
Setelah beristirahat di dalam kamar, Nayla bangun dengan perasaan segarnya. Di lihat lutut yang terluka sudah membaik. Nayla tersenyum ketika mengingat bagaimana Vinlo mengobatinya.
“Tuan Muda, apa dia sebaik ini?” benak Nayla memikirkan tentang yang baru saja terjadi. Melihat, Tuan Mudanya tidak menjaga jarak, bahkan tidak menyuruhnya menjauh.
“Sudahlah, jangan memikirkan hal seperti itu.” Nayla berguman sambil melangkah keluar kamar. Melihat di ruang tengah, beberapa pekerjaan sudah selesai. hanya, sisa cucian baju yang belum dijemur.
Mengetahui bahwa cuciannya masih menumpuk, Nayla bergegas mengerjakan sisa pekerjaan itu.
Setelah semua selesai, Nayla melangkah kedapur untuk melihat beberapa bahan sudah mulai berkurang. Dia juga mencatat apa saja yang perlu dibeli.
“Semua sayuran ini ada beberapa yang belum pernah aku sentuh, aku juga bingung menjadikan menu seperti apa. Laisa sudah berhenti bekerja di restorant. Apa aku tanya sama ibu saja ya?” benak Nayla.
Karena beberapa pekerjaan sudah selesai, Nayla memutuskan untuk membersihkan diri. Jam juga sudah menunjukkan pukul 5 lewat 50 menit, di saat ini waktu dia beristirahat.
Mandi, menyegarkan diri hingga Nayla mengobati luka. Dia merasakan suasana bahagia. bayangan Vinlo mengobati luka berbekas di kepalanya. Nayla yang telah mengobati luka seketika tersenyum.
“Astaga Nay, apa yang sudah kamu senyumkan?” benak Nayla.
Pikiran yang sudah mengajaknya untuk berdegup-degup, membuat Nayla tersadar dengan deringan ponsel yang tidak jauh dari tempat dia duduk.
Tangannya meraih benda pipih itu dan mengangkat panggilan yang ada dilayar.
“Hai Nay! Bagaimana kabarmu?”
Mendengar suara sahabatnya, Nayla menggangkat salah satu kaki untuk lebih bersantai. “Aku baik, bagaimana denganmu sendiri?” tanya Nayla.
“Aku lelah, capek dan rasanya ingin healing. Ada rekomendasi?”
“Healing? Hm, aku tidak bisa merekomendasi apa pun, karena aku juga tidak pernah keluar belakangan ini.” jawab Nayla.
Di lirik olehnya jam yang ada di dinding. Terlihat sudah hampir jam 7 tepat. Tidak ingin menunda waktu, Nayla mengambil earphone yang ada dilaci. Di gunakan earphone untuk bisa berbicara dengan Sahabatnya.
Sesekali dia ditemani oleh Laisa, selama ini dia selalu merasa kesepian karena tidak ada teman untuk diajak berbicara.
“Laisa, maaf ya kalau ada suara ribut. Aku sedang memasak sekarang.” ucap Nayla sambil melangkah keluar kamar.
__ADS_1
“Tentu, santai saja.”
Nayla mengangguk dengan dehemannya, langkah kaki membawanya menuju ke dapur. “Jadi, bagaimana keputusan healingmu itu?” tanya Nayla.
Dia berbicara sambil memikirkan menu apa yang akan di buat untuk makan malam kali ini. dia melupakan perkataan Vinlo untuk tidak menyajikan makan malam.
“Entah, aku tidak bisa memutuskannya. Kamu kan tahu sendiri, kalau yang seru akan membosankan di mataku.”
“Aku tahu bahwa jawabanmu akan seperti itu.” ucap Nayla sambil mengambil dada ayam. Dia memotong hingga membentuk kotak-kotak.
Nayla sudah mengenal Laisa, dia juga tahu apa yang menjadi kesukaan temannya itu. apa lagi hal yang membuatnya bosan. Laisa suka hal aneh yang tidak di sukai oleh Nayla.
Seperti, saat memakan buah apel. Laisa bisa mencampur buah itu menjadi lautan buah. Ada susu, ada beberapa taburan cantik didalamnya dan di tambah dengan apel itu sendiri. Nayla sangat tidak menyukainya. Tetapi, berbeda dengan Laisa yang memakan semuanya.
“Haha, kamu ‘kan tahu siapa aku. Oh ya Nay, apa yang akan kamu masak untuk Tuan Mudamu itu?”
Nayla menatap potongan daging yang sudah dia bumbui. Dia juga bingung memikirkan menu makan malam kali ini. “Entah, aku tidak tahu Laisa. Apa kamu ada rekomendasi?” tanya Nayla.
“Astaga, kenapa malah bertanya kepadaku? Baiklah, bagaimana kalau membuat ayam saus?”
“Hm, bahannya itu....”
Dengan resep yang dikatakan oleh Laisa, Nayla memasak hidangan baru baginya. Sekitar 30 menit berlalu, hidangan itu tersaji dimeja makan.
“Bagaimana, apa penampilannya menakjubkan?”
Nayla mengangguk, dia menatap hidangan yang ada didepannya. “Kamu benar Laisa, tampilannya sangat cantik.”
“Hehe, aku masih menyimpan banyak menu didalam otak ini. sudahlah, Nay berikan rekomendasi tempat healing yang keren.”
“Hm, bagaimana kalau ke kebun binatang. Siapa tahu ada yang segabut kamu disana.” jawab Nayla sambil melangkah menuju kearah kamarnya.
“Hah? Kebun binatang? Nay, rekomendasi tempat yang menantang nyali, kebun binatang akan membuatku cepat bosan.”
Nayla membuka pintu kamarnya dan melangkah masuk. “Setidaknya coba dulu, setelah merasakan semuanya barulah kamu putuskan bagaimana perasaanmu di kebun binatang.”
__ADS_1
“Okelah, aku akan mengikuti saranmu. Yasudah, maaf menganggu diwaktu seperti ini.”
“Iya tidak apa-apa,” Nayla mematikan panggilannya. Dia menaruh benda pipih bersama earphonenya di atas meja.
“Tuan Muda akan pulang, aku akan menunggu diruang tengah.”
Bergegas langkah kaki Nayla membawanya menuju keruang tengah. Dilihat olehnya seorang pria baru saja tiba dengan sesuatu di tangannya.
“Selamat malam Nay,” ucap Vinlo datang dengan wajah bahagia.
Nayla yang melihat kebahagiaan itu ikut tersenyum, di ambil tas dan kantong bungkusan dari tangan Vinlo. “Selamat malam juga Tuan Muda.” balas Nayla.
Vinlo mengangguk dan melangkah menaiki tangga. Tetapi langkahnya terhenti setelah tiga kali melangkah. “Nay, kamu memasak sesuatu?” tanya Vinlo.
Nayla melihat kearah meja makan, hidangannya tampak jelas dengan uap kecil di sana. Dengan santai, Nayla menganggukkan kepala. “Iya Tuan, Nay memasak makan malam untuk anda.”
Vinlo terdiam melihatnya. Sebelum tiba di apartment, Vinlo meminta saran kepada Raga untuk makan malam di rumah.
Biasanya, Vinlo akan makan di salah satu restorant terkenal. Mengingat Nayla berasal dari desa, Vinlo memutuskan untuk mengambil saran dari Raga.
“Bagaimana kalau membelikannya sate?” saran Raga saat itu.
Vinlo segera membelikan sate yang tidak jauh dari perusahaannya. Di bawa sate itu dengan perasaan bahagia karena mengingat kedekatan yang terjadi. Vinlo berpikir mereka akan makan bersama nanti malam.
Dan kebahagiaan itu padam ketika melihat hidangan yang masih hangat di depan mata. “Bu-bukannya aku sudah bilang untuk tidak membuat makan malam?” Vinlo menatap Nayla dengan wajah bingung.
“Kapan?” Nayla memberikan wajah bingung yang sama. dia memutar ingatannya hingga teringat saat Vinlo berangkat kembali untuk berkerja. “Astaga, Tuan maafkan Nayla. Nayla melupakan apa yang Tuan Muda bilang. Maaf!” dengan menundukkan kepala, Nayla sangat bersalah dengan apa yang terjadi.
Vinlo tidak tega mendengar dan melihat Nayla seperti ini. hatinya sudah kehilangan rasa bahagia, tetapi tidak dengan degupan jantung di hatinya. “Sial, aku tidak bisa marah atau menegurnya.” Benak Vinlo.
“Tidak apa ... sudahlah, aku akan makan malam, hidangkan juga yang ku beli itu.” ucap Vinlo kembali melanjutkan langkahnya.
Nayla mengangguk. dibawa kantong entah berisi apa, lalu diletakkan pada meja dapur dan menghidangkannya. Saat Nayla membuka kantong yang ada ditangan, aroma makanan masuk kedalam hidungnya.
“Sate? Tuan muda membeli sate?” Guman Nayla.
__ADS_1