayla selalu memanggil para ibu-ibu dengan sebutan Mbok.


"Syukurlah. Jarang atuh melihat Nayla ada di sini. Bagaimana pekerjaan di kota? Apa sulit?"


"Engak Mbok, pekerjaannya sudah menjadi kebiasaan Nayla. Jadi, tidak ada yang sulit."


"Kalau begitu baguslah. Nayla juga tampak bahagia. Ya sudah, di lanjut ya kerjanya. Kita sama-sama cari uang."

__ADS_1


Nayla mengangguk, dia kembali memetik buah jambu untuk memenuhi keranjangnya. "Ibu!" seru Nayla.


Sang Ibu berdiri tidak jauh dari Nayla. "Hm, kenapa?"


"Maaf Bu, Nayla belum bisa memberi Ibu uang." Nada bicara Nayla begitu lemah. Dia tidak enak hati untuk membicarakan hal ini.


"Hei sudahlah, Ibu tidak mengharapkan uangmu Nak. Yang Ibu harapkan itu adalah kebahagiaanmu. Uang bisa kita cari, tapi kebahagiaan untuk seorang anak, itu sangat sulit didapatkan." Ibu Nayla menjelaskan dengan tenang kepada Putrinya.


Durvin begitu ingin Nayla bersama dirinya. Namun, jika di kampung, Nayla hanya akan berakhir seperti ini. Durvin ingin, Nayla bekerja untuk dirinya dan bisa mewujudkan keinginannya sendiri. Sebagai Ibu, Durvin mengaku gagal mendidik dan merawat Nayla. Dia hanya bisa memberikan hal sederhana yang begitu jauh dari anak-anak zaman sekarang.


Maka dari itu, Durvin begitu rela melepaskan anaknya di kota. Tentu tidak mudah baginya, Dia harus menegur Nayla agar tidak terjerat dengan hubungan menyakitkan.


"Hm, Nayla mengerti bu." Lirih Nayla. Sang Ibu mengangguk dan kembali melanjutkan pekerjaannya.


Siang hari tiba, Nayla menghentikan pekerjaan bersama sang Ibu. Karena sore dia harus kembali, Nayla pun memutuskan untuk pulang bersama Ibunya.


Setiba di rumah, Bi Sih dan Laisa sedang duduk di kursi tamu. Melihat mereka, Nayla dan Ibunya bergegas mendekat.


"Sudah lama menunggu?" tanya Durvin. Bi Sih menggeleng dan menjawab, "Kami tiba 20 menit yang lalu."


"Bibi, Jawab aja baru tiba." celetuk Laisa. Bi Sih tertawa dengan candaan yang begitu garing.


"Nayla, bersiaplah Nak. Bi Sih sudah menjemputmu." ucap Durvin. Dia menepuk punggung Nayla dengan pelan dan mengarahkan pandangannya pada pintu.


Nayla bergegas masuk bersama Laisa. Mereka berdua melangkah sedikit berlari, meninggalkan dua orang tua yang ingin berbicara.


"Sih, bisa kamu mengawasi Nayla." ucap Durvin.


Bi Sih dengan bingung bertanya. "Apa yang harus ku awasi?"


"Nayla, dia sepertinya menyukai Tuannya sendiri. Itu tidak boleh terjadi." jelas Durvin.


Bi Sih menghela napas mendengar ucapannya. "Apa yang kau katakan? Kasihan Nayla, masa kita harus menghentikan cinta mereka. Kau ingin dia sakit hati dengan hal ini?"

__ADS_1


Durvin menatap tajam kearah Bi Sih. "Aku sudah pernah mengalaminya. Lalu berakhir dengan Aku yang di campakkan. Untung saat itu, Aku tidak bercumbu dengan tuanku sendiri. Jadi, aku tidak ingin putriku ikut mengalaminya."


"Kau terlalu banyak berpikir. Nayla tahu batasan dan kita tidak tahu apa yang di takdirkan langit untuk dia. Siapa tahu, Nayla mendapatkan pria baik yang akan selalu bersamanya." jelas Bi Sih. Durvin yang mendengarnya hanya bisa terdiam.


__ADS_2