Pembantu Pribadi Tuan Muda

Pembantu Pribadi Tuan Muda
Bab 8 : Kerinduan


__ADS_3

Di dalam ruang kantor, seorang pria tersenyum melihat layar komputernya. Tampak pada layar, ada gadis yang tengah membersihkan rumah, menyiapkan makan siang untuk jaga-jaga jika dia pulang.


“Selamat pagi Tuan Vinlo.” Sapa seorang pria yang baru saja menyelesaikan tugasnya. Sebuah bekal di letakkan pada meja kerja miliknya.


“Hm, kamu sudah datang. Terima kasih....” Vinlo mengambil bekal yang berisi omlet. Di buka bekal itu dengan wajah bahagia.


Seketaris pribadi berwajah imut menatap bosnya dengan pandangan bingung. “Ehm, maaf Tuan Vinlo. Apa bekal itu bisa membuat anda sebahagia ini?” tanyanya.


Vinlo tersenyum. “Entah lah, aku juga tidak tahu.” Jawaban singkat tanpa penjelasan lebih. Seketaris pribadi hanya bisa terdiam mendengarnya.


...-*-...


Nayla beristirahat di kursi dapur. Di tatapnya seluruh ruangan yang tampak bersih. “Aku sudah membereskan ruang tengah, dapur, kamar tuan muda dan juga sudah menjemur pakaian. Sekarang, apa yang harus ku lakukan?” benak Nayla.


Seluruh pekerjaan hari ini terasa mudah baginya. Mungkin, karena sudah terbiasa mengerjakan semua itu. dia bisa menyelesaikannya tanpa hambatan.


“Aku menyiapkan sup ikan, apa tuan muda akan menyukainya?” benak Nayla.


Tidak ada ide yang melintas, Nayla memutuskan untuk mengistirahatkan diri didalam kamarnya. Jam menunjukkan pukul 12 siang, di saat ini ada dua hal yang menganggunya. Kedatangan tuan muda atau seketarisnya yang datang lagi.


Nayla berpikir, bisa saja seketaris itu datang lagi. sarapan tadi pagi sangat di hargai oleh Tuan Muda hingga memintanya membuat omlet itu didalam kotak bekal. Jika Tuan Mudanya ingin, dia pasti akan memintanya di lain waktu bukan?.


Memikirkan hal yang sulit untuk di jawab, Nayla lebih memilih untuk berbaring di kasurnya. “Bagaimana kabar ibu di kampung ya?” benak Nayla. Rasa kerinduan muncul dihati.


Termenungnya Nayla terhenti ketika suara deringan telpon rumah mengagetkannya. Dengan cepat Nayla bangun dan melangkah menuju ke ruang tengah.


Melihat telpon rumah berdering dengan kuat, Nayla berpikir jika tuan muda yang menghubunginya. Dengan cepat dia mengangkat telpon rumah itu.


“Ha-Hallo.”


“Hallo Nayla, ini Bi Sih!”


“Ah, Bi Sih? ... apa kabar Bi?” dengan wajah bahagia Nayla mengenggam erat telpon rumah. Sudah lama dia tidak mendengar suara Bi Sih.

__ADS_1


“Baik Nayla, bagaimana kabarmu nak?”


Nayla mengangguk meski tahu bahwa tidak ada Bi Sih didepannya. Tetapi, bicara seperti ini membuatnya merasa begitu dekat. “Nayla juga baik Bi.”


“Syukurlah Nak, oh ya ... Bi Sih ada kabar dari ibumu, dia mengatakan jadilah anak baik dan bekerja dengan jujur.”


Mendengar pesan dari sang Ibu untuknya, Nayla tanpa sadar meneteskan air mata. Dia begitu rindu dengan Ibu yang saat ini berada di kampung. Jika Nayla bisa, dia ingin membawa Ibunya disini dan merawat sang Ibu. tetapi, apa haknya, dia masih baru berkerja disini.


“Bi Sih, sampaikan juga kepada Ibu ... jaga kesehatannya, dan jika bisa, tunggulah aku kembali, aku akan memberikan buah dan makanan enak untuk Ibu.” Nayla mengusap air matanya dengan perlahan. Dia tidak boleh lemah, dia harus kuat demi Ibunya.


“Baiklah, Bi Sih akan menyampaikannya. Kalau begitu sampai jumpa lagi Nak Nayla, Bibi tidak bisa berbicara lama denganmu karena waktu istirahat Bibi sudah selesai. semangat untukmu yang sayang.”


Lagi-lagi Nayla mengangguk dengan perasaan senangnya. Dia merasa Bi Sih mengusap lembut kepalanya dengan ucapan yang sama. “Bibi juga, semangat dan jaga kesehatan.”


Panggilan itu berakhir dengan sapaan kecil. Nayla yang tadi berpikir tentang Ibunya, kini merasa tenang karena Bi Sih memberi kabar baik. Hati yang penuh kerinduan itu sedikit padam.


Nayla memutuskan untuk kembali mengerjakan sisa pekerjaannya, tetapi bel apartment berbunyi. Dia menoleh kearah pintu. “Apa tuan muda pulang untuk makan siang?” benak Nayla.


Bergegaslah dirinya membuka pintu dan menyambut kedatangan Tuan Muda Vinlo. “Selamat datang Tuan.” Sapa Nayla.


Nayla menatap tangannya yang kosong. Dia menduga akan membawa tas kerja dan mengantar tas itu kekamar tuan muda. tetapi, melihat tidak ada pekerjaan dadakkan membuat Nayla bengong sendiri.


“Apa yang kamu lakukan disana Nayla?” tanya Vinlo.


Nayla terkejut hingga kesadarannya kembali. Dia segera melangkah menuju kearah ruang tengah. Disana, Tuan Muda Vinlo duduk dengan berkas di tangan.


“Ma-maaf tuan muda.” ucap Nayla. Dia berdiri di samping Tuan Muda dengan jarak yang lumayan. Nayla sudah belajar dari Kia, jangan ada kedekatan di antara mereka. itu lebih baik, dari pada terjadinya bencana.


“Hm tidak apa ... ada yang ingin ku tanyakan, apa yang terjadi dengan matamu?” tanya Vinlo tanpa menoleh kearah Nayla.


Pertanyaan itu berhasil membuat Nayla terteguh hingga dia melangkah mundur dari tempatnya berdiri.


Melihat tingkah Nayla membuat Vinlo menatap kearahnya. “Apa ada yang salah dengan ucapanku?” tanya Vinlo.

__ADS_1


Nayla mengeleng. “Tu-Tuan muda, apa anda cenayang?” tanyanya.


Mendengar pertanyaan Nayla, Vinlo mengerutkan alis hingga memiringkan sedikit kepalanya. “Apa?”


“Ce-Cenayang Tuan muda, seperti seseorang yang bisa meramalkan sesuatu. Tetapi, ini lebih seperti seseorang yang bisa menebak sesuatu dan tebakannya tepat sasaran.” Jelas Nayla.


Vinlo mengeleng kepala sambil tersenyum. “Kamu salah Nayla, Aku bukan seorang cenayang. Aku mengetahuimu menangis karena melihat matamu itu ....”


Tunjukkan tangan Tuan Muda Vinlo membuat Nayla menyentuh matanya. “Ma-Mataku?” tanya Nayla.


Vinlo mengangguk. “Benar, matamu sedikit memerah ... tidak mungkin kamu selesai mengupas bawang kan? Aku tidak mencium bau bawang disini.”


Mendengar perkataan Tuan Muda Vinlo, entah kenapa Nayla menjadi tertawa mendengarnya. “Ma-Maaf tuan muda. Nayla bukan mentertawakan anda ... ada teman Nayla yang sering mendapatkan gelar bau bawang. Jadi, Nayla mengingat tentangnya.” Jelas Nayla.


Tuan Muda Vinlo menghentikan kegiatan yang tengah dia lakukan. “Teman? Kenapa bisa dia di panggil seperti itu?” Tanyanya dengan wajah penasaran.


Nayla menatap kearah Tuan Muda Vinlo dengan pandangan tidak percaya. “Tuan Muda, apa anda penasaran dengan hal itu?”


Tidak bisa dipercaya, Nayla menduga Tuan Mudanya cuek dan tidak perduli dengan sekelilingnya. Sekarang semua dugaan itu menghilang setelah melihat anggukkan dari Tuan Muda.


“Aku tidak tahu kalau sikap Tuan Muda seperti ini. dia, terlihat seperti seorang teman.” Benak Nayla. Dia menarik nafas sebelum menjelaskan.


“Sebenarnya Teman Nayla suka hal-hal jepang, baik manga, Anime hingga festival yang ada disana. dia mendapat gelar bau bawang karena menyukai lah seperti itu. semua memberi gelar kepadanya karena dia jarang terlihat keluar dari rumah.” Jelas Nayla.


Vinlo mengangguk mendengar penjelasan Nayla. “Baguslah, kamu tampak senang sekarang.” ucap Tuan Muda yang melangkah ke dapur.


“Aku lapar. Nayla, kamu memasak makan siang kan?” tanya Tuan Vinlo.


Nayla bergegas menuju kedapur dan mendekat kearah meja makan. Hidangan makan siang sudah dia siapkan, tidak disangka persiapannya berguna hari ini.


“Apa yang kamu siapkan hari ini?” tanya Vinlo. Nayla dengan perasaan senang menjawab. “Hari ini Nayla memasak sup ikan. Apa tuan suka?”


Vinlo mengangguk menunggu hidangan tersaji di depannya. Nayla dengan hati-hati menyajikan makan siang untuk Tuan muda Vinlo.

__ADS_1


“Silahkan makan tuan.” Ucap Nayla.


__ADS_2