
Di depan dua mobil. Nayla menatap kearah Vinlo yang tengah menelpon seseorang. Dia merasa tidak tenang melihat Tuan Mudanya.
"Ada apa Nayla, apa kamu mengkhawatirkan sesuatu?" tanya Bi Sih, uluran tangannya mengenggam lembut tangan Nayla.
Nayla menoleh dengan senyum terukir dibibir. "Tidak ada, Nayla hanya merasa tidak tenang."
Bi Sih tersenyum kecil dengan mendekatkan kepalanya. "Apa karena Tuan Muda Vinlo, berpisah dari mu?" tebaknya.
Nayla seketika terkejut mendengar perkataan Bi Sih. Dia segera mengeleng dan menjaga jarak. "Ti-tidak ... ah maaf," Kepanikkan Nayla membuat Bi Sih tersenyum.
Tidak hanya Bi Sih, Vinlo yang selesai menelpon menatap kearah Nayla. "Apa yang terjadi?" tanyanya.
Nayla segera menjawab pertanyaan Tuannya. "Tidak ada tuan, ha, haha."
Kekikukkan Nayla membuat Vinlo tersenyum tipis. Dia segera menatap Bi Sih yang memberikan pandang menyuruh padanya.
"Hm, tidak ada yang terjadi ya. Yasudah, Kemarilah Nayla." pinta Vinlo.
Nayla tampak ragu untuk mendekat. Dipikirannya berkata diam, sedangkan hatinya menyuruh untuk mendekat. Nayla memilih untuk mendekati Tuan Muda Vinlo. Dia mendongak memandang pria tinggi nan tampan didepannya.
"Ulurkan tanganmu." Vinlo mengarahkan tangannya didepan Nayla.
Melihat uluran tangan itu, Nayla segera menyambutnya. Sebuah gelang cantik melekat dilengan Nayla.
Vinlo memberikan gelang dengan tali berwarna biru langit. Permata gelang itu dibuat dari batu keristal berwarna ungu kehitaman. Tampak cantik terbalut dipergelangan tangan.
"Ini?" tanya Nayla menatap indahnya gelang berpermata ungu.
Vinlo menarik tangan Nayla dan mencium punggung tangannya. "Kami berangkat." ucap Vinlo.
Nayla mengenggam erat tangan yang dicium oleh Tuan Mudanya. Dia hanya menganggukkan kepala dan menatap kearah Vinlo yang masuk kedalam mobil.
__ADS_1
Rasa degupan semakin menjadi. Nayla tidak bisa lagi menyembunyikannya. "Bagaimana ini, aku mencintai dirinya." benak Nayla.
Mobil Vinlo berangkat menuju ke arah berlawanan. Keberangkatan Vinlo, memberikan kesedihan dihati Nayla.
"Nayla! Ayo naik." seru Bi Sih yang sudah membukakan pintu.
Pagi yang indah ini memberikan rasa perpisahan yang besar untuk Nayla. meski sementara, dia tetap merasa berat untuk berpisah.
"Hm, iya Bi." Nayla mendekat kearah mobil yang menjemputnya. Mereka akan kembali kekediaman utama untuk berpamitan dengan Nyonya besar dan Tuan Besar.
Selama perjalanan menuju kekediaman utama, Nayla menatap jendela dengan kesunyian. Dia melamun dengan tangan yang masih tetap sama.
Kesunyian itu berakhir ketika tiba di rumah megah seperti sebelumnya. Nayla keluar dan melihat beberapa pelayan tengah sibuk mengerjakan tugasnya.
"Aku, hari ini hanya mengerjakan beberapa pekerjaan. Sarapan dan menyiapkan koper yang tuan muda bawa. Namun, apakah tidak masalah aku meninggalkan pekerjaan seperti ini?" benak Nayla.
Diruang tamu, Nayla berhenti tepat didepan Nyonya besar. Dia menundukkan kepala, "selamat pagi Nyonya." sapanya.
Nyonya besar segera mengangguk dan melangkah mendekati Nayla. "Kamu sudah bertahan lama dengan putraku. Bagaimana? Apa kamu tidak kesulitan bekerja dikediaman putraku?"
Jawaban yang Nayla berikan membuat Nyonya besar merasa senang. Dia segera mengusap lembut kepala Nayla.
"Baguslah, Nayla akan libur hari ini. Jika memungkinkan, besok kembali dan membantu disini. Bukan kenapa, kalau kamu diliburkan begitu saja. Akan ada gosib lain yang membahayakanmu." ucap Nyonya besar.
Nayla bingung memberikan respon dari ucapan Nyonya besar. Dia memang tahu, bahwa dia bekerja sebagai seorang pembantu. Nayla juga mengetahui tugasnya pasti ada. hanya, mendengar ucapan Nyonya besar. Nayla begitu ragu untuk memahaminya.
"Hati-hati dijalan ya, Bi Sih dan Nayla." ucap Nyonya Besar.
Bi Sih yang sedari tadi diam, kini mengambil alih pembicaraan. Dia mengenggam tangan Nayla untuk memberikan kehangatannya.
"Terima kasih Nyonya besar. Anda sudah memberikan libur kepada kami." ucap Bi Sih.
__ADS_1
Nyonya besar menganggukkan kepalanya. "Sama-sama, nikmatilah liburan kalian."
Nayla ditarik pelan oleh Bi Sih, mereka segera melangkah keluar menuju ke taksi yang dipangg oleh penjaga kediaman Margatha.
"Naiklah Nayla." ucap Bi Sih dengan kesibukannya.
Nayla mengeleng, diambil tas yang Bi Sih bawa. Dia letakkan di lengannya dengan santai. "Bibi masuk saja, Nayla akan menyimpan tas ini dulu."
"Eh! Tidak perlu, biar bibi saja." Bi Sih menahan pergerakkan Nayla. Namun, Nayla dengan tekad kuat mengambil alih tugas Bi Sih.
"Bibi, masuklah." ucap Nayla.
Bi Sih hanya bisa tersenyum melihat gadis muda yang bekerja seperti ini. Dia merasa sedih karena membiarkan Nayla menjadi seorang pembantu. Gadis muda didepannya memiliki masa depannya yang begitu indah. Namun sayang, semua itu berakhir disini.
Pintu mobil tertutup dengan rapat oleh Nayla. Dia mengenakan sabuk pengaman dan menatap kearah Bi Sih. "Ada apa bi? Bibi melamun?" tanya Nayla.
Kesadaran Bi Sih kembali, dia segera merubah ekspresinya. "Tidak sayang, Bibi hanya berpikir, bagaimana ekspresi ibumu jika tahu kamu kembali untuk menemuinya."
Nayla membayangkan wajah bahagia Ibunya. Dia pasti akan mendapatkan pelukkan hangat dan ciuman di pipinya. Dengan senyum kecil, Nayla bergumam, "Ibu pasti bahagia."
...-*-...
Berhenti disebuah tempat, Nayla menatap kearah bus yang baru saja tiba dipemberhentiannya.
"Bi? Apa kita naik bus?" tanya Nayla. Wajah bingungnya begitu jelas dimata Bi Sih.
"Tenanglah, ada seseorang yang memintaku untuk memberhentikanmu disini." jelas Bi Sih.
Kerutan muncul diwajah Nayla, dia menatap kearah pintu yang memperlihatkan orang asing tengah mendekat. "Bibi, sepertinya akan ada penjahat." celetuk Nayla.
Bi Sih mengeleng seketika, dia menunjuk kearah jendela yang ada disamping Nayla. "Lihatlah." ucapnya.
__ADS_1
Nayla menatap kearah yang ditunjuk oleh Bi Sih. Wajahnya seketika bahagia melihat siapa yang mendekat kearah mereka.
"La-Laisa!"