Pembantu Pribadi Tuan Muda

Pembantu Pribadi Tuan Muda
Bab 19 : makan bersama


__ADS_3

Di meja makan, Nayla berdiri tidak jauh dari Tuan Muda Vinlo. Matanya melirik pergerakan Vinlo yang mengambil hidangan di sampingnya.


"Apa aku boleh bertanya tentang sate itu? Diriku penasaran, kenapa tuan muda membeli sate?" benak Nayla.


Vinlo yang merasa diperhatikan segera mengangkat pandangannya. Matanya menatap lirikan Nayla.


"Ada apa Nayla?" tanya Vinlo.


Nayla terteguh mendengar Vinlo bertanya kepadanya. Dengan cepat Nayla memberikan jawaban sambil mengeleng kepala.


"Ti-tidak ada tuan muda," jawabnya.


Vinlo menatap bingung, dia meletakkan garpu dan sendok yang sudah ada ditangan. "Katakan saja, apa yang membuatmu begitu gelisah, Nayla." Vinlo mengubah posisi duduknya untuk menghadap kearah Pembantu pribadinya itu.


Melihat Tuan Muda yang menunggu penjelasannya, Nayla memilih untuk sedikit mendekat.


Vinlo melihat Nayla mendekat dengan tampak ragu , membuatnya tersenyum. "Apa yang dia takutkan? Aku tidak akan memakannya." benak Vinlo.


Setiba di dekat Vinlo, Nayla menundukkan kepala untuk menghindari tatapan Tuan Mudanya. "Maaf sebelumnya, tuan muda ... sate ini, apakah untuk makan malam?" Nayla bertanya dengan wajah polos yang menatap ke arah marmer.


Vinlo segera menoleh ke samping. Dia tersenyum dengan tangan menutupi mulutnya. "Imutnya," gumam Vinlo dengan suara yang sangat pelan.


Nayla tidak menyadari apa yang terjadi kepada Tuan Mudanya. Dia masih fokus menatap marmer yang tampak bersih karena sering dibersihkan olehnya.


"Ehem, oke ...," Vinlo kembali dengan keadaan sebelumnya. Dia melihat kearah meja makan untuk tidak menatap Nayla yang semakin membuatnya tidak tenang. "Iya, seperti yang kamu katakan, aku membeli sate ini untuk makan malam. Sekarang lihatlah, kamu membuat makan malam dengan melupakan apa yang ku katakan kepadamu," lanjut Vinlo.


Nayla terdiam, dia merasa bersalah dengan apa yang terjadi malam ini. Sebenarnya, dia ingin berterima kasih karena Vinlo mengobati luka di lututnya. Namun, siapa yang menduga malah seperti ini jadinya.


"Ma-maaf tuan muda." Nayla semakin menundukkan kepala karena mendengar apa yang Vinlo katakan.


Melihat Nayla semakin merasa bersalah, Vinlo mengeser kursi di bagian kanannya. "Duduklah di sini, Nayla." ucap Vinlo.


Dengan sedikit mengangkat kepala, Nayla melihat kursi di bagian depannya tergeser. "U-untuk apa, tuan muda?" Nayla menatap bingung dengan apa yang ada di depannya.


"Karena kamu merasa bersalah dengan apa yang terjadi. Aku ingin kamu bertanggung jawab untuk semua itu...," Vinlo menunjuk kursi yang ada di sebelah kanannya. "Duduk di sini untuk menemaniku makan malam. Lalu, kamu akan membantuku menghabiskan makan malam ini." Lanjutnya.


Nayla segera menggeleng kepala, "tu-tuan muda, Nayla tidak di izinkan untuk duduk di sana...,"


"Siapa yang bilang kalau kamu tidak diizinkan untuk duduk di sini. Nayla, aku adalah tuanmu, bukan ibuku!" Vinlo menatap Nayla dengan pandangan serius, dia memotong ucapan pembantunya yang ingin menolak.

__ADS_1


"Duduklah di sini!" kata Vinlo kembali dengan posisi duduk semula. Dia menatap hidangan di depannya.


Melihat Tuan Muda yang tampak tidak senang, Nayla perlahan mendekat dan duduk di kursi kanan Vinlo.


"Aku tidak ingin dia marah kepadaku." benak Nayla.


Vinlo melirik dengan diam-diam kearah Nayla yang bingung. "Aku tidak tega memarahinya." benak Vinlo.


"Ini, makanlah. Bantu aku menghabiskan sate ini." Vinlo mengeser piring yang berisikan sebungkus sate.


Melihat piring yang ada di depan mata, Nayla mengangkat kepala dan menatap Vinlo yang sudah menyantap makan malamnya.


"Apa tuan muda bercanja, ah maksudku, bercanda?" benak Nayla. Dia menatap tidak percaya dengan apa yang terjadi saat ini.


"Kenapa? Makanlah!" Vinlo memberikan setusuk sate pada Nayla.


Dengan gugup Nayla mengambil sate yang diberikan. Melihat Tuan Mudanya menyuruh dia untuk ikut makan, Nayla pun menyantap sate yang ada di tangannya.


Keduanya makan malam dengan suasana berbeda. Bagi Nayla, makan malam kali ini memberikan kesan kebingungan. Sedangkan Vinlo, dia merasa bahagia bisa makan malam bersama dengan pembantunya.


"Aku harap akan selalu bisa lebih dekat padanya," benak Vinlo.


...-*-...


Semalaman Nayla berpikir dengan keadaan yang telah terjadi. Tuan Mudanya sedikit berbeda, meski begitu Nayla merasa bahagia karena kedekatan tanpa diduga


.


"Hari ini, tuan muda memintaku untuk membuatkan omlet." Nayla menyajikan hidangan yang sudah siap di santap.


Dalam ingatannya,Nayla memikirkan apa yang terjadi tadi malam.


"Nay, besok buatkanlah aku omlet. Aku sangat menyukainya." ucap Vinlo.


Nayla melihat kearah Tuan Muda yang ingin menaiki tangga. "Hm, Nayla akan membuatkan omlet untuk tuan muda."


Vinlo mengangguk, dia kembali menaiki tangga untuk beristirahat.


"Tidak biasanya tuan muda memilih sarapan. Sepertinya omlet menjadi kesukaan tuan muda." gumam Nayla.

__ADS_1


Suara langkah sepatu menuruni tangga terdengar di telinga. Nayla dengan cepat mengambil langkah untuk berada di sana.


Setiba di ruang tengah, Nayla melihat Vinlo menuju ke meja makan.


"Ada apa Nah?" tanya Vinlo. Nayla menggeleng kepala dengan cepat, "Ti-tidak ada apa-apa tuan muda."


Vinlo mengangguk dengan cepat. Dia menarik kursi dan segera duduk disana. "Hari ini dia membuatkan apa yang ku katakan. Meski hanya sebuah perintah, dia membuatnya dengan kebahagiaan." benak Vinlo.


Nayla melirik Tuan Mudanya yang menyantap sarapan dengan wajah berseri. Tanpa diduga, Nayla ikut bahagia ketika melihat semua itu.


"Tu-tuan muda," panggil Nayla.


Vinlo menoleh ke samping untuk melihat Nayla yang tidak terlalu jauh darinya. "Hm?"


"Na-nayla membuat bekal untuk makan siang. ji-jika tuan muda mau memakan omlet disiang hari." Nayla berucap dengan keraguan.


Vinlo lagi-lagi tersenyum. Sadar apa yang terjadi, raut wajahnya berubah seketika. "Ehem, baiklah. Aku akan memakan bekal yang kamu buat. Hm, siapkanlah."


Nayla mengangguk dan bergegas menyiapkan bekal untuk Tuan Muda. Kebahagiaan tidak bisa Nayla sembunyikan. Rasa berdegup dan mendapatkan perhatian seperti ini, mampu meluluhkan hatinya.


Dari kejauhan, Vinlo melihat gerak gerik Nayla. Dia ikut tersenyum dan melanjutkan sarapan yang hampir habis itu. "Sial, seharusnya aku makan pelan-pelan."gumam Vinlo.


Omlet di piringnya telah habis, dia tidak bisa mengulur waktu untuk melihat Nayla. Entah bagaimana, Vinlo merasa senang jika melihat reaksi dan tingkah pembantunya itu.


"Ini tuan muda." Nayla meletakkan paper bag berisi bekal.


Vinlo mengangguk dengan wajah sedihnya. Dia berharap waktu bisa berhenti agar bisa melihat Nayla lebih lama. Tetapi, pekerjaan tetap harus dikerjakan. Dia bangun dari tempat duduk dan melangkah ke kamarnya.


"Kenapa wajah tuan muda jadi sedih begitu?" Nayla mengikuti langkah Vinlo yang sudah mendekati tangga, dia bergumam pelan agar Tuan Muda tidak mendengarnya.


...-*-...


Di depan pintu, Nayla menatap kearah Vinlo yang berdiri di depannya. "Em, ada apa tuan muda? Apa tertinggal sesuatu?" tanya Nayla.


Vinlo mengeleng kepala, "Tidak ada yang tertinggal, hanya...."


Nayla terteguh ketika merasa usapan lembut di kepalanya. Perlahan Nayla mengangkat pandangannya untuk melihat wajah Tuan Muda.


"Terima kasih Nayla, sarapan hari ini sangat luar biasa untukku." ucap Vinlo.

__ADS_1


__ADS_2